Pagi itu, sinar mentari mulai menembus tirai jendela kamar Azmi dan Dellvina. Dellvina, yang sudah bangun lebih awal, mendekati suaminya yang masih terlelap.

Dellvina: "Mas... Mas Azmi... Bangun, udah pagi nih."

Azmi menggeliat pelan, matanya perlahan terbuka. "Mmm... I-iya, De. A-ada apa?"

Dellvina: "Mas, aku mau minta tolong. Bisa ke tukang sayur nggak? Aku mau masak, tapi bahan-bahannya kurang."

Azmi, masih setengah mengantuk, mengerutkan keningnya. "Tu-tukang sayur? Ta-tapi De, a-aku..."

Dellvina: "Kenapa, Mas? Ada masalah?"

Azmi akhirnya bangun dan duduk di tepi tempat tidur. "De, ka-kamu tau kan a-aku susah ngomong. Na-nanti kalau tukang sayurnya nggak ngerti gimana?"

Dellvina tersenyum lembut, duduk di samping suaminya. "Mas, aku ngerti. Tapi kamu juga harus coba ya. Lagian, ini kesempatan bagus buat kamu adaptasi di lingkungan baru."

Azmi masih terlihat ragu. "Ta-tapi De..."

Dellvina menggenggam tangan Azmi. "Gini deh, Mas. Aku udah bikin catatan belanjaan kok. Kamu tinggal kasih ke tukang sayurnya aja. Gampang kan?"

Azmi: "I-iya sih. Ta-tapi tetep aja aku takut, De."

Dellvina: "Mas, denger ya. Kamu itu suami yang hebat. Kamu bisa melakukan apa aja kalau kamu mau. Lagian, aku percaya sama kamu."

Azmi terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk pelan. "O-oke deh, De. A-aku coba ya."

Dellvina tersenyum lebar dan memeluk Azmi. "Nah, gitu dong! Itu baru suamiku. Nih catatannya, Mas. Oh iya, uangnya ada di dompet kamu ya."

Azmi mengambil catatan dari Dellvina dan bersiap-siap. Sebelum keluar, dia berbalik ke arah Dellvina.

Azmi: "De, do-doain aku ya."

Dellvina mengangguk. "Pasti, Mas. Kamu pasti bisa!"

Azmi pun keluar rumah dan berjalan menuju tempat tukang sayur yang tidak jauh dari kompleks mereka. Sesampainya di sana, dia merasa lega karena belum ada pembeli lain.

Azmi mendekati tukang sayur dengan langkah pelan. "Pe-permisi, Pak."

Tukang Sayur: "Iya, Mas. Mau beli apa?"

Azmi menyodorkan catatan belanjaan. "I-ini Pak. To-tolong dibungkusin ya."

Tukang Sayur membaca catatan itu. "Oh, oke Mas. Sebentar ya, saya siapin dulu."

Sementara tukang sayur menyiapkan belanjaannya, Azmi menunggu dengan perasaan lega. 'Ternyata nggak sesulit yang aku kira,' pikirnya.

Namun, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan suara tongkat yang beradu dengan aspal. Azmi menoleh dan matanya melebar ketika melihat tiga wanita tunanetra yang sangat dia kenal: archa, salsa, dan Resa.

Azmi mulai panik. 'Ya Allah, kenapa mereka harus datang sekarang?'

archa: "salsa, Resa, hati-hati ya. Kayaknya kita udah sampai di tempat tukang sayur."

salsa: "Iya, Cha. Aku udah cium bau sayurannya nih."

Resa: "Eh, tapi kok kayaknya ada orang ya? Aku denger suara orang ngobrol tadi."

Azmi semakin panik. Dia berbalik ke arah tukang sayur. "Pak, su-sudah selesai belum?"

Tukang Sayur: "Sebentar lagi, Mas. Tinggal bungkus yang terakhir."

archa tiba-tiba mengangkat kepalanya. Suara itu... rasanya tidak asing. "salsa, Resa, kalian denger nggak? Suara itu... kayak suara Azmi deh."

salsa: "Iya, Cha. Aku juga ngerasa gitu. Tapi... masa sih?"

Resa: "Azmi? Azmi yang mana?"

Azmi semakin gelisah. Dia mengambil belanjaannya dengan tergesa-gesa. "Ma-makasih, Pak. I-ini uangnya."

Tukang Sayur: "Eh, Mas. Kembaliannya..."

Azmi: "Simpan saja, Pak. Te-terima kasih!"

Dengan langkah cepat, Azmi bergegas meninggalkan tempat itu, berusaha tidak menoleh ke belakang.

archa: "Eh, suaranya makin jauh. Apa dia pergi ya?"

salsa: "Entahlah, Cha. Tapi kok rasanya aneh ya?"

Resa: "Udah, udah. Mungkin cuma perasaan kita aja. Yuk, kita belanja."

Sementara itu, Azmi berjalan pulang dengan jantung berdegup kencang. Dia merasa lega berhasil menghindari pertemuan dengan mantan-mantannya, tapi juga merasa bersalah karena harus menghindar seperti itu.

Setibanya di rumah, Dellvina menyambutnya dengan senyum lebar.

Dellvina: "Gimana, Mas? Lancar kan?"

Azmi mengangguk, berusaha tersenyum. "I-iya, De. Lancar kok."

Dellvina: "Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu pasti bisa!"