MEMPERBAIKI KESALAHAN
Bab 13 dari Novel Dare To Love
Sudah tiga hari sejak Fahri memutuskan Zahra, dan gadis yang dulu dikenal sebagai ratu kampus itu tidak keluar dari kamarnya.
Tirai apartemennya tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari yang mencoba masuk. Piring-piring makanan yang dibawa Bunga menumpuk di meja, hampir tidak tersentuh. Ponselnya mati kehabisan baterai dan tidak ada niat untuk mengisi ulang.
Zahra berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit dengan mata kosong. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini kusut dan berantakan. Makeup yang selalu sempurna tidak ada hanya wajah pucat dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Goodbye, Zahra."
Kata-kata terakhir Fahri terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak yang tidak mau berhenti.
"Gue nggak bisa pacaran sama orang yang nggak bisa gue percaya."
Setiap kalimat adalah pisau yang mengiris hatinya berulang-ulang.
"Lo jadiin gue bahan taruhan. Kayak gue ini barang. Kayak gue ini mainan."
Zahra menutup matanya, tapi air mata tetap mengalir di pipinya yang sudah kering.
Ketukan di pintu kamar membuatnya sedikit tersentak.
"Zar? Lo udah bangun?" Suara Bunga terdengar dari luar. "Gue bawa sarapan."
Zahra tidak menjawab.
"Zar, please. Lo harus makan. Udah tiga hari lo hampir nggak makan apa-apa."
Tetap tidak ada jawaban.
Suara kunci diputar Bunga punya duplikat kunci apartemen Zahra untuk keadaan darurat seperti ini. Pintu terbuka perlahan, dan Bunga masuk dengan nampan berisi bubur dan jus jeruk.
Bunga menatap sahabatnya dengan hati yang pedih. Zahra yang ia kenal gadis yang selalu percaya diri, selalu sempurna, selalu jadi pusat perhatian kini terbaring seperti mayat hidup.
"Zar," Bunga duduk di tepi tempat tidur, meletakkan nampan di meja nakas. "Lo harus makan."
"Gue nggak lapar," Zahra menjawab dengan suara serak.
"Gue nggak tanya lo lapar atau nggak. Gue bilang lo harus makan."
Zahra tidak bergerak.
Bunga menghela napas, lalu berbaring di sebelah Zahra, menatap langit-langit yang sama.
"Lo tau," Bunga memulai dengan suara lembut, "waktu SMA, gue pernah patah hati juga. Cowok yang gue suka ternyata cuma manfaatin gue buat deketin cewek lain. Gue ngerasa kayak sampah. Nggak berguna. Nggak berharga."
Zahra tidak menjawab, tapi Bunga tahu ia mendengarkan.
"Waktu itu, gue juga kayak lo. Nggak mau makan, nggak mau keluar kamar, ngerasa dunia udah kiamat. Tapi lo tau apa yang bikin gue bangkit?"
"Apa?" Zahra akhirnya bersuara.
"Gue sadar bahwa nangis terus-terusan nggak akan mengubah apa pun. Kalau gue mau memperbaiki keadaan, gue harus bangun dan bertindak."
Zahra memejamkan matanya. "Situasi gue beda, Bun. Gue yang salah. Gue yang jahat. Gue yang "
"Iya, lo yang salah," Bunga memotong dengan tegas tapi lembut. "Lo udah lakuin kesalahan besar. Tapi pertanyaannya sekarang: lo mau terus tenggelam dalam penyesalan, atau lo mau bangkit dan memperbaikinya?"
Zahra terdiam.
"Fahri mungkin udah putusin lo. Tapi itu bukan berarti semuanya selesai. Lo masih bisa buktiin ke dia bahwa lo berubah. Lo masih bisa tunjukin bahwa cinta lo sekarang itu tulus."
"Gimana caranya?" Zahra berbisik. "Dia bahkan nggak mau liat muka gue."
"Kita pikirin sama-sama." Bunga menggenggam tangan Zahra. "Tapi pertama, lo harus makan. Lo harus kuat dulu. Nggak bisa memperbaiki apa pun kalau lo sendiri hancur."
Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Zahra merasakan secercah harapan muncul di hatinya.
Dengan perlahan, ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil mangkuk bubur yang dibawa Bunga.
Langkah kecil pertama.
Hari keempat, Zahra akhirnya mandi dan berganti baju.
Hari kelima, ia mulai makan dengan teratur.
Hari keenam, ia menyalakan ponselnya kembali.
Dan di hari keenam itulah, ia menemukan kebenaran yang lebih menyakitkan.
Notifikasi membanjiri layar ponselnya pesan, missed calls, mentions di media sosial. Tapi yang menarik perhatiannya adalah satu screenshot yang dikirim oleh Nadya.
NADYA:?Zar, gue minta maaf. Gue nggak tau kalau Cintia punya niat jahat. Gue pikir dia cuma curhat biasa. Ini bukti chat gue sama dia.
Di bawahnya, ada screenshot percakapan antara Nadya dan Cintia.
[Chat Nadya - Cintia]
CINTIA:?Nad, gue mau cerita sesuatu. Tapi lo harus janji nggak bilang siapa-siapa ya.
NADYA:?Iya, kenapa?
CINTIA:?Zahra pacaran sama Fahri cuma karena dare. Gue yang kasih dare-nya.
NADYA:?Serius?! Kok bisa?
CINTIA:?Iya, kasian banget cowoknya kan? Dijadiin bahan taruhan kayak gitu. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasia.
NADYA:?Oke, gue nggak bakal bilang.
CINTIA:?Thanks, Nad. Oh iya, kalau ada yang nanya, bilang aja lo denger dari gue. Biar mereka tau sumbernya terpercaya.
Zahra menatap screenshot itu dengan mata melebar.
Kalau ada yang nanya, bilang aja lo denger dari gue.
Cintia sengaja menyebarkan rumor ini. Bukan tidak sengaja. Bukan karena keceplosan. Tapi dengan sengaja dan terencana.
"Bun," Zahra memanggil dengan suara yang bergetar. "Liat ini."
Bunga mengambil ponsel Zahra dan membaca screenshot itu. Wajahnya langsung mengeras.
"Gue udah curiga dari awal," Bunga bergumam. "Dari cara Cintia terlalu excited sama dare ini. Dari cara dia terus dorong lo buat lanjutin. Semuanya masuk akal sekarang."
"Tapi kenapa?" Zahra tidak mengerti. "Kenapa Cintia lakuin ini? Dia kan sahabat gue."
"Gue nggak tau, Zar. Tapi lo harus konfrontasi dia. Lo harus tau alasannya."
Zahra mengepalkan tangannya. Kemarahan yang selama ini tertutup oleh kesedihan mulai muncul ke permukaan.
"Gue mau ketemu dia. Sekarang."
Dua jam kemudian, Zahra berdiri di depan apartemen Cintia.
Penampilannya masih jauh dari sempurna rambut diikat asal-asalan, tanpa makeup, hanya memakai kaos dan jeans. Tapi matanya menyala dengan determinasi yang berbeda.
Ia menekan bel.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Cintia berdiri di sana, ekspresinya berubah dari terkejut menjadi... waspada.
"Zahra? Lo "
"Kita perlu bicara," Zahra memotong dengan nada dingin.
Cintia terdiam sejenak, lalu membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
Zahra melangkah masuk ke apartemen yang dulu sering ia kunjungi apartemen tempat dare terkutuk itu dimulai. Ironis.
"Jadi?" Cintia bertanya dengan nada yang dibuat kasual. "Lo mau ngomongin apa?"
Zahra menatap Cintia lurus-lurus. "Kenapa lo sengaja nyebarin rumor itu?"
Wajah Cintia berubah seketika. Topeng kepeduliannya retak.
"Apa maksud lo?"
"Jangan pura-pura bego, Tia." Zahra mengeluarkan ponselnya, menunjukkan screenshot percakapan Cintia dengan Nadya. "Lo bilang sendiri ke Nadya 'kalau ada yang nanya, bilang aja lo denger dari gue.' Lo sengaja nyebarin ini. Lo sengaja hancurin hubungan gue sama Fahri."
Cintia menatap screenshot itu, dan untuk sesaat, ada kepanikan di matanya. Tapi kemudian, ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
"Terus kenapa?" Cintia akhirnya berkata, suaranya tidak lagi manis seperti biasa. "Toh hubungan lo sama Fahri emang cuma kebohongan dari awal. Gue cuma ungkapin kebenaran."
"Lo nggak punya hak untuk 'ungkapin' apa pun! Itu urusan gue! Gue yang harusnya bilang ke Fahri, bukan lo!"
"Oh, terus kapan lo mau bilang? Setelah nikah? Setelah punya anak?" Cintia tertawa sinis. "Lo terlalu pengecut untuk jujur, Zahra. Lo nggak akan pernah bilang ke dia."
"Lo nggak tau apa-apa tentang gue "
"Gue tau lebih dari yang lo pikir!" Cintia memotong dengan suara meninggi. "Gue tau lo cuma peduli sama diri lo sendiri! Lo cuma peduli sama gengsi dan reputasi! Fahri cuma mainan buat lo, dan lo nggak pantas punya dia!"
Kata-kata itu membuat Zahra terdiam. Ada sesuatu dalam cara Cintia berbicara ada emosi yang lebih dalam dari sekadar kemarahan biasa.
"Kenapa lo peduli banget sama Fahri?" Zahra bertanya pelan. "Kenapa lo sampai rela hancurin persahabatan kita cuma untuk... ini?"
Cintia membeku.
"Jawab gue, Tia. Kenapa?"
Hening panjang.
Kemudian, Cintia tertawa tawa pahit yang penuh luka.
"Lo mau tau kenapa?" Cintia menatap Zahra dengan mata yang berkaca-kaca. "Karena gue suka sama Fahri. Dari lama. Dari sebelum lo deketin dia."
Zahra tersentak.
"Semester lalu, gue ikut mata kuliah pilihan Pengantar Pemrograman," Cintia melanjutkan, suaranya bergetar. "Gue duduk di sebelah Fahri karena nggak ada tempat lain. Dan dia... dia bantu gue. Tanpa pamrih. Tanpa menghakimi. Dia orang pertama yang liat gue sebagai manusia, bukan cuma 'temen Zahra' atau 'bintang kampus nomor dua.'"
"Tia..."
"Gue jatuh cinta sama dia," Cintia mengaku, air mata mulai mengalir di pipinya. "Tapi gue nggak berani ngungkapin. Karena... karena gimana bisa? Gue bintang kampus. Temen-temen gue bakal ngetawain gue kalau tau gue suka sama cowok cacat."
Kata-kata itu terasa familiar terlalu familiar. Karena itu adalah ketakutan yang sama yang pernah Zahra rasakan.
"Jadi waktu kita main truth or dare malam itu," Cintia melanjutkan, "gue liat kesempatan. Gue pikir, kalau gue paksa lo deketin Fahri, lo pasti bakal gagal. Lo terlalu sombong untuk beneran suka sama dia. Dan waktu lo gagal, lo bakal malu sendiri, dan Fahri bakal liat siapa lo sebenarnya."
"Tapi gue nggak gagal," Zahra berbisik.
"JUSTRU ITU MASALAHNYA!" Cintia berteriak. "Lo nggak gagal! Lo malah... lo malah jatuh cinta sama dia! Lo dapat semua yang gue impiin cinta Fahri, penerimaan keluarganya, persahabatan sama temen-temen SLB-nya semua! Dan gue cuma bisa nonton dari pinggir!"
Cintia jatuh terduduk di sofa, menangis tersedu-sedu.
"Lo tau betapa sakitnya liat lo bahagia sama orang yang gue cintai? Betapa frustrasinya gue tiap kali lo cerita tentang Fahri dengan mata berbinar? Betapa irinya gue waktu lo bilang Fahri itu 'luar biasa' padahal gue yang seharusnya ada di posisi lo?!"
Zahra menatap sahabatnya mantan sahabatnya dengan perasaan yang campur aduk.
Kemarahan. Pengkhianatan. Tapi juga... kasihan?
"Jadi lo sabotase hubungan gue," Zahra berkata dengan suara datar. "Lo hancurin semuanya karena cemburu."
"Gue... gue cuma..."
"Lo cuma apa, Tia?!" Kemarahan Zahra akhirnya meledak. "Lo cuma mau liat gue hancur?! Lo cuma mau rebut Fahri dari gue?! Lo pikir dengan menghancurkan gue, Fahri bakal lari ke lo?!"
"Gue nggak "
"FAHRI NGGAK AKAN PERNAH SUKA SAMA ORANG KAYAK LO!" Zahra berteriak. "Lo tau kenapa? Karena Fahri orang yang tulus! Dan lo? Lo manipulatif! Lo licik! Lo nggak lebih baik dari gue bahkan mungkin lebih buruk!"
"Zahra "
"Gue akuin gue salah!" Zahra memotong dengan suara yang bergetar. "Gue salah karena terima dare itu. Gue salah karena bohongin Fahri. Tapi setidaknya, gue beneran jatuh cinta sama dia di tengah jalan! Gue beneran berubah! Sedangkan lo? Lo cuma pengecut yang bersembunyi di balik persahabatan palsu!"
Cintia tidak menjawab. Air matanya terus mengalir.
Zahra menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
"Kita selesai, Tia," Zahra berkata dengan nada final. "Persahabatan kita selesai. Gue nggak mau liat muka lo lagi."
"Zahra, please "
"Lo udah hancurin satu-satunya hal baik dalam hidup gue," Zahra memotong, suaranya pecah. "Lo hancurin hubungan gue sama Fahri. Lo hancurin kepercayaan dia ke gue. Dan lo lakuin semua itu sambil pura-pura jadi sahabat gue."
Zahra berjalan menuju pintu.
"Selamat tinggal, Cintia."
Dengan itu, Zahra keluar dari apartemen, meninggalkan Cintia yang menangis sendirian.
Di koridor, Zahra bersandar di dinding, kakinya gemetar. Air mata mengalir di pipinya bukan lagi hanya karena Fahri, tapi juga karena kehilangan sahabat yang ternyata tidak pernah benar-benar menjadi sahabat.
Keesokan harinya, Zahra melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan.
Ia pergi ke rumah Fahri.
Bukan untuk menemui Fahri ia tahu Fahri tidak akan mau melihatnya. Tapi untuk menemui seseorang yang mungkin bisa membantunya.
Ketika ia tiba di depan rumah sederhana itu, jantungnya berdebar kencang. Ia menekan bel dengan tangan gemetar.
Pintu terbuka, dan Ibu Muslimah berdiri di sana.
Wajah wanita paruh baya itu berubah melihat Zahra ada campuran antara terkejut, kecewa, dan... simpati?
"Zahra," Ibu Muslimah menyapa dengan suara yang datar.
"Ibu..." Zahra menelan ludah. "Boleh... boleh saya masuk? Ada yang mau saya omongin."
Hening sejenak.
Kemudian, Ibu Muslimah menghela napas dan membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
Mereka duduk di ruang tamu ruangan yang sama tempat Zahra pernah merasa diterima seperti keluarga. Tapi sekarang, suasananya berbeda. Lebih berat. Lebih tegang.
"Fahri lagi di kamar," Ibu Muslimah memulai. "Dia... dia nggak keluar-keluar sejak kejadian itu."
Zahra merasakan dadanya sesak. "Ibu, saya minta maaf "
"Ibu udah denger semuanya," Ibu Muslimah memotong dengan lembut tapi tegas. "Fahri cerita. Tentang dare. Tentang kebohongan. Tentang semuanya."
"Ibu, saya "
"Ibu kecewa sama kamu, Zahra."
Tiga kata itu terasa seperti tamparan keras di wajah Zahra.
"Ibu percaya sama kamu. Ibu terima kamu sebagai bagian dari keluarga ini. Ibu pikir, akhirnya Fahri punya seseorang yang bisa mencintai dia dengan tulus." Mata Ibu Muslimah berkaca-kaca. "Ternyata, semuanya cuma kebohongan."
"Nggak semuanya, Bu," Zahra berbisik, air mata mengalir di pipinya. "Saya akui, awalnya emang karena dare. Saya akui saya salah. Tapi di tengah jalan, saya beneran jatuh cinta sama Fahri. Saya beneran sayang sama dia."
"Gimana Ibu bisa percaya?"
"Saya... saya nggak tau gimana caranya bikin Ibu percaya," Zahra mengaku dengan jujur. "Tapi saya ke sini bukan untuk minta maaf doang. Saya ke sini karena... karena saya butuh bantuan Ibu."
"Bantuan apa?"
"Bantuan untuk nebus kesalahan saya." Zahra menatap Ibu Muslimah dengan mata yang penuh determinasi. "Saya mau buktiin ke Fahri bahwa cinta saya sekarang itu tulus. Saya mau dia tau bahwa saya berubah. Tapi saya nggak tau caranya."
Ibu Muslimah menatap Zahra lama sangat lama. Seperti sedang menilai, mencari sesuatu di mata gadis itu.
"Kamu beneran cinta sama Fahri?" Ibu Muslimah akhirnya bertanya.
"Iya, Bu. Dari lubuk hati saya yang paling dalam."
"Kamu siap melakukan apa pun untuk membuktikan itu?"
"Apa pun."
"Termasuk mengorbankan gengsi kamu? Reputasi kamu?"
Zahra terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan yakin. "Iya, Bu. Gengsi dan reputasi nggak ada artinya kalau saya kehilangan Fahri."
Ibu Muslimah menghela napas panjang. Kemudian, senyum kecil muncul di bibirnya.
"Ibu liat sesuatu yang berbeda di mata kamu sekarang, Nak," Ibu Muslimah berkata dengan lembut. "Waktu pertama kali kamu ke sini, mata kamu kosong. Kayak orang yang lagi akting. Tapi sekarang... sekarang mata kamu penuh dengan sesuatu. Penyesalan. Cinta. Determinasi."
"Ibu..."
"Ibu nggak janji bisa bantu kamu dapetin Fahri lagi," Ibu Muslimah melanjutkan. "Keputusan itu ada di tangan Fahri sendiri. Tapi Ibu bisa kasih kamu satu nasihat."
"Apa, Bu?"
"Kalau kamu mau Fahri percaya sama kamu lagi, kamu harus buktiin dengan tindakan. Bukan kata-kata. Kata-kata bisa dipalsukan kamu udah buktiin itu. Tapi tindakan... tindakan yang tulus... itu yang nggak bisa dibohongin."
Zahra menyerap kata-kata itu dalam hati.
"Tunjukin ke Fahri bahwa kamu bukan lagi Zahra yang dulu. Tunjukin ke seluruh kampus, ke semua orang yang udah denger rumor itu, bahwa cinta kamu sekarang itu nyata. Jangan takut malu. Jangan takut dihakimi. Kalau cinta kamu emang tulus, buktiin."
"Gimana caranya, Bu?"
Ibu Muslimah tersenyum. "Itu... kamu yang harus temuin sendiri, Nak. Tapi Ibu yakin, kalau cinta kamu emang beneran, kamu pasti tau apa yang harus dilakukan."
Ketika Zahra keluar dari ruang tamu, ia berpapasan dengan seseorang di lorong.
Kak Ita.
"Wah, wah," Kak Ita bersidekap, menatap Zahra dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Berani juga lo dateng ke sini."
"Kak Ita, gue "
"Adek gue nangis setiap malam gara-gara lo, tau nggak?" Kak Ita memotong dengan tajam. "Dia yang biasanya selalu kuat, sekarang hancur. Gara-gara lo."
Zahra menunduk, tidak bisa membantah.
"Tapi..." Kak Ita menghela napas, "gue juga denger pembicaraan lo sama Ibu tadi."
Zahra mengangkat wajahnya.
"Lo beneran cinta sama Fahri?"
"Iya, Kak. Beneran."
Kak Ita menatapnya lama. "Lo tau, Fahri itu orang yang paling susah move on. Sekali dia cinta sama seseorang, dia cinta sepenuh hati. Dan waktu hatinya patah, dia butuh waktu yang lama untuk pulih."
"Gue tau, Kak."
"Tapi dia juga orang yang paling gampang memaafkan," Kak Ita melanjutkan. "Karena hatinya terlalu baik. Jadi kalau lo emang serius... kalau lo emang mau buktiin cinta lo... ada kemungkinan dia bakal maafin lo. Suatu saat nanti."
"Gue bakal lakuin apa pun, Kak."
Kak Ita tersenyum tipis. "Bagus. Karena lo bakal butuh lebih dari sekadar kata-kata maaf untuk nebus apa yang udah lo lakuin."
Ia berbalik, hendak pergi, tapi berhenti sejenak.
"Oh iya, satu lagi," Kak Ita menoleh. "Fahri tuh... dia suka hal-hal yang tulus. Yang dateng dari hati. Bukan yang mewah atau mahal. Inget itu."
Dengan itu, Kak Ita pergi meninggalkan Zahra sendirian di lorong.
Tapi kali ini, Zahra tidak merasa sendirian.
Ia punya petunjuk. Ia punya dukungan meski kecil.
Dan ia punya tekad yang tidak akan goyah.
Malam itu, Zahra, Bunga, dan melalui video call Risky dan Andi, duduk bersama di apartemen Zahra.
Ya, Risky dan Andi.
Awalnya, mereka menolak keras untuk berbicara dengan Zahra. Tapi Bunga memaksa, menjelaskan bahwa Zahra benar-benar ingin memperbaiki segalanya.
"Jadi, lo mau apa dari kita?" Risky bertanya dengan nada yang masih dingin dari layar ponsel.
"Gue mau minta bantuan kalian," Zahra menjawab dengan jujur. "Gue mau buktiin ke Fahri bahwa gue berubah. Tapi gue nggak tau caranya."
"Lo pikir kita mau bantu orang yang udah nyakitin sahabat kita?" Risky tertawa sinis.
"Gue nggak expect kalian mau bantu," Zahra mengakui. "Tapi gue desperate. Dan gue tau kalian yang paling kenal Fahri. Kalian tau apa yang bisa bikin dia percaya lagi."
Risky hendak membalas dengan tajam, tapi Andi menyentuh lengannya.
"Tunggu, Ri," Andi berkata dengan tenang. Ia menatap Zahra melalui layar. "Zahra, gue mau nanya satu hal."
"Apa?"
"Kalau dan ini kalau besar Fahri tetep nggak mau maafin lo setelah semua usaha lo, apa yang bakal lo lakuin?"
Zahra terdiam, memikirkan pertanyaan itu dengan serius.
"Gue... gue bakal tetep nunjukin ke dia bahwa gue berubah," Zahra menjawab dengan jujur. "Bukan karena gue mau dia balik ke gue. Tapi karena dia pantas tau bahwa cinta gue sekarang itu tulus. Dia pantas dapetin kebenaran kebenaran yang harusnya gue kasih dari awal."
Hening sejenak.
Kemudian, Andi mengangguk pelan. "Oke. Gue bakal bantu."
"Ndi?!" Risky tersentak.
"Ri, liat matanya," Andi berkata dengan tenang. "Itu bukan mata orang yang lagi akting. Itu mata orang yang beneran nyesel dan beneran cinta."
Risky menatap Zahra melalui layar, lama dan intens. Akhirnya, ia menghela napas berat.
"Fine. Gue bantu juga. TAPI," ia menekankan, "ini bukan berarti gue maafin lo. Ini gue lakuin untuk Fahri, bukan untuk lo. Kalau lo gagal, atau kalau lo nyakitin Fahri lagi, gue sendiri yang bakal pastiin lo menyesal seumur hidup."
"Deal," Zahra menjawab tanpa ragu.
"Oke," Bunga akhirnya angkat bicara dengan senyum kecil. "Sekarang, kita susun rencana."
Dua jam kemudian, rencana itu mulai terbentuk.
"Fahri suka hal-hal yang tulus dan dari hati," Andi menjelaskan. "Bukan yang mewah atau mahal. Jadi lupakan hadiah branded atau pesta besar."
"Dia juga suka kalau orang berani keluar dari zona nyaman mereka," Risky menambahkan. "Karena dia sendiri harus keluar dari zona nyaman setiap hari cuma untuk hidup normal."
"Dan yang paling penting," Bunga melanjutkan, "dia harus liat bahwa lo nggak malu lagi sama dia. Bahwa lo bangga mencintai dia."
Zahra mengangguk, menyerap setiap informasi.
"Jadi, intinya..." Zahra berpikir keras. "Gue harus nunjukin ke seluruh kampus ke semua orang yang udah denger rumor itu bahwa gue beneran cinta sama Fahri. Secara publik. Tanpa malu."
"Exactly," Andi mengkonfirmasi.
"Tapi gimana caranya?"
Hening sejenak. Semua orang berpikir.
Kemudian, Bunga mengangkat kepalanya. "Gue punya ide."
"Apa?"
"Mading kampus."
Semua orang menatap Bunga dengan bingung.
"Lo mau pasang pengumuman di mading?" Risky bertanya skeptis.
"Bukan pengumuman biasa," Bunga tersenyum. "Surat terbuka. Permintaan maaf publik. Dengan nama lengkap Zahra, tanpa sembunyi, tanpa topeng."
Zahra merasakan perutnya mulas membayangkan itu. Seluruh kampus akan membaca. Seluruh kampus akan tahu. Reputasinya yang sudah hancur akan semakin hancur.
Tapi kemudian ia teringat kata-kata Ibu Muslimah.
"Jangan takut malu. Jangan takut dihakimi. Kalau cinta kamu emang tulus, buktiin."
"Oke," Zahra mengangguk dengan tekad. "Gue lakuin."
"Tapi itu baru langkah pertama," Andi menambahkan. "Surat di mading mungkin bikin orang tau lo nyesel. Tapi untuk Fahri... lo butuh sesuatu yang lebih personal."
"Kayak apa?"
"Lo harus ngomong langsung sama dia. Di depan orang-orang. Tunjukin ke semua orang bahwa lo nggak malu mencintai dia."
Zahra menelan ludah. Itu berarti ia harus berdiri di depan banyak orang dan mengakui cintanya pada Fahri cowok yang selama ini ia malu-maluin di depan teman-temannya.
Ironis. Dulu ia malu mengakui Fahri sebagai pacar. Sekarang, ia harus dengan bangga mengakuinya di depan semua orang.
"Gue bakal lakuin itu juga," Zahra berkata dengan suara yang lebih yakin.
"Dan satu lagi," Risky menambahkan dengan nada yang sedikit lebih lembut. "Lo harus tunjukin bahwa lo ngerti apa yang Fahri laluin setiap hari. Bahwa lo nggak cuma suka sama dia, tapi juga menghargai perjuangannya."
"Gimana caranya?"
"Pikirin sendiri," Risky menjawab. "Kalau lo emang cinta sama dia, lo pasti tau."
Zahra mengangguk.
Rencana ini tidak sempurna. Tidak ada jaminan berhasil. Tapi setidaknya, ini adalah langkah awal.
Langkah untuk membuktikan bahwa Zahra Almeera Pratama gadis yang dulu terlalu sombong dan terlalu takut sekarang sudah berubah.
Dan ia siap melakukan apa pun untuk mendapatkan kembali orang yang ia cintai.