"Lo mau gue ngapain?!"
Suara Zahra meninggi hingga beberapa mahasiswa di koridor menoleh ke arah mereka. Fahri yang berdiri di hadapannya langsung menunduk, wajahnya memerah karena malu sekaligus gugup.
"M-maaf, gue nggak maksa kok," Fahri berkata pelan, jari-jarinya mencengkeram tongkatnya lebih erat. "Gue cuma... Ibu sama Kak Ita udah lama pengen ketemu lo. Tapi kalau lo nggak mau, nggak apa-apa."
Zahra menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Ini sudah minggu ketiga mereka pacaran, dan sekarang Fahri mengajaknya bertemu keluarga? Bukankah ini terlalu cepat?
"Fahri, kita baru pacaran beberapa minggu "
"Gue tau," Fahri memotong dengan lembut. "Tapi Ibu sama Kak Ita udah sering denger cerita tentang lo. Mereka excited banget. Ibu bahkan udah rencana mau masak spesial kalau lo dateng."
Masak spesial?
Zahra tidak terbiasa dengan konsep itu. Di rumahnya dulu, semua makanan disiapkan oleh pembantu atau dipesan dari restoran mahal. Ibunya tidak pernah memasak terlalu sibuk dengan arisan dan bisnis
"Gue... gue pikir-pikir dulu ya," Zahra menjawab, berusaha mengulur waktu.
"Oke!" Mata Fahri kembali berbinar dengan harapan. "Kapan pun lo siap, bilang aja. Gue bakal jemput lo."
Zahra hanya mengangguk lemah, dan Fahri pergi dengan langkah pincangnya yang riang seolah penolakan halus Zahra tadi tidak mempengaruhinya sama sekali.
Sore itu, Zahra duduk di apartemen Bunga dengan wajah kusut.
"Jadi dia ngajak lo ketemu keluarganya?" Bunga bertanya sambil menyodorkan segelas teh hangat.
"Iya. Ibu sama kakaknya." Zahra menerima gelas itu tapi tidak meminumnya. "Gue nggak mau, Bun."
"Kenapa?"
"Kenapa?" Zahra menatap Bunga dengan tidak percaya. "Karena ini udah kejauhan! Ketemu keluarga itu serius, Bun. Itu bukan sesuatu yang lo lakuin sama pacar bohongan."
"Tapi buat Fahri, lo bukan pacar bohongan."
Kata-kata Bunga membuat Zahra terdiam.
Bunga menghela napas dan duduk di sebelah sahabatnya. "Zar, gue tau situasi lo rumit. Gue tau lo terjebak dalam dare yang nggak lo mau. Tapi coba pikir dari sudut pandang lain."
"Sudut pandang apa?"
"Fahri udah cerita tentang lo ke keluarganya. Dia bangga sama hubungan kalian meski buat lo itu cuma akting. Ibu sama kakaknya excited pengen ketemu pacar Fahri. Lo tau itu artinya apa?"
Zahra menggeleng pelan.
"Artinya, ini mungkin pertama kalinya Fahri punya pacar yang dia bisa tunjukin ke keluarga. Pertama kalinya dia ngerasa... normal. Kayak cowok lain yang bisa bawa cewek ke rumah dan bangga."
Zahra merasakan sesuatu yang tajam menusuk dadanya. Ia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.
"Gue nggak minta lo jatuh cinta sama dia," Bunga melanjutkan dengan lembut. "Gue cuma minta lo untuk... kasih dia kesempatan. Dateng ke rumahnya. Ketemu keluarganya. Liat dunianya. Siapa tau lo bakal liat sesuatu yang berbeda."
"Liat apa?"
"Gue nggak tau. Tapi lo nggak akan pernah tau kalau lo nggak coba."
Zahra menatap tehnya yang mulai mendingin. Bayangan wajah Fahri yang penuh harap tadi muncul di benaknya.
"Fine," Zahra akhirnya berkata. "Gue bakal dateng."
Bunga tersenyum. "Good. Dan Zar?"
"Apa?"
"Buka mata lo lebar-lebar. Kadang, hal-hal terbaik dalam hidup dateng dari tempat yang paling nggak kita duga."
Sabtu pagi, Zahra berdiri di depan cermin dengan kebingungan yang luar biasa.
Biasanya, memilih outfit adalah hal yang mudah baginya. Tinggal ambil apapun yang branded dan mahal, dan ia pasti terlihat sempurna. Tapi hari ini berbeda.
Ia akan ke rumah Fahri. Rumah yang menurut cerita Fahri sederhana dan berada di kompleks perumahan biasa. Memakai dress Gucci dan tas Chanel ke tempat seperti itu terasa... salah.
Setelah hampir satu jam berganti baju, Zahra akhirnya memilih jeans dan blouse putih sederhana. Rambutnya ia ikat ekor kuda. Makeup-nya minimal. Tasnya diganti dengan sling bag kecil yang tidak terlalu mencolok.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tanpa semua atribut mahalnya, ia terlihat seperti... gadis biasa.
Aneh, pikirnya.?Tapi bukan aneh yang buruk.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Fahri.
FAHRI:?Gue udah di depan apartemen lo! Siap jemput my princess ??
Zahra menghela napas, mengambil tasnya, dan keluar dari apartemen.
Perjalanan ke rumah Fahri memakan waktu sekitar empat puluh menit. Mereka naik taksi online karena Zahra menolak membawa mobilnya terlalu mencolok, katanya.
Sepanjang perjalanan, Fahri tidak berhenti bercerita tentang keluarganya dengan antusias.
"Kak Ita itu cerewet banget, Zar. Suka usilin gue. Tapi dia sayang sama gue, cuma caranya aja yang nyebelin. Kalau dia mulai jail, lo cuek aja ya."
"Oke."
"Terus Ibu... Ibu itu orangnya lembut banget. Penyabar. Lo pasti suka sama dia. Oh iya, Ibu masak rendang hari ini! Katanya buat sambut lo. Rendang Ibu tuh enak banget, Zar. Serius."
"Oke."
"Lo nervous ya?" Fahri tiba-tiba bertanya, matanya menatap Zahra dengan perhatian.
Zahra terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan. "Sedikit."
"Jangan nervous. Mereka pasti suka sama lo. Gue jamin."
Justru itu yang gue takutin, Zahra membatin.?Mereka bakal suka sama versi palsu dari gue.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah di kompleks perumahan yang sederhana tapi rapi. Rumahnya tidak besar mungkin hanya seperempat dari ukuran rumah Zahra tapi terlihat terawat dengan baik. Pot-pot bunga menghiasi teras kecilnya, dan ada pohon mangga besar di halaman samping.
Zahra turun dari taksi dan menatap rumah itu dengan perasaan aneh.
Ini berbeda. Sangat berbeda dari dunia yang ia kenal.
"Ayo," Fahri menggenggam tangan Zahra dengan lembut, membimbingnya menuju pintu depan.
Sebelum mereka sempat mengetuk, pintu sudah terbuka dengan cepat.
"AKHIRNYA DATENG JUGA!"
Seorang wanita muda berusia pertengahan dua puluhan berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar yang nyaris identik dengan senyum Fahri. Rambutnya panjang dan diikat asal-asalan, ia memakai kaos oblong dan celana pendek jelas baru bangun tidur meski sudah hampir siang.
"Kak Ita, lo bisa nggak sih nggak lebay?" Fahri mengerang.
"Nggak bisa! Ini momen bersejarah! Adek gue yang culun akhirnya bawa cewek ke rumah!" Kak Ita menarik Zahra masuk dengan antusias yang berlebihan. "Ayo masuk, masuk! Ibu udah nungguin dari tadi!"
Zahra tidak sempat protes ketika tangannya ditarik oleh Kak Ita yang ternyata sangat kuat untuk ukuran badannya yang mungil.
"Jadi ini Zahra yang sering diceritain Fahri?" Kak Ita menatap Zahra dari atas ke bawah dengan pandangan menilai. "Hmm, cantik beneran. Kirain Fahri lebay."
"Kak Ita!" Fahri protes, wajahnya merah padam.
"Apaan? Gue muji pacar lo ini. Harusnya lo berterima kasih."
"Cara muji lo tuh yang salah!"
Zahra tidak bisa menahan senyum kecil melihat interaksi kedua kakak-adik itu. Ada kehangatan yang tidak bisa dipalsukan dalam cara mereka berdebat. kehangatan yang tidak pernah ia rasakan dengan siapa pun di keluarganya sendiri.
"Ita, jangan terus-terusan godain adekmu. Kasian Zahra baru dateng udah dibikin pusing."
Suara lembut itu datang dari arah dapur. Seorang wanita paruh baya muncul, mengenakan daster sederhana dan jilbab yang sudah sedikit lusuh. Wajahnya teduh dengan kerutan-kerutan halus di sudut matanya kerutan yang terbentuk dari terlalu banyak tersenyum.
"Ibu," Fahri langsung menghampiri ibunya, dan wanita itu menyambutnya dengan pelukan hangat.
Zahra menatap pemandangan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia memeluk ibunya sendiri. Atau kapan terakhir kali ibunya memeluknya.
"Kamu pasti Zahra," Ibu Muslimah menghampiri Zahra dengan senyum yang sangat mirip dengan senyum Fahri. "Akhirnya kita ketemu juga. Fahri sering banget cerita tentang kamu."
"I-iya, Tante. Salam kenal," Zahra menjawab dengan gugup. Entah kenapa, berhadapan dengan wanita sederhana ini membuatnya lebih nervous daripada berhadapan dengan klien-klien penting ayahnya.
"Panggil Ibu aja, Nak. Tante terlalu formal."
"Oh, eh... iya, Bu."
Ibu Muslimah tertawa kecil melihat kegugupan Zahra. "Kamu lucu. Fahri bener, kamu memang spesial."
Zahra tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa tersenyum canggung.
"Ayo duduk dulu. Makanan udah siap di meja makan. Ibu masak banyak hari ini."
Meja makan keluarga Fahri tidak besar hanya cukup untuk empat orang. Tapi makanan yang tersaji di atasnya membuat mata Zahra melebar.
Rendang daging. Ayam goreng. Sayur lodeh. Sambal terasi. Kerupuk. Semua tertata rapi di piring-piring yang tidak matching tapi bersih.
"Ibu masak dari subuh," Kak Ita berbisik pada Zahra saat mereka duduk. "Fahri bilang mau bawa pacar, Ibu langsung heboh sendiri."
"Kak Ita, udah dong," Fahri memperingatkan, tapi ada senyum malu di wajahnya.
"Apaan? Gue cuma cerita fakta."
"Fakta yang nggak perlu diceritain!"
"Ya ampun, sensitif banget sih lo."
"Udah, udah," Ibu Muslimah melerai dengan lembut. "Makan dulu. Nanti makannya dingin."
Mereka mulai makan dalam suasana yang hangat. Zahra mencicipi rendang buatan Ibu Muslimah dan langsung terpukau ini adalah rendang terenak yang pernah ia makan, lebih enak dari rendang restoran mahal mana pun.
"Enak nggak, Nak?" Ibu Muslimah bertanya dengan harap.
"Enak banget, Bu," Zahra menjawab dengan tulus untuk pertama kalinya sejak tadi, tidak ada kepalsuan dalam kata-katanya. "Ini rendang terenak yang pernah saya makan."
Wajah Ibu Muslimah berseri-seri. "Alhamdulillah kalau kamu suka. Nanti Ibu bungkusin buat kamu bawa pulang ya."
"Nggak usah repot-repot, Bu "
"Nggak repot, Nak. Ibu seneng masak buat orang yang Fahri sayang."
Orang yang Fahri sayang.
Kata-kata itu membuat Zahra terdiam. Ia melirik Fahri yang duduk di sebelahnya, dan pemuda itu tersenyum malu-malu.
Setelah makan, Kak Ita memaksa Zahra untuk melihat-lihat foto Fahri semasa kecil.
"Kak Ita, please jangan!" Fahri memohon dengan wajah panik.
"Nggak mau! Ini kesempatan langka!" Kak Ita sudah membawa album foto tebal dari kamarnya. "Zahra harus tau pacarnya tuh dulu kayak gimana."
Mereka duduk di sofa ruang tamu yang sederhana. Ibu Muslimah ikut bergabung, duduk di sebelah Zahra dengan segelas teh hangat.
"Nih, foto Fahri waktu SD," Kak Ita membuka halaman pertama. "Gendut banget kan? Pipinya kayak bakpao."
Zahra melihat foto bocah kecil dengan pipi chubby dan senyum lebar. Di tangannya ada tongkat kecil terlihat jelas bahwa kondisi Fahri sudah ada sejak kecil.
"Waktu itu Fahri sering di-bully," Ibu Muslimah berkata pelan, matanya menerawang ke masa lalu. "Anak-anak lain suka ngatain dia. Kadang tongkatnya diambil, kadang dia didorong sampai jatuh."
Zahra merasakan dadanya sesak mendengar itu.
"Tapi Fahri nggak pernah nangis di sekolah," Ibu Muslimah melanjutkan dengan senyum bangga. "Dia selalu pulang dengan senyum. Baru nangis kalau udah di kamar, sendirian, biar Ibu nggak khawatir."
"Ibu tau dari mana?" Zahra bertanya pelan.
"Ibu suka dengerin dari balik pintu." Mata Ibu Muslimah berkaca-kaca. "Ibu pengen masuk dan peluk dia, tapi Ibu tau Fahri nggak mau keliatan lemah. Jadi Ibu cuma bisa berdoa dari luar."
Zahra menatap Fahri yang duduk di seberang ruangan, wajahnya tertunduk malu mendengar cerita ibunya.
"Terus ini foto waktu Fahri SMP," Kak Ita membalik halaman, berusaha mencairkan suasana yang mulai berat. "Liat tuh, rambutnya klimis banget. Kayak pengusaha gagal."
"Kak Ita!" Fahri protes.
"Apaan? Emang bener kan!"
Tapi Ibu Muslimah tidak tertarik untuk mengikuti lelucon Kak Ita. Ia masih menatap foto-foto itu dengan pandangan menerawang.
"Waktu SMP, Fahri pernah nanya sama Ibu," Ibu Muslimah berkata, suaranya pelan seperti berbicara pada diri sendiri. "'Bu, kenapa Allah kasih Fahri kaki yang nggak bisa jalan bener? Fahri salah apa?'"
Zahra merasakan matanya memanas.
"Ibu nggak tau harus jawab apa waktu itu. Ibu cuma peluk dia dan bilang, 'Allah nggak pernah kasih cobaan yang nggak bisa kita tanggung. Kalau Allah kasih kamu kaki yang berbeda, berarti Allah tau kamu cukup kuat untuk menghadapinya.'"
"Terus Fahri jawab apa?" Zahra bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.
Ibu Muslimah tersenyum. "Dia bilang, 'Kalau gitu, Fahri harus jadi orang yang kuat, Bu. Biar Allah bangga sama Fahri.'"
Air mata mengalir di pipi Zahra tanpa ia sadari. Ia buru-buru menghapusnya, tapi Ibu Muslimah sudah melihat.
"Kamu baik, Nak," Ibu Muslimah menggenggam tangan Zahra dengan lembut. "Ibu bisa liat dari cara kamu nangis buat cerita Fahri."
Nggak, Bu, Zahra ingin berteriak.?Saya nggak baik. Saya jahat. Saya cuma manfaatin anak Ibu untuk taruhan bodoh.
Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang keluar hanya isakan kecil yang ia berusaha tahan.
"Eh, eh, kok jadi sedih gini sih?" Kak Ita berusaha mencairkan suasana. "Ayo kita liat foto Fahri yang lucu-lucu aja!"
Ia membalik ke halaman lain. "Nih, foto Fahri waktu lulus SMA. Liat ekspresinya kayak orang sembelit."
"KAK ITA!"
"Hahaha! Bercanda, bercanda! Tapi serius, lo tuh paling nggak fotogenik, Fah."
Suasana kembali ringan, dan Zahra berusaha mengendalikan emosinya. Tapi ada sesuatu yang berubah dalam dirinya sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Sore itu, Zahra dan Fahri duduk di teras belakang rumah. Matahari mulai turun, menciptakan langit oranye yang indah.
"Maaf ya kalau Kak Ita terlalu heboh," Fahri berkata dengan senyum malu. "Dia emang kayak gitu orangnya."
"Nggak apa-apa. Kak Ita lucu."
"Terus... maaf juga kalau cerita Ibu tadi bikin lo nggak nyaman. Ibu emang suka cerita masa lalu."
Zahra menggeleng. "Justru gue berterima kasih, Fahri. Cerita itu... cerita itu bikin gue ngerti lo lebih baik."
Fahri menatapnya dengan mata yang berbinar. "Beneran?"
"Iya."
Mereka terdiam sejenak, menikmati pemandangan sunset yang terlihat dari celah-celah pohon mangga.
"Lo tau, Zar," Fahri memulai, suaranya pelan. "Gue dulu nggak pernah nyangka bakal punya pacar. Gue pikir, siapa yang mau sama cowok kayak gue? Cowok yang jalannya pincang, ngomongnya nggak jelas, penampilannya culun."
Zahra tidak menjawab, tapi ia mendengarkan dengan seksama.
"Tapi terus lo dateng." Fahri tersenyum. "Lo nyapa gue di perpustakaan. Lo mau ngobrol sama gue. Lo mau dengerin gue cerita tentang coding dan fotografi hal-hal yang kebanyakan orang anggap membosankan. Dan sekarang, lo di sini. Di rumah gue. Ketemu keluarga gue."
Fahri meraih tangan Zahra, menggenggamnya dengan lembut.
"Makasih, Zahra. Makasih udah ngasih gue kesempatan. Makasih udah liat gue sebagai... sebagai manusia biasa. Bukan sebagai orang cacat yang perlu dikasihani."
Zahra merasakan dadanya sesak. Setiap kata yang Fahri ucapkan terasa seperti pisau yang menusuk hatinya.
Gue nggak liat lo sebagai manusia biasa, ia ingin berteriak.?Gue deketin lo karena taruhan. Gue nerima lo karena dare. Semua yang gue lakuin adalah kebohongan.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya: "Sama-sama, Fahri."
Dan kebohongan itu terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Sebelum pulang, Ibu Muslimah menyerahkan bungkusan besar berisi rendang dan beberapa lauk lainnya pada Zahra.
"Bawa pulang ya, Nak. Buat makan besok-besok."
"Makasih, Bu. Ini terlalu banyak"
"Nggak ada yang terlalu banyak untuk orang yang bikin anak Ibu bahagia." Ibu Muslimah memeluk Zahra dengan hangat pelukan ibu yang sudah lama tidak Zahra rasakan.
"Jaga Fahri ya, Nak," Ibu Muslimah berbisik di telinga Zahra. "Dia kelihatan kuat di luar, tapi hatinya rapuh. Dia butuh orang yang bisa sayang dia dengan tulus."
Tulus.
Kata itu terasa seperti tamparan keras di wajah Zahra.
"Iya, Bu," Zahra menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Saya... saya akan jaga dia."
Pelukan Ibu Muslimah mengerat sejenak sebelum melepaskannya. Ada senyum hangat di wajah wanita itu senyum yang penuh kepercayaan.
Kepercayaan yang tidak pantas Zahra terima.
Kak Ita mengantar mereka sampai ke depan gerbang.
"Jadi, Zahra," Kak Ita menatap Zahra dengan serius untuk pertama kalinya sejak tadi tanpa ada kesan bercanda. "Lo beneran sayang sama adek gue?"
Pertanyaan itu datang tiba-tiba, membuat Zahra tersentak.
"K-kenapa nanya gitu, Kak?"
"Jawab aja."
Zahra melirik Fahri yang sedang sibuk memakai sepatunya di teras, tidak mendengar percakapan mereka.
"Gue..." Zahra tidak tahu harus menjawab apa.
Kak Ita menghela napas. "Gue nggak tau lo beneran sayang atau nggak. Tapi gue mau lo tau satu hal."
"Apa?"
"Fahri itu udah terlalu sering disakitin sama dunia ini. Sejak kecil, dia selalu jadi bahan ejekan. Selalu jadi orang yang 'berbeda.' Selalu jadi yang terakhir dipilih. Tapi dia nggak pernah mengeluh. Dia selalu bangkit. Selalu kuat."
Kak Ita menatap Zahra lurus-lurus. "Tapi kalau lo sakitin dia, gue nggak yakin dia bisa bangkit lagi. Karena ini pertama kalinya dia beneran jatuh cinta."
Kata-kata itu menghantam Zahra dengan kekuatan yang tidak ia duga.
"Jadi please," Kak Ita melanjutkan, "kalau lo nggak serius sama dia, mending mundur sekarang. Sebelum dia makin dalam. Sebelum terlalu susah buat dia move on."
Zahra ingin menjawab. Ingin menjelaskan. Ingin mengaku segalanya.
Tapi Fahri sudah selesai memakai sepatunya dan berjalan menghampiri mereka.
"Kalian ngomongin apa?"
"Nggak ada," Kak Ita kembali ke mode cerianya. "Gue cuma kasih tau Zahra resep rahasia Ibu. Biar dia bisa masak rendang sendiri."
"Kak Ita bisa masak?" Fahri mengangkat alis dengan tidak percaya.
"Enak aja! Gue jago masak tau!"
"Jago masak mie instan doang."
"Woy! Nggak sopan sama kakak!"
Fahri tertawa, dan Kak Ita pura-pura ngambek. Zahra memaksakan senyumnya, tapi dalam hati, kata-kata Kak Ita terus terngiang.
"Kalau lo sakitin dia, gue nggak yakin dia bisa bangkit lagi."
Di perjalanan pulang, Zahra tidak banyak bicara. Ia menatap ke luar jendela taksi, pikirannya berkecamuk.
"Lo kenapa, Zar? Capek?" Fahri bertanya dengan khawatir.
"Sedikit."
"Maaf ya kalau hari ini terlalu overwhelming. Keluarga gue emang rame."
"Nggak, Fahri. Hari ini... hari ini bagus."
Dan anehnya, Zahra tidak sepenuhnya berbohong.
Hari ini memang bagus. Melihat rumah sederhana Fahri yang penuh kehangatan. Merasakan pelukan Ibu Muslimah yang tulus. Mendengar cerita perjuangan Fahri dari masa kecil. Melihat canda tawa Kak Ita yang konyol tapi penuh sayang.
Itu semua adalah hal-hal yang tidak pernah Zahra alami di rumahnya sendiri.
Di rumahnya yang mewah tapi kosong.
Di rumahnya yang penuh barang mahal tapi tidak ada kehangatan.
Di rumahnya yang besar tapi terasa sempit karena tidak ada cinta.
Ini yang namanya keluarga, Zahra menyadari.?Keluarga yang sesungguhnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat Fahri bukan sebagai "cowok cacat yang culun" atau "target dare yang harus ditaklukkan."
Ia melihat Fahri sebagai... Fahri.
Pemuda yang kuat meski tubuhnya tidak sempurna.
Pemuda yang tulus meski dunia sering tidak adil padanya.
Pemuda yang dicintai keluarganya dengan sepenuh hati.
Pemuda yang pantas mendapatkan... seseorang yang lebih baik dari Zahra.
Malam itu, setelah sampai di apartemennya, Zahra duduk di lantai kamarnya dengan album foto yang tadi Ibu Muslimah diam-diam selipkan di tas makanannya.
Ada note kecil di dalamnya:
"Untuk Zahra. Album ini berisi foto-foto Fahri dari kecil sampai sekarang. Ibu kasih ini bukan untuk memamerkan anak Ibu, tapi untuk menunjukkan betapa berharganya dia di mata keluarga kami. Tolong jaga dia ya, Nak. - Ibu Muslimah"
Zahra membuka album itu dengan tangan gemetar.
Foto demi foto, ia melihat perjalanan hidup Fahri.
Fahri bayi dengan kaki yang sudah terlihat berbeda.
Fahri balita belajar berjalan dengan tongkat kecil.
Fahri anak-anak tersenyum lebar meski ada perban di lututnya mungkin habis jatuh.
Fahri remaja menerima piagam penghargaan lomba coding.
Fahri mahasiswa berdiri dengan bangga di depan gedung kampus.
Dan di halaman terakhir, ada foto Fahri yang baru foto yang diambil beberapa hari lalu. Fahri tersenyum lebar ke kamera, dan di bawah foto itu ada tulisan:
"Foto terbaru Fahri. Dia bilang ini senyum paling bahagia yang pernah dia punya. Karena sekarang dia punya Zahra."
Album itu jatuh dari tangan Zahra.
Dan gadis yang katanya punya segalanya itu menangis menangis lebih keras dari yang pernah ia menangis sebelumnya.
Menangis karena ia menyadari betapa berharganya kepercayaan yang diberikan keluarga Fahri padanya.
Dan betapa tidak pantasnya ia menerima kepercayaan itu.