Mobil yang disediakan kantor melaju mulus membawa Azmi, Dellvina, rayzan, dan Mishel menuju komplek perumahan baru mereka. Dellvina dan Mishel duduk di tengah, asyik mengobrol.

Dellvina: "Hel, kita harus ke Cibaduyut nih. Katanya sepatu di sana bagus-bagus."

Mishel: "Setuju, Del! Terus ke Cihampelas juga yuk, belanja baju."

Dellvina: "Oh, jangan lupa Pasar Baru! Aku mau cari kain buat bikin gorden."

Mishel: "Wah iya, bener tuh. Eh, kita juga harus nyobain surabi endul ya."

Dellvina: "Aduh iya, aku udah nggak sabar. Terus batagor, siomay, seblak..."

Di kursi belakang, Azmi dan rayzan hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar rencana istri mereka.

rayzan berbisik, "Mi, kayaknya kita bakal jadi tukang angkut belanjaan nih."

Azmi terkekeh pelan, "I-iya nih, Zan. Ta-tapi yang penting mereka seneng kan?"

Saat mobil memasuki komplek, tiba-tiba Azmi terdiam. Matanya melebar, menatap ke luar jendela dengan ekspresi terkejut.

Monolog Azmi:
"A-astaga... itu kan archa? Dan di sebelahnya... salsa? Kenapa mereka bisa ada di sini? Tunggu dulu, yang di teras rumah itu... Resa? Ini nggak mungkin... Apa aku lagi berMimpi?"

Azmi mencolek rayzan, berbisik dengan suara bergetar, "Zan, ka-kau tak akan percaya dengan apa yang ku lihat."

rayzan mengerutkan kening, "Kenapa, Mi? Ada apa?"

Azmi: "Na-nanti aja. Se-setelah kita sampai, to-tolong hubungi aku. Bi-bilang aja Minta bantuan soal barang atau apa gitu."

rayzan mengangguk, meski masih bingung, "Oke, Mi. Tapi ada apa sih?"

Azmi: "Na-nanti aku jelasin. Po-pokoknya ini gawat."

Dellvina menoleh ke belakang, "Kalian ngomongin apa sih? Kok bisik-bisik?"

Azmi berusaha tersenyum normal, "Ng-nggak ada apa-apa kok, De. Cu-cuma ngomongin soal ba-barang bawaan."

Mishel: "Oh iya, nanti bantuin angkutin barang ya, Bang."

rayzan: "Siap, Dek. Kita kan emang udah ditakdirkan jadi kuli angkut."

Mereka semua tertawa, tapi tawa Azmi terdengar sedikit dipaksakan.

Sopir: "Nah, kita udah sampai nih. Ini rumah nomor 0 dan ."

Dellvina berseru gembira, "Akhirnya sampai juga! Ayo turun, aku pengen liat rumah barunya."

Mereka semua turun dari mobil. Azmi masih terlihat gelisah, matanya terus melirik ke sekitar.

Mishel: "Wah, kompleknya sepertinya bagus ya. Bersih dan rapi."

Dellvina: "Iya, Hel. Pohon-pohonnya juga rindang. Pasti enak buat jalan pagi."

rayzan: "Oke, ayo kita beresin barang-barang dulu. Baru nanti kita eksplor komplek."

Azmi mengangguk cepat, "I-iya, ayo cepet masuk."

Dellvina menatap Azmi heran, "Kamu kenapa sih, Mas? Kok kayaknya buru-buru banget?"

Azmi berusaha tersenyum, "Ng-nggak apa-apa kok, De. Cu-cuma capek aja, pengen cepet istirahat."

Mereka mulai mengangkut barang-barang ke dalam rumah masing-masing. Azmi terus-menerus melirik ke sekitar, seolah takut bertemu seseorang.

Setelah sekitar setengah jam, ponsel Azmi bergetar. Pesan dari rayzan:
"Mi, bisa ke rumah sebentar? Ada yang mau aku tanyain soal instalasi Wi-Fi."

Azmi menghela napas lega, "De, a-aku ke rumah rayzan dulu ya. Di-dia Minta bantuan soal Wi-Fi."

Dellvina mengangguk, "Oke, Mas. Tapi jangan lama-lama ya."

Azmi berjalan cepat ke rumah rayzan, berharap tidak bertemu siapa-siapa di jalan. Begitu masuk, dia langsung menutup pintu rapat-rapat.

rayzan: "Nah, sekarang cerita. Ada apa sebenernya, Mi?"

Azmi menarik napas dalam-dalam, "Zan, ka-kau nggak akan percaya. Ta-tapi... beberapa penghuni komplek ini... me-mereka mantan-mantanku."

rayzan terkesiap, "Hah? Serius, Mi? Kok bisa?"

Azmi menggeleng lemah, "A-aku juga nggak tau, Zan. Ta-tapi ini gawat banget. Gi-gimana kalau Dellvina tau?"

rayzan menepuk pundak Azmi, "Tenang, Mi. Kita pikirkan cara buat hadapi ini. Yang penting sekarang, jangan sampe Dellvina sama Mishel tau dulu."

Azmi mengangguk, tapi wajahnya masih pucat. Dia tahu, kehidupan barunya di Bandung akan jauh lebih ruMit dari yang dia bayangkan.