Satu bulan.
Sudah satu bulan sejak Zahra pertama kali menyapa Fahri di perpustakaan. Satu bulan sejak dunia Fahri berubah warna. Satu bulan sejak ia mulai percaya bahwa mungkin hanya mungkin keajaiban itu nyata.
Dan hari ini, Fahri memutuskan untuk mengambil langkah yang paling berani dalam hidupnya.
Siang itu, kantin kampus ramai seperti biasa. Mahasiswa dari berbagai fakultas memenuhi setiap meja, suara obrolan dan tawa bercampur dengan dentingan sendok dan piring. Di meja pojok yang sudah menjadi teritori mereka, Fahri duduk berhadapan dengan Risky dan Andi.
Tapi hari ini, atmosfernya berbeda.
"Lo mau ngapain?!" Risky hampir menyemburkan minumannya.
Fahri menelan ludah, jari-jarinya mencengkeram gelas teh dinginnya dengan gugup. "Gue... gue mau nembak Zahra. Hari ini."
Hening sejenak. Risky dan Andi saling pandang dengan ekspresi yang sulit diartikan campuran antara kaget, khawatir, dan sesuatu yang mirip ketakutan.
"Fah, lo serius?" Andi akhirnya bersuara, nada bicaranya tenang tapi ada kekhawatiran yang jelas tersirat.
"Serius, Ndi. Gue udah mikirin ini matang-matang."
"Matang-matang apanya?!" Risky tidak bisa menahan diri lagi. Suaranya meninggi, membuat beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh. "Fah, lo kenal dia baru sebulan! SEBULAN! Dan lo udah mau nembak?"
"Ri, pelanin suara lo," Andi menegur.
Risky menurunkan volume bicaranya, tapi intensitasnya tidak berkurang. "Gue nggak ngerti sama lo, Fah. Serius. Dari awal gue udah bilang ada yang aneh sama cewek itu. Tiba-tiba deketin lo tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba mau ngobrol, tiba-tiba mau belajar coding, tiba-tiba tertarik sama hobi lo semua itu nggak masuk akal!"
"Mungkin dia emang tertarik sama gue, Ri," Fahri membela diri, suaranya pelan tapi ada keteguhan di dalamnya. "Kenapa lo selalu mikir yang negatif?"
"Karena gue realistis! Lo itu..." Risky menghentikan kalimatnya, seperti menyadari ia hampir mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
"Gue itu apa?" Fahri menatap sahabatnya langsung. "Cacat? Lo mau bilang gitu kan?"
Risky mengalihkan pandangannya, wajahnya menunjukkan penyesalan. "Bukan gitu, Fah..."
"Terus apa? Lo pikir gue nggak sadar sama kondisi gue sendiri?" Fahri meletakkan gelasnya dengan suara yang agak keras. "Gue tau, Ri. Gue tau gue pincang. Gue tau bicara gue nggak jelas. Gue tau gue bukan cowok yang sempurna. Tapi bukan berarti gue nggak boleh berharap kan?"
Andi meletakkan tangannya di bahu Fahri, gestur yang menenangkan. "Fah, kita nggak bilang lo nggak boleh berharap. Kita cuma... khawatir."
"Khawatir kenapa?"
"Khawatir lo sakit hati." Andi menatap Fahri dengan mata yang penuh ketulusan. "Lo sahabat kita, Fah. Kita udah bareng dari semester satu. Kita tau lo itu orangnya gimana baik, tulus, nggak pernah curiga sama orang. Dan justru karena itu, kita takut ada yang manfaatin kebaikan lo."
Fahri terdiam. Ia mengerti kekhawatiran sahabat-sahabatnya. Selama sebulan terakhir, Risky dan Andi memang tidak pernah berhenti memperingatkannya tentang Zahra. Mereka selalu curiga, selalu waspada.
"Kalian udah nemuin bukti?" Fahri akhirnya bertanya.
"Bukti apa?"
"Bukti kalau Zahra punya motif tersembunyi. Bukti kalau dia cuma main-main sama gue."
Risky dan Andi saling pandang lagi. Kali ini, ada kekalahan di mata mereka.
"Belum," Andi mengakui dengan jujur. "Kita belum nemuin bukti konkret."
"Nah, itu dia," Fahri berkata dengan nada yang lebih tenang sekarang. "Kalian curiga, tapi nggak ada bukti. Sementara gue, yang udah sebulan berinteraksi langsung sama dia, nggak ngerasain ada yang salah."
"Tapi, Fah"
"Gue tau Zahra itu gimana," Fahri memotong Risky dengan lembut. "Dia memang sombong. Memang agak dingin. Memang kadang kayak nggak peduli. Tapi di balik semua itu... ada sisi lain yang dia sembunyiin."
"Sisi lain apa?" Risky masih skeptis.
Fahri tersenyum kecil, matanya menerawang seperti sedang mengingat sesuatu. "Gur pernah nanya dia, 'Itu pasti capek ya?' Waktu dia cerita soal kehidupan dia yang selalu jadi pusat perhatian orang. Nggak ada yang pernah nanya kayak gitu ke dia sebelumnya."
"Mungkin dia cuma basa-basi," Risky berargumen.
"Bisa jadi. Tapi tatapan matanya waktu jawab itu... nggak kayak basa-basi, Ri. Kayak... kayak dia beneran penasaran. Beneran peduli."
Andi menghela napas panjang. Ia bisa melihat bahwa Fahri sudah terlalu dalam. Perasaannya sudah terlalu kuat untuk bisa dihalangi oleh logika atau peringatan.
"Fah, gue nggak akan bilang lo salah," Andi berkata dengan bijak. "Perasaan lo adalah perasaan lo. Nggak ada yang bisa ngatur hati. Tapi gue minta satu hal."
"Apa?"
"Hati-hati. Jaga hati lo. Kalau ternyata dia beneran tulus, alhamdulillah. Kita bakal dukung lo sepenuhnya. Tapi kalau ternyata..." Andi tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kalau ternyata dia cuma main-main, lo harus siap patah hati," Risky melanjutkan dengan nada yang lebih serius dari biasanya. "Dan kita bakal ada di sana buat lo. Kayak selalu."
Fahri menatap kedua sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca. Meski mereka berbeda pendapat, ia tahu bahwa Risky dan Andi melakukan semua ini karena sayang padanya.
"Makasih, Ri. Ndi," Fahri berkata dengan suara yang sedikit bergetar. "Gue tau kalian cuma mau yang terbaik buat gue. Dan gue janji... kalau ternyata gue salah, gue nggak akan nyalahin siapa-siapa selain diri gue sendiri."
Risky mengacak rambut Fahri dengan gemas. "Lo tuh ya, keras kepala banget. Mirip siapa sih?"
"Mirip lo, Ri," Andi menimpali dengan senyum kecil.
"Enak aja! Gue nggak keras kepala. Gue tegas!"
Suasana yang sempat tegang mencair sedikit. Fahri tertawa kecil, meski jantungnya masih berdebar kencang memikirkan apa yang akan ia lakukan sore nanti.
"Jadi, lo beneran mau nembak dia hari ini?" Risky bertanya sekali lagi.
"Iya."
"Di mana?"
"Taman kampus. Bangku di bawah pohon trembesi."
"Jam berapa?"
"Sore. Sekitar jam lima. Sebelum sunset."
Risky mengangguk-angguk, wajahnya serius seperti sedang merencanakan operasi militer. "Okay. Gue sama Andi bakal standby di sekitar situ. Kalau ada apa-apa, lo tinggal teriak."
"Ri, gue mau nembak cewek, bukan mau perang," Fahri tertawa.
"Same difference. Dua-duanya butuh keberanian dan bisa berakhir dengan luka parah."
Andi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Risky. Tapi dalam hati, ia bersyukur Risky bisa mencairkan suasana. Karena sejujurnya, ia juga sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi sore nanti.
Sore itu datang lebih cepat dari yang Fahri harapkan.
Atau mungkin, waktu memang selalu terasa cepat ketika kita tidak ingin sesuatu terjadi.
Fahri duduk di bangku taman, di bawah pohon trembesi yang daunnya bergoyang lembut ditiup angin sore. Di pangkuannya, ada sebuah album foto berukuran sedang dengan cover berwarna biru tua warna favorit Zahra, yang ia ketahui dari pengamatan diam-diamnya.
Album itu berisi dua puluh foto.
Dua puluh momen yang ia abadikan selama sebulan terakhir.
Zahra di perpustakaan, menatap ke luar jendela. Zahra di kantin, tertawa kecil karena sesuatu yang Fahri katakan. Zahra di taman, dengan rambut yang tertiup angin. Zahra di lab komputer, mengernyit bingung melihat layar laptop. Zahra di koridor, berjalan dengan langkah yang percaya diri.
Setiap foto, Fahri ambil dengan hati-hati. Setiap momen, ia simpan dengan penuh cinta.
Di halaman terakhir album, ada puisi yang ia tulis dengan tangan.


Untuk Zahra,
Aku tidak tahu bagaimana caranya
Menjelaskan apa yang aku rasakan
Kata-kata tidak pernah cukup
Untuk menggambarkan keindahanmu
Tapi aku mencoba
Dengan kamera di tangan
Menangkap setiap momen
Yang membuatku jatuh cinta
Kau mungkin tidak pernah melihatku
Sebagai sesuatu yang lebih
Tapi izinkan aku berharap
Bahkan secercah harapan saja
Karena kau, Zahra
Adalah alasan aku tersenyum setiap pagi
Dan mimpi indah setiap malam
Dengan segenap keberanian yang aku punya,
Fahri
Fahri menatap album itu dengan jantung yang berdebar kencang. Tangannya berkeringat. Napasnya tidak teratur.
Tenang, ia menyuruh dirinya sendiri.?Lo udah memutuskan ini. Jangan mundur sekarang.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Zahra.
ZAHRA:?Aku lagi di jalan ke situ. 5 menit.
Lima menit.
Fahri menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang seperti mau meledak.
Dari kejauhan, ia bisa melihat Risky dan Andi duduk di bangku lain, pura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing. Tapi Fahri tahu mereka mengawasi. Selalu mengawasi.
Sahabat-sahabat yang overprotektif, Fahri tersenyum kecil.
Kemudian, ia melihatnya.
Zahra berjalan menuju taman dengan langkah yang anggun seperti biasa. Rambutnya yang panjang bergoyang seiring langkahnya. Dress casual berwarna putih yang ia kenakan membuatnya terlihat seperti malaikat yang turun dari surga.
Setidaknya, begitulah yang Fahri lihat.
"Hai," Zahra menyapa saat sampai di depan bangku Fahri. "Lo ngapain nungguin di sini? Katanya mau ngobrol penting?"
Fahri berdiri dengan sedikit kesulitan seperti biasa dan menghadap Zahra. Tongkatnya ia sandarkan di bangku. Tangannya memegang album foto itu erat-erat.
"I-iya. Ada yang mau gue omongin."
Zahra mengernyit sedikit melihat kegugupan Fahri yang lebih parah dari biasanya. "Kenapa lo keliatan nervous banget? Ada apa sih?"
"Gue..." Fahri menelan ludah. Kata-kata yang sudah ia susun dalam kepala semalaman tiba-tiba menguap begitu saja. "Gue... mau... ngasih ini dulu."
Dengan tangan gemetar, ia menyodorkan album foto itu pada Zahra.
Zahra menerima album itu dengan bingung. "Apa ini?"
"B-buka aja."
Zahra membuka halaman pertama.
Dan jantungnya berhenti sedetik.
Itu foto dirinya. Foto yang sama yang pernah ditunjukkan Fahri waktu itu foto dirinya di perpustakaan, menatap ke luar jendela. Tapi kali ini, foto itu dicetak dengan kualitas tinggi, diletakkan dengan rapi di dalam album yang jelas dibuat dengan penuh usaha.
Zahra membalik halaman berikutnya. Lagi-lagi foto dirinya. Dan berikutnya. Dan berikutnya.
Setiap halaman, ada foto baru. Setiap foto, menangkap momen yang berbeda. Ada yang Zahra ingat, ada yang tidak ia sadari pernah terjadi.
Dan setiap foto... indah. Entah bagaimana, Fahri berhasil menangkap sisi-sisi dirinya yang bahkan ia sendiri tidak tahu ia punya.
Di halaman terakhir, Zahra menemukan puisi itu.
Ia membacanya dalam diam, jantungnya semakin berdebar dengan setiap kata yang ia serap.
"Karena kau, Zahra. Adalah alasan aku tersenyum setiap pagi. Dan mimpi indah setiap malam."
Zahra mengangkat wajahnya dan menatap Fahri yang berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam dan tubuh yang gemetar.
"Fahri..." suaranya tercekat.
"Z-Zahra," Fahri memulai, suaranya lebih tidak jelas dari biasanya karena nervous. Ia harus berkonsentrasi ekstra keras untuk mengucapkan setiap kata dengan benar. "Gue tau... gue tau gue bukan cowok sempurna. Gue pincang. Bicara gue nggak jelas. Gue culun. Gue bukan orang kaya. Gue... gue nggak punya apa-apa yang bisa gue banggain."
Zahra terdiam, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Tapi... tapi sebulan ini... sebulan ini adalah waktu paling bahagia dalam hidup gue." Fahri melanjutkan, matanya berkaca-kaca tapi ia memaksa dirinya untuk terus menatap Zahra. "Setiap kali ngobrol sama lo, setiap kali ketemu lo, setiap kali lo senyum ke gue... gue ngerasa kayak... kayak hidup gue punya makna."
"Fahri, lo nggak harus "
"Biarinin gue selesaiin dulu," Fahri memotong dengan lembut tapi tegas. "Gue udah ngumpulin keberanian ini selama berminggu-minggu. Kalau gue berhenti sekarang, gue nggak tau kapan gue bakal berani lagi."
Zahra menutup mulutnya, membiarkan Fahri melanjutkan.
"Gue suka sama lo, Zahra." Kata-kata itu akhirnya keluar, dengan suara yang bergetar tapi penuh keyakinan. "Bukan suka yang biasa. Gue... gue cinta sama lo. Gue tau ini gila. Gue tau gue nggak selevel sama lo. Gue tau lo bisa dapat cowok yang jauh lebih baik dari gue. Tapi gue... gue nggak bisa bohong sama hati gue sendiri."
Air mata mulai mengalir di pipi Fahri, tapi ia tidak berusaha menghapusnya.
"Lo nggak harus jawab sekarang. Lo nggak harus nerima gue. Gue cuma... gue cuma mau lo tau apa yang gue rasain. Karena menyimpan ini sendirian... terlalu berat."
Fahri berhenti, napasnya terengah-engah seperti baru saja berlari marathon. Wajahnya basah oleh air mata dan keringat. Tubuhnya gemetar. Tapi matanya... matanya memancarkan ketulusan yang tidak bisa dipalsukan.
Zahra menatap pemuda di hadapannya dengan perasaan yang berkecamuk.
Di satu sisi, ada rasa bersalah yang luar biasa besar. Fahri baru saja membuka hatinya dengan sepenuhnya, mengorbankan seluruh harga dirinya, mempertaruhkan segalanya untuk gadis yang mendekatinya karena taruhan.
Di sisi lain, ada perasaan yang Zahra tidak bisa atau tidak mau identifikasi. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang berbeda dari apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Tapi kemudian, ia teringat dare-nya.
Teringat Cintia yang terus mendesaknya.
Teringat video memalukan yang akan ia buat kalau gagal.
Teringat gengsinya yang tidak boleh jatuh.
Terima dia, suara di kepalanya berkata.?Ini kesempatan emas. Dare lo selesai.
Tapi ada suara lain yang lebih kecil, lebih lemah, yang berbisik:?Jangan. Jangan sakiti dia lebih jauh.
Zahra mengabaikan suara kedua itu.
"Fahri..." Zahra memaksakan senyumnya yang paling manis. "Itu... itu pengakuan paling indah yang pernah gue denger."
Mata Fahri melebar dengan harapan. "B-beneran?"
"Iya." Zahra menelan rasa bersalah yang terasa seperti batu besar di tenggorokannya. "Dan gue... gue juga suka sama lo."
"S-serius?!" Fahri tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Lo... lo nerima gue?"
"Iya, Fahri. Gue mau jadi pacar lo."
Kata-kata itu keluar dengan mulus, seperti dialog yang sudah dilatih berkali-kali. Karena memang itulah kenyataannya Zahra sudah mempersiapkan diri untuk momen ini. Momen ketika ia harus berbohong dengan sempurna.
Tapi ia tidak siap dengan apa yang terjadi selanjutnya.
Fahri jatuh terduduk di bangku, tubuhnya lemas seperti kehilangan seluruh tenaga. Air matanya mengalir lebih deras, tapi kali ini disertai senyum lebar yang tidak bisa ia kendalikan.
"Makasih," Fahri berbisik, suaranya pecah oleh tangis bahagia. "Makasih, Zahra. Makasih udah ngasih gue kesempatan."
Melihat kebahagiaan yang begitu murni di wajah Fahri, Zahra merasakan sesuatu di dadanya. Sesuatu yang tajam. Menyakitkan.
Ini salah, suara kecil itu berbisik lagi.?Kamu berbohong pada orang yang tulus mencintaimu.
Tapi Zahra memaksakan dirinya untuk tersenyum. Memaksakan dirinya untuk duduk di sebelah Fahri dan menggenggam tangannya.
"Sama-sama, Fahri."
Dua kata itu terasa seperti racun di lidahnya.
Dari kejauhan, Risky dan Andi menyaksikan semuanya dengan perasaan campur aduk.
"Dia... diterima?" Risky berbisik, tidak percaya.
"Kayaknya," Andi menjawab, matanya tidak lepas dari sosok Fahri dan Zahra yang duduk bersama di bangku.
"Gue... gue nggak tau harus seneng atau khawatir."
"Sama." Andi menghela napas panjang. "Tapi kita harus support Fahri. Apapun yang terjadi."
"Lo masih curiga sama Zahra?"
Andi terdiam sejenak sebelum menjawab. "Gue harap gue salah, Ri. Gue beneran harap gue cuma paranoid. Tapi... ada sesuatu di mata Zahra tadi. Waktu dia bilang iya."
"Sesuatu apa?"
"Gue nggak tau. Tapi nggak kayak orang yang beneran bahagia. Lebih kayak... orang yang lagi akting."
Risky menelan ludah. "Semoga lo salah, Ndi."
"Semoga."
Tapi jauh di dalam hatinya, Andi tidak bisa menghilangkan firasat buruk yang terus menghantuinya.
Malam itu, Zahra berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk.
Di tangannya, ada album foto pemberian Fahri. Ia sudah melihat setiap halaman berkali-kali. Membaca puisi di halaman terakhir berulang-ulang.
"Karena kau, Zahra. Adalah alasan aku tersenyum setiap pagi. Dan mimpi indah setiap malam."
Kenapa kata-kata itu terus terngiang di kepalanya?
Kenapa ia tidak bisa berhenti memikirkan ekspresi Fahri saat menyatakan perasaannya?
Kenapa air mata bahagia Fahri justru membuat dadanya terasa sesak?
Ponselnya bergetar. Grup chat dengan Bunga dan Cintia.
CINTIA:?ZAHRA! GUE DENGER LO UDAH JADIAN SAMA FAHRI?! CONGRATS QUEEN!!! ??????
BUNGA:?Beneran, Zar?
Zahra mengetik balasan dengan jari yang terasa berat.
ZAHRA:?Iya. Tadi sore dia nembak.
CINTIA:?OMG OMG OMG! CERITAIN DONG! GIMANA CARANYA? DIA GEMETERAN NGGAK? ??????
ZAHRA:?Iya. Dia nervous banget. Sampe nangis.
CINTIA:?HAHAHAHA KASIAAAN! ?? Tapi lo terima kan? Dare lo kan belum selesai kalau lo nolak.
ZAHRA:?Iya. Gue terima.
CINTIA:?PERFECT! Sekarang tinggal maintain hubungannya sampai deadline. Easy!
Zahra tidak membalas lagi. Ia meletakkan ponselnya dan memejamkan mata.
Easy, kata Cintia.
Tapi kenapa tidak ada yang terasa easy tentang semua ini?
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini pesan pribadi dari Bunga.
BUNGA:?Zar, lo okay?
ZAHRA:?Fine.
BUNGA:?Bohong. Gue kenal lo. Cerita.
Zahra menatap layar ponselnya lama sebelum akhirnya mengetik.
ZAHRA:?Gue ngerasa kayak sampah, Bun.
BUNGA:?Karena nerima Fahri dengan alasan yang salah?
ZAHRA:?Iya.
BUNGA:?Lo masih bisa jujur sama dia, Zar. Masih belum terlambat.
ZAHRA:?Terus dare gue gimana? Video itu gimana?
BUNGA:?Mana yang lebih penting? Gengsi lo atau hati orang?
Pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang terus menghantui Zahra tapi tidak pernah bisa ia jawab.
ZAHRA:?Gue nggak tau, Bun. Gue beneran nggak tau.
BUNGA:?Yaudah. Gue nggak bisa maksa lo. Tapi inget, Zar kebohongan itu kayak bola salju. Makin lama, makin besar. Dan suatu saat, bakal hancurin semuanya.
Zahra meletakkan ponselnya dan menutup wajahnya dengan bantal.
Di kegelapan kamarnya yang mewah, gadis yang katanya punya segalanya itu menangis dalam diam.
Menangis karena kebohongan yang ia ciptakan.
Menangis karena ketulusan yang ia khianati.
Menangis karena kekosongan yang tidak bisa ia isi dengan apapun.
Di kamar kosnya yang sederhana, Fahri tidak bisa tidur karena alasan yang berbeda.
Senyumnya tidak hilang-hilang sejak sore tadi. Berkali-kali ia mencubit dirinya sendiri untuk memastikan ini bukan mimpi.
Zahra Almeera Pratama.
Gadis paling cantik dan populer di kampus.
Sekarang adalah pacarnya.
PACARNYA.
Fahri tertawa sendiri, suaranya memenuhi kamar kecilnya yang sunyi. Ia memeluk bantal dengan erat, membayangkan itu adalah Zahra.
Gue punya pacar, ia membatin dengan bahagia yang meluap-luap.?Gue Fahri Ramadhan, cowok cacat dan culun punya pacar secantik Zahra.
Ia mengambil ponselnya dan membuka chat dengan Zahra. Jari-jarinya mengetik pesan dengan semangat.
FAHRI:?Zahra, makasih ya buat hari ini. Gue masih ngerasa kayak mimpi. Semoga lo mimpi indah malem ini. Selamat malam, pacar gue ??
Beberapa menit kemudian, balasan datang.
ZAHRA:?Selamat malam juga, Fahri.
Hanya empat kata. Singkat. Tanpa emoji. Tapi bagi Fahri, itu sudah lebih dari cukup.
Ia menekan ponsel itu ke dadanya, tersenyum seperti orang gila yang paling bahagia di dunia.
Di dinding kamarnya, foto-foto Zahra yang ia cetak menatap balik padanya. Tapi malam ini, foto-foto itu terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih berarti.
Karena gadis di foto-foto itu sekarang adalah pacarnya.
Fahri memejamkan matanya, masih tersenyum.
Terima kasih, Tuhan, ia berdoa dalam hati.?Terima kasih udah ngasih gue kebahagiaan ini. Gue janji bakal jadi cowok yang baik buat Zahra. Gue bakal sayang dia. Gue bakal jaga dia. Selamanya.
Malam itu, Fahri bermimpi tentang masa depan yang indah.
Masa depan di mana ia dan Zahra bahagia bersama.
Masa depan yang tidak ia tahu... mungkin tidak pernah ada.
Dan di apartemennya yang mewah, Cintia menatap layar ponselnya dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
ZAHRA:?Iya. Gue terima.
Dua kata itu membuatnya tertawa.
"Bodoh," Cintia berbisik pada dirinya sendiri. "Dua-duanya bodoh."
Ia meletakkan ponselnya dan berjalan ke jendela, menatap gemerlap kota di bawah.
Rencananya berjalan dengan sempurna.
Zahra sedang menghancurkan dirinya sendiri, satu kebohongan demi satu kebohongan.
Dan Fahri... Fahri yang polos dan tulus itu, sedang berjalan menuju kehancuran tanpa ia sadari.
Cintia tersenyum.
Bukan senyum bahagia. Bukan senyum tulus.
Tapi senyum puas.
Senyum seseorang yang menyaksikan rencana jahatnya berjalan dengan lancar.
"Sebentar lagi," ia berbisik pada malam. "Sebentar lagi, semua akan jadi milikku."