PACAR SETENGAH HATI
Bab 6 dari Novel Dare To Love
Tujuh hari yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan dan euforia pacaran baru. Tujuh hari yang seharusnya dipenuhi dengan senyum dan tawa. Tujuh hari yang seharusnya menjadi awal dari kisah cinta yang indah.
Tapi bagi Zahra, tujuh hari itu terasa seperti tujuh tahun.
Senin pagi, jam 6.30.
Ponsel Zahra bergetar di meja nakas. Dengan mata masih setengah terpejam, ia meraih ponsel itu dan melihat notifikasi pesan.
FAHRI:?Selamat pagi, Zahra! ?? Semoga hari ini menyenangkan ya. Inget sarapan dulu sebelum berangkat. Semangat kuliahnya! ??
Zahra menatap pesan itu dengan datar. Ini sudah hari ketujuh berturut-turut Fahri mengirim pesan selamat pagi. Setiap hari, tanpa absen. Setiap pagi, tanpa lelah.
Jari Zahra mengetik balasan dengan malas.
ZAHRA:?Pagi.
Satu kata. Tanpa emoji. Tanpa antusiasme.
Ia meletakkan ponselnya dan kembali membenamkan wajah di bantal. Seharusnya ia merasa tersanjung memiliki pacar yang seperhatian Fahri. Seharusnya ia membalas dengan sama antusiasnya. Seharusnya...
Tapi Zahra tidak bisa.
Setiap kali ia melihat pesan dari Fahri, yang ia rasakan bukan kupu-kupu di perut seperti yang sering diceritakan orang tentang pacaran baru. Yang ia rasakan adalah rasa bersalah yang semakin berat, seperti batu yang terus bertambah di dadanya.
Selasa siang, kantin kampus.
"Lo yakin nggak mau makan sama gue, Zar?" Fahri bertanya dengan mata penuh harap.
Zahra melirik ke sekeliling kantin. Beberapa mahasiswa sudah mulai berbisik-bisik melihat mereka berdua berdiri bersama. Tatapan-tatapan penasaran, heran, bahkan mencemooh tertuju pada mereka.
Itu Zahra kan? Sama siapa tuh?
Cowok yang jalan pakai tongkat itu? Serius?
Nggak mungkin lah mereka pacaran. Paling juga temen.
Bisik-bisik itu sampai ke telinga Zahra, dan wajahnya terasa panas. Bukan karena malu bersama Fahri oke, mungkin sedikit tapi lebih karena ia tidak siap menjadi bahan gunjingan seperti ini.
"Gue ada janji sama Bunga," Zahra berbohong dengan lancar. "Lain kali aja ya."
Senyum di wajah Fahri sedikit memudar, tapi ia cepat menggantinya dengan senyum pengertian yang sudah menjadi andalannya.
"Oh, oke. Nggak apa-apa. Enjoy makan siangnya ya."
Zahra mengangguk cepat dan berjalan pergi, meninggalkan Fahri yang menatap punggungnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Rabu sore, gedung fakultas Komunikasi.
Zahra baru saja keluar dari kelas terakhirnya ketika ia melihat sosok familiar berdiri di dekat pintu gedung. Fahri ada di sana, dengan tongkatnya, tersenyum lebar saat mata mereka bertemu.
"Hai!" Fahri menyapa dengan antusias. "Gue mau nganterin lo ke parkiran."
Zahra merasakan perutnya mulas. Gedung parkirannya cukup jauh dari sini setidaknya sepuluh menit jalan kaki untuk orang normal. Untuk Fahri dengan kondisinya? Mungkin dua kali lipat lebih lama.
"Fahri, lo nggak usah repot-repot. Parkiran jauh."
"Nggak apa-apa. Gue mau aja."
"Tapi "
"Please?" Mata Fahri menatapnya dengan tatapan memohon. "Gue jarang bisa ketemu lo akhir-akhir ini. Setidaknya biarinin gue jalan bareng lo bentar."
Ada sesuatu dalam nada suara Fahri yang membuat Zahra tidak bisa menolak. Rasa bersalah, mungkin. Atau kasihan. Entahlah.
"Oke," Zahra akhirnya menyerah. "Tapi jangan maksa diri lo."
Mereka berjalan bersama menuju parkiran. Langkah Fahri memang lebih lambat tongkatnya berdetak di lantai dengan ritme yang sudah Zahra hafal. Tapi pemuda itu tidak mengeluh. Tidak sekalipun.
Yang ada, ia justru terus bercerita dengan semangat tentang project coding yang sedang ia kerjakan, tentang ide aplikasi barunya, tentang kompetisi yang ingin ia ikuti. Suaranya yang sedikit tidak jelas kini terdengar familiar di telinga Zahra ia sudah mulai terbiasa menangkap setiap kata yang Fahri ucapkan.
"...dan kalau aplikasinya berhasil, gue mau dedikasiin buat penyandang disabilitas lain. Biar mereka juga bisa akses teknologi dengan lebih mudah."
Zahra melirik Fahri dari sudut matanya. Ada semangat yang tulus di wajah pemuda itu saat membicarakan mimpinya. Tidak ada kepalsuan. Tidak ada agenda tersembunyi. Hanya passion yang murni.
Dia beneran orang baik, pikir Zahra tanpa sadar.?Sayang banget dia harus ketemu sama cewek kayak gue.
"Lo dengerin nggak, Zar?" suara Fahri membuyarkan lamunannya.
"Oh, iya. Dengerin kok."
"Menurut lo gimana? Idenya bagus nggak?"
"Bagus," Zahra menjawab singkat. Ia ingin menambahkan sesuatu yang lebih substantif, tapi kata-kata tidak mau keluar.
Mereka akhirnya sampai di parkiran. Mobil Mercy Zahra terlihat mencolok di antara motor-motor mahasiswa lain.
"Makasih udah mau jalan bareng," Fahri berkata dengan napas sedikit terengah perjalanan tadi jelas menguras tenaganya. Tapi senyumnya tidak memudar.
"Iya, sama-sama."
Zahra masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan melirik ke kaca spion. Fahri masih berdiri di sana, melambaikan tangan dengan semangat. Zahra membalas dengan lambaian lemah sebelum menjalankan mobilnya.
Di perjalanan pulang, ia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana Fahri rela berjalan sejauh itu dengan kakinya yang pincang dan tongkatnya hanya untuk mengantarnya ke parkiran.
Dia pasti capek banget, Zahra berpikir.?Tapi dia nggak bilang apa-apa.
Rasa bersalah itu semakin berat.
Kamis malam, apartemen Zahra.
Zahra sedang mengerjakan tugas makalah ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Fahri lagi.
FAHRI:?Zar, lo lagi ngerjain tugas Komunikasi Digital kan? Gue tadi iseng bikin rangkuman materinya. Siapa tau bisa bantu. ??
Di bawah pesan itu, ada file PDF yang dilampirkan. Zahra membukanya dengan penasaran.
Dan matanya melebar.
Itu bukan rangkuman biasa. Itu adalah dokumen 15 halaman yang disusun dengan sangat rapi dengan diagram, poin-poin penting yang di-highlight, bahkan referensi tambahan dari berbagai sumber. Di bagian atas, ada tulisan: "Untuk Zahra ??"
Zahra menatap dokumen itu lama.
Fahri bukan anak Komunikasi. Ia anak Teknik Informatika. Materi ini bukan bidangnya. Tapi ia rela meluangkan waktu untuk mempelajarinya, merangkumnya, merapikannya hanya untuk membantu Zahra.
Berapa jam dia habiskan untuk bikin ini??Zahra bertanya-tanya.
ZAHRA:?Makasih.
Lagi-lagi, hanya satu kata.
FAHRI:?Sama-sama! Semoga membantu ya. Kalau ada yang bingung, tanya aja. Gue bantu jelasin ??
Zahra tidak membalas lagi. Ia meletakkan ponselnya dan membenamkan wajah di kedua tangannya.
Kenapa dia sebaik ini??Zahra bertanya pada dirinya sendiri.?Kenapa dia nggak bisa jadi orang yang menyebalkan biar gue bisa benci dia?
Jumat siang, meja pojok kantin.
Zahra duduk bersama Bunga dan Cintia seperti biasa. Tapi hari ini, atmosfernya berbeda.
"Jadi gimana hubungan lo sama Fahri?" Cintia bertanya dengan nada yang terlalu kasual untuk jadi kasual. "Udah seminggu nih."
Zahra mengaduk es kopinya dengan malas. "Biasa aja."
"Biasa aja?" Cintia mengangkat alis. "Lo pacaran sama cowok untuk pertama kalinya dalam... berapa bulan? Dan lo bilang biasa aja?"
"Emang biasa aja, Tia. Apa yang lo harapin?"
Cintia tersenyum senyum yang tidak sampai ke matanya. "Ya, gue pikir lo bakal lebih... antusias? Gimana pun juga, Fahri kan pacar lo sekarang."
"Dia pacar lo karena dare, Tia," Bunga menyahut dengan nada datar. "Jangan lupa itu."
"Ya gue tau. Tapi kan bisa aja Zahra mulai beneran suka sama dia. Siapa tau?"
Ada sesuatu dalam cara Cintia mengucapkan kalimat terakhir itu yang membuat Bunga mengernyit. Seperti ada harapan tersembunyi bahwa Zahra TIDAK akan suka pada Fahri.
Zahra menghela napas. "Gue nggak suka sama dia, Tia. Puas?"
"Oh?" Mata Cintia berbinar. "Beneran?"
"Beneran. Dia terlalu... terlalu baik. Terlalu sempurna dengan caranya sendiri. Gue nggak biasa sama cowok kayak gitu."
"Terlalu baik itu masalah?" Bunga bertanya dengan nada skeptis.
"Iya, Bun. Lo nggak ngerti." Zahra meneguk kopinya. "Setiap pagi dia kirimin gue pesan semangat. Setiap ketemu, dia selalu senyum kayak gue adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidupnya. Kemarin dia jalan dari gedung TI sampai parkiran cuma buat nganterin gue jaraknya hampir satu kilo, Bun! Dengan kakinya yang kayak gitu!"
"Dan itu masalah karena...?" Bunga masih tidak paham.
"Karena gue nggak pantas dapet semua itu!" Zahra akhirnya meledak. Suaranya meninggi, membuat beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh.
Hening sejenak.
Zahra menyadari ia sudah bicara terlalu keras. Ia menurunkan suaranya, matanya menatap ke meja.
"Gue nggak pantas, Bun. Gue deketin dia karena dare. Gue pacaran sama dia karena taruhan. Semua yang gue lakuin dari awal adalah kebohongan. Dan dia... dia perlakuin gue kayak ratu. Kayak gue adalah orang paling spesial di dunia. Padahal gue cuma..."
"Cuma apa?" Bunga bertanya lembut.
"Cuma orang jahat yang manfaatin ketulusannya."
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan menyakitkan.
Cintia berdeham, memecah keheningan yang canggung. "Zar, lo terlalu dramatis. Ini cuma permainan. Setelah deadline, lo bisa putusin dia dan semuanya selesai."
"Selesai?" Zahra menatap Cintia dengan tatapan yang aneh. "Lo pikir semudah itu? Lo pikir Fahri bakal baik-baik aja kalau tiba-tiba gue putusin tanpa alasan?"
"Ya, dia bakal sedih. Tapi kan dia cowok. Lama-lama juga move on."
"Tia!" Bunga tidak bisa menahan diri lagi. "Lo kok kayak nggak punya empati sama sekali sih?"
"Gue realistis, Bun. Beda sama kalian yang suka dramatisin semuanya."
Ada ketegangan yang tiba-tiba memenuhi meja mereka. Bunga menatap Cintia dengan pandangan yang berbeda pandangan menilai yang jarang ia tunjukkan.
"Gue mau ke toilet," Zahra berdiri tiba-tiba, tidak tahan dengan atmosfer yang semakin berat. "Kalian lanjutin aja."
Ia berjalan pergi, meninggalkan Bunga dan Cintia dalam keheningan yang tidak nyaman.
Setelah Zahra pergi, Bunga menatap Cintia lurus-lurus.
"Tia, gue mau nanya sesuatu."
"Apa?"
"Lo kenapa sih kayaknya seneng banget liat Zahra menderita dalam hubungan ini?"
Cintia tertawa tawa yang terdengar dipaksakan. "Menderita? Siapa yang bilang dia menderita? Gue cuma excited sama dare-nya."
"Lo terlalu excited, Tia. Sampe aneh."
"Aneh gimana?"
Bunga terdiam sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Gue nggak tau. Tapi gue punya feeling ada sesuatu yang lo sembunyiin. Sesuatu yang berhubungan sama Fahri."
Untuk sepersekian detik, ada kilatan panik di mata Cintia. Tapi secepat kilatan itu muncul, secepat itu pula menghilang digantikan dengan ekspresi bingung yang sempurna.
"Fahri? Gue bahkan nggak kenal dia, Bun. Lo mikir apa sih?"
"Gue nggak tau. Mungkin gue salah." Bunga mengangkat bahu, tapi matanya tidak melepaskan Cintia. "Tapi kalau ternyata gue bener... dan lo punya motif lain di balik dare ini... gue harap lo tau apa yang lo lakuin."
Cintia tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Lo terlalu banyak nonton drama Korea, Bun. Gue nggak punya motif apa-apa. Ini cuma permainan iseng."
Bunga tidak menjawab. Tapi dalam hatinya, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Dan ia bertekad untuk mencari tahu apa itu.
Sabtu sore, taman kampus.
Zahra dan Fahri duduk di bangku biasa mereka bangku di bawah pohon trembesi. Ini adalah kencan pertama mereka sejak jadian, setelah Zahra membatalkan tiga rencana sebelumnya dengan berbagai alasan.
"Makasih udah mau ketemu hari ini," Fahri berkata dengan tulus. "Gue tau lo sibuk banget sama tugas-tugas kuliah."
Gue nggak sibuk, Zahra ingin mengoreksi.?Gue cuma nggak mau ketemu lo.
Tapi tentu saja ia tidak mengatakannya.
"Iya, nggak masalah."
Mereka duduk dalam keheningan yang canggung. Fahri sesekali melirik Zahra dengan senyum malu-malu, sementara Zahra sibuk scrolling ponselnya tanpa benar-benar melihat layar.
"Zar," Fahri akhirnya bersuara. "Lo... lo beneran nggak apa-apa kan?"
"Maksud lo?"
"Gue ngerasa... kayak ada jarak antara kita. Kayak lo ada di sini tapi pikiran lo di tempat lain."
Zahra terdiam. Fahri lebih perceptive dari yang ia kira.
"Gue cuma capek, Fahri. Banyak tugas."
"Beneran cuma itu?"
"Iya."
Fahri menatapnya lama, seperti berusaha membaca sesuatu di balik ekspresi datarnya. Kemudian ia menghela napas pelan dan mengalihkan pandangannya.
"Kalau ada yang salah sama gue, bilang aja ya," Fahri berkata pelan. "Gue bisa berubah. Gue bisa jadi lebih baik. Apapun yang lo mau, gue bakal coba."
Kata-kata itu menusuk Zahra lebih dalam dari yang seharusnya.
Lo nggak salah apa-apa, ia ingin berteriak.?Gue yang salah. Gue yang jahat. Gue yang nggak pantas dapetin ketulusan lo.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya: "Lo nggak salah apa-apa, Fahri."
Fahri tersenyum senyum yang sedikit sedih tapi tetap penuh harap. "Makasih. Gue... gue cuma mau lo bahagia, Zar. Itu aja."
Bahagia.
Kapan terakhir kali Zahra merasa benar-benar bahagia?
Malam itu, Cintia duduk di kamarnya, menatap layar laptop yang menampilkan profil Instagram Fahri.
Jari-jarinya scroll ke bawah, melewati foto-foto hasil jepretan Fahri. Pemandangan. Sunset. Teman-teman. Dan yang paling baru foto Zahra.
Zahra di perpustakaan. Zahra di taman. Zahra tertawa. Zahra menatap langit.
Setiap foto, Cintia perhatikan dengan seksama. Setiap momen, ia pelajari dengan teliti.
Dia memotret Zahra dengan cara yang berbeda, Cintia menyadari.?Dengan... cinta.
Rasa iri yang sudah lama ia pendam mulai berkobar lagi.
Semester lalu, saat mata kuliah pilihan Pengantar Pemrograman, Cintia duduk di sebelah Fahri karena keterpaksaan tidak ada bangku lain yang kosong. Awalnya ia tidak memperhatikan pemuda itu. Cowok cacat yang jalan pakai tongkat dan bicara tidak jelas? Bukan tipenya sama sekali.
Tapi kemudian, Fahri membantunya.
Cintia tidak mengerti apa-apa tentang coding. Dosen memberikan tugas yang mustahil, dan ia hampir menangis karena frustrasi. Fahri, yang duduk di sebelahnya, menyadari kepanikannya dan menawarkan bantuan.
"Sini, gue ajarin pelan-pelan."
Kata-kata sederhana itu, diucapkan dengan suara yang tidak jelas tapi penuh ketulusan, membuat Cintia terpaku.
Fahri mengajarinya dengan sabar. Tidak pernah menghakimi ketidaktahuannya. Tidak pernah meremehkan pertanyaan-pertanyaan bodohnya. Ia hanya... membantu. Tanpa pamrih.
Dan tanpa Cintia sadari, ada sesuatu yang tumbuh di hatinya.
Tapi ia tidak pernah mengakuinya. Tidak pernah bertindak.
Karena bagaimana bisa? Cintia adalah bintang kampus. Teman dekat Zahra. Gadis yang selalu dikelilingi cowok-cowok ganteng dan kaya. Mana mungkin ia mengakui bahwa ia tertarik pada cowok cacat yang culun seperti Fahri?
Jadi ia memendam perasaan itu. Menyembunyikannya di balik topeng ketidakpedulian. Berharap suatu hari ia bisa melupakan Fahri dan melanjutkan hidupnya.
Tapi kemudian, malam truth or dare itu terjadi.
Ketika Zahra memilih dare, ide itu muncul begitu saja di kepala Cintia. Ide yang brilian sekaligus kejam.
Kalau Cintia tidak bisa memiliki Fahri, setidaknya ia bisa menghancurkan siapa pun yang mencoba mendekatinya.
Dan siapa target yang lebih sempurna selain Zahra?
Zahra yang sombong. Zahra yang egois. Zahra yang tidak mungkin bisa mencintai Fahri dengan tulus. Dengan memaksa Zahra mendekati Fahri, Cintia yakin hubungan mereka pasti akan berakhir dengan kehancuran.
Fahri akan patah hati.
Zahra akan mempermalukan dirinya sendiri.
Dan Cintia? Cintia akan ada di sana untuk "menghibur" Fahri setelah semuanya hancur.
Rencana sempurna, Cintia tersenyum sendiri.
Tapi sekarang, melihat foto-foto Zahra di galeri Fahri, ia mulai merasa... gelisah.
Bagaimana kalau Zahra benar-benar jatuh cinta pada Fahri?
Bagaimana kalau hubungan mereka berhasil?
Bagaimana kalau rencananya gagal?
Nggak, Cintia meyakinkan dirinya sendiri.?Nggak mungkin. Zahra terlalu sombong untuk beneran cinta sama Fahri. Ini cuma masalah waktu sampai semuanya runtuh.
Ia menutup laptopnya dan berbaring di tempat tidur.
Tunggu aja, Fahri, ia berbisik dalam hati.?Sebentar lagi, lo bakal sadar siapa yang beneran sayang sama lo.
Minggu pagi, kamar kos Fahri.
Fahri terbangun dengan senyum di wajahnya seperti biasa sekarang. Sejak jadian dengan Zahra, ia selalu bangun dengan perasaan bahagia yang meluap-luap.
Ia meraih ponselnya dan mengetik pesan selamat pagi untuk Zahra.
FAHRI:?Selamat pagi, Zahra! ?? Semoga hari Minggu lo menyenangkan. Jangan lupa istirahat ya. Lo udah kerja keras seminggu ini. Gue sayang lo ??
Ia menatap tiga kata terakhir itu lama sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
Gue sayang lo.
Pertama kalinya ia menuliskan kata-kata itu pada Zahra.
Jantungnya berdebar menunggu balasan. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit.
Akhirnya, balasan datang.
ZAHRA:?Pagi juga.
Dua kata. Tanpa emoji. Tanpa membalas "gue sayang lo."
Senyum di wajah Fahri sedikit memudar, tapi ia cepat menggantinya kembali.
Dia mungkin masih ngantuk, ia meyakinkan dirinya sendiri.?Atau mungkin malu. Iya, pasti malu.
Fahri meletakkan ponselnya dan bersiap untuk hari Minggu yang biasa. Tapi di sudut hatinya, ada keraguan kecil yang mulai muncul.
Keraguan yang ia pilih untuk abaikan.
Karena mengakui keraguan itu berarti mengakui bahwa mungkin hanya mungkin sahabat-sahabatnya benar.
Dan Fahri belum siap untuk menghadapi kemungkinan itu.
Di apartemennya, Zahra menatap pesan dari Fahri dengan perasaan yang campur aduk.
Gue sayang lo ??
Tiga kata yang seharusnya membuat jantungnya berdebar. Tiga kata yang seharusnya membuatnya bahagia. Tiga kata yang diimpikan setiap gadis dari pacarnya.
Tapi yang Zahra rasakan hanya... hampa.
Hampa dan bersalah.
Ia tidak membalas "aku juga sayang kamu" karena ia tidak bisa berbohong sebesar itu. Kebohongan-kebohongan kecil sudah cukup menyiksanya. Berbohong tentang perasaan sebesar cinta? Ia tidak sanggup.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Cintia.
CINTIA:?Zar! Lo harus liat ini!
Di bawahnya ada screenshot dari Instagram postingan terbaru Fahri. Foto sunset dengan caption yang membuat jantung Zahra berhenti sedetik.
"Ketika kamu menemukan seseorang yang membuat setiap hari terasa berarti. @zahra.almeera, terima kasih sudah ada. ??"
Fahri mem-posting tentang hubungan mereka. Secara publik. Dengan tag ke akun Zahra.
CINTIA:?Dia declare ke publik! ?? Sekarang semua orang tau kalian pacaran! This is gold!
Zahra merasakan perutnya mual.
Sekarang tidak ada jalan kembali.
Semua orang akan tahu.
Semua orang akan melihat.
Semua orang akan menghakimi.
Dan yang paling menyakitkan Fahri melakukan semua itu dengan kebahagiaan yang tulus, tidak menyadari bahwa ia sedang jatuh cinta pada kebohongan.
Zahra meletakkan ponselnya dan menutup wajahnya dengan bantal.
Di kegelapan yang ia ciptakan sendiri, gadis itu menangis.
Bukan karena sedih.
Tapi karena ia tidak tahu harus merasakan apa lagi.