Rahasia yang Terbongkar
Bab 11 dari Novel Komplek Mantan
Mishel: "Lho, ada Azmi? Kok kalian berdua ngumpul di sini?"
rayzan terkejut, "Eh, Dek. Kamu udah selesai beresin barang?"
Mishel mengerutkan kening, "Udah, Bang. Tapi kok kalian mencurigakan banget sih? Ada apa ini sebenernya?"
Azmi dan rayzan saling berpandangan, raut wajah mereka jelas menunjukkan kegelisahan.
Mishel: "Ayo dong, cerita. Jangan bikin aku penasaran gini."
Azmi menarik napas dalam-dalam, lalu berbicara dengan terbata-bata, "Ra-Mishel, se-sebenernya ada ma-masalah."
Mishel: "Masalah apa, Mi? Kok kayaknya serius banget?"
Azmi terdiam sejenak, matanya menerawang. Dia berpikir keras, menimbang-nimbang apakah bijak untuk melibatkan Mishel dalam situasi ini. Tapi kemudian, sebuah peMikiran muncul di benaknya. Mishel adalah sahabat baiknya, orang yang paling mengerti tentang masa lalunya. Mungkin, justru Mishel bisa memberikan solusi terbaik.
Azmi: "Zan, ku-kurasa kita harus ce-cerita ke Mishel."
rayzan: "Kamu yakin, Mi? Ini kan masalah sensitif."
Azmi mengangguk mantap, "I-iya, aku yakin. Ra-Mishel pasti bisa kasih sa-saran yang baik."
Mishel semakin penasaran, "Ayolah, jangan bikin aku deg-degan gini. Ada apa sih sebenernya?"
Azmi: "Za-zan, tolong ce-ceritain ke Mishel ya. A-aku masih be-belum sanggup."
rayzan menghela napas, lalu mulai bercerita, "Jadi gini, Dek. Tadi pas kita masuk komplek, Azmi ngeliat beberapa... uhm... mantan pacarnya."
Mishel terkesiap, "Hah? Mantan pacar? Maksudnya archa, salsa, sama Resa?"
rayzan mengangguk, "Iya, mereka semua ada di komplek ini."
Mishel terduduk di kursi terdekat, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. "Ya ampun, kok bisa? Ini sih namanya takdir yang kebangetan!"
Azmi: "A-aku juga nggak ngerti, Rel. Ta-tapi ini bikin aku pa-panik. Gi-gimana kalau Dellvina tau?"
Mishel terdiam sejenak, mencerna informasi yang baru saja dia dengar. Setelah beberapa saat, dia akhirnya angkat bicara.
Mishel: "Mi, menurutku... kamu harus cerita ke Dellvina."
Azmi terkejut, "A-apa? Ta-tapi Dellvina pasti ma-marah besar!"
Mishel menggeleng, "Nggak, Mi. Dellvina itu wanita yang pengertian. Lagipula, ini bukan salahmu. Kamu nggak tau kalau mereka bakal ada di sini, kan?"
rayzan: "Tapi Dek, apa nggak lebih baik kita rahasiain aja?"
Mishel: "Nggak, Bang. Justru itu bakal bikin masalah jadi lebih besar. Coba bayangin kalau Dellvina tau dari orang lain? Dia pasti bakal lebih sakit hati."
Azmi: "Ta-tapi aku takut, Hel. Ba-bagaimana kalau Dellvina Minta pi-pindah?"
Mishel tersenyum lembut, "Mi, Dellvina itu sayang banget sama kamu. Dia nggak akan ninggalin kamu cuma gara-gara masalah kayak gini. Yang penting kamu jujur."
rayzan: "Terus, gimana cara ngasih taunya, Dek?"
Mishel: "Gini aja, biar aku yang ngomong sama Dellvina dulu. Aku akan jelasin pelan-pelan. Nanti kalau Dellvina udah mulai tenang, baru kamu yang ngobrol sama dia, Mi."
Azmi: "Ka-kamu yakin, hel?"
Mishel mengangguk mantap, "Iya, Mi. Percaya deh sama aku. Dellvina itu wanita yang kuat dan pengertian. Dia pasti bisa terima keadaan ini."
rayzan: "Terus, kapan kita mulai cerita ke Dellvina?"
Mishel: "Nanti malam aja. Biar Dellvina udah agak tenang abis beresin rumah. Aku akan ajak dia ngobrol berdua dulu."
Azmi: "Ma-makasih ya, Hel. Ka-kamu emang sahabat terbaik."
Mishel tersenyum, "Sama-sama, Mi. Kita kan udah kayak keluarga. Harus saling bantu dong."
rayzan: "Terus, sekarang kita harus gimana?"
Mishel: "Sekarang, kalian berdua bersikap biasa aja. Bantu-bantu beresin rumah. Jangan sampe Dellvina curiga. Nanti malam, biar aku yang atur semuanya."
Azmi mengangguk, merasa sedikit lega. Meski masih ada kekhawatiran di hatinya, tapi dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Mishel dan rayzan.
Mishel: "Oh iya, Mi. Inget ya, apapun yang terjadi nanti, kamu harus jujur sama Dellvina. Ceritain semuanya, jangan ada yang disembunyiin."
Azmi: "I-iya, Hel. A-aku janji."
rayzan: "Tenang aja, Mi. Kita semua di sini buat dukung kamu."
Mereka bertiga berpelukan, merasakan kekuatan persahabatan yang menghangatkan hati. Meski badai besar mungkin akan datang, tapi mereka yakin bisa menghadapinya bersama-sama.
Mishel: "Oke, sekarang ayo kita keluar. Jangan sampe Dellvina curiga kita ngumpul kelamaan di sini."
Mereka bertiga keluar dari ruangan dengan perasaan yang campur aduk. Azmi masih terlihat cemas, tapi ada secercah harapan di matanya. Dia tahu, malam ini akan menjadi malam yang panjang dan mungkin berat. Tapi dengan dukungan sahabat-sahabatnya, dia merasa sedikit lebih kuat untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.