BADAI DALAM HUBUNGAN
Bab 12 dari Novel Dare To Love
Pagi ini seharusnya menjadi pagi yang biasa. Ia bangun dengan senyum, mengirim pesan selamat pagi pada Zahra seperti biasa, lalu bersiap untuk kuliah. Semua terasa normal.
Sampai ia tiba di kampus.
Awalnya, Fahri tidak memperhatikan tatapan-tatapan aneh yang tertuju padanya. Ia sudah terbiasa ditatap karena cara jalannya yang berbeda, karena tongkatnya, karena kondisinya. Tapi tatapan hari ini... berbeda.
Ada bisik-bisik yang berhenti ketika ia lewat.
Ada tawa tertahan yang terdengar dari sudut-sudut.
Ada pandangan kasihan yang lebih intens dari biasanya.
Kemudian, seorang mahasiswa yang tidak ia kenal berjalan melewatinya dan bergumam cukup keras untuk didengar:
"Kasihan ya, dijadiin bahan taruhan sama cewek sendiri."
Fahri membeku di tempatnya.
Bahan taruhan?
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya saat ia berjalan menuju kelasnya. Dan semakin ia berjalan, semakin banyak yang ia dengar.
"Lo tau nggak? Zahra pacaran sama dia cuma karena dare."
"Serius? Yang bener?"
"Iya, katanya taruhan sama temen-temennya."
"Gila, kejam banget!"
"Makanya, mana mungkin cewek secantik itu beneran mau sama cowok cacat."
Setiap kata terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Fahri tidak ingat bagaimana ia sampai di bangku taman ini. Yang ia ingat hanyalah kakinya yang tiba-tiba lemas, dunianya yang berputar, dan rasa mual yang luar biasa.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Kevin, teman sekelas.
KEVIN:?Bro, lo udah denger rumor yang beredar? Tentang lo sama Zahra?
Dengan tangan gemetar, Fahri mengetik balasan.
FAHRI:?Rumor apa?
Balasan datang dengan cepat.
KEVIN:?Katanya Zahra pacaran sama lo cuma karena dare. Truth or dare gitu. Yang kasih dare-nya temennya sendiri, Cintia.
Cuma karena dare.
Tiga kata itu menghancurkan segalanya.
Fahri menatap layar ponselnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ini tidak mungkin. Ini pasti salah. Zahra tidak mungkin
Tapi kemudian ia teringat segalanya.
Bagaimana Zahra tiba-tiba menyapanya di perpustakaan hari itugadis yang tidak pernah memperhatikannya sebelumnya.
Bagaimana Zahra meminta bantuan tugas IT yang sebenarnya tidak terlalu sulit terlalu mudah untuk level anak Komunikasi semester lima.
Bagaimana awalnya Zahra terlihat canggung dan tidak nyaman setiap kali bersamanya.
Bagaimana Zahra sering membatalkan janji, jarang membalas chat, dan terlihat malu terlihat bersamanya di depan teman-temannya.
Semua kepingan puzzle itu mulai menyatu, membentuk gambaran yang menyakitkan.
Semua itu masuk akal sekarang, Fahri membatin dengan hati yang hancur.?Semua itu masuk akal kalau dari awal... ini cuma permainan.
Ponsel Fahri bergetar lagi. Kali ini dari Zahra.
ZAHRA:?Sayang, kita bisa ketemu sekarang? Di taman kampus yang biasa. Ada yang perlu gue omongin.
Fahri menatap pesan itu lama.
Ada yang perlu gue omongin.
Apakah Zahra akan jujur? Apakah ia akan mengaku? Atau apakah ia akan terus berbohong?
Dengan jari yang gemetar, Fahri mengetik balasan.
FAHRI:?Gue udah di sana.
Lima belas menit kemudian, Zahra muncul di taman.
Fahri mengamati gadis yang selama ini ia cintai dengan sepenuh hati berjalan menghampirinya. Langkahnya tidak seanggun biasanya ada keraguan dan ketakutan yang jelas terlihat.
Dia sudah tau, Fahri menyadari.?Dia tau bahwa gue tau.
Zahra berhenti di depan bangku tempat Fahri duduk. Wajahnya pucat, matanya sembab seperti habis menangis.
"Hai, sayang," Zahra menyapa dengan suara yang bergetar.
Fahri tidak menjawab. Ia hanya menatap Zahra dengan tatapan yang berbeda dari biasanya tatapan yang penuh luka dan pertanyaan.
"Fahri..." Zahra menelan ludah. "Ada... ada yang perlu gue"
"Bener nggak?" Fahri memotong, suaranya pelan tapi tajam.
Zahra membeku. "Bener... apa?"
"Rumor yang beredar. Tentang lo sama gue. Tentang dare."
Dunia seolah berhenti berputar.
Zahra merasakan kakinya lemas. Ia sudah menyiapkan diri untuk percakapan ini. Sudah merencanakan kata-kata yang akan ia ucapkan. Tapi sekarang, berhadapan langsung dengan Fahri, semua itu menguap begitu saja.
"Fahri, dengerin gue dulu"
"Jawab pertanyaan gue," Fahri memotong lagi, suaranya sedikit meninggi. Ada getaran di sanagetaran yang menahan tangis. "Bener nggak... lo deketin gue dari awal cuma karena dare?"
Air mata mulai mengalir di pipi Zahra. Ia tidak bisa berbohong lagi. Tidak pada mata Fahri yang menatapnya dengan luka yang begitu dalam.
"I-iya," Zahra akhirnya mengaku, suaranya hampir tidak terdengar. "Awalnya... awalnya emang karena dare."
Kata-kata itu menghantam Fahri lebih keras dari yang ia bayangkan.
Meski ia sudah mendengar rumornya. Meski ia sudah menduga. Tapi mendengar konfirmasi langsung dari mulut Zahra... itu berbeda. Itu menghancurkan.
"Awalnya," Fahri mengulang dengan suara yang bergetar. "Lo bilang awalnya. Berarti semua yang terjadi di antara kita pertemuan pertama di perpustakaan, lo minta tolong tugas, lo pura-pura tertarik sama hobi gue semua itu cuma akting?"
"Fahri, please, dengerin"
"JAWAB!" Fahri berteriak, untuk pertama kalinya dalam hidupnya meninggikan suara pada seseorang yang ia cintai. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan. "Semua itu cuma akting kan?!"
Zahra menangis semakin keras. "Iya... awalnya emang akting. Tapi sekarang beda, Fahri! Gue beneran cinta sama lo sekarang! Gue serius!"
Fahri tertawa tawa pahit yang menyayat hati.
"Cinta?" ia mengulang dengan nada sarkastis. "Lo bilang cinta? Setelah semua kebohongan yang lo lakuin?"
"Fahri, please, percaya sama gue"
"Percaya?" Fahri menatap Zahra dengan mata yang penuh luka. "Gimana gue bisa percaya sama lo, Zahra? Lo udah bohongin gue dari hari pertama. HARI PERTAMA! Semua yang gue pikir nyata senyum lo, perhatian lo, kata-kata manis lo semuanya palsu!"
"Nggak semuanya palsu!" Zahra memohon. "Iya, awalnya emang karena dare. Gue akuin itu. Tapi lama-kelamaan, gue beneran jatuh cinta sama lo! Gue beneran sayang sama lo!"
"Kapan?" Fahri bertanya dengan nada menuduh. "Kapan lo mulai 'beneran' cinta? Setelah ketemu keluarga gue? Setelah dengerin cerita dari Fauzan, Rasya, Sukri? Setelah lo udah terlalu jauh buat mundur?"
Zahra terdiam. Ia tidak punya jawaban yang bisa meyakinkan Fahri.
"Lo tau apa yang paling menyakitkan?" Fahri melanjutkan, suaranya bergetar. "Bukan soal dare-nya. Bukan soal kebohongannya. Tapi fakta bahwa lo... lo jadiin gue BAHAN TARUHAN. Kayak gue ini barang. Kayak gue ini mainan. Kayak gue nggak punya perasaan."
"Gue nggak pernah mikir kayak gitu"
"Terus lo mikir apa waktu terima dare itu?!" Fahri memotong dengan tajam. "Waktu temen lo kasih dare buat pacaran sama 'cowok cacat di kantin,' lo mikir apa? Lo pasti mikir, 'Ya udah, ini cuma mainan. Setelah selesai, gue bisa buang dia.'"
"NGGAK!" Zahra berteriak. "Gue nggak pernah mikir kayak gitu!"
"Terus kenapa lo terima dare itu?!"
"KARENA GUE PENGECUT!" Zahra akhirnya meledak, air matanya mengalir deras. "Karena gue terlalu takut sama harga diri gue! Karena gue terlalu peduli sama apa kata orang! Karena waktu itu, gue belum kenal lo! Gue cuma liat lo dari luar cowok yang jalan pakai tongkat, cowok yang ngomongnya beda, cowok yang... yang..."
"Cowok yang cacat," Fahri melanjutkan dengan suara datar. "Lo bisa bilang itu. Cowok cacat."
Zahra menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu. "Maafin gue, Fahri. Please, maafin gue. Gue tau gue salah. Gue tau gue jahat. Tapi gue beneran cinta sama lo sekarang. Gue nggak mau kehilangan lo."
Fahri menatap gadis yang menangis di depannya. Gadis yang selama ini ia puja. Gadis yang membuatnya percaya bahwa ia layak dicintai.
Semua itu... bohong.
"Lo tau nggak," Fahri memulai dengan suara pelan, "waktu lo pertama kali nyapa gue di perpustakaan, gue ngerasa kayak mimpi. Gue pikir, 'Mana mungkin cewek secantik dan sepopuler dia mau ngobrol sama gue?' Tapi gue bilang sama diri gue sendiri, 'Mungkin dia beda. Mungkin dia liat sesuatu yang orang lain nggak liat.'"
Air mata Fahri mengalir semakin deras.
"Waktu lo nerima gue jadi pacar lo, gue nangis semalem. Bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Gue ngerasa... untuk pertama kalinya dalam hidup gue, ada orang yang mau sama gue bukan karena kasihan, tapi karena memilih gue."
"Fahri..." Zahra berbisik.
"Gue cerita ke Ibu. Ke Kak Ita. Ke Fauzan, Rasya, Sukri. Ke semua orang yang gue sayang. Gue bilang, 'Gue punya pacar! Pacar yang cantik dan baik!' Dan mereka semua seneng buat gue. Mereka semua percaya bahwa akhirnya... akhirnya gue dapet kebahagiaan yang gue pantas terima."
Fahri berdiri, mengambil tongkatnya dengan gerakan yang berat.
"Tapi ternyata, semua itu cuma kebohongan. Gue bukan pacar lo. Gue cuma... target dare. Bahan taruhan buat lo dan temen-temen lo yang bosen."
"Bukan cuma itu, Fahri!" Zahra berdiri juga, mencoba meraih tangan Fahri. "Iya, awalnya memang dare. Tapi gue jatuh cinta sama lo beneran! Di tengah jalan, semuanya berubah! Gue mulai liat lo sebagai Fahri bukan cowok yang jalan pakai tongkat, tapi Fahri yang pinter, yang baik, yang tulus, yang "
"Yang bisa lo manipulasi," Fahri memotong dengan dingin, menepis tangan Zahra. "Yang bisa lo boongin selama berbulan-bulan tanpa curiga."
"Nggak kayak gitu!"
"Terus kayak gimana?!" Fahri menatap Zahra dengan mata yang merah. "Jelasin ke gue, Zahra. Kalau lo beneran cinta sama gue, kenapa lo nggak jujur dari awal? Kenapa lo tunggu sampai rumor ini nyebar ke mana-mana? Kenapa gue harus denger kebenaran ini dari ORANG LAIN, bukan dari mulut lo sendiri?!"
Zahra tidak punya jawaban.
Karena Fahri benar. Ia terlalu pengecut untuk jujur. Terlalu takut kehilangan Fahri. Terlalu egois untuk mengambil risiko.
Dan sekarang, ia kehilangan Fahri dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.
"Gue mau jujur," Zahra berbisik lemah. "Kemarin gue dikonfrontasi sama Risky dan Andi. Mereka kasih gue waktu dua hari buat jujur sama lo. Gue berencana mau ngomong hari ini"
"Tapi gue udah tau duluan," Fahri menyelesaikan. "Dari mulut orang lain. Dari bisik-bisik di kampus. Dari tatapan kasihan di mana-mana."
Ia tertawa pahit lagi.
"Lo tau nggak gimana rasanya jadi gue pagi ini? Jalan ke kelas dan semua orang ngeliatin lo dengan kasihan? Semua orang tau bahwa lo dijadiin bahan taruhan sama pacar lo sendiri? Semua orang tau bahwa kebahagiaanmu selama ini cuma ilusi?"
"Fahri, please..."
"ITU YANG PALING MENYAKITKAN!" Fahri berteriak, tubuhnya gemetar. "Bukan kebohongan lo. Tapi fakta bahwa sekarang, semua orang tau. Semua orang tau betapa bodohnya gue. Betapa mudahnya gue ditipu. Betapa menyedihkannya gue."
Fahri mengusap air matanya dengan kasar.
"Gue udah terbiasa ditatap kasihan karena kaki gue. Gue udah terbiasa diejek karena cara gue ngomong. Tapi ini... ini beda. Ini lebih sakit. Karena kali ini, gue dipermalukan oleh orang yang gue cintai."
Zahra jatuh berlutut, air matanya tidak berhenti mengalir. "Maafin gue, Fahri. Gue mohon. Gue bakal lakuin apa aja buat nebus kesalahan gue. Gue bakal"
"Cukup, Zahra."
Dua kata itu membuat Zahra berhenti.
Fahri menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan tatapan cinta yang biasa ia lihat. Bukan tatapan hangat yang selalu membuatnya merasa spesial. Tapi tatapan... lelah. Kecewa. Hancur.
"Gue... nggak bisa lanjutin ini," Fahri berkata dengan suara yang parau. "Gue nggak bisa."
"Jangan, Fahri. Please. Jangan putusin gue."
"Lo pikir gue mau?" Fahri tertawa getir. "Lo pikir gue nggak cinta sama lo? Gue cinta, Zahra. Sampai sekarang pun, meski gue tau semuanya, perasaan gue ke lo masih sama. Dan itu yang bikin ini semakin menyakitkan."
Fahri menarik napas yang berat.
"Tapi gue nggak bisa pacaran sama orang yang nggak bisa gue percaya. Setiap kali lo bilang 'gue sayang lo,' gue bakal bertanya-tanya itu beneran atau cuma akting? Setiap kali lo senyum ke gue, gue bakal curiga itu tulus atau cuma karena lo kasihan? Gue nggak bisa hidup kayak gitu, Zahra."
"Gue bakal buktiin ke lo!" Zahra memohon dengan putus asa. "Gue bakal buktiin bahwa cinta gue sekarang itu nyata! Kasih gue kesempatan, Fahri. Satu kesempatan aja."
"Lo udah dapat kesempatan," Fahri menjawab dengan suara yang tercekat. "Berbulan-bulan lo dapat kesempatan buat jujur. Tapi lo nggak pernah ambil kesempatan itu. Lo lebih milih kebohongan."
Fahri berbalik, mulai berjalan pergi.
"FAHRI!" Zahra berteriak, mencoba berdiri tapi kakinya tidak kuat. "FAHRI, PLEASE! JANGAN PERGI!"
Fahri berhenti sejenak, tapi tidak berbalik.
"Lo tau," suaranya terdengar pecah, "satu hal yang paling bikin gue sakit bukan dare-nya. Tapi fakta bahwa lo malu sama gue."
Zahra merasakan dadanya seperti ditusuk ribuan jarum.
"Lo masih inget waktu temen-temen lo dateng ke kantin? Lo nyebut gue 'temen' di depan mereka. Bukan pacar. Temen." Fahri tertawa pahit. "Waktu itu, gue udah curiga ada yang salah. Tapi gue bilang sama diri gue sendiri, 'Nggak, Zahra pasti cuma belum siap.' Gue terus bikin alasan buat lo. Terus percaya sama lo."
Air mata Fahri mengalir deras, membasahi pipinya yang sudah basah.
"Ternyata, instinct gue bener dari awal. Lo emang malu sama gue. Lo malu pacaran sama cowok cacat. Lo malu jalan sama orang kayak gue."
"Gue nggak "
"Dan yang paling ironis," Fahri memotong dengan suara yang hampir berbisik, "gue bahkan nggak marah sama lo, Zahra. Gue nggak benci lo. Gue cuma... kecewa. Sangat kecewa."
Fahri menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan sisa kekuatannya.
"Goodbye, Zahra."
Dengan itu, Fahri melangkah pergi. Langkahnya lebih lambat dari biasanya entah karena kakinya yang lelah atau hatinya yang hancur. Tongkatnya berdetak di tanah dengan ritme yang menyedihkan.
"FAHRI! FAHRI, PLEASE!"
Zahra mencoba berdiri, mencoba mengejar. Tapi kakinya tidak mau bekerja sama. Ia jatuh tersungkur di tanah, menangis tersedu-sedu seperti tidak pernah menangis sebelumnya.
"Maafin gue... maafin gue... please maafin gue..."
Kata-kata itu diulang-ulang seperti mantra, tapi tidak ada yang mendengar.
Fahri sudah pergi.
Dan Zahra ditinggalkan sendirian, hancur berkeping-keping oleh konsekuensi dari kebohongannya sendiri.
Dari kejauhan, Risky dan Andi menyaksikan semuanya.
"Mereka putus," Risky bergumam, suaranya tidak menunjukkan kepuasan seperti yang ia kira akan ia rasakan. Justru, ada kesedihan di sana.
"Gue liat," Andi menjawab dengan nada yang sama beratnya.
"Kita harus samperin Fahri."
"Tunggu dulu. Kasih dia waktu sebentar."
Mereka melihat Fahri berjalan dengan langkah yang gontai, punggungnya sedikit lebih bungkuk dari biasanya. Pemuda yang biasanya selalu terlihat kuat meski dengan kondisinya, sekarang terlihat... rapuh. Pecah.
"Gue nggak pernah liat Fahri kayak gitu," Risky berbisik. "Bahkan waktu dia di-bully parah dulu, dia nggak pernah keliatan se-hancur ini."
"Karena ini beda, Ri," Andi menjawab dengan suara pelan. "Bully dateng dari musuh. Ini dateng dari orang yang dia cintai."
Mereka berdua bergegas menyusul Fahri, meninggalkan Zahra yang masih menangis di taman.
Di sisi lain kampus, Cintia melihat semuanya dari balik pohon.
Senyum puas terbentuk di bibirnya.
Akhirnya, ia membatin.?Akhirnya mereka putus.
Tapi kemudian, matanya tertuju pada Fahri yang berjalan menjauh dengan langkah yang hancur. Dan untuk sesaat hanya sesaat ada sesuatu yang berkedut di dadanya.
Penyesalan? Rasa bersalah?
Tidak. Cintia menggelengkan kepalanya.
Ini untuk kebaikan Fahri, ia meyakinkan dirinya sendiri.?Lebih baik dia tau sekarang daripada terus dibohongi.
Dan sekarang, gue bisa ada di sana untuknya.
Dengan pikiran itu, Cintia berjalan pergi, merencanakan langkah selanjutnya.
Malam itu, Zahra tidak pulang ke apartemennya.
Ia duduk di bangku taman sampai matahari terbenam, sampai langit berubah gelap, sampai bintang-bintang muncul. Air matanya sudah kering, tapi luka di hatinya masih menganga.
Ponselnya bergetar berkali-kali pesan dari Bunga yang khawatir tapi ia tidak menjawab.
BUNGA:?Zar, lo di mana? Gue denger yang terjadi.
BUNGA:?Zar, please bales. Gue khawatir.
BUNGA:?Gue ke apartemen lo. Lo nggak ada. Lo di mana?
BUNGA:?Zahra, please. Jangan sendirian.
Zahra akhirnya mengambil ponselnya dan mengetik satu pesan.
ZAHRA:?Gue di taman kampus.
Lima belas menit kemudian, Bunga berlari ke taman dan menemukan Zahra duduk sendirian di kegelapan.
"Zahra!" Bunga langsung memeluk sahabatnya. "Ya Allah, lo bikin gue khawatir!"
Zahra tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya terasa mati rasa.
"Dia putusin gue, Bun," Zahra berbisik dengan suara yang serak. "Fahri putusin gue."
"Gue tau. Gue denger." Bunga mengusap punggung Zahra dengan lembut. "Gue turut sedih, Zar."
"Gue yang salah," Zahra melanjutkan, matanya kosong. "Semua ini salah gue. Gue yang mulai kebohongan ini. Gue yang nggak berani jujur. Gue yang"
"Shh," Bunga menenangkan. "Sekarang bukan waktunya menyalahkan diri sendiri. Sekarang, lo butuh istirahat."
"Gue nggak bisa istirahat, Bun. Setiap kali gue mejem mata, gue liat wajah Fahri. Wajahnya waktu dia tau kebenaran. Wajahnya yang hancur. Gue yang bikin dia kayak gitu. Gue yang"
Suara Zahra terputus oleh isakan baru yang muncul dari dadanya.
Bunga memeluk Zahra lebih erat, tidak tahu harus berkata apa. Karena kenyataannya, Zahra benar. Semua ini memang salahnya.
Tapi sebagai sahabat, Bunga tidak akan meninggalkannya.
"Ayo pulang, Zar," Bunga berkata dengan lembut. "Lo butuh istirahat. Besok kita pikirin sama-sama gimana caranya memperbaiki semua ini."
"Nggak ada yang bisa diperbaiki, Bun," Zahra berbisik dengan suara yang hancur. "Gue udah kehilangan dia. Selamanya."
Bunga tidak menjawab, karena ia tidak tahu apakah Zahra benar atau tidak.
Yang ia tahu, malam ini adalah malam terpanjang dalam hidup sahabatnya.
Di kamar kosnya, Fahri duduk di lantai, punggung bersandar di tempat tidur.
Album foto yang pernah ia berikan pada Zahra yang Zahra kembalikan padanya tadi tergeletak di sebelahnya. Halaman-halamannya terbuka, menampilkan foto-foto Zahra yang dulu ia ambil dengan penuh cinta.
Foto Zahra di perpustakaan. Di taman. Di caf?. Di rumahnya.
Setiap foto adalah kenangan. Setiap kenangan adalah kebohongan.
Risky dan Andi sudah pulang setelah memastikan Fahri baik-baik saja meski mereka semua tahu "baik-baik saja" adalah kata yang salah untuk situasi ini.
Fahri mengambil ponselnya. Ada satu pesan yang belum ia baca.
ZAHRA:?Fahri, please maafin gue. Gue tau gue nggak pantas minta maaf. Tapi gue mau lo tau bahwa cinta gue sekarang itu nyata. Gue sayang lo. Beneran sayang. Dan gue nggak akan berhenti berharap lo bisa maafin gue suatu hari nanti. Zahra
Fahri menatap pesan itu lama.
Kemudian, dengan jari yang gemetar, ia menghapus pesan itu tanpa membalas.
Air mata mengalir lagi di pipinya.
Gue juga sayang lo, Zahra, ia membatin.?Sampai sekarang pun. Tapi kadang, sayang aja nggak cukup.
Fahri memejamkan matanya, membiarkan kegelapan memeluknya.
Malam ini, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia tidak mengirim pesan selamat malam pada siapa pun.
Karena orang yang biasa ia kirimi pesan itu... sudah bukan siapa-siapanya lagi.