BUKTI CINTA SEJATI
Bab 14 dari Novel Dare To Love
Di mading utama kampus papan pengumuman besar yang terletak di area paling strategis dekat gerbang masuk terpampang selembar kertas berukuran A3 yang langsung menarik perhatian semua orang yang lewat.
Bukan pengumuman biasa. Bukan poster kegiatan kampus. Bukan promosi organisasi mahasiswa.
Tapi surat terbuka.
Dengan nama pengirim yang membuat semua orang tersentak:?Zahra Almeera Pratama.
SURAT TERBUKA
Untuk Fahri Ramadhan,
Dan untuk seluruh civitas akademika Universitas Bhayangkara.
Nama saya Zahra Almeera Pratama. Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi semester 5. Dan saya menulis surat ini untuk mengakui kesalahan terbesar dalam hidup saya.
Beberapa waktu lalu, rumor beredar bahwa saya mendekati dan menjalin hubungan dengan Fahri Ramadhan karena sebuah dare permainan truth or dare. Rumor itu... benar.
Ya. Saya memulai semua ini karena taruhan. Saya mendekati Fahri bukan karena ketulusan, tapi karena tantangan bodoh dari sahabat saya. Saya menjadikan seorang manusia sebagai bahan permainan. Dan itu adalah hal terburuk yang pernah saya lakukan.
Tapi izinkan saya menceritakan sisi lain dari cerita ini.
Ketika saya pertama kali mendekati Fahri, saya melihatnya sebagai "cowok cacat yang culun" dan saya malu mengakui bahwa saya pernah berpikir seperti itu. Saya tidak melihatnya sebagai manusia. Saya hanya melihat keterbatasannya.
Namun, semakin saya mengenalnya, semakin saya menyadari betapa salahnya pandangan saya.
Fahri Ramadhan bukan "cowok cacat." Fahri adalah pemuda paling luar biasa yang pernah saya kenal.
Dia adalah orang yang rela berjalan dari gedung TI sampai parkiran dengan kakinya yang tidak sempurna hanya untuk mengantar saya ke mobil.
Dia adalah orang yang membuatkan rangkuman materi kuliah untuk saya, padahal itu bukan bidangnya.
Dia adalah orang yang mengirim pesan selamat pagi setiap hari tanpa pernah lelah, meski saya sering tidak membalas.
Dia adalah orang yang mencintai saya dengan sepenuh hati, tanpa syarat, tanpa pamrih.
Dan saya? Saya menyia-nyiakan semua itu.
Di tengah jalan, tanpa saya sadari, saya jatuh cinta pada Fahri. Bukan akting. Bukan kebohongan. Tapi cinta yang sesungguhnya. Cinta yang membuat saya menangis setiap malam sejak dia memutuskan saya. Cinta yang membuat saya menyadari betapa berharganya dia dan betapa bodohnya saya yang hampir kehilangan dia.
Tapi kebenaran tentang dare itu terungkap sebelum saya sempat jujur. Dan Fahri mengetahuinya dari mulut orang lain, bukan dari saya.
Saya tidak punya alasan untuk membela diri. Saya pengecut. Saya egois. Saya terlalu mementingkan gengsi dan reputasi.
Tapi sekarang, saya berdiri di sini tanpa topeng, tanpa kepalsuan untuk mengatakan satu hal:
Fahri, saya mencintaimu.
Bukan karena dare. Bukan karena kasihan. Bukan karena terpaksa.
Saya mencintaimu karena kamu adalah kamu. Pemuda yang kuat, yang tulus, yang baik hati, yang tidak pernah membiarkan keterbatasan fisik menghalangi mimpi-mimpimu.
Saya mungkin tidak pantas mendapatkan maafmu. Saya mungkin sudah menyakitimu terlalu dalam. Tapi setidaknya, saya ingin kamu dan semua orang tahu bahwa cinta saya sekarang adalah nyata.
Dan mulai hari ini, saya tidak akan pernah malu lagi mengakui bahwa saya mencintai Fahri Ramadhan.
Dengan segenap penyesalan dan ketulusan,
Zahra Almeera Pratama
Kerumunan mulai terbentuk di depan mading.
Bisik-bisik berkembang menjadi percakapan keras. Mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul, membaca surat itu dengan ekspresi yang beragam ada yang terkejut, ada yang tersentuh, ada yang skeptis.
"Gila, Zahra nulis ini?"
"Dia beneran akuin semuanya?"
"Berani banget sih!"
"Tapi tetep aja, dia yang salah dari awal kan?"
"Iya sih, tapi... liat cara dia nulis ini. Kayaknya dia beneran nyesel."
Di tengah kerumunan, Zahra berdiri tidak jauh dari mading. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan yang tertuju padanya tatapan penghakiman, tatapan kasihan, tatapan tidak percaya.
Dulu, tatapan seperti ini adalah mimpi buruk terbesarnya.
Tapi sekarang, ia tidak peduli.
Yang ia pedulikan hanyalah satu orang dan orang itu belum melihat surat ini.
"Zar," Bunga menyentuh lengannya. "Lo oke?"
"Oke," Zahra menjawab dengan suara yang lebih tenang dari yang ia kira. "Ini baru langkah pertama."
Langkah kedua terjadi dua hari kemudian.
Zahra berdiri di depan gedung Fakultas Teknik Informatika, jantungnya berdebar kencang. Di tangannya, ada selembar kertas berisi poin-poin yang ingin ia sampaikan tapi ia tahu ia tidak akan membacanya. Ini harus datang dari hati.
"Lo yakin mau lakuin ini?" Risky bertanya di sampingnya, untuk pertama kalinya terdengar sedikit khawatir.
"Yakin."
"Kelas Fahri ada di lantai dua. Ruang 201. Dosennya baru aja selesai."
Zahra mengangguk dan mulai berjalan masuk.
Setiap langkah di tangga terasa berat. Setiap detik yang berlalu membuat jantungnya semakin berdetak kencang. Tapi ia tidak berhenti.
Ketika ia sampai di depan ruang 201, ia bisa melihat melalui jendela kecil di pintu bahwa kelas baru saja selesai. Mahasiswa mulai berkemas, beberapa sudah berdiri untuk keluar.
Dan di pojok kelas, Fahri sedang memasukkan buku ke dalam tasnya.
Zahra menarik napas dalam-dalam.
Lalu membuka pintu.
Semua kepala menoleh ke arahnya. Percakapan berhenti. Bahkan mahasiswa yang sudah di ambang pintu berhenti melangkah.
Zahra Almeera Pratama ratu kampus yang suratnya di mading masih menjadi topik pembicaraan berdiri di pintu kelas Teknik Informatika.
"Permisi," Zahra berkata dengan suara yang sedikit bergetar tapi cukup keras untuk didengar semua orang. "Boleh saya minta waktu sebentar?"
Tidak ada yang menjawab. Semua terlalu terkejut.
Zahra melangkah masuk, matanya langsung mencari Fahri. Ketika pandangan mereka bertemu, ia melihat Fahri membeku di tempatnya wajahnya menunjukkan campuran kaget, bingung, dan... sakit?
"Fahri," Zahra memanggil namanya, dan seisi kelas semakin terdiam.
"Zahra, lo ngapain di sini?" Fahri akhirnya bersuara, nadanya datar tapi ada getaran di dalamnya.
"Gue mau ngomong. Di depan semua orang." Zahra menelan ludah. "Boleh?"
Fahri tidak menjawab, tapi ia juga tidak melarang.
Zahra menganggap itu sebagai izin.
"Gue tau kalian semua udah denger ceritanya," Zahra memulai, matanya menyapu seluruh ruangan. "Tentang gue dan Fahri. Tentang dare. Tentang kebohongan gue."
Bisik-bisik mulai terdengar, tapi Zahra tidak menghiraukannya.
"Gue nggak ke sini untuk membela diri. Gue memang salah. Tapi gue ke sini untuk ngasih tau kalian semua dan terutama Fahri tentang siapa dia sebenarnya."
Ia menatap Fahri langsung.
"Fahri Ramadhan adalah orang paling luar biasa yang pernah gue kenal. Bukan karena dia jago coding. Bukan karena dia pinter. Tapi karena hatinya."
"Zahra " Fahri mencoba memotong, wajahnya merah padam karena malu.
"Biarinin gue selesai," Zahra memohon, suaranya bergetar. "Please."
Fahri terdiam.
"Kalian mungkin cuma liat Fahri sebagai 'cowok yang jalan pakai tongkat.' Kalian mungkin nggak pernah benar-benar ngobrol sama dia. Tapi gue? Gue udah liat siapa dia sebenarnya."
Air mata mulai mengalir di pipi Zahra, tapi ia tidak menghapusnya.
"Gue liat gimana dia selalu bantu siapa pun yang butuh, meski dia sendiri punya banyak tantangan setiap hari. Gue liat gimana dia nggak pernah mengeluh tentang kondisinya, padahal setiap langkah yang dia ambil lebih berat dari langkah kita. Gue liat gimana dia mencintai orang-orang di sekitarnya dengan tulus termasuk gue yang nggak pantas dicintai."
Suasana kelas berubah. Beberapa mahasiswa yang tadinya berbisik-bisik sekarang terdiam, tersentuh oleh kata-kata Zahra.
"Fahri pernah bilang sama gue," Zahra melanjutkan, "bahwa dia ngerasa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada orang yang mau sama dia bukan karena kasihan. Dan gue... gue hancurin kepercayaan itu."
Zahra mengambil langkah lebih dekat ke arah Fahri, yang masih berdiri membeku di tempatnya.
"Gue nggak minta lo untuk maafin gue, Fahri. Gue tau itu terlalu banyak untuk diminta. Tapi gue mau lo tau satu hal."
Ia berhenti tepat di depan Fahri, menatapnya langsung ke mata.
"Gue cinta sama lo. Beneran cinta. Bukan karena dare. Bukan karena belas kasihan. Tapi karena lo adalah manusia paling luar biasa yang pernah gue temui. Dan gue... gue beruntung pernah jadi bagian dari hidup lo, meski cuma sebentar."
Fahri tidak bergerak. Wajahnya tidak menunjukkan emosi yang bisa dibaca. Tapi matanya... matanya berkaca-kaca.
"Itu aja yang mau gue bilang," Zahra mengakhiri dengan suara yang hampir berbisik. "Makasih udah dengerin."
Dengan itu, Zahra berbalik dan berjalan keluar kelas, meninggalkan keheningan yang berat di belakangnya.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak-sorai. Hanya diam.
Tapi saat Zahra sudah hampir keluar pintu, ia mendengar suara seseorang dari dalam kelas berkata pelan:
"Bro, cewek itu beneran cinta sama lo."
Zahra tidak menoleh untuk melihat reaksi Fahri.
Ia hanya terus berjalan, air mata mengalir deras di pipinya.
Langkah ketiga adalah yang paling ambisius.
Selama seminggu ke depan, Zahra bekerja tanpa kenal lelah. Dengan bantuan Bunga, Risky, dan Andi, ia mengumpulkan testimoni dari orang-orang yang pernah dibantu Fahri.
Fauzan, Rasya, dan Sukri adalah yang pertama.
"Mas Fahri itu orang yang selamatin hidup gue," Fauzan berkata di depan kamera ponsel Zahra, suaranya penuh emosi. "Waktu gue hampir nyerah, dia yang ada di sana. Dia yang ngajarin gue bahwa hidup masih punya makna."
"Mas Fahri nggak pernah ngeliat kita sebagai orang cacat," Rasya menambahkan dengan gaya bicaranya yang khas. "Dia selalu ngeliat kita sebagai temen. Sebagai manusia. Itu yang bikin dia spesial."
"Mas Fahri adalah definisi kebaikan," Sukri berkata dengan suara lembutnya. "Orang kayak dia langka banget di dunia ini."
Tapi Zahra tidak berhenti di situ.
Ia mencari mahasiswa lain yang pernah dibantu Fahri dan ternyata, jumlahnya jauh lebih banyak dari yang ia kira.
"Fahri pernah bantuin gue debug kode waktu deadline udah mepet banget," seorang mahasiswa TI bersaksi. "Dia begadang semalaman demi nolongin gue, padahal itu bukan tugasnya."
"Fahri pernah ngajarin gue coding dari nol waktu gue hampir drop out karena nggak ngerti apa-apa," yang lain menambahkan. "Kalau bukan karena dia, gue nggak akan bisa lulus."
"Gue pernah liat Fahri ngasih uang jajannya ke mahasiswa lain yang nggak bisa bayar makan siang," seorang saksi lain bercerita. "Padahal dia sendiri juga nggak kaya."
Semakin banyak Zahra mengumpulkan testimoni, semakin ia menyadari betapa luar biasanya Fahri dan betapa bodohnya ia yang dulu tidak menghargai pemuda itu.
Setelah seminggu mengumpulkan materi, Zahra mengedit semua testimoni itu menjadi satu video berdurasi sepuluh menit.
Judulnya sederhana:?"Siapa Fahri Ramadhan Sebenarnya"
Video itu dimulai dengan wajah Zahra sendiri.
"Hai. Nama gue Zahra. Dan gue pernah melakukan kesalahan besar menjadikan seseorang yang luar biasa sebagai bahan taruhan. Tapi video ini bukan tentang gue. Video ini tentang dia Fahri Ramadhan. Dan tentang betapa luar biasanya dia di mata orang-orang yang pernah ia sentuh hidupnya."
Kemudian, satu per satu testimoni diputar.
Fauzan dengan gitarnya, menyanyikan lagu yang ia tulis khusus untuk Fahri.
Rasya dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, tapi penuh cinta.
Sukri dengan kata-katanya yang sedikit tapi bermakna dalam.
Mahasiswa-mahasiswa TI yang berterima kasih atas bantuan Fahri.
Ibu Muslimah yang menangis sambil bercerita tentang perjuangan membesarkan Fahri.
Kak Ita yang di antara candaannya menyisipkan betapa sayangnya ia pada adiknya.
Bahkan Risky dan Andi ikut berpartisipasi.
"Fahri adalah sahabat terbaik yang bisa dimiliki siapa pun," Risky berkata dengan serius untuk sekali ini tanpa lelucon. "Dan siapa pun yang nggak bisa liat itu... mereka yang rugi."
"Fahri mengajarkan gue bahwa kekuatan bukan tentang fisik," Andi menambahkan dengan bijak. "Tapi tentang hati. Dan hati Fahri adalah yang paling kuat yang pernah gue kenal."
Video itu diakhiri dengan Zahra lagi.
"Fahri, gue nggak tau apakah lo akan nonton ini. Gue nggak tau apakah lo akan maafin gue. Tapi gue mau lo tau dan gue mau seluruh dunia tau bahwa lo adalah orang paling luar biasa yang pernah ada. Dan gue... gue akan selalu mencintaimu. Selamanya."
Video itu diunggah ke Instagram, TikTok, dan YouTube pada malam yang sama.
Dalam 24 jam, video itu sudah ditonton ribuan kali.
Dalam 48 jam, video itu menjadi viral.
Komentar membanjiri dari mana-mana.
"Ini video paling menyentuh yang pernah gue tonton."
"Fahri sounds like an amazing person!"
"Zahra emang salah, tapi liat usahanya... gue rasa dia beneran nyesel."
"Whoever this Fahri is, he deserves the world."
"Gue nangis nonton ini. Seriously."
Media kampus mulai membicarakannya. Beberapa akun gosip bahkan membuat thread tentang "kisah cinta Zahra dan Fahri." Tiba-tiba, Fahri Ramadhan mahasiswa yang dulu hampir tidak terlihat menjadi nama yang dikenal banyak orang.
Tapi bagi Zahra, semua itu tidak penting.
Yang penting hanyalah satu orang.
Dan orang itu... masih belum memberikan respons.
Tiga hari setelah video viral, Zahra duduk di apartemennya dengan perasaan cemas.
Fahri tidak menghubunginya. Tidak membalas pesan. Tidak memberikan tanda apa pun.
"Mungkin dia butuh waktu," Bunga mencoba menghibur.
"Atau mungkin dia emang nggak mau maafin gue," Zahra berbisik, suaranya penuh keputusasaan.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor yang tidak dikenal.
[Nomor Tidak Dikenal]:?Ini Sukri. Kita perlu ketemu. Sekarang. Di caf? Kopi Hangat.
Zahra menatap pesan itu dengan bingung.
"Sukri?" Bunga membaca dari balik bahu Zahra. "Temen SLB-nya Fahri?"
"Iya." Zahra langsung berdiri. "Gue harus ke sana."
Ketika Zahra tiba di caf? Kopi Hangat, ia menemukan pemandangan yang tidak ia duga.
Fauzan, Rasya, Sukri, Risky, dan Andi semuanya duduk di meja besar di pojok caf?.
"Akhirnya dateng juga," Rasya menyapa, suaranya yang biasanya nyaring kini lebih lembut.
"Ada apa?" Zahra bertanya, duduk di kursi kosong yang sepertinya memang disediakan untuknya.
"Kita udah nonton video lo," Fauzan memulai. "Dan kita juga udah liat semua usaha lo selama beberapa minggu ini."
"Surat di mading, ngomong di kelas Mas Fahri, video yang lo bikin," Sukri melanjutkan. "Itu semua... butuh keberanian yang besar."
"Gue harus akuin," Risky berdeham, "awalnya gue nggak percaya sama lo. Gue pikir lo cuma akting lagi. Tapi setelah liat semua yang lo lakuin..." ia berhenti, seperti sulit mengakui apa yang akan ia katakan. "Gue mulai percaya bahwa lo emang beneran cinta sama Fahri."
"Kita semua percaya," Andi menambahkan dengan tenang.
Zahra merasakan dadanya sesak. "Tapi Fahri..."
"Mas Fahri masih bingung," Fauzan menjelaskan. "Dia liat semua usaha lo. Dia nonton video itu berkali-kali, kata Risky. Tapi dia masih takut. Takut untuk percaya lagi."
"Dia pernah bilang sama gue," Sukri melanjutkan, "bahwa dia masih mencintai lo. Tapi dia nggak tau apakah dia bisa mempercayai lo lagi."
"Jadi kita punya rencana," Rasya mengambil alih dengan nada yang lebih serius dari biasanya. "Rencana untuk mempertemukan kalian berdua. Sekali lagi. Untuk yang terakhir kalinya."
"Kalau Mas Fahri tetep nggak bisa maafin lo setelah pertemuan ini," Fauzan berkata dengan jujur, "kita semua sepakat untuk mendukung keputusannya dan nggak memaksa lagi."
"Tapi kalau ada kesempatan sekecil apa pun kita mau kasih kesempatan itu untuk kalian berdua," Andi mengakhiri.
Zahra menatap lima orang di hadapannya orang-orang yang awalnya membencinya, yang mengancamnya, yang tidak mempercayainya. Tapi sekarang, mereka ada di sini, membantunya.
"Kenapa?" Zahra bertanya dengan suara bergetar. "Kenapa kalian mau bantu gue?"
"Karena Mas Fahri pantas bahagia," Sukri menjawab dengan lembut. "Dan kami liat gimana bahagianya dia waktu sama lo. Sebelum semuanya hancur."
"Kalau ada kemungkinan kebahagiaan itu bisa kembali," Fauzan menambahkan, "kami mau bantu mewujudkannya."
"Dan jujur," Rasya nyengir sedikit, "lo udah buktiin bahwa lo berubah. Lo udah ngorbanin gengsi lo, reputasi lo, semuanya cuma demi Mas Fahri. Orang yang cuma akting nggak bakal lakuin semua itu."
Zahra merasakan air mata mengalir di pipinya. "Makasih. Makasih, semuanya."
"Jangan makasih dulu," Risky mengingatkan dengan nada serius. "Ini belum selesai. Pertemuan terakhir ini... itu yang menentukan segalanya."
Zahra mengangguk dengan tekad. "Gue siap. Kapan dan di mana?"
"Sabtu depan," Andi menjawab. "Di taman kampus. Bangku di bawah pohon trembesi tempat Mas Fahri pertama kali nembak lo."
Tempat di mana semuanya dimulai.
Dan mungkin, tempat di mana semuanya akan berakhir atau dimulai kembali.
"Gue bakal ada di sana," Zahra berkata dengan suara penuh determinasi.
"Bagus." Fauzan tersenyum. "Oh iya, satu lagi."
"Apa?"
"Lo harus siapin sesuatu yang spesial. Sesuatu yang menunjukkan bahwa lo beneran mengerti dan menghargai Mas Fahri. Bukan sesuatu yang mahal atau mewah Mas Fahri nggak peduli sama itu. Tapi sesuatu yang dateng dari hati."
Zahra mengangguk perlahan, pikirannya sudah berputar mencari ide.
Sesuatu dari hati.
Sesuatu yang menunjukkan bahwa ia mengerti Fahri.
Sesuatu yang menunjukkan bahwa ia berubah.
Dan tiba-tiba, ia tahu persis apa yang harus ia lakukan.
Malam itu, di apartemennya, Zahra duduk di depan laptopnya.
Layar menampilkan dokumen kosong.
Jari-jarinya menggantung di atas keyboard.
Dan perlahan, ia mulai mengetik.
Bukan surat permintaan maaf.
Bukan deklarasi cinta.
Tapi sesuatu yang lebih personal.
Sesuatu yang ia tulis dari lubuk hatinya yang terdalam.
Sesuatu yang ia harap bisa menunjukkan pada Fahri dan pada dirinya sendiri bahwa ia benar-benar berubah.
Air mata menetes ke keyboard saat ia menulis, tapi Zahra tidak berhenti.
Karena ini adalah kesempatan terakhirnya.
Dan ia tidak akan menyia-nyiakannya.
Sabtu depan akan menjadi hari yang menentukan segalanya.
Hari di mana Zahra akan berdiri di hadapan Fahri untuk terakhir kalinya.
Hari di mana ia akan memberikan seluruh hatinya tanpa topeng, tanpa kebohongan, tanpa kepalsuan.
Hari di mana ia akan mengetahui apakah cintanya cukup untuk menebus semua kesalahannya.
Dan apapun hasilnya, Zahra sudah siap menerimanya.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tahu bahwa ia sudah melakukan segalanya yang ia bisa.
Sisanya... terserah Fahri.
Dan takdir.
[PART
DARE TO LOVE (EPILOG)
Sabtu sore.
Langit berwarna jingga keemasan, persis seperti hari itu hari ketika Fahri memberanikan diri menyatakan cinta pada gadis yang ia pikir tidak mungkin membalas perasaannya.
Taman kampus Universitas Bhayangkara terlihat sepi. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang, menikmati akhir pekan mereka. Hanya beberapa orang yang tersisa duduk di bangku-bangku, membaca buku, atau sekadar menikmati angin sore.
Di bangku di bawah pohon trembesi besar itu, Fahri Ramadhan duduk sendirian.
Tongkatnya bersandar di sisi bangku. Matanya menatap ke kejauhan, menerawang pada kenangan yang terasa seperti seumur hidup yang lalu.
Di bangku ini, beberapa bulan lalu, ia memberikan album foto pada Zahra. Di bangku ini, dengan tangan gemetar dan suara yang tidak jelas, ia menyatakan perasaannya. Di bangku ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa cukup berani untuk berharap.
Dan di bangku ini juga, harapan itu hancur berkeping-keping.
"Fahri."
Suara familiar itu membuatnya menoleh.
Zahra berdiri tidak jauh dari sana, wajahnya pucat tapi matanya penuh determinasi. Ia mengenakan pakaian sederhana jeans dan blouse putih, tanpa makeup berlebihan, tanpa aksesoris mahal. Berbeda sekali dari Zahra yang dulu ia kenal.
Di tangan Zahra, ada sebuah buku kecil bersampul biru tua.
"Boleh gue duduk?" Zahra bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.
Fahri tidak menjawab, tapi ia juga tidak menolak. Ia hanya menggeser sedikit, memberi ruang.
Zahra duduk di sebelahnya di tempat yang sama di mana ia duduk ketika menerima pernyataan cinta Fahri dulu. Ironis bagaimana sekarang posisi mereka terbalik.
Hening menyelimuti mereka. Angin sore bertiup lembut, menggoyangkan daun-daun trembesi di atas kepala mereka.
"Gue..." Zahra memulai, lalu berhenti. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. "Gue tau lo mungkin nggak mau denger apa pun dari gue. Dan gue ngerti. Tapi... tolong, sekali ini aja, dengerin gue sampai selesai."
Fahri menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Tapi ia tidak pergi. Ia tidak menolak.
Zahra menganggap itu sebagai izin.
"Beberapa bulan lalu," Zahra memulai, suaranya pelan tapi jelas, "gue dateng ke kampus ini dengan satu tujuan: menaklukkan lo. Bukan karena gue suka sama lo. Bukan karena gue penasaran sama lo. Tapi karena sebuah dare bodoh."
Ia menatap langit yang mulai berubah warna.
"Waktu itu, gue liat lo cuma sebagai target. Cowok cacat yang bisa gue manfaatin untuk menang taruhan. Gue nggak pernah mikir tentang perasaan lo. Nggak pernah mikir bahwa lo juga manusia yang bisa sakit hati. Buat gue, lo cuma... objek."
Air mata mulai menggenang di mata Zahra, tapi ia tidak menghapusnya.
"Gue nyapa lo di perpustakaan dengan senyum palsu. Gue minta tolong tugas dengan niat tersembunyi. Gue pura-pura tertarik sama hobi lo padahal dalam hati gue bosan setengah mati. Setiap interaksi kita awalnya adalah kebohongan. Dan gue... gue nggak punya alasan untuk membela diri."
Fahri masih diam, tapi Zahra bisa melihat rahangnya mengeras.
"Tapi di tengah jalan," Zahra melanjutkan, suaranya semakin bergetar, "sesuatu berubah. Gue nggak tau kapan pastinya itu terjadi. Mungkin waktu lo dengan sabar ngajarin gue coding yang nggak gue pahami. Mungkin waktu lo jalan dari gedung TI sampai parkiran cuma buat nganterin gue dengan kaki lo yang pasti sakit. Mungkin waktu lo bikin rangkuman materi kuliah yang bukan bidang lo, cuma karena lo mau bantu gue."
Zahra menoleh menatap Fahri langsung.
"Atau mungkin waktu gue ketemu keluarga lo. Waktu Ibu Muslimah peluk gue dengan hangat kayak peluk anak sendiri. Waktu Kak Ita godain kita dengan canda yang bikin gue ketawa beneran bukan ketawa palsu kayak yang biasa gue lakuin. Waktu gue dengerin cerita perjuangan lo dari kecil, dan gue nyadar bahwa lo... lo bukan cuma 'cowok yang jalan pakai tongkat.' Lo adalah manusia yang luar biasa."
Air mata mengalir deras di pipi Zahra sekarang.
"Waktu lo kirim pesan itu pesan panjang tentang gimana sakitnya lo waktu gue nyebut lo 'temen' di depan teman-teman gue gue nangis semalaman. Bukan karena takut kehilangan lo. Tapi karena untuk pertama kalinya, gue ngerasain apa yang lo rasain. Gue ngerasain sakitnya jadi lo. Dan gue... gue malu banget sama diri gue sendiri."
Zahra mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Dari situ, semuanya berubah. Gue mulai beneran perhatiin lo. Beneran dengerin cerita lo. Beneran peduli sama lo. Dan tanpa gue sadari..." suaranya pecah, "...gue jatuh cinta. Beneran jatuh cinta."
Fahri mengalihkan pandangannya, rahangnya semakin tegang. Tapi Zahra bisa melihat matanya yang berkaca-kaca.
"Waktu lo putusin gue," Zahra melanjutkan, "dunia gue hancur. Bukan karena gengsi. Bukan karena malu. Tapi karena gue kehilangan orang yang gue cintai. Orang yang udah ngajarin gue arti ketulusan. Orang yang bikin gue pengen jadi manusia yang lebih baik."
Zahra mengambil buku kecil bersampul biru tua yang dari tadi ia pegang.
"Gue nulis ini buat lo," ia menyerahkan buku itu pada Fahri. "Ini bukan surat cinta. Bukan puisi romantis. Ini adalah... jurnal. Catatan perjalanan gue dari awal sampai sekarang. Dari hari pertama gue deketin lo karena dare, sampai hari ini hari di mana gue berdiri di depan lo dengan hati yang tulus."
Fahri menatap buku itu tanpa mengambilnya.
"Di dalamnya, gue tulis semuanya. Pikiran gue yang jelek waktu awal-awal. Gimana gue mulai berubah. Kapan gue sadar gue jatuh cinta. Apa yang gue rasain waktu lo putusin gue. Semuanya jujur. Tanpa diedit. Tanpa dipermanis. Gue mau lo tau siapa gue sebenarnya yang dulu, dan yang sekarang."
Zahra meletakkan buku itu di pangkuan Fahri.
"Fahri," ia menatap pemuda itu dengan mata yang penuh emosi, "gue nggak minta lo untuk maafin gue. Gue nggak minta lo untuk terima gue kembali. Gue tau apa yang gue lakuin itu nggak bisa dimaafin dengan mudah. Gue tau kepercayaan yang hancur butuh waktu lama untuk dibangun lagi."
"Tapi gue mau lo tau satu hal," Zahra menarik napas dalam-dalam, "gue mencintaimu. Bukan karena dare. Bukan karena terpaksa. Bukan karena kasihan. Tapi karena pilihan hatiku sendiri."
Ia berdiri, bersiap untuk pergi.
"Kalau lo nggak bisa maafin gue, gue ngerti. Gue akan menghargai keputusan lo, apapun itu. Tapi kalau suatu hari nanti lo mau kasih gue kesempatan kedua..." suaranya tercekat, "...gue janji, dengan seluruh hatiku, gue nggak akan nyakitin lo lagi. Gue janji gue akan jadi orang yang pantas untuk cinta lo."
Zahra menghapus air matanya untuk terakhir kalinya.
"Makasih, Fahri. Makasih udah ngajarin gue arti cinta yang sesungguhnya. Makasih udah bikin gue jadi manusia yang lebih baik. Dan makasih... makasih udah pernah mencintai gue, meski gue nggak pantas."
Dengan itu, Zahra berbalik dan mulai berjalan pergi.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
"Zahra."
Suara Fahri yang sedikit tidak jelas tapi penuh emosi membuatnya berhenti.
"Tunggu."
Zahra berbalik perlahan. Fahri sudah berdiri, buku biru itu ada di tangannya. Wajahnya basah oleh air mata yang tidak ia sembunyikan.
"Gue..." Fahri menelan ludah, berusaha mengendalikan suaranya yang bergetar. "Gue baca surat lo di mading. Gue denger lo ngomong di depan kelas gue. Gue nonton video yang lo bikin berulang kali, sampai gue hafal setiap kata."
Ia mengambil langkah ke depan, tongkatnya berdetak di tanah.
"Gue liat semua usaha lo. Gue liat gimana lo ngorbanin gengsi lo, reputasi lo, semuanya cuma demi gue. Gue liat gimana lo berubah dari Zahra yang dulu gue kenal."
Fahri berhenti tepat di depan Zahra.
"Tapi gue takut, Zahra. Gue takut untuk percaya lagi. Karena terakhir kali gue percaya sama lo, gue hampir nggak bisa bangkit."
"Gue ngerti " Zahra memulai.
"Tapi," Fahri memotong, menatapnya langsung, "ada satu hal yang nggak bisa gue bohongin."
"Apa?"
"Gue masih cinta sama lo."
Kata-kata itu membuat Zahra tersentak.
"Dari dulu sampai sekarang," Fahri melanjutkan, suaranya bergetar, "perasaan gue ke lo nggak pernah berubah. Meski gue marah. Meski gue kecewa. Meski gue sakit hati. Gue tetep cinta sama lo."
Air mata mengalir di pipi keduanya sekarang.
"Gue nggak tau apakah ini keputusan yang bener," Fahri mengakui. "Gue nggak tau apakah gue bakal nyesel. Tapi gue tau satu hal kalau gue nggak kasih lo kesempatan kedua, gue akan menyesal seumur hidup."
"Fahri..."
"Zahra Almeera Pratama," Fahri menarik napas dalam-dalam, "apakah lo mau... mulai dari awal lagi? Bukan sebagai dare. Bukan sebagai kebohongan. Tapi sebagai dua orang yang belajar untuk saling percaya lagi?"
Zahra tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia menghambur ke pelukan Fahri, melingkarkan tangannya di leher pemuda itu, menangis tersedu-sedu di bahunya.
"Iya," ia berbisik di antara isakan. "Iya, Fahri. Iya."
Fahri balas memeluknya dengan erat erat sekali, seolah takut Zahra akan menghilang jika ia melepaskannya.
Mereka berdiri di sana, berpelukan di bawah pohon trembesi, dengan langit sore sebagai saksi.
Dua orang yang patah hati, perlahan mulai menyembuhkan satu sama lain.
Dua orang yang tersesat, akhirnya menemukan jalan pulang.
Dua orang yang jatuh cinta kali ini dengan cara yang benar.
Dari kejauhan, di balik pohon besar di sisi lain taman, enam pasang mata menyaksikan pemandangan itu.
"Yes!" Risky berbisik dengan antusias, mengepalkan tangannya. "Mereka balikan!"
"Shh!" Andi menyikutnya. "Jangan keras-keras!"
"Akhirnya," Bunga tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Akhirnya sahabat gue bahagia."
"Mas Fahri juga keliatan bahagia," Fauzan berkomentar. "Gue bisa denger dari suaranya tadi ada kehangatan yang udah lama hilang."
"Cieee, romantis banget," Rasya menggoda meski ia sendiri tidak bisa melihat. "Gue jadi pengen punya pacar juga."
"Lo mah mikirin pacar terus," Sukri tertawa kecil.
Mereka berlima berdiri di sana, menyaksikan dua orang yang mereka sayangi akhirnya menemukan kebahagiaan kembali.
Dan untuk sesaat, dunia terasa sempurna.
SATU TAHUN KEMUDIAN
Aula Universitas Bhayangkara dipenuhi oleh ratusan mahasiswa.
Di panggung, seorang gadis cantik dengan rambut yang diikat rapi berdiri di belakang podium. Ia mengenakan blazer formal berwarna biru tua warna yang kini menjadi favoritnya.
"...dan itulah mengapa organisasi 'Inklusif Bhayangkara' didirikan," Zahra Almeera Pratama berbicara dengan penuh percaya diri. "Untuk menciptakan kampus yang ramah bagi semua mahasiswa, termasuk mereka yang memiliki disabilitas. Karena keterbatasan fisik bukan penghalang untuk bermimpi dan berkarya."
Tepuk tangan memenuhi aula.
Zahra tersenyum senyum yang berbeda dari senyum yang dulu ia miliki. Lebih hangat. Lebih tulus. Lebih rendah hati.
Di barisan depan, Fahri Ramadhan duduk dengan bangga, matanya tidak lepas dari gadis yang sedang berbicara di panggung. Di sebelahnya, Risky dan Andi bertepuk tangan dengan antusias.
"Pacar lo keren banget, Fah," Risky berbisik.
"Gue tau," Fahri tersenyum. "Gue beruntung banget."
Setelah acara selesai, Zahra turun dari panggung dan langsung menghampiri Fahri.
"Gimana? Tadi oke nggak?" ia bertanya dengan sedikit cemas.
"Lebih dari oke," Fahri meraih tangannya, menggenggamnya dengan lembut. "Lo luar biasa, sayang."
Zahra tersenyum malu sesuatu yang dulu tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Satu tahun sudah berlalu sejak pertemuan di taman kampus itu. Satu tahun yang penuh dengan perjuangan untuk membangun kembali kepercayaan. Satu tahun yang mengubah keduanya menjadi versi terbaik dari diri mereka.
Zahra bukan lagi ratu kampus yang sombong dan angkuh. Ia sekarang adalah ketua organisasi "Inklusif Bhayangkara" organisasi yang ia dirikan bersama Fahri untuk memperjuangkan hak-hak mahasiswa disabilitas. Ia menghabiskan waktu luangnya untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, mengunjungi SLB-SLB di kota, dan menjadi advokat bagi mereka yang suaranya jarang didengar.
Fahri juga berubah. Ia lebih percaya diri sekarang. Lebih berani berbicara di depan orang banyak. Lebih yakin bahwa ia pantas dicintai dan dihargai. Aplikasi yang ia kembangkan untuk membantu penyandang disabilitas belajar coding sudah diluncurkan dan diunduh ribuan kali.
Mereka tumbuh bersama. Belajar bersama. Jatuh bangun bersama.
Dan cinta mereka semakin dalam setiap harinya.
"Eh, nanti malam jadi kan ke rumah lo?" Bunga bertanya saat mereka berjalan keluar dari aula.
"Jadi dong! Ibu udah masak banyak," Fahri menjawab dengan semangat. "Kak Ita juga udah nyiapin bahan-bahan buat bakar-bakaran."
"Fauzan, Rasya, sama Sukri juga dateng kan?" Zahra memastikan.
"Pasti! Fauzan bilang mau bawa gitar baru."
"Wah, siap-siap dengerin konser mini nih," Risky tertawa.
Mereka berjalan bersama menuju parkiran Zahra, Fahri, Bunga, Risky, dan Andi. Lima orang yang dulu bermusuhan karena satu kebohongan, sekarang menjadi sahabat yang tidak terpisahkan.
Di perjalanan, Zahra melirik ke belakang dan melihat sosok yang familiar berdiri sendirian di dekat gedung fakultas.
Cintia.
Gadis itu menatap mereka dari kejauhan dengan ekspresi yang sulit dibaca campuran antara penyesalan, kesedihan, dan sesuatu yang mungkin kecemburuan.
Sudah satu tahun sejak konfrontasi mereka. Cintia tidak pernah meminta maaf, dan Zahra tidak pernah memaafkan setidaknya tidak secara verbal. Tapi seiring waktu, kemarahan Zahra perlahan memudar, digantikan oleh sesuatu yang lebih mirip kasihan.
Cintia kehilangan segalanya karena kecemburuannya. Persahabatannya dengan Zahra. Persahabatannya dengan Bunga. Reputasinya di kampus ketika kebenaran tentang siapa yang menyebarkan rumor itu akhirnya terungkap. Dan tentu saja, harapannya untuk bersama Fahri.
Sekarang, Cintia berdiri sendirian terasing, kesepian, menyaksikan kebahagiaan yang tidak bisa ia miliki.
Zahra ingin merasa puas melihat itu. Ingin merasa bahwa Cintia pantas mendapatkannya.
Tapi ia tidak bisa.
Yang ia rasakan hanyalah kesedihan untuk seseorang yang tidak bisa melepaskan racun dalam hatinya sendiri.
"Lo oke?" Fahri bertanya, menyadari tatapan Zahra.
Zahra mengalihkan pandangannya dan tersenyum pada Fahri. "Oke. Ayo jalan."
Mereka melanjutkan perjalanan, meninggalkan masa lalu di belakang.
Malam itu, rumah keluarga Fahri dipenuhi oleh tawa dan kehangatan.
Di halaman belakang, Fauzan memetik gitarnya sambil menyanyikan lagu-lagu ceria. Rasya berdebat dengan Risky tentang film terbaru perdebatan yang tidak ada habisnya dan tidak ada pemenangnya. Sukri dan Andi mengobrol dengan tenang di sudut, membicarakan hal-hal yang lebih serius.
Kak Ita sibuk bolak-balik antara dapur dan halaman, membawa makanan dan minuman sambil mengomel tentang betapa repotnya menyiapkan acara dadakan seperti ini tapi semua orang tahu ia menikmati setiap detiknya.
Ibu Muslimah duduk di kursi kesayangannya, tersenyum melihat rumahnya yang biasanya sepi kini dipenuhi oleh anak-anak muda yang ceria.
Dan di tengah semua keramaian itu, Zahra dan Fahri duduk bersebelahan di bangku taman kecil yang menghadap langit malam.
"Lo tau nggak," Fahri memulai, matanya menatap bintang-bintang, "kalau setahun lalu ada yang bilang hidup gue bakal kayak gini, gue nggak akan percaya."
"Kayak gimana?"
"Bahagia. Dikelilingi orang-orang yang sayang sama gue. Punya pacar yang... yang luar biasa."
Zahra tertawa kecil. "Lo masih bisa bilang gue luar biasa setelah semua yang gue lakuin?"
"Justru karena semua yang lo lakuin," Fahri menatapnya dengan mata yang penuh cinta. "Lo berubah, Zahra. Lo bukan lagi orang yang sama dengan yang deketin gue karena dare setahun lalu. Lo sekarang adalah... versi terbaik dari diri lo."
"Itu semua karena lo," Zahra berbisik. "Lo yang ngajarin gue gimana caranya jadi manusia yang lebih baik."
Fahri menggeleng. "Nggak. Lo yang memilih untuk berubah. Gue cuma... kebetulan ada di sana waktu lo butuh alasan untuk berubah."
Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan yang nyaman.
"Fahri," Zahra memulai lagi.
"Hm?"
"Lo inget nggak, waktu lo pertama kali nembak gue di taman kampus?"
"Gimana gue bisa lupa. Itu momen paling memalukan sekaligus paling berani dalam hidup gue."
Zahra tertawa. "Lo gemetar banget waktu itu. Dan suara lo makin nggak jelas karena nervous."
"Hey!" Fahri pura-pura tersinggung. "Lo nggak boleh ngatain gue!"
"Gue nggak ngatain. Gue cuma... mengenang." Zahra tersenyum lembut. "Lo tau, waktu itu gue terima lo karena dare. Tapi sekarang, kalau lo nembak gue lagi, gue bakal terima lo karena cinta."
Fahri menatapnya lama.
Kemudian, dengan gerakan yang pelan, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Sebuah kotak kecil berwarna biru tua.
Jantung Zahra berhenti sedetik.
"Fahri... itu..."
"Ini bukan cincin tunangan," Fahri buru-buru menjelaskan dengan wajah merah. "Kita masih kuliah. Gue belum punya penghasilan tetap. Gue nggak mau ngelamar lo dalam kondisi kayak gini."
Ia membuka kotak itu, dan di dalamnya ada sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran kecil.
"Ini cincin janji," Fahri melanjutkan. "Janji bahwa suatu hari nanti, ketika gue sudah punya penghasilan sendiri, ketika gue sudah bisa kasih lo hidup yang layak, gue akan melamar lo dengan bener. Dengan cincin yang lebih bagus. Di tempat yang lebih romantis."
Air mata menggenang di mata Zahra.
"Tapi untuk sekarang," Fahri meraih tangan Zahra, "gue cuma mau lo tau bahwa lo adalah orang yang ingin gue habiskan sisa hidup gue bareng. Apapun yang terjadi. Apapun tantangan yang kita hadapi. Gue mau menghadapi semuanya sama lo."
"Fahri..." suara Zahra tercekat.
"Zahra Almeera Pratama," Fahri menatapnya dengan mata yang penuh cinta, "maukah lo menerima janji ini? Janji bahwa suatu hari nanti, gue akan membuat lo jadi istri gue?"
Zahra tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia mencium Fahri ciuman pertama mereka yang sesungguhnya.
Bukan ciuman yang dipaksakan. Bukan ciuman untuk kepalsuan.
Tapi ciuman yang datang dari hati yang tulus.
Ketika mereka melepaskan ciuman itu, keduanya tersenyum dengan air mata di pipi.
"Itu artinya iya kan?" Fahri bertanya dengan suara bergetar.
"Iya, sayang. Seribu kali iya."
Fahri memasangkan cincin itu di jari Zahra, dan mereka berpelukan di bawah langit malam yang bertabur bintang.
Dari dalam rumah, Bunga menyaksikan momen itu melalui jendela.
Air mata bahagia mengalir di pipinya.
"Mereka kayaknya udah jadian lagi deh," Kak Ita muncul di sebelahnya, ikut mengintip.
"Lebih dari itu, Kak. Liat jari Zahra."
Kak Ita memicingkan matanya, lalu tersentak. "ITU CINCIN?!"
"Shh! Jangan keras-keras!"
Tapi sudah terlambat. Risky dan Fauzan sudah mendengar.
"CINCIN?!" mereka berteriak bersamaan.
"FAHRI NGELAMAR ZAHRA?!" Rasya ikut heboh meski tidak bisa melihat.
Suasana langsung riuh. Semua orang berhamburan ke halaman belakang, mengucapkan selamat dan memeluk pasangan yang wajahnya merah padam karena malu.
"Aduh, kalian nggak bisa kasih privasi dikit apa?!" Fahri protes, tapi senyum di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Privasi apaan! Ini momen bersejarah!" Kak Ita memeluk adiknya dengan erat. "Adek kecil gue udah mau nikah!"
"Belum nikah, Kak! Ini cuma cincin janji!"
"Sama aja! Tahap awal menuju pernikahan!" Kak Ita menoleh ke Zahra. "Zahra, selamat datang resmi di keluarga kami ya!"
Ibu Muslimah menghampiri mereka dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk Zahra dengan hangat.
"Makasih, Nak," Ibu Muslimah berbisik. "Makasih udah sayang sama Fahri. Makasih udah jadi bagian dari hidup kami."
"Ibu..." Zahra menangis di bahu wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu keduanya. "Harusnya gue yang makasih. Makasih udah terima gue meski gue pernah nyakitin Fahri."
"Yang penting sekarang," Ibu Muslimah tersenyum bijaksana. "Yang penting kalian bahagia."
Bunga menghampiri Zahra dan memeluknya erat.
"Gue seneng banget, Zar," Bunga berbisik. "Gue tau lo udah melalui banyak hal. Tapi lo berhasil. Lo dapetin happy ending lo."
"Bun," Zahra melepas pelukannya dan menatap sahabatnya serius. "Kalau gue beneran nikah nanti, lo harus jadi saksi gue. Janji?"
"Tentu!" Bunga tertawa. "Memangnya siapa lagi yang mau jadi saksi pernikahan lo selain gue?"
Mereka berpelukan lagi, dua sahabat yang sudah melalui badai bersama.
Malam itu berakhir dengan tawa, kehangatan, dan cinta.
Di halaman belakang rumah sederhana itu, di bawah langit yang bertabur bintang, sekelompok orang yang berbeda-beda dengan latar belakang berbeda, dengan kondisi berbeda, dengan masa lalu berbeda berkumpul sebagai satu keluarga besar.
Fahri merangkul Zahra, matanya menyapu semua orang yang ia sayangi.
Ibu yang selalu ada untuknya. Kakak yang meski menyebalkan tapi sangat peduli. Sahabat-sahabat SLB yang sudah menemaninya sejak remaja. Risky dan Andi yang setia di sampingnya sejak kuliah. Bunga yang menjadi jembatan antara dunianya dan dunia Zahra.
Dan tentu saja, Zahra gadis yang dulu mendekatinya karena dare, tapi sekarang mencintainya dengan sepenuh hati.
"Gue bahagia," Fahri berbisik.
"Gue juga," Zahra membalas.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Fahri tahu bahwa kebahagiaan ini nyata.
Bukan ilusi. Bukan kebohongan. Tapi kenyataan yang ia bangun bersama orang-orang yang ia cintai.
Beberapa minggu kemudian, Zahra menemukan jurnal lama di laci mejanya jurnal yang ia tulis selama proses pendekatan awal dengan Fahri.
Ia membukanya dan membaca entri pertama.
"Hari ini gue nyapa cowok cacat di perpustakaan. Dare paling menjijikkan yang pernah gue terima. Gue nggak sabar sampai semua ini selesai."
Zahra tersenyum membaca kata-kata itu kata-kata dari versi dirinya yang sudah tidak ada lagi.
Ia membalik ke halaman terakhir halaman yang baru ia tulis kemarin.
"Hari ini, Fahri memasangkan cincin janji di jariku. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu apa arti cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta yang sempurna. Bukan cinta yang tanpa kesalahan. Tapi cinta yang tumbuh dari tempat yang salah, tapi akhirnya menemukan jalannya yang benar."
"Dare to love berani untuk mencintai. Itulah yang kupelajari dari perjalanan ini. Mencintai bukan tentang menemukan orang yang sempurna. Tapi tentang berani menerima ketidaksempurnaan baik pada diri sendiri maupun orang lain."
"Dan Fahri mengajariku bahwa ketidaksempurnaan bukan kelemahan. Justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat kita manusia. Yang membuat kita unik. Yang membuat kita... layak untuk dicintai."
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi satu hal yang aku tahu pasti aku akan menghabiskan sisa hidupku membuktikan bahwa cintaku pada Fahri adalah nyata. Setiap hari. Setiap saat. Sampai akhir hidupku."
"Karena dia pantas mendapatkan itu. Dan aku... aku akhirnya menjadi orang yang pantas memberikannya."
Zahra menutup jurnal itu dengan senyum.
Di luar jendela, matahari bersinar cerah.
Dan di jarinya, cincin perak sederhana berkilau simbol janji cinta yang tulus.
Cinta yang dimulai dari dare bodoh.
Tapi berakhir dengan kebahagiaan yang sesungguhnya.
DARE TO LOVE.