Tiga hari setelah kunjungan ke rumah Fahri, sesuatu berubah dalam diri Zahra.
Ia tidak bisa menjelaskan apa yang berubah, tapi ia merasakannya. Setiap kali melihat pesan dari Fahri, tidak ada lagi rasa berat yang biasa ia rasakan. Setiap kali teringat senyum Ibu Muslimah dan canda Kak Ita, ada kehangatan aneh yang muncul di dadanya.
Tapi perubahan itu belum cukup untuk mengalahkan ketakutan terbesarnya.
Ketakutan akan penilaian orang lain.
Senin siang, kantin kampus.
Zahra baru saja selesai makan siang bersama Fahri di meja pojok meja yang sudah menjadi tempat favorit mereka. Suasana terasa lebih ringan dari biasanya. Fahri bercerita tentang project coding barunya, dan untuk pertama kalinya, Zahra benar-benar mendengarkan. Bukan pura-pura mendengarkan seperti biasa, tapi benar-benar memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Fahri.
"...jadi aplikasinya bakal punya fitur voice recognition. Biar orang-orang yang susah ngetik bisa tetep pakai dengan mudah."
"Itu keren, Fahri," Zahra berkomentar dan ia bersungguh-sungguh.
Wajah Fahri berseri-seri mendengar pujian itu. "Beneran? Lo nggak cuma ngomong gitu biar gue seneng?"
"Nggak. Gue serius. Ide lo emang bagus."
Senyum Fahri melebar sampai matanya menyipit. Pemandangan itu entah kenapa membuat Zahra ikut tersenyum.
Tapi momen manis itu tidak bertahan lama.
"ZAHRA!"
Suara familiar yang nyaring membuat Zahra membeku. Ia menoleh dan melihat tiga orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini: Nadya, Siska, dan Bella tiga gadis populer dari fakultasnya yang selalu mengikuti Zahra seperti pengikut setia.
Mereka berjalan menghampiri meja Zahra dengan langkah percaya diri dan senyum lebar senyum yang langsung lenyap ketika mereka melihat siapa yang duduk di seberang Zahra.
"Lo... lagi makan sama siapa?" Nadya bertanya, matanya menatap Fahri dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang tidak sopan.
Fahri langsung menunduk, tubuhnya menegang. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan itu tatapan yang sudah sangat ia kenal sepanjang hidupnya. Tatapan yang mengatakan bahwa ia tidak layak berada di tempat ini.
"Ini..." Zahra membuka mulutnya, tapi kata-kata terasa tersangkut di tenggorokan.
Ini momen yang seharusnya sederhana. Ia hanya perlu mengatakan, "Ini Fahri, pacar gue." Empat kata. Tidak susah.
Tapi tatapan Nadya, Siska, dan Bella membuatnya merasa seperti sedang diadili. Mereka menunggu jawaban dengan mata yang penuh antisipasi dan Zahra tahu persis apa yang akan terjadi kalau ia mengakui Fahri sebagai pacarnya.
Bisik-bisik. Gunjingan. Tatapan kasihan. Pertanyaan-pertanyaan menyakitkan seperti "Lo serius sama cowok itu?" atau "Lo nggak bisa dapet yang lebih baik?"
Dan reputasinya reputasi yang ia bangun bertahun-tahun akan hancur dalam sekejap.
"Dia... temen," Zahra akhirnya menjawab. "Temen yang bantu gue tugas IT."
Kata-kata itu keluar sebelum Zahra sempat memikirkannya. Dan begitu keluar, ia tidak bisa menariknya kembali.
Fahri mengangkat wajahnya, menatap Zahra dengan mata yang terluka. Tapi hanya sedetik. Kemudian ia menunduk lagi, menyembunyikan ekspresinya.
"Oh, temen," Nadya mengangguk dengan senyum mencemooh. "Kirain siapa. Ayo, Zar, kita ke lobby. Ada yang mau kita omongin."
Zahra melirik Fahri yang masih menunduk, tongkatnya dicengkeram erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Minta maaf, suara di kepalanya berteriak.?Koreksi omongan lo. Bilang dia pacar lo.
Tapi mulutnya tidak bergerak.
"Oke, bentar," Zahra akhirnya berkata, berdiri dari kursinya. "Fahri, gue... gue duluan ya. Nanti kita chat."
Fahri tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil tanpa mengangkat wajahnya.
Zahra berjalan pergi bersama ketiga gadis itu, meninggalkan Fahri sendirian di meja pojok.
Dari meja yang tidak jauh, Risky dan Andi menyaksikan semuanya.
"Lo liat itu?" Risky berbisik, suaranya penuh amarah yang tertahan.
"Gue liat," Andi menjawab dengan tenang, meski ada ketegangan di rahangnya.
"Dia nyebut Fahri 'temen.' TEMEN, Ndi! Mereka udah pacaran hampir sebulan, dan dia masih malu ngakuin Fahri di depan orang?"
"Gue tau."
"Gue mau samperin dia sekarang. Gue mau "
"Jangan." Andi menahan lengan Risky. "Lo bakal bikin situasi makin buruk."
"Terus kita biarin aja Fahri diginiin?!"
"Bukan biarin. Tapi kita harus bicara sama Fahri dulu, bukan sama Zahra. Ini masalah dia. Kita nggak bisa ambil keputusan buat dia."
Risky mengepalkan tangannya dengan frustrasi, tapi ia tahu Andi benar. Ini bukan pertama kalinya mereka melihat Fahri disakiti dan setiap kali, Fahri selalu memilih untuk diam.
Mereka beranjak dari meja mereka dan menghampiri Fahri yang masih duduk sendirian.
"Bro," Andi menyapa dengan lembut, duduk di sebelah sahabatnya. "Lo oke?"
Fahri mengangkat wajahnya. Ada senyum di sana senyum yang jelas dipaksakan.
"Oke. Kenapa?"
"Jangan pura-pura, Bro," Risky duduk di sisi lainnya, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Kita liat tadi."
Senyum Fahri memudar sedikit. "Oh, yang tadi? Nggak apa-apa kok. Zahra mungkin... mungkin cuma kaget aja ketemu temen-temennya."
"Kaget?" Risky tidak bisa menyembunyikan ketidakpercayaannya. "Fah, dia nyebut lo temen. Di depan orang-orang. Padahal kalian pacaran."
"Mungkin dia belum siap go public," Fahri membela, meski suaranya terdengar lemah. "Kan nggak semua orang mau langsung umbar-umbar hubungan."
"Ini beda, Fah," Andi berkata dengan tenang. "Ini bukan soal go public atau nggak. Ini soal dia malu ngakuin lo."
Kata-kata itu menusuk tepat di hati Fahri. Ia terdiam, tidak bisa membantah.
"Kita udah bilang dari awal kan?" Risky melanjutkan dengan nada yang lebih serius. "Ada yang nggak beres sama Zahra. Dari awal dia deketin lo, kita udah curiga. Dan sekarang "
"Cukup, Ri," Fahri memotong, suaranya sedikit meninggi. "Gue nggak mau denger lagi."
"Tapi, Fah"
"Gue bilang cukup!" Fahri berdiri, mengambil tongkatnya dengan gerakan yang sedikit kasar. "Kalian nggak tau Zahra kayak gue. Kalian nggak pernah ngobrol beneran sama dia. Kalian cuma liat dari luar dan langsung judge."
"Kita liat cukup, Fah," Andi berkata dengan tenang tapi tegas. "Kita liat cara dia perlakuin lo. Cara dia nggak pernah bales chat lo dengan antusias. Cara dia sering batalin janji. Dan sekarang, cara dia malu ngakuin lo di depan temen-temennya."
Fahri terdiam, napasnya berat.
"Itu semua fakta, Fah," Risky menambahkan dengan lebih lembut. "Kita nggak ngarang. Kita cuma khawatir sama lo."
"Gue tau kalian khawatir," Fahri akhirnya berkata, suaranya pelan dan lelah. "Tapi Zahra itu... dia beda kalau lagi sama gue doang. Dia lebih hangat. Lebih perhatian. Mungkin dia cuma butuh waktu."
"Waktu buat apa? Buat bisa bangga sama pacarnya sendiri?" Risky menggeleng frustrasi. "Lo itu pacarnya, Fah. Bukan aib yang harus disembunyiin."
"Gue tau," Fahri menunduk. "Gue tau, Ri."
"Terus kenapa lo masih belain dia?"
Fahri tidak menjawab. Ia berdiri di sana dengan kepala tertunduk, tongkatnya menjadi satu-satunya penopang tubuhnya yang terasa lemas.
Andi menghela napas dan berdiri, meletakkan tangannya di bahu Fahri. "Fah, kita nggak minta lo putusin Zahra. Kita cuma minta lo buka mata. Liat dengan jelas siapa yang ada di depan lo. Jangan sampai lo sakit hati lebih dalam lagi."
"Gue tau, Ndi," Fahri berbisik. "Makasih."
Risky dan Andi saling pandang dengan tatapan khawatir, tapi mereka tidak mengatakan apa-apa lagi. Kadang, hal yang paling sulit adalah melihat orang yang kita sayang berjalan menuju kehancuran dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikannya.
Sore itu, Fahri duduk di kamar kosnya, menatap layar ponsel dengan jari-jari yang gemetar.
Ia ingin marah. Ingin berteriak. Ingin memaki Zahra karena apa yang terjadi di kantin tadi.
Tapi yang lebih besar dari amarah adalah... kesedihan.
Temen.
Satu kata itu terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak yang tidak mau berhenti.
"Dia... temen. Temen yang bantu gue tugas IT."
Fahri tahu ia berbeda dari cowok lain. Ia tahu ia tidak ganteng. Tidak populer. Tidak sempurna. Tapi ia pikir, dengan Zahra, semua itu tidak penting. Ia pikir Zahra melihatnya sebagai manusia, bukan sebagai kekurangan yang harus disembunyikan.
Tapi ternyata tidak.
Ternyata, di mata Zahra, ia masih orang yang memalukan untuk diakui.
Air mata mengalir di pipi Fahri tanpa bisa ia tahan. Ia menangis dalam diam seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil. Tidak ada suara, tidak ada isakan keras. Hanya air mata yang mengalir dan hati yang hancur perlahan.
Setelah tangisnya mereda, Fahri mengambil ponselnya lagi. Jari-jarinya mengetik dengan perlahan, memilih setiap kata dengan hati-hati.
FAHRI:?Zahra, gue mau jujur sama lo.
Tadi di kantin, waktu temen-temen lo dateng, lo nyebut gue "temen." Gue dengerin itu. Dan gue nggak akan bohong itu sakit.
Gue tau gue bukan cowok sempurna. Gue tau jalan gue pincang. Gue tau bicara gue nggak jelas. Gue tau gue culun. Gue tau gue bukan tipe cowok yang bisa lo bangga-banggain di depan orang.
Tapi gue pikir, lo beda. Gue pikir, lo liat gue sebagai manusia, bukan sebagai kekurangan. Gue pikir, lo beneran nerima gue apa adanya.
Ternyata gue salah.
Gue nggak marah, Zar. Gue cuma... kecewa. Kecewa sama diri gue sendiri karena terlalu berharap. Kecewa karena mikir mungkin, untuk sekali dalam hidup gue, ada orang yang mau bangga jalan sama gue.
Gue tau ini berat buat lo. Pacaran sama cowok kayak gue pasti penuh tantangan. Orang-orang bakal ngeliat aneh. Bakal bisik-bisik. Bakal nanya kenapa cewek secantik lo mau sama cowok cacat kayak gue.
Tapi lo tau apa yang lebih berat?
Jadi gue. Jadi orang yang selalu jadi bahan ejekan. Jadi orang yang selalu dipandang sebelah mata. Jadi orang yang selalu harus membuktikan diri lebih keras dari orang lain cuma untuk dianggap sama.
Dan sekarang, jadi orang yang pacarnya sendiri malu ngakuin dia.
Gue nggak minta lo berubah, Zar. Gue nggak minta lo jadi orang yang bukan lo. Gue cuma mau lo tau gimana perasaan gue.
Gue sayang lo. Beneran sayang. Dari hari pertama lo nyapa gue di perpustakaan, gue udah tau gue bakal jatuh cinta sama lo. Dan gue nggak pernah nyesel nerima perasaan itu.
Tapi kadang, sayang aja nggak cukup.
Kadang, gue butuh tau bahwa perasaan gue nggak sia-sia. Bahwa semua usaha gue setiap pesan pagi, setiap jalan kaki yang bikin kaki gue sakit, setiap rangkuman materi yang gue bikin itu semua berharga buat lo.
Tapi kalau lo masih malu sama gue, mungkin... mungkin gue harus pikir ulang semuanya.
Maaf kalau pesan ini terlalu panjang. Gue cuma nggak bisa simpen ini sendirian.
Semoga lo baca sampai habis.
Fahri
Fahri menatap pesan itu lama sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Tangannya gemetar. Jantungnya berdebar kencang.
Ini pertama kalinya ia mengungkapkan perasaan terlukanya secara langsung pada seseorang. Biasanya, ia menyimpan semua itu dalam hati seperti yang selalu ia lakukan.
Tapi kali ini berbeda. Kali ini, ia tidak bisa diam.
Di apartemennya, Zahra baru saja selesai mandi ketika ponselnya bergetar dengan notifikasi pesan panjang dari Fahri.
Awalnya, ia mengira itu hanya pesan biasa mungkin cerita tentang coding atau foto sunset terbaru. Tapi ketika ia mulai membaca, langkahnya terhenti.
Ia duduk di tepi tempat tidur, matanya tidak bisa lepas dari layar ponsel.
Setiap kata yang Fahri tulis terasa seperti tamparan keras di wajahnya.
"Lo nyebut gue 'temen.' Gue dengerin itu. Dan gue nggak akan bohong itu sakit."
Zahra teringat kejadian di kantin tadi. Cara ia dengan mudahnya menyangkal hubungannya dengan Fahri. Cara ia memilih reputasinya di atas perasaan orang yang seharusnya paling ia lindungi.
"Tapi gue pikir, lo beda. Gue pikir, lo liat gue sebagai manusia, bukan sebagai kekurangan."
Kepercayaan itu. Harapan itu. Dan cara Zahra menghancurkannya dengan satu kata sederhana: "temen."
"Tapi lo tau apa yang lebih berat? Jadi gue."
Zahra tidak pernah memikirkan itu sebelumnya. Ia selalu sibuk memikirkan betapa beratnya hidupnya tekanan untuk selalu sempurna, ekspektasi orang tua, gengsi yang harus dijaga. Tapi ia tidak pernah memikirkan bagaimana rasanya jadi Fahri.
Bagaimana rasanya bangun setiap hari dengan tubuh yang tidak bekerja seperti seharusnya.
Bagaimana rasanya bicara tapi orang-orang sulit memahami.
Bagaimana rasanya berjalan dan tahu bahwa semua mata memandangmu dengan kasihan atau jijik.
Bagaimana rasanya jatuh cinta, memberikan seluruh hatimu, dan kemudian mendengar orang yang kau cintai menyebutmu "temen" karena malu.
"Dan sekarang, jadi orang yang pacarnya sendiri malu ngakuin dia."
Air mata mulai mengalir di pipi Zahra. Bukan air mata palsu yang sering ia gunakan untuk memanipulasi situasi. Ini air mata sungguhan air mata penyesalan yang dalam.
"Gue sayang lo. Beneran sayang."
Dan Zahra sadar setelah semua kebohongan yang ia lakukan, setelah semua kepalsuan yang ia tunjukkan, Fahri masih mencintainya. Masih mau jujur padanya. Masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
"Tapi kadang, sayang aja nggak cukup."
Kalimat itu menghancurkan Zahra lebih dari apapun.
Karena ia tahu itu benar. Sayang memang tidak cukup. Yang Fahri butuhkan bukan cinta yang disembunyikan seperti aib. Yang Fahri butuhkan adalah seseorang yang bangga bersamanya. Yang mau mengenggam tangannya di depan dunia dan berkata, "Ini pacar gue."
Dan Zahra... Zahra belum bisa jadi orang itu.
Atau lebih tepatnya, ia terlalu pengecut untuk jadi orang itu.
Zahra menangis malam itu. Lebih lama dan lebih keras dari sebelumnya.
Ia menangis karena menyakiti Fahri.
Ia menangis karena kebohongan yang semakin sulit dipertahankan.
Ia menangis karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan apa yang Fahri rasakan.
Empati, kata itu muncul di benaknya. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia miliki untuk orang lain.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Bunga.
BUNGA:?Zar, lo okay? Gue denger dari anak-anak tadi di kantin ada yang liat lo sama Fahri.
Zahra tidak membalas. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Cintia.
CINTIA:?Zar! Nadya bilang lo lagi makan sama Fahri tadi? Di kantin? Serius lo? ?? Untung lo bilang dia temen, kalau nggak bisa ancur reputasi lo!
Pesan dari Cintia yang seharusnya membuatnya merasa "terselamatkan" justru membuat perutnya mual.
Untung lo bilang dia temen.
Kalau nggak bisa ancur reputasi lo.
Reputasi. Gengsi. Image.
Semua hal yang selama ini Zahra anggap penting, sekarang terasa... kosong.
Apa gunanya reputasi kalau ia harus menyakiti orang baik seperti Fahri?
Apa gunanya gengsi kalau ia harus hidup dalam kebohongan?
Apa gunanya image sempurna kalau di baliknya ia adalah orang yang menyedihkan?
Zahra melempar ponselnya ke tempat tidur dan menutup wajahnya dengan bantal.
Gue harus gimana?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya tanpa jawaban.
Kalau ia jujur pada Fahri tentang dare itu, Fahri akan membencinya.
Kalau ia terus berbohong, ia akan menghancurkan Fahri perlahan-lahan.
Kalau ia mundur sekarang, ia akan membuktikan bahwa Cintia benar bahwa ia memang pengecut.
Tapi kalau ia terus maju tanpa perubahan, ia akan menjadi monster yang lebih buruk dari yang ia bayangkan.
Gue harus berubah, suara kecil di hatinya berbisik.?Gue harus jadi lebih baik. Bukan untuk menang dare. Tapi karena Fahri pantas mendapatkan yang lebih baik.
Tapi bagaimana caranya berubah ketika seluruh hidupmu dibangun di atas fondasi kesombongan dan kepalsuan?
Zahra tidak tahu jawabannya.
Yang ia tahu hanyalah untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ingin menjadi orang yang berbeda.
Orang yang bisa membuat Fahri bangga.
Orang yang pantas menerima cinta setulus itu.
Orang yang... lebih baik.
Tengah malam, Zahra akhirnya mengambil ponselnya dan mengetik balasan untuk Fahri.
ZAHRA:?Fahri, maafin gue.
Gue baca pesan lo sampai habis. Berkali-kali. Dan setiap kali baca, gue ngerasa makin nggak pantas jadi pacar lo.
Lo bener. Tadi di kantin, gue salah. Gue harusnya bangga ngakuin lo, bukan malah nyebut lo temen. Itu ketakutan gue, kelemahan gue, dan itu nggak ada hubungannya sama lo.
Lo nggak pernah salah, Fahri. Lo selalu baik sama gue. Selalu sabar. Selalu tulus. Dan gue? Gue cuma bikin lo sakit hati.
Gue nggak bisa janji gue bakal langsung berubah jadi orang yang sempurna. Tapi gue mau coba. Gue mau belajar jadi lebih baik. Buat lo.
Maafin gue, Fahri. Please.
Zahra menatap pesan itu lama sebelum menekan kirim. Ini pertama kalinya ia meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada seseorang bukan sekadar basa-basi atau formalitas.
Beberapa menit kemudian, balasan datang.
FAHRI:?Gue maafin lo, Zar. Dari tadi juga udah gue maafin.
Gue cuma butuh lo tau gimana perasaan gue. Dan sekarang lo tau.
Kita perbaiki sama-sama ya. Pelan-pelan.
Selamat malam. Gue sayang lo. ??
Zahra menatap tiga kata terakhir itu dengan mata berkaca-kaca.
Gue sayang lo.
Setelah semua yang ia lakukan, Fahri masih mencintainya. Masih mau memaafkannya. Masih mau memberi kesempatan.
Dan untuk pertama kalinya, Zahra bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah mungkin... gue juga mulai sayang sama dia?
Pertanyaan itu menakutkan.
Tapi juga... melegakan.