Perubahan tidak pernah terjadi dalam semalam.
Tapi kadang, perubahan dimulai dari satu keputusan kecil yang kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Bagi Zahra, keputusan kecil itu dimulai dari pagi berikutnya ketika ponselnya bergetar dengan pesan selamat pagi dari Fahri.
FAHRI:?Selamat pagi, Zahra! ?? Semoga hari ini lebih baik dari kemarin. Gue tunggu di perpustakaan jam 10 ya, kalau lo mau ketemu. Kalau nggak juga nggak apa-apa. No pressure. ??
Biasanya, Zahra akan membalas dengan satu atau dua kata tanpa emoji. Tapi hari ini, jari-jarinya mengetik sesuatu yang berbeda.
ZAHRA:?Pagi juga, Fahri! ?? Gue pasti dateng. Tunggu gue ya. Jangan kemana-mana.
Ia menatap balasannya sebelum menekan kirim. Ada emoji. Ada antusiasme. Ada... kehangatan.
Ini yang seharusnya dari awal, Zahra berpikir.?Ini yang Fahri pantas dapetin.
Jam 10 tepat, Zahra memasuki perpustakaan.
Tidak terlambat. Tidak membatalkan di menit-menit terakhir. Tepat waktu sesuatu yang tidak pernah ia lakukan untuk Fahri sebelumnya.
Fahri sudah menunggu di meja biasa mereka. Ketika melihat Zahra datang, wajahnya langsung berseri-seri.
"Lo dateng!" suaranya terdengar sedikit tidak percaya.
"Ya iyalah. Kan gue udah bilang bakal dateng." Zahra duduk di seberang Fahri, meletakkan tasnya dengan santai. "Lo pikir gue boong?"
"Nggak, bukan gitu. Cuma..." Fahri tersenyum malu. "Biasanya lo sering... ya, gitu."
Biasanya lo sering batalin, itu yang Fahri maksud. Dan Zahra tahu itu.
"Mulai sekarang, nggak lagi," Zahra berkata dengan tegas lebih pada dirinya sendiri daripada pada Fahri. "Kalau gue bilang dateng, ya gue dateng."
Fahri menatapnya dengan mata yang berbinar mata yang penuh harapan dan kebahagiaan. Tatapan itu membuat dada Zahra terasa hangat.
Ternyata segampang ini bikin dia seneng, Zahra menyadari.?Cuma dengan dateng tepat waktu. Cuma dengan nggak ngecewain dia.
Betapa rendahnya standar Fahri selama ini. Dan betapa seringnya Zahra gagal memenuhi bahkan standar serendah itu.
Hari-hari berikutnya, Zahra mulai berubah perlahan tapi pasti.
Ia membalas chat Fahri dengan lebih panjang, lebih hangat, lebih personal. Bukan lagi jawaban singkat satu-dua kata, tapi percakapan sungguhan yang kadang berlangsung sampai tengah malam.
FAHRI:?Lo lagi ngapain?
ZAHRA:?Lagi rebahan sambil dengerin lagu. Lo?
FAHRI:?Sama. Lagi dengerin playlist sambil coding.
ZAHRA:?Lo tuh ya, coding mulu. Nggak capek apa? Istirahat juga kali.
FAHRI:?Hehe, ini udah kayak istirahat buat gue. Coding sambil chat sama lo tuh kombinasi paling asik.
ZAHRA:?Cheesy banget sih lo. ??
FAHRI:?Belajar dari yang terbaik. ??
ZAHRA:?Siapa yang terbaik?
FAHRI:?Lo lah. Siapa lagi.
ZAHRA:?Gombal! Udah ah, tidur sana. Besok ketemu lagi kan?
FAHRI:?Iya, besok. Selamat malam, Zahra. ??
ZAHRA:?Malam, Fahri. ??
Pertama kalinya Zahra membalas emoji hati dengan emoji hati. Dan anehnya, itu tidak terasa dipaksakan sama sekali.
Dua minggu kemudian.
Zahra dan Fahri duduk bersebelahan di lab komputer fakultas Teknik Informatika. Layar laptop Fahri menampilkan baris-baris kode yang bagi Zahra masih terlihat seperti bahasa alien tapi sekarang, bahasa alien yang sedikit lebih familiar.
"Jadi, ini namanya function," Fahri menjelaskan dengan sabar, jarinya menunjuk ke bagian tertentu di layar. "Lo bisa bayangin kayak resep masakan. Lo kasih bahan-bahannya, terus function-nya yang proses, dan hasilnya keluar."
"Kayak bikin rendang gitu?" Zahra bertanya, teringat masakan Ibu Muslimah.
Fahri tertawa tawa yang hangat dan lepas. "Iya! Persis! Lo kasih daging, santan, bumbu itu input-nya. Proses masaknya itu function-nya. Dan rendangnya itu output-nya."
"Ohhh, gitu," Zahra mengangguk-angguk, akhirnya sedikit paham. "Jadi coding tuh sebenernya kayak masak, cuma bahannya beda?"
"Kurang lebih! Wah, lo cepet banget nangkepnya sekarang."
"Itu karena guru-nya bagus," Zahra tersenyum.
Wajah Fahri langsung memerah. "A-ah, nggak juga..."
Zahra mengamati Fahri yang kembali fokus ke layar laptopnya. Jari-jarinya mengetik dengan cepat dan percaya diri sangat berbeda dengan cara ia berbicara yang kadang tersendat. Di depan komputer, Fahri seperti orang yang berbeda. Lebih yakin. Lebih bersinar.
Ini dunianya, Zahra menyadari.?Di sini, dia bukan cowok cacat atau cowok culun. Di sini, dia jenius.
"Lo lagi mikirin apa?" suara Fahri membuyarkan lamunan Zahra.
"Nggak ada. Cuma... kagum aja sama lo."
"Kagum?" Fahri mengerjap bingung. "Kagum kenapa?"
"Ya, sama kemampuan lo. Lo tuh pinter banget, Fahri. Gue serius. Coding kayak gini, bikin aplikasi, menang kompetisi itu semua nggak gampang. Dan lo bisa lakuin semua itu sambil..." Zahra menghentikan kalimatnya.
"Sambil jalan pakai tongkat?" Fahri melanjutkan dengan senyum kecil.
"Bukan gitu "
"Nggak apa-apa, Zar. Gue ngerti maksud lo." Fahri menatap Zahra dengan mata yang teduh. "Dan makasih. Jarang ada yang bilang kayak gitu ke gue. Biasanya orang cuma liat kekurangan gue, bukan kelebihan."
"Orang-orang itu buta," Zahra berkata dengan tegas. "Mereka nggak tau apa yang mereka lewatkan."
Fahri tersenyum senyum yang membuat jantung Zahra berdebar sedikit lebih cepat.
Tunggu. Kenapa gue deg-degan?
Sore itu, mereka pindah ke taman kampus untuk menikmati matahari terbenam bersama.
Zahra duduk di sebelah Fahri di bangku biasa mereka, kaki mereka nyaris bersentuhan. Udara sore terasa sejuk, dan langit mulai berubah warna menjadi gradasi oranye dan ungu.
Fahri mengangkat kameranya dan mulai memotret pemandangan di depan mereka.
"Sunset hari ini bagus banget," ia bergumam, matanya fokus ke viewfinder.
Zahra mengamati profil Fahri dari samping. Cara alisnya mengernyit sedikit saat mencari angle yang tepat. Cara bibirnya sedikit terbuka karena konsentrasi. Cara matanya berbinar ketika menemukan momen yang sempurna.
Dia... ganteng juga ya, Zahra menyadari dengan terkejut.?Kenapa gue baru sadar sekarang?
"Zar, liat sini bentar."
Zahra menoleh, dan
Click.
Fahri memotretnya.
"Eh! Lo ngapain?!" Zahra protes, wajahnya memerah.
"Motret lo lah. Kenapa? Nggak boleh?"
"Bilang dulu kek! Gue nggak siap!"
"Justru yang bagus tuh yang nggak siap. Lebih natural." Fahri menunjukkan hasil fotonya pada Zahra. "Liat, bagus kan?"
Zahra menatap foto itu. Benar foto itu bagus. Ia terlihat... berbeda. Lebih lembut. Lebih manusiawi. Tidak seperti foto-foto Instagram-nya yang selalu diperhitungkan dan diedit.
"Lo emang jago motret ya," Zahra mengakui.
"Itu karena objeknya yang cantik," Fahri membalas dengan senyum malu-malu.
Zahra tertawa dan memukul lengan Fahri pelan. "Gombal!"
"Beneran kok!"
Mereka tertawa bersama, dan untuk pertama kalinya, Zahra merasakan sesuatu yang berbeda.
Kebahagiaan yang sederhana.
Kebahagiaan yang tidak butuh barang mewah atau pesta glamor.
Kebahagiaan yang datang hanya dari duduk bersama seseorang yang tulus menyayanginya.
Minggu ketiga sejak perubahan Zahra dimulai.
Mereka sedang duduk di perpustakaan lagi tempat favorit mereka sekarang. Fahri sibuk mengerjakan project coding untuk kompetisi yang akan datang, sementara Zahra membaca buku di sebelahnya.
Atau setidaknya, pura-pura membaca.
Mata Zahra lebih sering melirik ke arah Fahri daripada ke halaman buku. Ia memperhatikan cara Fahri mengetik begitu fokus sampai seperti melupakan dunia. Cara alisnya mengernyit ketika menemukan bug. Cara bibirnya bergumam sendiri saat memikirkan solusi.
Tapi setelah hampir dua jam, Zahra mulai merasa... diabaikan?
"Fahri," Zahra memanggil.
Tidak ada jawaban.
"Fahri," ia mengulang lebih keras.
Masih tidak ada jawaban. Fahri terlalu tenggelam dalam layar laptopnya.
Zahra mengerucutkan bibirnya. Dengan gerakan tiba-tiba, ia meletakkan tangannya di atas keyboard laptop Fahri, menghalangi Fahri untuk mengetik.
"Woy!" Fahri kaget, akhirnya mengangkat wajahnya. "Zar, ngapain sih? Gue lagi di tengah-tengah nulis function "
"Lo tuh pacaran sama gue atau sama laptop sih?" Zahra memotong dengan nada yang sengaja dibuat kesal. "Dari tadi gue panggil nggak nyaut-nyaut. Gue cemburu nih sama laptop lo."
Fahri mengerjap beberapa kali, memproses kata-kata Zahra. Kemudian, senyum lebar mengembang di wajahnya.
"Lo... cemburu? Sama laptop?"
"Iya! Lo lebih perhatiin laptop daripada gue!" Zahra melipat tangannya di dada dengan tampang ngambek yang dibuat-buat.
"Astaga, Zar," Fahri tertawa. "Lo lucu banget kalau lagi cemburu."
"Gue nggak lucu! Gue kesel!"
"Oke, oke, maaf," Fahri mengangkat tangannya dalam gestur menyerah, masih tersenyum. "Gue terlalu fokus tadi. Harusnya gue lebih perhatiin lo."
"Harusnya!"
"Iya, maaf," Fahri meraih tangan Zahra yang masih terlipat di dada, menggenggamnya dengan lembut. "Gue janji, sekarang fokus gue cuma ke lo. Laptop-nya bisa nunggu."
Zahra merasakan wajahnya memanas. Genggaman tangan Fahri terasa hangat hangat dan nyaman.
"Bagus," Zahra bergumam, berusaha mempertahankan tampang kesalnya meski sudah mulai runtuh. "Awas kalau lo cuekin gue lagi."
"Nggak akan," Fahri tersenyum. "Lo lebih penting dari seribu laptop."
"Cuma seribu? Kurang!"
"Oke, sejuta laptop."
"Masih kurang."
"Semua laptop di dunia?"
Zahra berpura-pura berpikir. "Hmm, boleh lah."
Mereka tertawa bersama, dan Zahra menyadari bahwa ini adalah momen paling bahagia yang pernah ia rasakan dalam waktu yang sangat lama.
Gue beneran jatuh cinta sama dia, realisasi itu datang seperti ombak yang lembut tapi pasti.?Bukan karena dare. Bukan karena terpaksa. Tapi beneran.
Dan yang lebih mengejutkan ia tidak takut dengan perasaan itu.
Seminggu kemudian, Fahri mengajak Zahra ke lab komputer lagi. Tapi kali ini, ada yang berbeda.
"Gue mau tunjukin sesuatu," Fahri berkata dengan senyum misterius.
"Apaan?"
"Liat aja."
Fahri membuka laptopnya dan mengetik sebuah alamat website. Layar loading sebentar, kemudian
Zahra terkesiap.
Di layar, muncul sebuah website dengan desain yang indah. Header-nya bertuliskan "Our Story" dengan font yang elegan, dan di bawahnya ada galeri foto foto-foto Zahra yang diambil Fahri selama beberapa bulan terakhir.
Ada foto Zahra di perpustakaan. Di taman. Di kantin. Di teras rumah Fahri. Setiap foto disusun dengan rapi, dan di bawah setiap foto ada caption kecil.
"Hari pertama dia nyapa gue. Gue pikir ini mimpi."
"Senyumnya bisa bikin gue lupa cara napas."
"Momen ini gue simpan di hati selamanya."
"Dia bilang gue ganteng. Gue nggak percaya, tapi gue seneng."
Dan di bagian paling bawah website, ada tulisan:
"Untuk Zahra, yang udah ngajarin gue bahwa cinta itu bukan tentang kesempurnaan. Terima kasih udah mau jadi bagian dari cerita gue. Fahri"
Air mata menggenang di mata Zahra tanpa ia sadari.
"Fahri..." suaranya tercekat. "Lo... bikin ini buat gue?"
"Iya," Fahri menjawab dengan malu-malu. "Gue tau ini sederhana, nggak sebagus website profesional. Tapi gue pengen bikin sesuatu yang spesial buat lo. Sesuatu yang cuma kita berdua yang punya."
Zahra tidak bisa menahan diri lagi. Ia memeluk Fahri pelukan tiba-tiba yang membuat Fahri hampir kehilangan keseimbangan.
"Z-Zar?!"
"Makasih," Zahra berbisik di bahu Fahri, air matanya mengalir. "Makasih, Fahri. Ini... ini hadiah paling indah yang pernah gue terima."
Fahri balas memeluk Zahra dengan lembut, senyum bahagia di wajahnya. "Sama-sama. Gue seneng lo suka."
Mereka berpelukan dalam diam, dan Zahra menyadari ini pertama kalinya ia memeluk Fahri dengan inisiatif sendiri. Bukan karena diminta. Bukan karena formalitas. Tapi karena ia benar-benar ingin.
Dan pelukan itu terasa... pas. Seperti dua potongan puzzle yang akhirnya menemukan pasangannya.
Malam itu, di apartemennya, Zahra tidak bisa tidur.
Pikirannya terus melayang ke Fahri. Ke senyumnya. Ke tawanya. Ke cara ia menjelaskan coding dengan penuh semangat. Ke website yang ia buat dengan sepenuh hati.
Zahra mengambil laptopnya dan membuka Google. Jari-jarinya mengetik dengan ragu-ragu:
"Cerebral palsy adalah"
Hasil pencarian muncul dalam hitungan detik. Zahra mulai membaca artikel demi artikel, penjelasan demi penjelasan.
Cerebral palsy adalah kelompok gangguan yang mempengaruhi gerakan dan koordinasi otot.
Disebabkan oleh kerusakan pada otak yang berkembang, biasanya sebelum kelahiran.
Tidak ada obatnya, tapi dengan terapi yang tepat, penderita bisa menjalani hidup yang produktif.
Zahra terus membaca. Ia membaca tentang tantangan yang dihadapi penyandang cerebral palsy sehari-hari. Tentang stigma sosial. Tentang perjuangan yang tidak terlihat. Tentang kekuatan yang dibutuhkan hanya untuk melakukan hal-hal sederhana yang orang lain anggap remeh.
Berjalan.
Berbicara.
Diterima.
Semakin Zahra membaca, semakin ia kagum dengan Fahri.
Pemuda itu menghadapi semua tantangan itu setiap hari. Setiap langkah yang ia ambil membutuhkan usaha lebih. Setiap kata yang ia ucapkan membutuhkan konsentrasi ekstra. Setiap hari, ia harus membuktikan diri lebih keras dari orang lain hanya untuk dianggap setara.
Dan ia melakukannya dengan senyum. Tanpa mengeluh. Tanpa minta dikasihani.
Dia luar biasa, Zahra menyadari.?Bukan meski dia cacat. Tapi karena dia tidak membiarkan kondisinya mendefinisikan siapa dia.
Tiba-tiba, Zahra merasa ingin menulis sesuatu. Seperti yang Fahri sering lakukan. Seperti puisi-puisi yang Fahri tulis untuknya.
Ia membuka dokumen baru di laptopnya, jari-jarinya menggantung di atas keyboard. Zahra tidak pernah menulis puisi sebelumnya. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Tapi ia mencoba.
Daksa Kesayanganku
Mereka bilang kau berbeda
Dengan kaki yang melangkah tak sempurna
Dengan kata-kata yang kadang tersangkut
Dengan tongkat yang selalu menemanimu
Tapi apa yang mereka tahu?
Mereka tidak melihat bagaimana matamu berbinar
Saat berbicara tentang mimpi-mimpimu
Mereka tidak mendengar tawamu yang lepas
Saat menceritakan lelucon yang tidak lucu
Mereka tidak merasakan kehangatanmu
Saat kau menggenggam tanganku
Tidak merasakan ketulusanmu
Saat kau mencintaiku tanpa syarat
Kau bilang kau tidak sempurna
Tapi bagiku, kau lebih dari cukup
Kau bilang kau hanya cowok biasa
Tapi bagiku, kau luar biasa
Langkahmu mungkin pincang
Tapi hatimu berjalan lurus
Lebih lurus dari mereka yang kakinya sempurna
Tapi hatinya bengkok
Daksa Kesayanganku
Terima kasih sudah mengajariku
Bahwa cinta tidak butuh kesempurnaan
Hanya butuh ketulusan
Dan kau, Fahri
Adalah definisi ketulusan itu sendiri
Zahra membaca ulang puisinya berkali-kali. Tidak sebagus puisi-puisi Fahri ia tahu itu. Kata-katanya sederhana, tidak ada metafora rumit atau diksi yang indah.
Tapi ini tulus. Ini jujur. Ini perasaannya yang sebenarnya.
Gue beneran jatuh cinta sama dia, Zahra menyadari untuk kesekian kalinya.?Bukan Fahri yang culun. Bukan Fahri yang cacat. Tapi Fahri yang tulus. Fahri yang sabar. Fahri yang kuat. Fahri yang luar biasa.
Ia menyimpan puisi itu di folder pribadi belum berani menunjukkannya pada siapa pun. Mungkin suatu hari nanti, ketika ia sudah lebih berani, ia akan membacakannya untuk Fahri.
Tapi untuk sekarang, cukup baginya untuk mengetahui perasaannya sendiri.
Keesokan harinya, Zahra dan Fahri janjian bertemu di taman kampus untuk makan siang bersama.
Zahra datang lebih awal sesuatu yang masih membuat Fahri terkejut setiap kali terjadi.
"Lo dateng duluan lagi?" Fahri bertanya dengan senyum lebar saat ia tiba.
"Iya. Kenapa? Nggak boleh?"
"Boleh banget. Cuma masih nggak percaya aja." Fahri duduk di sebelah Zahra, meletakkan tongkatnya di samping. "Lo beneran berubah ya, Zar."
"Berubah gimana?"
"Ya, lebih... hangat. Lebih perhatian. Lebih... di sini." Fahri menatap Zahra dengan mata yang teduh. "Dulu, meski lo di depan gue, rasanya lo kayak di tempat lain. Tapi sekarang, lo beneran di sini. Sama gue."
Zahra merasakan dadanya sesak bukan sesak yang menyakitkan, tapi sesak yang penuh emosi.
"Maaf," ia berbisik. "Maaf karena dulu gue kayak gitu."
"Udah, nggak usah minta maaf. Yang penting sekarang." Fahri menggenggam tangan Zahra dengan lembut. "Gue seneng banget, Zar. Beneran seneng."
Zahra menatap tangan mereka yang bertautan. Tangan Fahri yang hangat. Tangan yang selalu siap menolong siapa pun. Tangan yang mengetik ribuan baris kode. Tangan yang memotret keindahan yang orang lain lewatkan.
Tangan yang mencintainya dengan tulus.
"Fahri," Zahra memanggil pelan.
"Iya?"
Zahra mengambil napas dalam-dalam. Ada sesuatu yang ingin ia katakan sesuatu yang terasa aneh di lidahnya karena ia tidak pernah mengatakannya pada siapa pun sebelumnya.
"Sayang," Zahra akhirnya berkata, suaranya hampir berbisik.
Fahri membeku. "A-apa?"
"Gue mau panggil lo sayang," Zahra mengulangi, wajahnya memerah. "Boleh kan?"
Mata Fahri melebar, kemudian senyum paling lebar yang pernah Zahra lihat mengembang di wajahnya.
"B-boleh! Tentu boleh!" suara Fahri bergetar karena bahagia. "Gue... gue juga mau panggil lo sayang. Boleh?"
"Boleh."
Mereka bertatapan dalam diam, wajah sama-sama memerah, senyum sama-sama lebar.
"Sayang," Fahri mencoba mengucapkan kata itu, suaranya yang sedikit tidak jelas terdengar sangat manis di telinga Zahra.
"Sayang," Zahra membalas, dan kata itu tidak terasa asing lagi.
Ini benar. Ini nyata. Ini bukan lagi kepalsuan atau akting.
Ini cinta.
Cinta yang tumbuh dari tempat yang salah, tapi akhirnya menemukan jalannya yang benar.
Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam, Zahra dan Fahri masih duduk di bangku taman. Tangan mereka bertautan, kepala Zahra bersandar di bahu Fahri.
"Sayang," Zahra memanggil dengan manja sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada siapa pun sebelumnya.
"Iya, sayang?"
"Lo tau nggak, lo tuh cowok paling keren yang pernah gue kenal."
Fahri tertawa. "Lo lagi demam ya? Tiba-tiba muji-muji."
"Gue serius!" Zahra menegakkan tubuhnya dan menatap Fahri langsung. "Lo tuh keren, Fahri. Pinter, baik, tulus, romantis lo punya semuanya. Dan gue... gue beruntung banget bisa jadi pacar lo."
Fahri terdiam, matanya berkaca-kaca.
"Zar..."
"Gue serius," Zahra menggenggam tangan Fahri lebih erat. "Gue nggak tau kenapa dulu gue bisa sebuta itu. Nggak bisa liat betapa luar biasanya lo. Tapi sekarang gue liat. Gue beneran liat."
Air mata mengalir di pipi Fahri. Bukan air mata sedih tapi air mata bahagia.
"Makasih, Zahra," ia berbisik. "Makasih udah mau liat gue."
Zahra mengusap air mata Fahri dengan lembut. "Harusnya gue yang makasih. Makasih udah sabar sama gue. Makasih udah nggak nyerah meski gue nyebelin."
Mereka berpelukan di bawah langit sore yang berwarna jingga dua orang yang akhirnya menemukan satu sama lain.
Dan untuk pertama kalinya, Zahra tidak memikirkan dare.
Tidak memikirkan Cintia.
Tidak memikirkan reputasi atau gengsi.
Yang ia pikirkan hanyalah Fahri cowok yang entah bagaimana berhasil mencairkan hatinya yang beku.
Gue jatuh cinta, Zahra menyadari dengan pasti sekarang.?Beneran jatuh cinta. Dan ini adalah perasaan paling indah yang pernah gue rasakan.