RAHASIA TERUNGKAP
Bab 11 dari Novel Dare To Love
Di tangannya, ponsel menampilkan Instagram Story terbaru Zahra foto Zahra dan Fahri di caf? bersama tiga orang pemuda berkacamata hitam. Caption-nya sederhana:?"Quality time with my favorite people ??"
My favorite people.
Cintia merasakan perutnya mual membaca itu.
Sudah hampir dua bulan sejak dare itu dimulai, dan yang seharusnya menjadi bahan lelucon justru berubah menjadi... ini. Hubungan yang terlihat semakin serius. Zahra yang terlihat semakin bahagia. Fahri yang terlihat semakin mencintai.
Ini tidak seharusnya terjadi.
Rencana Cintia adalah sederhana: memaksa Zahra mendekati Fahri, membuat Zahra mempermalukan dirinya sendiri, dan ketika semuanya hancur, Cintia akan ada di sana untuk "menghibur" Fahri. Untuk menunjukkan pada Fahri bahwa ada orang yang benar-benar menghargainya bukan seperti Zahra yang hanya menjadikannya bahan taruhan.
Tapi sekarang? Zahra justru terlihat jatuh cinta sungguhan.
Tidak, Cintia menggertakkan giginya.?Ini tidak boleh terjadi. Zahra tidak boleh bahagia dengan Fahri.
Jari-jarinya mengetik dengan cepat di ponsel, membuka chat dengan seseorang.
CINTIA:?Kita perlu ketemu. Ada yang mau gue omongin.
Balasan datang hampir seketika.
NADYA:?Boleh. Kapan?
CINTIA:?Besok. Caf? biasa. Jam 2.
NADYA:?Oke. Ini soal Zahra?
Cintia tersenyum senyum yang dingin dan penuh perhitungan.
CINTIA:?Iya. Gue punya cerita yang menarik banget.
Keesokan harinya, Cintia duduk di caf? favorit mereka bersama Nadya, Siska, dan Bella. Ketiga gadis itu menatap Cintia dengan penasaran.
"Jadi, cerita apa yang mau lo share?" Nadya bertanya, menyesap latte-nya.
Cintia memainkan sendoknya dengan santai, menikmati perhatian yang tertuju padanya. "Kalian tau kan, Zahra lagi pacaran sama Fahri? Cowok yang jalan pakai tongkat itu?"
"Iya, yang aneh banget itu kan?" Siska mengernyit. "Sampai sekarang gue masih nggak ngerti kenapa Zahra mau sama dia."
"Nah, itu dia." Cintia menyeringai. "Kalian mau tau alasan sebenarnya?"
Ketiga gadis itu langsung condong ke depan, tertarik.
"Semua ini dimulai dari dare," Cintia memulai dengan nada dramatis. "Truth or dare. Waktu itu kita main bertiga gue, Zahra, sama Bunga. Dan dare yang Zahra dapat adalah... mendekati dan pacaran sama Fahri."
Hening sejenak.
Kemudian Nadya tertawa tidak percaya. "Lo serius?! Zahra pacaran sama cowok itu karena DARE?!"
"Serius. Gue yang kasih dare-nya sendiri."
"Gila!" Bella menutup mulutnya dengan ekspresi shock. "Jadi selama ini... Zahra cuma akting?"
"Awalnya iya," Cintia mengangkat bahu dengan santai. "Tapi kayaknya sekarang dia mulai beneran suka. Makanya hubungan mereka makin serius."
"Tapi tetep aja kan, awalnya cuma dare!" Siska berseru. "Kasian banget cowoknya. Dia nggak tau apa-apa."
"Exactly." Cintia tersenyum senyum yang terlihat simpati di permukaan, tapi menyimpan niat jahat di dalamnya. "Makanya gue ngerasa kasihan sama Fahri. Dia kan orang baik. Nggak pantas diperlakukan kayak gitu."
Nadya mengangguk-angguk. "Bener juga sih. Poor guy."
"Tapi..." Cintia menambahkan dengan nada yang dibuat ragu-ragu, "gue nggak mau nyebarin gosip tentang Zahra. Dia kan sahabat gue. Jadi... ini rahasia di antara kita aja ya?"
Reverse psychology, Cintia membatin dengan puas.?Dengan bilang jangan nyebarin, mereka justru pasti bakal nyebarin.
Dan benar saja
"Iya, iya, rahasia," Nadya mengangguk, tapi matanya sudah berkilat dengan antisipasi. Informasi seperti ini terlalu juicy untuk disimpan sendiri.
Cintia tersenyum dalam hati.
Misi tahap pertama: selesai.
Dua hari kemudian, rumor itu sudah menyebar seperti api.
Awalnya hanya bisik-bisik di antara segelintir mahasiswa. Tapi dengan kecepatan yang mengejutkan, cerita itu berkembang dan menyebar ke berbagai fakultas.
"Lo tau nggak? Zahra pacaran sama cowok cacat itu cuma karena dare!"
"Serius? Yang bener?"
"Iya! Katanya dia taruhan sama temen-temennya. Kasian banget cowoknya, nggak tau apa-apa."
"Gila, kejam banget Zahra!"
"Udah gue bilang juga apa, mana mungkin cewek kayak Zahra beneran mau sama cowok kayak dia."
Rumor itu menyebar dari mulut ke mulut, dari chat ke chat, sampai akhirnya... sampai ke telinga dua orang yang paling tidak ingin mendengarnya.
Risky menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Di sebelahnya, Andi membaca pesan yang sama dengan rahang mengeras.
[Chat dari Kevin, teman sekelas]
"Ri, lo tau nggak soal Zahra sama Fahri? Katanya Zahra pacaran sama Fahri cuma karena dare. Truth or dare gitu. Kasian temen lo."
"Gue bilang juga apa," Risky bergumam dengan suara rendah. "Dari awal gue udah curiga. Dari awal gue udah bilang ada yang nggak beres."
Andi tidak menjawab. Ia masih menatap layar ponselnya, pikirannya berkecamuk.
"Ndi, lo denger gue nggak?" Risky menoleh.
"Gue denger." Andi akhirnya bersuara, nadanya dingin. "Tapi kita butuh bukti yang lebih kuat sebelum konfrontasi."
"Bukti apa lagi?! Seluruh kampus udah ngomongin ini!"
"Rumor bisa salah, Ri. Kita harus pastiin dulu."
Risky menghela napas frustrasi, tapi ia tahu Andi benar. Menuduh tanpa bukti tidak akan membawa kebaikan terutama kalau tuduhan itu bisa menghancurkan Fahri.
"Oke," Risky akhirnya berkata. "Gimana caranya kita pastiin?"
Andi berpikir sejenak. "Kevin bilang dia denger dari siapa?"
Risky mengetik pesan cepat dan menunggu balasan.
KEVIN:?Dari Nadya. Katanya dia denger langsung dari Cintia, sahabatnya Zahra sendiri.
Mata Andi menyipit. "Cintia. Sahabat Zahra."
"Kalau sahabatnya sendiri yang cerita, berarti ini beneran dong." Risky mengepalkan tangannya. "Ndi, gue nggak bisa diem aja. Fahri harus tau."
"Tunggu," Andi menahan. "Sebelum kita kasih tau Fahri, kita konfrontasi Zahra dulu. Minta penjelasan langsung dari orangnya."
"Lo masih mau kasih dia kesempatan?!"
"Bukan kasih kesempatan. Tapi kalau kita langsung kasih tau Fahri tanpa konfirmasi, kita bisa salah. Dan kalau kita salah... Fahri yang bakal paling sakit."
Risky terdiam, memikirkan kata-kata Andi.
"Fine," ia akhirnya menyetujui dengan enggan. "Kita konfrontasi Zahra dulu. Tapi kalau dia nggak bisa jelasin dengan bener, gue nggak akan diem."
"Deal."
Sementara itu, Cintia melanjutkan rencana keduanya.
Sore itu, ia "tidak sengaja" berpapasan dengan Fahri di koridor gedung fakultas Teknik Informatika. Ia sudah mengatur semuanya dengan cermat tahu jadwal Fahri, tahu rute yang biasa ia lewati.
"Fahri?" Cintia memasang ekspresi terkejut yang sempurna. "Wah, kebetulan banget ketemu di sini!"
Fahri berhenti, menatap Cintia dengan bingung. Ia mengenali gadis itu sebagai salah satu sahabat Zahra, tapi mereka tidak pernah benar-benar berbicara langsung.
"Oh, hai. Cintia kan?"
"Iya!" Cintia tersenyum lebar. "Lo inget nama gue? Wah, seneng."
"Zahra sering cerita tentang lo," Fahri menjelaskan dengan polos.
Tentu dia cerita, Cintia membatin dengan sinis.?Mungkin cerita tentang gimana dia menderita harus pacaran sama lo.
Tapi di luar, Cintia hanya tersenyum manis. "Oh ya? Hopefully cerita yang bagus-bagus ya."
"Iya, kok. Lo mau ke mana?"
"Ini, gue lagi nyari bantuan," Cintia memasang wajah memelas yang sudah ia latih. "Gue ada tugas kuliah yang butuh banget bantuan soal IT. Dan gue denger lo jago banget coding. Zahra juga sering bilang lo pinter."
Wajah Fahri sedikit memerah mendengar pujian itu. "Oh, gue nggak sepinter itu kok"
"Lo merendah! Gue serius butuh bantuan nih." Cintia menyentuh lengan Fahri dengan gerakan yang terlalu akrab. "Boleh nggak gue minta tolong? Please? Deadline-nya mepet banget."
Fahri terlihat sedikit tidak nyaman dengan kedekatan fisik itu, tapi sifat baiknya tidak memungkinkan ia menolak orang yang butuh bantuan.
"Oke, boleh. Tugas apa emangnya?"
"Nanti gue jelasin. Kita ke perpustakaan aja yuk? Gue bawa laptop."
"Oh, oke"
"FAHRI!"
Suara familiar membuat keduanya menoleh. Zahra berdiri tidak jauh dari sana, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit dibaca campuran antara bingung dan... cemburu?
"Sayang!" Fahri langsung tersenyum melihat Zahra. "Lo kok di sini?"
Zahra berjalan menghampiri mereka, matanya melirik Cintia dengan pandangan yang sedikit waspada. "Gue mau jemput lo. Kita kan janji mau makan siang bareng?"
"Oh iya! Maaf, gue lupa." Fahri menatap Cintia dengan menyesal. "Cintia, maaf ya. Kayaknya gue nggak bisa bantu sekarang "
"Nggak apa-apa!" Cintia memotong dengan cepat, senyumnya tidak berubah. "Lain kali aja. Kalian enjoy makan siangnya ya!"
Cintia melangkah pergi, tapi tidak sebelum melempar senyum penuh arti pada Zahra senyum yang membuat Zahra merasa tidak nyaman tanpa tahu alasannya.
"Dia ngapain nyamperin lo?" Zahra bertanya saat mereka berjalan menuju kantin.
"Minta tolong tugas. Katanya butuh bantuan IT."
"Hmm." Zahra tidak berkomentar lebih lanjut, tapi ada perasaan aneh yang mengganggunya.
Sejak kapan Cintia peduli dengan tugas sampai harus minta bantuan langsung ke Fahri?
Dan kenapa Cintia menyentuh lengan Fahri dengan cara seperti itu?
Zahra menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran negatif.
Lo cuma paranoid, ia meyakinkan dirinya sendiri.?Cintia kan sahabat lo. Dia nggak mungkin ada maksud apa-apa.
Tapi jauh di lubuk hatinya, Zahra tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Tiga hari kemudian.
Zahra baru saja keluar dari kelas terakhirnya ketika dua sosok menghadangnya di koridor.
Risky dan Andi.
"Kita perlu bicara," Risky berkata dengan nada dingin yang tidak biasa.
Zahra merasakan jantungnya mencelos. Ada sesuatu dalam cara mereka menatapnya yang membuatnya merasa seperti terdakwa di ruang pengadilan.
"Bicara soal apa?"
"Di sini bukan tempat yang tepat," Andi menjawab, nadanya lebih tenang tapi sama dinginnya. "Ikut kita."
Tanpa menunggu jawaban, mereka berdua berjalan menuju taman belakang kampus area yang biasanya sepi pada jam-jam seperti ini.
Zahra mengikuti dengan langkah berat, perasaan buruk semakin menguat di dadanya.
Mereka berhenti di bangku yang tersembunyi di balik pepohonan. Risky langsung berbalik menghadap Zahra, wajahnya keras.
"Gue nggak akan basa-basi," Risky memulai. "Lo deketin Fahri karena dare kan?"
Kata-kata itu terasa seperti pukulan telak di perut Zahra.
Dunianya seolah berhenti berputar.
"A-apa?" suaranya tercekat.
"Jangan pura-pura bego," Risky menggertakkan giginya. "Semua orang udah ngomongin ini. Lo taruhan sama temen-temen lo. Dare-nya adalah pacaran sama Fahri. Bener kan?!"
Zahra merasakan lututnya lemas. Rumor itu... sudah menyebar?
"G-gue nggak tau lo ngomong apa"
"Bohong!" Risky mengeluarkan ponselnya, menunjukkan screenshot chat pada Zahra. "Ini buktinya. Dari Nadya. Dan Nadya bilang dia denger langsung dari Cintia. SAHABAT LO SENDIRI."
Zahra menatap screenshot itu dengan mata melebar.
[Chat Nadya]
"Serius, Zahra pacaran sama Fahri cuma karena dare. Cintia yang cerita sendiri. Dia yang kasih dare-nya. Kasian banget cowoknya, dijadiin bahan taruhan kayak gitu."
Tangan Zahra gemetar.
Cintia.
Cintia yang menyebarkan ini.
Tapi kenapa? Kenapa Cintia
"Lo nggak bisa jawab kan?" Risky melanjutkan dengan nada menuduh. "Karena itu emang bener. Semua ini cuma permainan buat lo. Fahri cuma bahan taruhan. Cuma hiburan buat lo dan temen-temen lo yang kaya dan sombong!"
"Bukan kayak gitu!" Zahra akhirnya menemukan suaranya. "Ini... ini nggak sesimple itu!"
"Terus gimana?! Jelasin!"
"Iya, awalnya emang karena dare!" Zahra mengaku, air mata mulai mengalir di pipinya. "Gue akuin itu! Gue deketin Fahri karena dare dari Cintia. Awalnya gue nggak mau, tapi gue terpaksa karena"
"TERPAKSA?!" Risky berteriak, wajahnya merah padam. "Lo pikir itu alasan yang bisa diterima?! Lo mainkan perasaan Fahri selama berbulan-bulan karena lo TERPAKSA?!"
"Dengar dulu!" Zahra memohon. "Iya, awalnya emang gitu. Tapi sekarang beda! Gue beneran cinta sama Fahri! Gue serius!"
Risky tertawa sinis. "Oh, sekarang lo cinta? Convenient banget ya. Setelah ketahuan, baru ngaku cinta."
"Gue serius, Risky! Gue nggak bohong!"
"Lo udah bohong dari awal," Andi akhirnya angkat bicara, suaranya tenang tapi tajam seperti pisau. "Dari hari pertama lo nyapa Fahri di perpustakaan, semuanya adalah kebohongan. Gimana kita bisa percaya sekarang lo nggak bohong lagi?"
Zahra tidak bisa menjawab. Air matanya mengalir deras, tubuhnya gemetar.
"Lo tau nggak apa yang udah lo lakuin?" Andi melanjutkan, nadanya semakin berat. "Fahri itu orang paling baik yang gue kenal. Dia nggak pernah jahat sama siapa pun. Dia selalu bantu orang lain meski dia sendiri punya banyak masalah. Dan lo... lo manfaatin kebaikan dia untuk menang taruhan."
"Gue tau... gue tau gue salah..."
"Salah?" Risky mendengus. "Lo lebih dari salah. Lo jahat. Lo monster."
Kata-kata itu menusuk Zahra tepat di jantung.
Monster.
Mungkin Risky benar. Mungkin ia memang monster.
"Please," Zahra berlutut, tidak peduli lagi dengan gengsinya. "Please, jangan kasih tau Fahri. Biarinin gue yang jelasin sendiri. Gue akan jujur sama dia. Gue janji."
Risky menatap Zahra dengan jijik. "Kenapa kita harus percaya sama janji lo?"
"Karena gue beneran cinta sama Fahri!" Zahra berteriak, suaranya parau. "Gue tau gue udah lakuin kesalahan besar. Gue tau gue nggak pantas. Tapi perasaan gue sekarang... ini nyata. Ini bukan akting. Gue sayang sama Fahri dengan sepenuh hati gue."
"Sayang?" Risky menggeleng dengan ekspresi tidak percaya. "Kalau lo sayang sama dia, lo nggak akan bohongin dia dari awal. Kalau lo sayang sama dia, lo nggak akan jadiin dia bahan taruhan. Kalau lo sayang sama dia, lo udah jujur dari lama bukan nunggu sampai ketahuan kayak gini."
Setiap kata terasa seperti tamparan keras di wajah Zahra.
Karena semua yang Risky katakan adalah kebenaran.
"Lo tau apa yang paling menyakitkan?" Andi berkata dengan suara pelan. "Fahri cerita sama kita tentang lo. Hampir setiap hari. Tentang gimana bahagianya dia punya pacar kayak lo. Tentang gimana beruntungnya dia karena ada orang secantik dan sepopuler lo yang mau sama dia."
Andi berhenti sejenak, menarik napas yang berat.
"Dia bilang, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia ngerasa... diterima. Ngerasa layak untuk dicintai. Ngerasa bukan cuma 'cowok cacat' yang dikasihani orang. Dan semua itu... semua perasaan itu... dibangun di atas kebohongan lo."
Zahra menangis semakin keras. Setiap kata Andi terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.
"Gue minta maaf..." ia berbisik di antara isakan. "Gue minta maaf..."
"Minta maaf nggak cukup," Risky berkata dengan dingin. "Fahri harus tau yang sebenarnya."
"JANGAN!" Zahra berteriak. "Please... biarinin gue yang bilang sendiri. Gue akan jujur sama dia. Gue janji. Tapi biarinin gue yang ngomong. Biar gue yang tanggung akibatnya."
Risky dan Andi saling pandang.
"Kenapa kita harus kasih lo kesempatan itu?" Risky bertanya.
"Karena..." Zahra menelan isakannya, berusaha menemukan kata-kata yang tepat. "Karena kalau kalian yang kasih tau, Fahri bakal denger dari sudut pandang kalian. Dia bakal denger bahwa gue cuma pakai dia dari awal sampai akhir. Tapi itu nggak sepenuhnya bener."
"Terus yang bener gimana?" Andi bertanya dengan nada skeptis.
"Yang bener adalah... ya, gue mulai deketin dia karena dare. Ya, gue awalnya nggak punya perasaan sama dia. Tapi di tengah jalan, semuanya berubah. Gue jatuh cinta sama dia. Beneran jatuh cinta. Dan sekarang, gue nggak bisa bayangin hidup tanpa dia."
Zahra menatap Risky dan Andi dengan mata yang merah dan bengkak.
"Gue tau kalian nggak percaya. Gue nggak expect kalian percaya. Tapi please, kasih gue satu kesempatan untuk jelasin ke Fahri dengan cara gue sendiri. Biarinin dia denger langsung dari mulut gue. Dia pantas dapetin itu."
Hening panjang.
Risky terlihat masih ingin memprotes, tapi Andi menyentuh lengannya isyarat untuk tenang.
"Berapa lama?" Andi bertanya.
"Apa?"
"Berapa lama lo butuh untuk jujur sama Fahri?"
Zahra menelan ludah. "T-tiga hari. Kasih gue tiga hari."
"Terlalu lama," Risky menyahut.
"Dua hari," Andi memutuskan. "Lo punya waktu dua hari untuk jujur sama Fahri. Kalau dalam dua hari lo nggak bilang ke dia, kita yang akan kasih tau."
"Dan satu hal lagi," Risky menambahkan dengan nada mengancam. "Kalau lo kabur, kalau lo coba-coba ngindarin Fahri, kalau lo lakuin sesuatu yang menyakiti dia lebih jauh... gue nggak akan pernah maafin lo. Lo paham?"
Zahra mengangguk lemah. "Gue paham."
"Bagus." Risky berbalik pergi, tapi berhenti sejenak untuk menambahkan, "Dan lo harus tau, apa pun yang terjadi setelah ini, Fahri punya kita. Kami yang akan ada di sana untuknya ketika lo menghancurkan hatinya."
Kata-kata terakhir itu terasa seperti vonis final.
Risky dan Andi pergi, meninggalkan Zahra sendirian di taman yang sepi.
Zahra jatuh terduduk di bangku, tubuhnya lemas seperti boneka yang putus talinya. Air matanya tidak berhenti mengalir.
Dua hari.
Ia punya dua hari untuk menghancurkan segalanya.
Dua hari untuk melihat senyum Fahri berubah menjadi kekecewaan.
Dua hari untuk kehilangan orang yang baru ia sadari sangat ia cintai.
Malam itu, Zahra duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar di tempat tidur, ponsel tergeletak di sebelahnya.
Ada 15 pesan dari Fahri yang belum ia baca.
FAHRI:?Sayang, lo kok nggak bales chat gue dari tadi?
FAHRI:?Lo lagi sibuk ya? Nggak apa-apa, bales kalau udah sempet.
FAHRI:?Gue kangen lo nih ??
FAHRI:?Oh iya, gue tadi ketemu Kak Ita. Dia nitip salam buat lo.
FAHRI:?Ibu juga. Katanya kapan mau main ke rumah lagi.
FAHRI:?Zahra? Lo oke kan?
FAHRI:?Gue mulai khawatir nih. Bales dong, sayang.
FAHRI:?...
FAHRI:?Oke, gue anggap lo lagi butuh waktu sendiri. Apapun yang terjadi, gue ada di sini ya. Gue sayang lo.
Setiap pesan terasa seperti tusukan di jantung Zahra.
Fahri bahkan tidak tahu bahwa dunianya akan segera hancur.
Ia masih di sana, khawatir dengan Zahra, mengirim pesan-pesan manis tanpa tahu bahwa gadis yang ia cintai adalah sumber dari kehancuran yang akan datang.
Zahra mengambil ponselnya dengan tangan gemetar dan mengetik balasan.
ZAHRA:?Maaf baru bales. Gue lagi nggak enak badan. Besok kita ketemu ya? Ada yang mau gue omongin.
Balasan datang dalam hitungan detik.
FAHRI:?Ya ampun, lo sakit? Mau gue ke situ? Gue bisa bawain obat atau makanan.
ZAHRA:?Nggak usah, sayang. Gue cuma butuh istirahat. Besok aja ya.
FAHRI:?Oke. Istirahat yang cukup ya. Gue doain lo cepet sembuh. Gue sayang lo, Zahra. ??
ZAHRA:?Gue juga sayang lo, Fahri. Beneran sayang.
Zahra meletakkan ponselnya dan memeluk lututnya.
Gue juga sayang lo.
Mungkin itu adalah hal paling jujur yang pernah ia katakan pada Fahri.
Dan ironisnya, itu juga mungkin menjadi salah satu yang terakhir.
Sementara itu, di apartemennya, Cintia membaca update terbaru dari Nadya dengan senyum puas.
NADYA:?Tia, rumor tentang Zahra udah nyebar kemana-mana. Bahkan temen-temen Fahri udah tau. Tadi gue liat mereka ngomong sama Zahra di taman belakang. Kayaknya confrontation.
CINTIA:?Beneran? Wah, seru dong.
NADYA:?Iya. Zahra keliatan nangis banget. Kasian juga sih sebenernya.
CINTIA:?Ya, kasian. Tapi dia juga salah kan? Nggak seharusnya dia jadiin orang bahan taruhan.
NADYA:?Iya juga. Oke deh, gue update lagi kalau ada perkembangan.
CINTIA:?Thanks, Nad. ??
Cintia meletakkan ponselnya dan berjalan ke balkon.
Semua berjalan sesuai rencana.
Rumor sudah menyebar.
Risky dan Andi sudah tau.
Zahra sudah terpojok.
Tinggal menunggu Fahri mengetahui kebenaran, dan semuanya akan hancur.
Dan ketika semua debu mengendap, ketika Fahri patah hati dan butuh sandaran, Cintia akan ada di sana. Dengan senyum manis dan kata-kata penghiburan yang sudah ia siapkan.
"Fahri, gue selalu ada buat lo. Lo nggak sendirian."
"Gue nggak kayak Zahra. Gue nggak akan pernah jadiin lo bahan taruhan."
"Gue... gue udah lama suka sama lo, Fahri. Sejak dulu."
Cintia tersenyum membayangkan skenario itu.
Sebentar lagi.
Sebentar lagi, Fahri akan menjadi miliknya.