"Sayang, lo sibuk nggak Sabtu ini?"
Pertanyaan Fahri datang di tengah makan siang mereka di kantin kampus. Zahra mengangkat wajahnya dari piring nasi goreng, menatap Fahri dengan penasaran.
"Nggak ada rencana sih. Kenapa?"
Fahri tersenyum malu-malu, jari-jarinya memainkan sendok dengan gugup. "Gue mau ngenalin lo sama temen-temen gue. Temen SLB."
"Temen SLB?" Zahra mengingat-ingat. "Yang di foto Instagram lo itu? Yang ada tiga orang?"
"Iya! Fauzan, Rasya, sama Sukri. Mereka bertiga tunanetra. Kita mau gathering kecil-kecilan di caf? deket kampus mereka. Gue pengen lo ikut."
Zahra terdiam sejenak. Bertemu teman-teman Fahri dari SLB? Tiga orang tunanetra sekaligus? Ia tidak punya pengalaman berinteraksi dengan penyandang disabilitas netra sebelumnya. Bagaimana kalau ia salah bicara? Bagaimana kalau ia membuat mereka tersinggung?
Tapi melihat mata Fahri yang penuh harap, Zahra tidak bisa menolak.
"Oke," ia menjawab. "Gue ikut."
Wajah Fahri langsung berseri-seri. "Beneran? Lo mau?"
"Iya, sayang. Gue mau ketemu temen-temen lo."
"Yes!" Fahri hampir melompat dari kursinya kalau bukan karena kondisi kakinya. "Lo nggak akan nyesel, Zar. Mereka tuh rame banget. Apalagi Rasya dia tuh mulutnya nggak ada remnya. Siap-siap aja ketawa sampai perut sakit."
Zahra tertawa melihat antusiasme Fahri. "Oke, oke. Gue tunggu Sabtu."
Sabtu siang, Zahra dan Fahri tiba di sebuah caf? kecil bernama "Kopi Hangat" di kawasan dekat kampus pendidikan luar biasa tempat Fauzan, Rasya, dan Sukri kuliah. Caf? itu sederhana tapi nyaman dindingnya dihiasi lukisan-lukisan abstrak, dan aroma kopi yang harum memenuhi ruangan.
Di meja pojok dekat jendela, tiga orang pemuda sudah menunggu.
Yang pertama duduk paling ujung, memegang gitar akustik yang sudah agak usang. Rambutnya ikal berantakan, dan senyumnya lebar senyum yang memancarkan energi positif. Kacamata hitamnya bertengger di hidungnya dengan santai.
Yang kedua duduk di tengah, tubuhnya agak kurus dengan gaya rambut yang disisir rapi ke samping. Ia terlihat sedang berdebat dengan yang ketiga tentang sesuatu, tangannya bergerak-gerak dengan ekspresif. Kacamata hitamnya sedikit miring karena terlalu banyak bergerak.
Yang ketiga lebih pendiam, duduk dengan postur yang tenang. Rambutnya pendek dan rapi, dan meski ia memakai kacamata hitam seperti yang lain, ada aura kelembutan yang terpancar dari wajahnya.
"MAS FAHRI!" yang pertama berteriak ketika mendengar suara langkah tongkat Fahri yang khas. "Akhirnya dateng juga! Kita udah nunggu dari tadi!"
"Lebay lo, Fauzan. Baru juga lima menit," Fahri tertawa, menghampiri meja teman-temannya.
"Lima menit itu lama, Mas! Gue udah keburu lapar!" Fauzan si pemuda dengan gitar memprotes dengan dramatis.
"Lo mah emang dasarnya rakus," yang di tengah menyahut dengan nada mengejek. "Baru juga tadi makan bakso dua mangkok."
"Rasya, lo tuh ya "
"Udah, udah," yang ketiga akhirnya angkat bicara dengan suara yang lembut. "Mas Fahri udah dateng. Jangan berantem."
"Sukri bener," Fahri tersenyum. "Oh iya, gue bawa seseorang nih."
Ketiga kepala itu langsung menoleh ke arah suara langkah lain langkah Zahra yang lebih ringan.
"Ini dia yang Mas Fahri sering ceritain?" Fauzan bertanya dengan antusias. "Pacarnya Mas Fahri?"
"Iya," Fahri mengangguk meski tahu teman-temannya tidak bisa melihatnya. "Kenalkan, ini Zahra."
Zahra menelan ludah, tiba-tiba merasa gugup. "H-hai. Salam kenal."
Hening sejenak.
Kemudian Rasya angkat bicara dengan nada jahil. "Wah, suaranya bagus. Pantes Mas Fahri sampe klepek-klepek."
"Rasya!" Fahri protes, wajahnya memerah.
"Apaan? Gue cuma muji!"
Fauzan tertawa lepas. "Kak Zahra, silakan duduk. Jangan dengerin Rasya mulutnya emang nggak ada filternya."
"Lo tuh yang nggak ada filternya!" Rasya membalas.
Zahra tidak bisa menahan senyumnya. Dinamika di antara ketiga sahabat ini mengingatkannya pada... well, tidak ada perbandingan yang tepat. Persahabatannya dengan Bunga dan Cintia tidak pernah sehangat dan sebebas ini.
"Makasih," Zahra duduk di sebelah Fahri. "Kalian bisa panggil gue Zahra aja. Nggak usah pakai 'Kak.'"
"Oke, Zahra!" Fauzan menyetujui dengan semangat. "Gue Fauzan. Yang cerewet ini Rasya. Dan yang kalem ini Sukri."
"Siapa yang lo bilang cerewet?!" Rasya langsung protes.
"Lo lah! Siapa lagi?"
"Enak aja! Gue tuh vokal, bukan cerewet. Beda!"
"Sama aja!"
Sukri menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum kecil. "Mereka emang selalu kayak gini. Dari SLB sampe sekarang nggak berubah."
Zahra tertawa. "Kayaknya seru ya, temenan sama mereka."
"Seru tapi bikin sakit kepala," Sukri menjawab dengan nada datar yang justru membuat jawabannya terdengar lebih lucu.
Pelayan datang untuk mengambil pesanan. Zahra memperhatikan bagaimana Fahri dengan natural membantu teman-temannya memilih menu membacakan pilihan makanan dan minuman dengan sabar.
"Fauzan mau yang biasa?" Fahri bertanya.
"Iya, Mas. Kopi susu sama roti bakar."
"Rasya?"
"Gue mau es teh sama kentang goreng. Oh, sama sambal yang banyak!"
"Lo yakin? Terakhir kali makan pedes, lo nangis."
"ITU KARENA SAMBELNYA KELEWATAN!" Rasya membela diri dengan heboh. "Bukan karena gue nggak kuat pedes!"
"Iya, iya, terserah lo," Fahri tertawa. "Sukri?"
"Air putih sama salad aja, Mas. Makasih."
"Sehat banget lo, Kri," Fauzan berkomentar. "Gue mah nggak sanggup makan sayur doang."
"Makanya perut lo gendut," Rasya menyahut.
"Perut gue nggak gendut! Ini berisi!"
"Berisi lemak."
"RASYA!"
Zahra tertawa sampai perutnya sakit mendengar perdebatan mereka. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia tertawa sebebas ini.
"Zahra mau pesan apa?" Fahri bertanya dengan lembut.
"Hmm, latte sama cake cokelat aja."
"Oke." Fahri menyampaikan pesanan lengkap pada pelayan, dan suasana kembali santai.
"Jadi, Zahra," Rasya memulai dengan nada interogasi yang dibuat-buat. "Lo kuliah di mana?"
"Universitas Bhayangkara. Fakultas Komunikasi."
"Wah, sama kayak Mas Fahri dong! Eh, tapi beda fakultas ya?"
"Iya. Fahri di Teknik Informatika."
"Pinter banget emang Mas Fahri tuh," Fauzan mengangguk-angguk. "Dari SLB aja udah keliatan. Nilai-nilainya selalu paling tinggi."
"Padahal dia juga sering bantu kita belajar," Sukri menambahkan dengan suara lembutnya. "Mas Fahri tuh nggak pernah pelit ilmu."
Zahra menatap Fahri yang terlihat malu dengan pujian-pujian itu. "Kalian kenal Fahri dari kapan?"
"Dari SMP!" Fauzan menjawab dengan semangat. "Kita satu sekolah dari SMP sampai SMA. Mas Fahri tuh udah kayak kakak buat kita bertiga."
"Makanya kita panggilnya 'Mas,'" Rasya menjelaskan. "Bukan cuma karena dia lebih tua, tapi karena dia emang punya aura kakak banget. Selalu ngurus kita, selalu bantuin kita."
"Padahal Mas Fahri sendiri juga punya keterbatasan," Sukri melanjutkan. "Tapi dia nggak pernah jadiin itu alasan buat nggak nolong orang lain."
Zahra merasakan dadanya menghangat mendengar cerita itu. Ia melirik Fahri yang semakin terlihat tidak nyaman dengan semua perhatian ini.
"Udah, udah, jangan lebay," Fahri mencoba mengalihkan pembicaraan. "Mending kita ngomongin hal lain"
"Eh, jangan coba-coba ngalihin topik, Mas!" Rasya memotong dengan tegas. "Zahra harus tau cerita lengkapnya. Biar dia makin sayang sama Mas Fahri."
"Rasya"
"Gue yang cerita!" Fauzan mengangkat tangannya. "Jadi, Zahra, lo tau nggak gimana pertama kali kita kenal Mas Fahri?"
Zahra menggeleng, lalu menyadari bahwa mereka tidak bisa melihatnya. "Nggak. Gimana ceritanya?"
Fauzan meletakkan gitarnya dengan hati-hati di samping kursi, lalu memulai ceritanya dengan gaya bertutur yang dramatis.
"Waktu itu, SMP kelas satu. Gue, Rasya, sama Sukri masih baru di SLB. Kita bertiga tunanetra total nggak bisa liat apa-apa. Beda sama temen-temen lain yang sebagian masih bisa liat sedikit."
"Kita sering di-bully sama anak-anak yang lain," Rasya melanjutkan, nadanya lebih serius sekarang. "Bukan bully fisik sih, lebih ke verbal. Diejek, diketawain, kadang barang-barang kita disembunyiin biar kita bingung."
"Satu hari, ada yang nyembunyiin tongkat kita bertiga," Sukri menambahkan dengan suara pelan. "Kita nggak bisa jalan sama sekali tanpa tongkat. Kita duduk di kelas, nggak bisa kemana-mana. Mau ke kantin nggak bisa. Mau ke toilet nggak bisa."
Zahra merasakan hatinya mencelos membayangkan situasi itu.
"Terus, tiba-tiba ada yang dateng," Fauzan tersenyum. "Suaranya agak nggak jelas, tapi dia bilang, 'Kalian kenapa? Kok nggak ke kantin?'"
"Itu Mas Fahri," Rasya melanjutkan. "Waktu itu, Mas Fahri juga baru di sekolah itu. Dia anak pindahan. Kakinya pincang, bicaranya agak susah dipahami. Kondisinya juga nggak mudah."
"Tapi pas denger cerita kita, Mas Fahri langsung nyariin tongkat kita," Sukri berkata dengan suara yang penuh emosi. "Dia jalan keliling sekolah dengan kakinya yang kayak gitu cuma buat nyariin tongkat kita bertiga."
"Setengah jam kemudian, dia balik," Fauzan mengambil alih cerita. "Napasnya ngos-ngosan. Keringetnya banyak banget. Tapi di tangannya, ada tiga tongkat."
"Dia bilang, 'Ini tongkat kalian. Maaf lama. Disembunyiin di gudang belakang,'" Rasya menirukan suara Fahri dengan aksen yang agak tidak jelas, persis seperti cara bicara Fahri.
"Sejak hari itu, Mas Fahri jadi pelindung kita," Sukri melanjutkan. "Dia selalu mastiin kita aman. Selalu bantu kita kalau ada kesulitan. Padahal dia sendiri juga sering di-bully karena kondisinya."
"Tapi dia nggak pernah ngeluh," Fauzan mengakhiri dengan senyum. "Dia selalu bilang, 'Kita kan sama-sama beda. Jadi harus saling jaga.'"
Kita kan sama-sama beda. Jadi harus saling jaga.
Kata-kata itu terngiang di kepala Zahra, membuat matanya berkaca-kaca.
Ia menatap Fahri yang duduk di sebelahnya, wajahnya tertunduk malu. Pemuda yang selama ini ia anggap "culun" dan "cacat" ternyata punya hati semulia ini.
"Fahri..." suara Zahra bergetar.
"Udah, nggak usah didramatisin," Fahri mencoba tertawa, tapi ada kemerahan di pipi dan telinganya. "Itu udah lama banget. Nggak penting."
"Penting, Mas!" Rasya membantah. "Zahra harus tau bahwa pacarnya itu orang paling baik sedunia!"
"Lebay lo"
"Gue setuju sama Rasya," Zahra memotong, menggenggam tangan Fahri. "Sayang, lo tuh luar biasa. Beneran."
Fahri terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia hanya tersenyum senyum malu-malu yang membuat jantung Zahra berdebar.
Pesanan mereka datang, dan suasana kembali ceria. Di sela-sela makan, Rasya tiba-tiba memulai topik baru.
"Eh, Zahra, lo suka nonton film nggak?"
"Suka. Kenapa?"
"Film apa yang paling lo suka?"
Zahra berpikir sejenak. "Hmm, banyak sih. Tapi gue suka banget sama Titanic."
"TITANIC?!" Rasya langsung heboh. "Film itu tuh overrated banget!"
"Loh, kok overrated? Itu film legendaris!"
"Legendaris apanya? Ceritanya klise, endingnya maksa, dan yang paling nggak masuk akal Rose nggak mau berbagi papan sama Jack! Papannya jelas-jelas cukup buat dua orang!"
Zahra tertawa tidak percaya. "Lo serius nge-debate film sama gue?"
"Gue selalu serius soal film!" Rasya bersikeras. "Film favorit gue tuh The Shawshank Redemption. Itu baru film bagus!"
"Tapi lo kan nggak bisa nonton " Zahra langsung menutup mulutnya, sadar ia hampir mengatakan sesuatu yang mungkin menyinggung.
Tapi Rasya justru tertawa lepas. "Santai, Zahra! Gue emang nggak bisa 'nonton' dalam artian liat. Tapi gue bisa dengerin! Ada audio description buat film-film bagus. Gue hafal semua dialog The Shawshank Redemption, lo mau bukti?"
Tanpa menunggu jawaban, Rasya langsung mengutip dengan nada dramatis: "'Hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies.'"
"Wih, keren!" Zahra terkesan.
"Kan! Itu baru quote yang bermakna. Bukan 'I'm the king of the world!' yang lebay itu."
"Eh, itu quote yang iconic tau!"
"Iconic tapi lebay!"
Mereka berdebat dengan seru, dan Zahra mendapati dirinya benar-benar menikmati perdebatan ini. Rasya mungkin tidak bisa melihat, tapi pengetahuannya tentang film sangat luas bahkan lebih luas dari Zahra sendiri.
"Rasya tuh emang kayak gitu," Fauzan berbisik pada Zahra. "Kalau udah ngomongin film, bisa berjam-jam."
"Gue denger itu, Fauzan!" Rasya menyahut.
"Emang biar lo denger! Bukan rahasia!"
Setelah perdebatan film yang panjang (yang berakhir seri karena tidak ada yang mau mengalah), Fauzan mengambil gitarnya.
"Eh, gue mau nyanyi nih. Boleh nggak?"
"Boleh!" semua menjawab serempak.
Fauzan memetik gitarnya dengan lembut, mencari nada yang tepat. Jari-jarinya bergerak dengan natural di senar-senar gitar seolah ia bisa "melihat" posisi setiap senar dengan hatinya.
Kemudian, ia mulai bernyanyi.
Suaranya merdu sangat merdu. Lagu yang ia nyanyikan adalah lagu lama tentang persahabatan, tentorang bertahan di tengah badai kehidupan.
Zahra terpukau.
Ia tidak menyangka suara seindah itu keluar dari pemuda yang tidak bisa melihat. Fauzan bernyanyi dengan penuh perasaan, setiap lirik terasa seperti datang dari lubuk hatinya yang terdalam.
Ketika lagu berakhir, Zahra bertepuk tangan dengan antusias. "Fauzan, lo keren banget! Suara lo bagus parah!"
Wajah Fauzan memerah. "Makasih, Zahra. Gue emang suka musik dari kecil. Ini satu-satunya hal yang bisa gue lakuin dengan baik."
"Satu-satunya apanya," Sukri menyahut dengan lembut. "Lo juga jago main piano, harmonika, sama drum."
"Iya, Fauzan mah multi-talented," Rasya menambahkan. "Kalau bukan karena mata, dia pasti udah jadi artis sekarang."
"Mata bukan penghalang kok," Fauzan tersenyum. "Andrea Bocelli juga tunanetra, tapi dia penyanyi opera terkenal di dunia. Stevie Wonder juga. Ray Charles juga. Siapa bilang kami nggak bisa berkarya?"
Kata-kata itu membuat Zahra terdiam.
Siapa bilang kami nggak bisa berkarya?
Ia teringat bagaimana dulu ia memandang rendah orang-orang dengan disabilitas. Menganggap mereka tidak mampu. Menganggap mereka menyedihkan. Menganggap mereka tidak setara.
Tapi sekarang, duduk bersama Fauzan, Rasya, dan Sukri, Zahra menyadari betapa salahnya pandangan itu.
Mereka bertiga adalah manusia yang luar biasa. Punya mimpi, punya bakat, punya semangat yang bahkan lebih besar dari kebanyakan orang "normal" yang Zahra kenal.
Menjelang sore, Sukri yang dari tadi lebih banyak diam akhirnya angkat bicara.
"Zahra," ia memanggil dengan suaranya yang lembut.
"Iya, Sukri?"
"Boleh gue ngomong sesuatu?"
"Boleh dong. Ngomong aja."
Sukri tersenyum kecil. "Gue cuma mau bilang... makasih udah sayang sama Mas Fahri."
Zahra tertegun. "Kenapa makasih?"
"Karena Mas Fahri tuh udah lama nunggu orang yang bisa liat dia bukan dari kekurangannya." Sukri menjawab dengan tulus. "Selama gue kenal Mas Fahri, dia selalu ngurus orang lain. Selalu jadi tempat sandaran buat kita-kita. Tapi dia sendiri jarang punya orang yang bisa dia sandarin."
"Sukri bener," Fauzan mengangguk. "Mas Fahri tuh terlalu baik. Kadang gue khawatir dia kecapean karena terus-terusan ngurusin orang."
"Makanya pas dia cerita soal lo," Rasya melanjutkan, "kita seneng banget. Akhirnya ada orang yang bisa ngejaga Mas Fahri."
Zahra merasakan matanya memanas. Ia melirik Fahri yang duduk di sebelahnya, wajahnya tertunduk malu.
"Tapi gue mau lo janji satu hal," Sukri melanjutkan dengan nada yang lebih serius.
"Apa?"
"Jangan pernah sakitin Mas Fahri."
Kata-kata itu terasa seperti tusukan di dada Zahra.
Jangan pernah sakitin Mas Fahri.
Bagaimana kalau mereka tahu? Bagaimana kalau mereka tahu bahwa Zahra mendekati Fahri karena dare? Bahwa semua ini dimulai dari kebohongan?
"Gue..." suara Zahra tercekat. "Gue janji."
Sukri tersenyum senyum yang hangat dan percaya. "Makasih, Zahra. Mas Fahri beruntung punya lo."
Bukan, Zahra membatin.?Gue yang beruntung punya dia.
Sebelum pulang, Fauzan menarik Zahra ke samping.
"Zahra, gue mau cerita satu hal lagi."
"Apa?"
"Waktu SMP, ada satu kejadian yang bikin gue nggak akan pernah lupa sama Mas Fahri."
Zahra mendengarkan dengan seksama.
"Waktu itu, gue putus asa banget," Fauzan memulai. "Gue ngerasa hidup gue nggak ada artinya. Nggak bisa liat, nggak bisa ngapa-ngapain. Gue... gue hampir nyerah."
Zahra merasakan jantungnya mencelos.
"Mas Fahri yang nemuin gue waktu itu. Di atap sekolah." Fauzan menarik napas dalam. "Gue nggak tau gimana dia bisa tau gue di sana. Tapi dia dateng. Dengan kakinya yang susah naik tangga. Dengan napasnya yang ngos-ngosan. Dia dateng dan dia bilang..."
"Bilang apa?"
"Dia bilang, 'Fauzan, lo tuh lebih kuat dari yang lo pikir. Lo cuma belum nemu alasan yang tepat buat terus hidup. Tapi gue janji, gue bakal bantu lo nemuin alasan itu. Jadi please, jangan nyerah dulu.'"
Air mata mengalir di pipi Fauzan meski tertutup kacamata hitam. "Dan beneran, Zahra. Mas Fahri nemenin gue setiap hari setelah itu. Dia yang ngajarin gue main gitar. Dia yang bilang gue punya suara bagus. Dia yang dorong gue buat terus berkarya. Kalau bukan karena Mas Fahri, gue nggak akan ada di sini sekarang."
Zahra tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Jadi, Zahra," Fauzan mengakhiri, "lo lagi pegang hati orang yang sangat spesial. Orang yang udah selamatin hidup gue. Tolong jaga dia baik-baik."
"Gue janji, Fauzan," Zahra berbisik, suaranya parau. "Gue janji."
Di perjalanan pulang, Zahra tidak banyak bicara. Ia menatap ke luar jendela taksi, pikirannya berkecamuk dengan segala cerita yang ia dengar hari ini.
"Lo kenapa, sayang?" Fahri bertanya dengan khawatir. "Lo diem aja dari tadi."
"Gue cuma... mikir."
"Mikir apa?"
Zahra menoleh menatap Fahri. Pemuda yang duduk di sebelahnya ini dengan kakinya yang pincang dan bicaranya yang tidak sempurna ternyata adalah pahlawan bagi banyak orang.
Menyelamatkan tongkat teman-temannya.
Menyelamatkan hidup Fauzan.
Selalu ada untuk orang lain meski dirinya sendiri punya segudang masalah.
"Lo tuh luar biasa," Zahra berbisik, air mata mengalir di pipinya. "Lo tau nggak, sayang? Lo tuh orang paling luar biasa yang pernah gue kenal."
"Zar, lo lebay"
"Gue serius!" Zahra mencengkeram tangan Fahri. "Fauzan cerita semuanya. Tentang gimana lo selamatin dia. Tentang gimana lo selalu ada buat mereka bertiga. Lo... lo tuh..."
Kata-kata Zahra terputus oleh isakan.
Fahri memeluk Zahra dengan lembut. "Shh, nggak apa-apa. Nggak usah nangis."
"Gue cuma... gue cuma ngerasa nggak pantas," Zahra berbisik di bahu Fahri. "Lo terlalu baik buat gue."
"Jangan ngomong kayak gitu," Fahri berkata dengan tegas tapi lembut. "Lo tuh segalanya buat gue, Zahra. Lo yang bikin hidup gue jadi lebih berwarna. Lo yang bikin gue ngerasa... normal."
Normal.
Kata itu membuat Zahra semakin menangis.
Karena ia tahu, Fahri tidak butuh jadi "normal" untuk jadi luar biasa. Fahri sudah luar biasa apa adanya.
Dan Zahra... Zahra yang selama ini merasa paling sempurna di antara semua orang... ternyata adalah yang paling tidak sempurna dibanding pemuda ini.
Malam itu, di apartemennya, Zahra duduk di tepi tempat tidur dengan pikiran yang tidak bisa tenang.
Ia memikirkan Fauzan yang hampir menyerah tapi diselamatkan oleh Fahri.
Ia memikirkan Rasya yang penuh semangat meski tidak bisa melihat.
Ia memikirkan Sukri yang lembut dan perhatian meski dunianya gelap.
Ia memikirkan Fahri yang menjadi penopang bagi semua orang meski kakinya sendiri tidak bisa menopang tubuhnya dengan sempurna.
Disabilitas bukan penghalang, Zahra menyadari.?Bukan penghalang untuk bermimpi, untuk berkarya, untuk menyayangi, untuk menjadi manusia yang luar biasa.
Yang menjadi penghalang adalah orang-orang seperti Zahra yang dulu yang menilai dari luar, yang merendahkan tanpa memahami, yang merasa paling sempurna padahal justru paling cacat hatinya.
Zahra mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Fahri.
ZAHRA:?Sayang, makasih buat hari ini. Makasih udah ngenalin gue sama Fauzan, Rasya, sama Sukri. Mereka luar biasa banget. Dan lo... lo lebih luar biasa lagi.
Gue sayang lo, Fahri. Beneran sayang. Bukan karena lo sempurna, tapi karena lo tulus. Karena lo baik. Karena lo adalah lo.
Selamat malam, daksa kesayanganku. ??
Beberapa menit kemudian, balasan datang.
FAHRI:?Sayang juga, Zahra. Selamat malam. Mimpi indah ya. ??
PS: "Daksa kesayanganku"? Itu panggilan baru? ??
ZAHRA:?Iya. Itu panggilan khusus buat lo. Cuma lo yang boleh dipanggil gitu.
FAHRI:?Gue suka. Makasih, sayang. ??
Zahra tersenyum membaca balasan itu. Ia meletakkan ponselnya dan berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar.
Gue jatuh cinta, ia mengakui dengan pasti sekarang.?Beneran jatuh cinta. Dan gue nggak mau kehilangan dia.
Tapi di sudut hatinya, ada ketakutan yang terus menghantuinya.
Ketakutan bahwa suatu saat, kebenaran tentang dare itu akan terbongkar.
Dan ketika itu terjadi, akankah Fahri masih mau memaafkannya?
Zahra memejamkan matanya, berusaha mengusir pikiran itu.
Untuk malam ini, ia hanya ingin menikmati perasaan bahagia ini.
Perasaan dicintai dan mencintai dengan tulus.
Perasaan yang mungkin tidak akan bertahan selamanya.
Tapi untuk saat ini... untuk saat ini, cukup.