Selamat Datang di Bandung
Bab 9 dari Novel Komplek Mantan
Dellvina: "Mas, tolong bantu rayzan sama Mishel ya. Aku mau cek tiket dulu."
Azmi: "Si-siap, sayang. Zan, Ra-Mishel, sini aku bantu."
rayzan: "Makasih, Mi. Koper yang mana nih?"
Mishel: "Yang warna biru, Bang. Azmi, hati-hati ya, ada laptop di dalamnya."
Azmi dengan hati-hati mengangkat koper biru Milik rayzan dan Mishel. "Su-sudah aman. A-ada lagi?"
Mishel: "Tas ransel hitam itu, Mi. Bisa tolong ambilkan?"
Dellvina kembali setelah mengurus tiket. "Udah beres semua? Yuk, kita check-in."
Mereka berjalan bersama menuju counter check-in. Setelah semua urusan administrasi selesai, mereka menuju ruang tunggu.
rayzan: "Nggak nyangka ya, akhirnya kita beneran pindah."
Dellvina: "Iya nih, Zan. Rasanya baru kemarin kita bahas soal pindahan, eh sekarang udah di bandara."
Mishel: "Aku jadi deg-degan. Tapi excited juga sih."
Azmi: "Sa-sama, Rel. Ta-tapi kita hadapi sama-sama ya."
Dellvina menggenggam tangan Azmi. "Pasti dong, Mas. Kita kan tim yang solid."
Pengumuman boarding terdengar, mereka bergegas menuju pesawat. Setelah menemukan tempat duduk masing-masing, mereka kembali mengobrol.
rayzan: "Eh, katanya di Bandung udaranya sejuk ya?"
Dellvina: "Iya, Zan. Makanya aku bawa jaket nih."
Mishel: "Wah, aku lupa bawa jaket. Gimana dong, Bang?"
rayzan tertawa. "Tenang, Dek. Nanti kamu kupeluk biar hangat."
Azmi dan Dellvina tertawa mendengar gombalan rayzan.
Mishel: "Ih, Abang bisa aja. Eh, ngomong-ngomong soal Bandung, kita harus nyobain makanan khasnya dong."
Dellvina: "Setuju! Aku udah bikin list nih, Rel. Nanti kita culinary trip bareng ya."
Azmi: "Ta-tapi inget, ja-jangan makan terus. Na-nanti kita bisa jadi gendut."
rayzan: "Bener tuh, Mi. Ntar kita olahraga bareng aja. Lari pagi gitu."
Mishel: "Wah, aku setuju! Tapi Abang jangan lari kenceng-kenceng ya. Nanti aku ketinggalan."
Mereka tertawa bersama. Perjalanan terasa singkat di tengah obrolan dan candaan. Tak terasa, pesawat sudah mendarat di Bandung.
Saat turun dari pesawat, Azmi tiba-tiba berteriak, "Hey, Bandung! Ka-kaMi datang!"
Dellvina memukul pelan lengan Azmi. "Ih, Mas! Malu-maluin tau!"
Azmi tertawa. "Ma-maaf, De. A-aku terlalu excited."
rayzan: "Wah, Azmi udah mulai gila nih kayaknya."
Mishel: "Namanya juga semangat baru, Bang. Biarin aja."
Dellvina tersenyum, meski pura-pura kesal. "Dasar kamu, Mas. Untung aku sayang."
Azmi merangkul Dellvina. "A-aku juga sayang kamu, De."
rayzan: "Ehm, masih di bandara nih. Jangan mesra-mesraan dulu."
Mishel terkekeh. "Biarin aja, Bang. Kita juga bisa kok."
Dellvina: "Udah, yuk. Kita ambil bagasi terus langsung ke rumah baru. Aku penasaran nih."
Azmi: "Si-siap, kapten! A-ayo kita mulai petualangan baru kita di Bandung!"
Mereka berjalan bersama menuju area pengambilan bagasi, dengan semangat dan harapan baru untuk kehidupan mereka di Bandung. Meski ada sedikit kecemasan, tapi kebersamaan mereka membuat segalanya terasa lebih ringan. Azmi, Dellvina, rayzan, dan Mishel siap menghadapi apapun yang akan mereka temui di kota kembang ini.