Setelah waktu Isya berlalu, terdengar suara ketukan di pintu rumah Azmi dan Dellvina. Dellvina bergegas membukakan pintu, sementara Azmi menyusul di belakangnya dengan langkah pelan.

Dellvina: "Selamat datang! Ayo masuk, Zan, Hel!"

Mishel: "Makasih, Del. Wah, rumah kalian udah rapi banget nih."

rayzan: "Iya nih, padahal baru aja pindahan."

Azmi: "A-ayo, silakan masuk. Ki-kita makan di ruang tamu ya."

Dellvina membantu rayzan dan Mishel menuju ruang tamu yang sudah disiapkan dengan tikar dan hidangan.

Dellvina: "Nih, duduk di sini. Maaf ya, kita makan lesehan. Soalnya meja makan belum dirapihin."

Mishel: "Wah, malah seru nih, Del. Jadi berasa piknik indoor."

rayzan: "Iya, jadi inget waktu kuliah dulu. Sering banget makan lesehan bareng."

Azmi tersenyum, meski masih terlihat sedikit tegang. "I-iya, jadi inget masa lalu ya."

Dellvina: "Oh iya, gimana kabar kalian? Udah mulai beres-beres rumah juga?"

Mishel: "Lumayan sih, Del. Tapi masih banyak yang harus dirapihin."

rayzan: "Iya nih, kayaknya butuh waktu seMinggu buat bener-bener beres."

Dellvina: "Sama dong kayak kita. Eh, yuk ah kita mulai makan. Nanti keburu dingin."

Mereka pun mulai menyantap hidangan yang telah disiapkan. Suasana makan malam terasa hangat dan akrab, meski sesekali Azmi terlihat melirik ke arah Mishel dengan tatapan cemas.

rayzan: "Wah, enak banget nih supnya, Del. Kamu yang masak?"

Dellvina: "Iya, tapi dibantu Azmi juga kok."

Mishel: "Serius? Azmi bisa masak?"

Azmi tertawa kecil. "A-aku cuma motong sayur aja kok."

Dellvina: "Tapi tetep aja ngebantu. Oh iya, kalian bawa apa tuh?"

rayzan: "Oh, ini ceMilan buat dessert. Tadi kita mampir beli di jalan."

Setelah selesai makan hidangan utama, mereka mulai menyantap ceMilan sambil mengobrol santai.

Mishel: "Eh, kalian udah liat-liat sekitar komplek belum?"

Dellvina: "Belum nih, Rel. Rencananya besok pagi mau jalan-jalan. Katanya di sini ada taman yang bagus ya?"

rayzan: "Iya, tadi pas kita dateng liat sekilas. Kayaknya enak tuh buat jogging."

Azmi hanya mengangguk, mulai terlihat semakin gelisah.

Mishel menarik napas dalam-dalam, lalu mulai berbicara dengan nada serius. "Del, sebenernya... ada sesuatu yang harus kita omongin."

Dellvina mengerutkan kening. "Ada apa, Hel? Kok tiba-tiba serius gini?"

Mishel: "Ini... soal komplek kita."

Dellvina: "Kenapa dengan kompleknya?"

Mishel: "Jadi gini, Del. Tadi... kita nemu beberapa orang yang kita kenal di sini."

Dellvina: "Oh ya? Siapa?"

Mishel melirik ke arah Azmi yang terlihat semakin pucat. "Del... beberapa mantan pacar Azmi tinggal di komplek ini."

Dellvina terdiam, matanya melebar. Dia menoleh ke arah Azmi yang menundukkan kepala.

Dellvina: "Apa? Mantan pacar Azmi? Maksudnya... archa, salsa, dan Resa?"

Azmi mengangguk pelan. "I-iya, De. A-aku baru tau tadi siang."

Dellvina terdiam sejenak, mencerna informasi yang baru saja dia terima. "Tapi... kok bisa? Maksudku, ini kan kebetulan yang... luar biasa?"

rayzan: "Kami juga nggak ngerti, Del. Tapi yang jelas, ini bukan keinginan Azmi."

Mishel: "Iya, Del. Azmi juga kaget banget pas tau ini. Dia... takut banget kamu bakal marah."

Dellvina menatap Azmi yang masih menunduk. "Mas... kenapa kamu nggak langsung cerita ke aku?"

Azmi akhirnya mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. "Ma-maaf, De. A-aku takut. A-aku nggak mau kamu salah paham."

Dellvina: "Tapi kan lebih baik kamu cerita langsung ke aku, Mas. Kenapa harus Mishel yang ngomong?"

Azmi: "A-aku... aku cuma nggak mau bikin kamu sedih, De. A-aku sayang banget sama kamu. A-aku nggak mau kamu Mikir yang aneh-aneh."

Mishel: "Del, Azmi bener-bener sayang sama kamu. Dia cuma takut aja. Makanya kita rencanain buat ngomong baik-baik malam ini."

Dellvina terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Mas... aku ngerti kamu takut. Tapi kamu harus percaya sama aku. Kita udah nikah, Mas. Kita harusnya bisa saling terbuka."

Azmi mengangguk, air matanya mulai menetes. "Ma-maafin aku, De. A-aku janji nggak akan nyembunyiin apa-apa lagi dari kamu."

Dellvina menggenggam tangan Azmi. "Mas, aku percaya sama kamu. Aku tau kamu setia. Tapi aku takut... ini bakal jadi masalah besar buat kita."

Azmi menggeleng cepat. "Ng-nggak akan, De. A-aku janji. A-aku nggak akan ngehubungin mereka. Ka-kalaupun ketemu, a-aku bakal bersikap biasa aja."

rayzan: "Iya, Del. Azmi udah janji sama kita. Dia nggak akan bikin masalah."

Mishel: "Del, kamu harus percaya sama Azmi. Dia bener-bener sayang sama kamu."

Dellvina menatap Azmi dalam-dalam. "Mas... kamu yakin kita bisa hadapin ini?"

Azmi mengangguk mantap. "I-iya, De. A-aku yakin. Ka-kamu segalanya buat aku. A-aku nggak mau kehilangan kamu cuma gara-gara masa lalu."

Dellvina akhirnya tersenyum lembut. "Oke, Mas. Aku percaya sama kamu. Kita hadapin ini sama-sama ya."

Azmi memeluk Dellvina erat. "Ma-makasih, De. A-aku sayang banget sama kamu."

Mishel dan rayzan tersenyum lega melihat pasangan itu.

Mishel: "Nah, gitu dong. Kalian kan pasangan yang kuat. Pasti bisa hadapin apa aja."

rayzan: "Iya, yang penting komunikasi aja. Jangan ada yang disembunyiin lagi."

Dellvina mengangguk. "Iya, makasih ya Rel, Zan. Kalian emang sahabat terbaik."

Azmi: "I-iya, makasih banyak udah bantu aku."

Mereka berempat berpelukan, merasakan kekuatan persahabatan yang menghangatkan hati. Malam itu mungkin dimulai dengan ketegangan, tapi berakhir dengan keyakinan bahwa mereka bisa menghadapi apapun bersama-sama.

Dellvina: "Nah, sekarang kita lanjut makan ceMilannya yuk. Jangan sampe basi gara-gara drama kita."

Mereka tertawa bersama, melanjutkan obrolan ringan sambil menikmati ceMilan. Meski badai baru saja berlalu, tapi mereka yakin bisa menghadapi apapun yang akan datang di masa depan.