Azmi melangkah keluar dari rumah rayzan dan Mishel dengan langkah pelan dan sedikit terseret, ciri khas cara berjalannya. Dia menghela napas panjang sebelum membuka pintu rumahnya sendiri.

Dellvina yang sedang menyusun buku di rak menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. "Oh, kamu udah balik, Mas? Udah selesai bantuin rayzan sama Mishel?"

Azmi berusaha tersenyum senormal mungkin. "Su-sudah, De. Me-mereka cuma Minta bantuan setting Wi-Fi kok."

Dellvina mengangguk, tapi matanya menyipit sedikit, memperhatikan raut wajah suaminya yang tampak gelisah. "Mas, kamu nggak apa-apa? Kok kayaknya ada yang aneh ya?"

Azmi terkejut, tidak menyangka Dellvina bisa membaca ekspresinya. "A-aneh gimana, De?"

Dellvina mendekati Azmi, tangannya menyentuh lembut pipi suaminya. "Entahlah, Mas. Wajah kamu kayak lagi ada masalah gitu. Ada apa sih? Cerita dong sama aku."

Azmi menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Dia ingin jujur, tapi mengingat rencana Mishel, dia memutuskan untuk menahan diri. "Ng-nggak ada apa-apa kok, De. A-aku cuma capek aja kali ya."

Dellvina masih terlihat tidak yakin. "Beneran nggak ada apa-apa?"

Azmi mengangguk, lalu dengan lembut memeluk istrinya dan mengecup keningnya. "Be-beneran, De. Oh iya, a-aku mau kasih tau. Fa-rayzan sama Mishel nanti malam mau makan di sini."

Mendengar ini, wajah Dellvina langsung cerah. "Wah, asyik dong! Kita bisa ngobrol-ngobrol sambil makan bareng. Kebetulan aku bawa beberapa bahan makanan dari rumah. Kita masak yang enak yuk, Mas!"

Azmi tersenyum melihat antusiasme istrinya. "Bo-boleh, De. A-aku bantu deh."

Dellvina tertawa kecil. "Emang si daksa kesayanganku ini bisa masak?"

Azmi pura-pura cemberut. "Bi-bisa dong!" Dia lalu menggelitik pinggang Dellvina, membuat istrinya tertawa geli.

Dellvina berusaha menghindari gelitikan Azmi. "Aduh, Mas! Geli tau!"

Azmi tertawa. "Ma-makanya jangan ngeledek aku."

Dellvina akhirnya bisa lepas dari 'serangan' Azmi. "Iya deh, iya. Yuk ke dapur, kita mulai masak."

Mereka berdua berjalan ke dapur. Dellvina mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan dari tas belanjaan.

Dellvina: "Mas, kamu bisa bantu aku motong sayuran nggak?"

Azmi: "Bi-bisa dong. Ma-mana, sini aku potongin."

Dellvina memberikan beberapa wortel dan kentang pada Azmi, beserta sebuah pisau. "Hati-hati ya, Mas. Jangan sampe kena jarimu."

Azmi mengangguk dan mulai memotong sayuran dengan hati-hati. Meski gerakannya sedikit kaku, tapi dia berusaha sebaik mungkin.

Dellvina memperhatikan Azmi sambil tersenyum. "Kamu lucu deh, Mas. Serius banget motongnya."

Azmi mendongak, menatap Dellvina dengan senyum malu. "Ma-masa sih? A-aku cuma nggak mau salah potong aja."

Dellvina terkekeh. "Iya, tapi tetep aja lucu. Eh, ngomong-ngomong, kita mau masak apa nih?"

Azmi berpikir sejenak. "Gi-gimana kalau sup ayam aja? Ku-kuah hangatnya enak buat malam-malam gini."

Dellvina mengangguk setuju. "Ide bagus tuh, Mas! Oke, aku rebus ayamnya dulu ya."

Mereka terus memasak sambil sesekali bercanda. Azmi berusaha untuk tetap terlihat normal, meski pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi nanti malam.

Dellvina: "Mas, tolong ambilin garam dong. Di rak atas tuh."

Azmi mengangguk dan berjalan ke arah rak. Dia berusaha meraih toples garam, tapi karena posisinya yang agak tinggi, dia kesulitan menjangkaunya.

Dellvina yang melihat ini langsung menghampiri Azmi. "Sini, Mas. Biar aku aja yang ambil."

Azmi tersenyum malu. "Ma-maaf ya, De. A-aku nggak nyampe."

Dellvina mengecup pipi Azmi lembut. "Nggak apa-apa, Mas. Kan aku udah bilang, kita itu tim. Apa yang nggak bisa kamu lakukan, aku yang akan lakuin. Begitu juga sebaliknya."

Azmi merasa hatinya menghangat mendengar kata-kata Dellvina. Dia memeluk istrinya erat. "Ma-makasih ya, De. A-aku beruntung banget punya kamu."

Dellvina membalas pelukan Azmi. "Aku juga beruntung punya kamu, Mas."

Mereka berpelukan beberapa saat sebelum akhirnya kembali ke aktivitas memasak mereka. Azmi merasa sedikit lebih tenang. Meski dia tahu badai mungkin akan datang nanti malam, tapi keyakinannya akan cinta Dellvina membuatnya merasa lebih kuat.

Azmi: "De, na-nanti kalau rayzan sama Mishel udah dateng, ki-kita makan di mana?"

Dellvina: "Di ruang tamu aja kali ya, Mas? Kita gelar tikar, makan lesehan. Gimana?"

Azmi mengangguk setuju. "Bo-boleh tuh. Pa-pasti seru."

Dellvina tersenyum lebar. "Iya dong. Oh iya, Mas. Nanti abis makan, kita ngobrol-ngobrol santai aja ya. Aku pengen denger cerita-cerita lucu kalian waktu kuliah dulu."

Azmi terdiam sejenak. Dia teringat rencana Mishel untuk berbicara dengan Dellvina nanti malam. "I-iya, De. Na-nanti kita ngobrol-ngobrol."

Dellvina menyadari perubahan nada suara Azmi. "Mas, kamu yakin nggak ada apa-apa? Kok kayaknya dari tadi kamu agak aneh ya?"

Azmi berusaha tersenyum. "Ng-nggak ada apa-apa kok, De. A-aku cuma excited aja sama malam ini."

Dellvina akhirnya mengangguk, meski masih terlihat sedikit curiga. "Ya udah deh. Yuk, kita lanjut masak. Bentar lagi mereka dateng nih."

Azmi mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaannya. Dalam hati, dia berdoa semoga apapun yang terjadi nanti malam, hubungannya dengan Dellvina akan baik-baik saja.