Dua minggu berlalu sejak pertemuan pertama itu, dan Zahra Almeera Pratama mendapati hidupnya berubah drastic tentu saja ke arah yang tidak ia inginkan.
Sekarang, alih-alih menghabiskan waktu istirahat di spot favoritnya yang strategis, ia harus rela duduk di meja pojok kantin yang pengap. Alih-alih bergosip dengan teman-teman satu geng-nya, ia harus mendengarkan penjelasan tentang coding yang tidak ia pahami. Alih-alih menikmati makan siang dengan tenang, ia harus berpura-pura tertarik dengan topik-topik membosankan seperti algoritma dan debugging.
Semua karena dare sialan itu.
"...jadi intinya, HTML itu buat struktur, CSS buat tampilan, dan JavaScript buat interaksinya. Kayak rumah gitu HTML itu fondasinya, CSS itu cat sama dekorasinya, JavaScript itu listrik sama plumbingnya."
Zahra mengangguk dengan tampang seolah ia benar-benar mendengarkan, padahal pikirannya sudah melayang entah ke mana. Di hadapannya, Fahri menjelaskan dengan antusias, jari-jarinya sesekali bergerak di udara seperti sedang mengetik keyboard imajiner.
"Lo ngerti nggak?" Fahri bertanya, matanya berbinar penuh harap di balik kacamatanya.
"Oh, iya, ngerti," Zahra berbohong dengan mulus. "Jadi HTML itu kayak... struktur gitu ya?"
Fahri tersenyum lebar senyum polos yang sekarang sudah familiar bagi Zahra. "Iya! Bener! Lo cepet banget nangkepnya."
Cepet nangkep apanya, Zahra membatin dengan sinis.?Gue bahkan nggak tau lo tadi ngomong apa.
"Eh, besok lo ada waktu nggak?" Fahri bertanya, suaranya yang sedikit tidak jelas kini terdengar lebih percaya diri dibanding pertemuan pertama mereka. "Gue mau ngajarin lo cara bikin website sederhana. Biar lo bisa langsung praktek."
Zahra menahan erangan yang hampir keluar dari mulutnya. Dalam hati ia sudah menyusun seribu alasan untuk menolak. Tapi kemudian ia teringat dare-nya. Teringat taruhan dengan Cintia. Teringat video memalukan yang harus ia buat kalau gagal.
"Boleh," Zahra menjawab, senyum manisnya terpasang sempurna. "Jam berapa?"
"Gimana kalau jam 3 sore? Di lab komputer?"
"Oke. Gue dateng."
Wajah Fahri berseri-seri seperti anak kecil yang baru diberi permen. "Sip! Gue siapin materinya ya!"
Oh God, save me.
Sore itu, Zahra melemparkan tubuhnya ke sofa apartemen Bunga dengan dramatis. Suara erangannya yang panjang memenuhi ruangan.
"Lebay lo, Zar," Bunga berkomentar dari dapur, tangannya sibuk membuat dua cangkir kopi. "Kayak abis kerja rodi aja."
"Lo nggak ngerti, Bun," Zahra membenamkan wajahnya ke bantal sofa. "Dua minggu ini tuh kayak neraka. Tiap hari harus ketemu dia. Tiap hari harus dengerin dia ngomong soal coding. Tiap hari harus pura-pura tertarik. Gue capek!"
Bunga datang membawa dua cangkir kopi, meletakkan satu di meja dekat Zahra. "Terus kenapa nggak berhenti aja?"
Zahra mengangkat wajahnya, menatap Bunga dengan tatapan tidak percaya. "Berhenti? Lo gila? Terus dare gue gimana?"
"Ya tinggal bilang ke Cintia kalau lo nyerah. Bayar konsekuensinya. Selesai."
"Konsekuensinya bikin video memalukan dan upload ke Instagram, Bun! Mau ditaruh di mana muka gue?!"
Bunga menghela napas panjang, duduk di sebelah Zahra. "Zar, gue serius. Ini udah kebablasan. Fahri itu... dia orang baik. Lo liat sendiri kan selama dua minggu ini?"
Zahra terdiam. Ia tidak bisa menyangkal observasi Bunga. Selama dua minggu berinteraksi dengan Fahri, ia memang menemukan bahwa pemuda itu tidak seburuk ekspektasinya.
Fahri itu sabar sangat sabar. Ketika Zahra pura-pura tidak mengerti sesuatu yang sudah dijelaskan berkali-kali, ia tidak pernah menunjukkan frustrasi. Ia akan menjelaskan ulang dengan cara berbeda, dengan analogi yang lebih sederhana, sampai Zahra (pura-pura) paham.
Fahri itu perhatian. Ketika Zahra bilang haus, Fahri langsung berlari well, berjalan secepat yang ia bisa dengan tongkatnya ke kantin untuk membelikan minuman. Ketika Zahra bilang lapar, Fahri menawarkan bekal makan siangnya meski itu berarti ia sendiri tidak makan.
Fahri itu tulus. Tidak ada agenda tersembunyi dalam kebaikannya. Tidak ada pamrih. Ia membantu Zahra karena memang ingin membantu, bukan karena mengharapkan sesuatu sebagai imbalan.
Dan itu justru membuat semuanya lebih sulit bagi Zahra.
"Gue tau dia orang baik," Zahra akhirnya menjawab pelan. "Tapi itu nggak ngubah apa-apa. Gue harus menang dare ini, Bun."
"Lebih penting mana? Menang dare atau nggak nyakitin orang?"
Pertanyaan itu menohok Zahra lebih dalam dari yang ia mau akui. Tapi ia memilih mengabaikannya.
"Lo terlalu serius mikirnya, Bun. Ini cuma permainan."
"Buat lo mungkin cuma permainan. Tapi buat Fahri?" Bunga menatap Zahra lekat-lekat. "Gue liat cara dia ngeliat lo, Zar. Dia udah mulai suka sama lo. Beneran suka. Kalau lo terus kayak gini, yang sakit hati bukan cuma dia. Lo juga bakal nyesel."
Zahra tidak menjawab. Ia menyibukkan diri dengan menyesap kopinya yang sebenarnya masih terlalu panas.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Cintia.
CINTIA:?Gimana progressnya, Queen? Udah sejauh mana?
Zahra mengetik balasan dengan satu tangan.
ZAHRA:?Lumayan. Dia udah mulai nyaman sama gue.
CINTIA:?Nice! Tinggal tunggu dia nembak lo dong ??
ZAHRA:?Masih lama kayaknya. Dia pemalu banget.
CINTIA:?Lo harus lebih agresif, Zar. Kasih sinyal-sinyal gitu. Sentuh tangannya kek, tatap matanya lebih lama kek. Bikin dia makin jatuh.
Zahra menatap pesan itu dengan perasaan yang aneh. Saran Cintia masuk akal dari segi strategi, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
ZAHRA:?Iya nanti gue coba.
CINTIA:?Good! Oh iya, deadline masih sebulan setengah lagi. Jangan sampai gagal ya! Gue udah nggak sabar liat hasilnya ??
Zahra meletakkan ponselnya tanpa membalas.
"Cintia?" Bunga menebak.
"Iya."
"Dia nyuruh lo terus?"
"Dia cuma ngingetin deadline."
Bunga menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue nggak ngerti sama Cintia. Kenapa sih dia kayaknya seneng banget liat lo ngelakuin ini?"
"Dia cuma excited sama permainannya, Bun. Lo terlalu paranoid."
"Gue bukan paranoid. Gue cuma..." Bunga menghentikan kalimatnya, seperti mempertimbangkan apakah harus melanjutkan atau tidak.
"Cuma apa?"
"Cuma merasa ada yang aneh aja sama Cintia akhir-akhir ini. Kayaknya dia terlalu invested sama dare ini. Lebih dari sekadar permainan."
Zahra mengernyit. Sekarang setelah dipikir-pikir, Bunga ada benarnya. Cintia memang terlihat sangat antusias dengan dare ini lebih antusias dari yang seharusnya. Setiap hari ia mengirim pesan menanyakan progress. Setiap kali bertemu, ia selalu membahas tentang Fahri.
Tapi Zahra terlalu lelah untuk memikirkan itu sekarang.
"Udahlah, Bun. Gue pusing. Ngomongin yang lain aja."
Bunga mengangguk, meski tatapannya masih penuh kekhawatiran.
Keesokan harinya, Zahra memenuhi janjinya untuk belajar membuat website dengan Fahri di lab komputer.
Lab itu sepi hanya ada mereka berdua karena Fahri sengaja memilih jam yang tidak banyak orang. Katanya supaya Zahra lebih fokus. Tapi Zahra curiga alasan sebenarnya adalah karena Fahri ingin waktu berdua dengannya.
Makin lengket aja nih anak, Zahra membatin.
"Oke, jadi langkah pertama, lo buka Notepad dulu," Fahri menginstruksikan, duduk di sebelah Zahra dengan jarak yang sopan tapi cukup dekat untuk bisa melihat layar laptop Zahra.
Zahra membuka Notepad dengan gerakan malas yang tidak ia repot-repot sembunyikan.
"Terus ketik ini..." Fahri mulai mendiktekan kode HTML sederhana.
Lima belas menit berlalu, dan Zahra sudah mulai kehilangan kesabaran. Coding itu membosankan. Sangat membosankan. Ia tidak mengerti kenapa orang-orang mau menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar dan mengetik simbol-simbol yang tidak masuk akal.
"Zar? Lo dengerin nggak?"
Suara Fahri membuyarkan lamunannya.
"Oh, iya, dengerin kok," Zahra berbohong, matanya kembali fokus ke layar.
Fahri menatapnya dengan sedikit khawatir. "Lo keliatan capek. Mau istirahat dulu?"
"Nggak, nggak usah. Lanjut aja."
"Yakin? Kita bisa lanjutin besok kalau lo"
"Gue bilang lanjut, Fahri," Zahra memotong dengan nada yang lebih tajam dari yang ia maksudkan.
Fahri terdiam, wajahnya sedikit tertunduk. "O-oh, oke. Maaf."
Melihat reaksi Fahri, Zahra langsung merasa bersalah. Pemuda itu tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia hanya berusaha perhatian.
"Maaf," Zahra berkata pelan, memaksakan senyumnya kembali. "Gue lagi agak stress sama tugas-tugas kuliah. Bukan salah lo."
Wajah Fahri langsung cerah kembali. "Oh, nggak apa-apa! Gue ngerti kok. Kalau lo butuh bantuan tugas yang lain, bilang aja ya. Siapa tau gue bisa bantu."
Dia terlalu baik, Zahra berpikir dengan perasaan yang campur aduk.?Terlalu baik untuk dijadiin bahan taruhan kayak gini.
Tapi pemikiran itu langsung ia tepis.
Fokus, Zahra. Ini cuma dare. Setelah selesai, semuanya bakal balik normal.
Seminggu kemudian, Zahra mencoba strategi baru: berpura-pura tertarik dengan hobi Fahri.
Dari pengamatannya, ia tahu bahwa selain coding, Fahri sangat menyukai fotografi. Pemuda itu selalu membawa kamera DSLR-nya ke mana-mana, siap mengabadikan momen apa pun yang ia anggap menarik.
"Lo suka fotografi, Fahri?" Zahra bertanya suatu siang di kantin, mengangguk ke arah kamera yang tergantung di leher Fahri.
Wajah Fahri langsung berseri-seri. "Iya! Ini hobi gue dari SMA. Kenapa? Lo tertarik?"
Sama sekali nggak, Zahra menjawab dalam hati. Tapi yang keluar dari mulutnya adalah:
"Lumayan. Boleh liat hasil foto-foto lo?"
Fahri terlihat sangat senang dengan permintaan itu. Dengan antusias, ia menyalakan kameranya dan mulai menunjukkan hasil jepretannya.
"Ini foto sunset minggu lalu. Gue ambil dari atap gedung fakultas. Bagus kan warnanya?"
Zahra menatap foto itu. Ia harus mengakui meski enggan bahwa foto itu memang bagus. Warna oranye dan ungu berpadu dengan indah, menciptakan gradasi yang memukau.
"Lumayan," Zahra berkomentar dengan nada datar.
"Kalau yang ini, foto hujan dari balik jendela. Gue suka banget sama tekstur tetesan airnya."
Lagi-lagi, foto yang bagus. Fahri memang berbakat.
"Terus yang ini..." Fahri tiba-tiba berhenti, wajahnya memerah.
"Yang mana?" Zahra penasaran.
"E-eh, nggak ada. Skip aja."
Tapi Zahra sudah melihat preview foto berikutnya di layar kamera. Jantungnya berhenti sedetik.
Foto itu adalah fotonya. Foto Zahra yang sedang duduk di perpustakaan, menatap ke luar jendela dengan ekspresi yang tidak ia sadari ia punya ekspresi yang terlihat... melankolis? Sedih? Entahlah.
"Lo... motret gue?" Zahra bertanya, suaranya aneh.
Wajah Fahri semakin merah, merah padam sampai ke telinganya. "M-maaf! Gue gue harusnya minta izin dulu. Gue cuma... waktu itu lo keliatan... keliatan bagus. Cahayanya bagus. Jadi gue "
"Kapan lo ambil ini?"
"M-minggu lalu. Di perpustakaan. Lo lagi nunggu gue selesai coding dan... dan gue ngeliat lo dari samping dan..." Fahri semakin gugup, kata-katanya semakin tidak jelas. "Maaf. Gue bisa hapus kalau lo nggak suka."
Zahra menatap foto itu lagi. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara Fahri memotretnya. Foto-foto Zahra di Instagram selalu menampilkan sisi terbaiknya senyum sempurna, pose yang diperhitungkan, angle yang strategis. Tapi foto ini...
Foto ini menangkap sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang Zahra sendiri tidak sadari ada dalam dirinya.
"Jangan dihapus," Zahra mendengar dirinya berkata.
"Hah?"
"Jangan dihapus," ulangnya, kali ini lebih jelas. "Fotonya... bagus."
Senyum Fahri yang muncul setelah itu adalah senyum paling lebar yang pernah Zahra lihat. Pemuda itu terlihat seperti baru saja diberi hadiah terbesar dalam hidupnya.
"B-beneran? Lo suka?"
"Iya."
Dan anehnya, Zahra tidak berbohong. Ia memang suka foto itu.
Malam itu, Fahri duduk di kasurnya, laptop terbuka di pangkuannya. Tapi layarnya tidak menampilkan kode seperti biasa. Kali ini, layarnya menampilkan dokumen Word yang hampir kosong.
Fahri mengetik dengan ragu-ragu, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi.
Akhirnya, ia menarik napas dalam-dalam dan mulai menulis dengan lebih yakin.
Tentang Dia
Ada yang berbeda dari cara mentari menyinari pagi
Sejak pertama kali matanya bertemu pandang denganku
Duniaku yang abu-abu mendadak penuh warna
Seperti kanvas kosong yang disentuh tangan seniman
Dia berjalan dengan langkah yang pasti
Sementara aku tertatih dengan tongkat di tangan
Dia bicara dengan suara yang jernih dan lantang
Sementara kata-kataku tersangkut di lidah
Tapi ketika dia tersenyum padaku
Ketika matanya menatapku tanpa kasihan
Untuk pertama kalinya aku merasa...
Mungkin, mungkin saja
Ada tempat untukku di dunianya
Aku tahu ini hanya mimpi
Bunga yang tumbuh di tanah yang salah
Tapi biarkan aku bermimpi sedikit lebih lama
Karena dalam mimpi ini
Aku tidak pincang
Dan dia adalah milikku
Fahri menatap puisi yang baru ia tulis dengan perasaan campur aduk. Tangannya gemetar sedikit. Ini pertama kalinya ia menulis sesuatu yang begitu... personal.
Ia tidak pernah bermaksud untuk jatuh cinta pada Zahra. Tidak pernah bermaksud untuk berharap. Ia tahu siapa dirinya. Ia tahu siapa Zahra. Jurang di antara mereka terlalu dalam untuk dijembatani.
Tapi perasaan tidak pernah mendengarkan logika.
Setiap hari, setiap interaksi dengan Zahra, perasaan itu semakin dalam. Cara Zahra tertawa meski jarang. Cara Zahra menatapnya meski kadang terlihat bosan. Cara Zahra berbicara dengannya meski kadang terasa dipaksakan.
Fahri tidak bodoh. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjil. Tidak ada alasan logis kenapa gadis seperti Zahra tiba-tiba mendekatinya. Teman-temannya Risky dan Andi sudah berkali-kali memperingatkannya.
Tapi Fahri memilih untuk mengabaikan semua itu.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada gadis yang mau menghabiskan waktu dengannya. Ada gadis yang tersenyum padanya. Ada gadis yang meski mungkin hanya berpura-pura mendengarkan ketika ia bicara.
Dan itu sudah cukup. Untuk saat ini, itu sudah cukup.
Fahri menyimpan puisi itu di folder yang ia beri nama "Rahasia" dan menutup laptopnya.
Di dinding kamarnya, foto Zahra yang ia cetak diam-diam tergantung di tempat yang hanya bisa ia lihat. Setiap malam, sebelum tidur, ia menatap foto itu dan bertanya-tanya apakah keajaiban itu ada.
Apakah suatu hari, gadis itu bisa mencintainya juga?
"Zar, lo kenapa sih?" Bunga bertanya keesokan harinya saat mereka duduk di kantin fakultas Komunikasi.
Zahra mengaduk es kopinya dengan lesu. "Nggak kenapa-kenapa."
"Bohong. Lo dari tadi murung."
"Gue cuma... capek."
Bunga menatap sahabatnya dengan pandangan menyelidik. "Capek fisik atau capek... yang lain?"
Zahra terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Yang ia rasakan terlalu rumit untuk dijelaskan.
Semalam, setelah pulang dari pertemuan dengan Fahri, ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus melayang ke foto yang diambil Fahri. Ke cara pemuda itu menatapnya dengan mata yang penuh... apa? Kekaguman? Harapan? Cinta?
Cinta.
Kata itu membuat perut Zahra terasa tidak nyaman.
"Bunga," Zahra akhirnya berkata, suaranya pelan. "Lo pernah ngerasa kayak... kayak lo lagi ngelakuin sesuatu yang salah, tapi lo nggak bisa berhenti?"
Bunga meletakkan gelasnya, ekspresinya serius. "Ini soal Fahri?"
Zahra mengangguk lemah.
"Lo mulai ngerasa bersalah."
"Gue nggak bilang bersalah"
"Tapi emang itu kan yang lo rasain?" Bunga memotong dengan lembut tapi tegas. "Zar, gue udah bilang dari awal. Fahri itu orang baik. Dia tulus. Dan lo lagi memanfaatkan ketulusannya buat menang taruhan."
"Gue tau, Bun!" Zahra menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Gue tau semua itu. Tapi gue udah terlalu jauh. Gimana caranya berhenti sekarang?"
"Bilang yang jujur. Minta maaf. Selesaiin dengan baik-baik."
"Terus dare gue gimana? Video memalukan itu gimana?"
Bunga menghela napas. "Zar, lo harus mikir prioritas. Mana yang lebih penting gengsi lo atau perasaan orang lain?"
Pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang terus menghantui Zahra tapi tidak pernah bisa ia jawab.
Sebelum ia sempat merespons, ponselnya bergetar. Video call dari Cintia.
"Angkat nggak?" Zahra bertanya pada Bunga.
"Terserah lo."
Zahra mengangkat telepon itu. Wajah Cintia muncul di layar, tersenyum lebar.
"Hai, Queen! Gimana kabar? Udah berapa lama nih nggak update progress!"
"Baik," Zahra menjawab singkat.
"Kok lesu gitu? Ada masalah? Fahri nggak mau dideketin?"
"Nggak, dia... dia kooperatif."
"Terus kenapa mukanya kusut gitu?" Cintia tertawa. "Jangan bilang lo mulai kasihan sama dia."
Zahra tidak menjawab, dan keterdiamannya cukup menjadi jawaban.
Ekspresi Cintia berubah. "Zar, jangan bilang lo mulai mundur."
"Gue nggak mundur "
"Lo harus ingat kenapa lo ngelakuin ini. Lo adalah Zahra Almeera Pratama. Ratu kampus. Lo nggak boleh kalah dari dare sesimpel ini."
"Simple? Tia, ini nggak sesimple yang lo pikir. Fahri itu..."
"Fahri itu apa? Cowok cacat yang kebetulan baik?" Cintia mendengus. "Zar, lo jangan sampai luluh cuma karena dia perhatian dikit. Semua cowok pasti bakal perhatian sama cewek yang mereka suka. Itu bukan sesuatu yang spesial."
Bunga, yang dari tadi mendengarkan, akhirnya angkat bicara. "Tia, mungkin lo harus berhenti nyuruh Zahra terus."
"Loh, kenapa? Gue cuma nyemangatin sahabat gue sendiri. Ada yang salah?"
"Yang salah adalah ini udah keterlaluan. Zahra kelihatan tertekan."
"Tertekan?" Cintia tertawa lagi, tapi tawanya terdengar berbeda. Ada nada sinis yang tidak bisa disembunyikan. "Bunga, lo terlalu serius. Ini cuma permainan. Fun aja. Jangan didramatisin."
"Fun buat siapa?"
"Fun buat kita semua. Termasuk Zahra. Iya kan, Zar?"
Zahra terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Pokoknya, Zar," Cintia melanjutkan, mengabaikan ketidaknyamanan yang terasa di udara, "lo harus terus maju. Deadline masih sebulan lagi. Gue yakin lo bisa. Jangan nyerah, okay?"
"Iya," Zahra menjawab lemah.
"Good! Udah dulu ya, gue ada kelas. Semangat!"
Cintia memutus sambungan tanpa menunggu respons.
Zahra meletakkan ponselnya dan menatap Bunga. "Lo liat itu tadi?"
"Iya. Gue liat."
"Dia... aneh kan?"
Bunga mengangguk pelan. "Udah gue bilang dari kemarin. Ada yang nggak beres sama Cintia. Dia terlalu senang sama dare ini. Kayak ada agenda lain."
"Agenda apa?"
"Gue nggak tau, Zar. Tapi feeling gue bilang ini bukan cuma soal permainan."
Zahra menyandarkan kepalanya ke kursi, matanya menatap langit-langit kantin. Hidupnya yang tadinya simple atau setidaknya terlihat simple mendadak menjadi sangat rumit.
Di satu sisi, ada Fahri yang tulus dan polos, yang tanpa sadar sudah mulai jatuh cinta padanya. Di sisi lain, ada Cintia yang terus mendorongnya untuk melanjutkan permainan kejam ini. Dan di tengah-tengah, ada dirinya sendiri yang tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah.
Gue cuma mau menang dare, Zahra mencoba meyakinkan dirinya sendiri.?Setelah itu, semuanya bakal selesai.
Tapi kenapa kata "selesai" tidak terdengar selegakan yang seharusnya?
Sore itu, Zahra bertemu Fahri lagi di taman kampus. Mereka duduk di bangku favorit Fahri bangku di bawah pohon trembesi besar yang rindang.
Fahri membawa kameranya seperti biasa, sesekali memotret burung-burung yang berterbangan atau mahasiswa yang berlalu-lalang. Zahra duduk di sebelahnya, scrolling ponsel tanpa benar-benar memperhatikan layarnya.
"Zar," Fahri tiba-tiba berkata.
"Hm?"
"Lo... lo akhir-akhir ini keliatan beda."
Zahra mengangkat wajahnya. "Beda gimana?"
Fahri terlihat ragu-ragu, jari-jarinya memainkan tali kamera dengan gugup. "Kayak... kayak ada yang lo pikirin. Lo sering bengong. Sering keliatan sedih."
Karena gue ngerasa bersalah tiap kali ngeliat muka lo, Zahra ingin menjawab. Tapi tentu saja ia tidak mengatakannya.
"Gue cuma stress tugas kuliah," Zahra berbohong dengan alasan yang sama yang sudah ia gunakan berkali-kali.
"Yakin cuma itu?"
Fahri menatapnya dengan mata yang terlalu jujur, terlalu perhatian. Tatapan yang membuat Zahra ingin mengalihkan pandangan tapi tidak bisa.
"Yakin," Zahra memaksakan senyumnya.
Fahri tidak terlihat sepenuhnya percaya, tapi ia tidak memaksa. "Kalau ada apa-apa, lo bisa cerita ke gue. Gue mungkin nggak bisa bantu banyak, tapi gue bisa dengerin."
Berhenti jadi baik, Zahra ingin berteriak.?Berhenti bikin gue makin susah untuk terus berbohong sama lo.
"Makasih, Fahri," Zahra menjawab, suaranya lebih lembut dari yang ia maksudkan.
Fahri tersenyum senyum yang polos dan tulus seperti biasa. Kemudian ia mengangkat kameranya.
"Boleh nggak gue foto lo sekali lagi?"
Zahra ingin menolak. Foto pertama saja sudah membuatnya merasa aneh. Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah:
"Boleh."
Fahri terlihat sangat senang. Dengan hati-hati, ia mengatur angle kameranya, mencari pencahayaan yang tepat.
"Jangan pose," Fahri berkata lembut. "Tetap natural aja. Kayak tadi."
Zahra tidak berpose. Ia hanya duduk di sana, menatap ke arah langit sore yang mulai berubah warna.
Click.
Suara shutter kamera terdengar.
"Bagus," Fahri berbisik, matanya berbinar saat melihat hasil fotonya.
Zahra tidak meminta untuk melihat. Ia tidak yakin ia mau melihat seperti apa ia terlihat di mata Fahri.
Karena setiap kali Fahri memotretnya, ia merasa seperti sedang dilihat benar-benar dilihat untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Dan itu menakutkan.
Malam itu, Fahri menambahkan satu puisi lagi di folder "Rahasia"-nya.
Tentang Cahaya
Ketika semua orang melihat matahari
Aku melihatnya
Ketika semua orang memuja bintang
Aku menatapnya
Dia adalah cahaya dalam kegelapanku
Pelita di malam yang tak berujung
Meski aku tahu
Pelita itu bukan untukku
Tapi cahaya tidak memilih
Ia menerangi semua yang ada di jalannya
Dan untuk sesaat, hanya sesaat
Cahayanya menyentuh wajahku
Itu sudah cukup
Untuk seumur hidup
Itu sudah cukup
Di folder yang sama, bertambah pula satu foto baru.
Foto Zahra menatap langit sore, dengan ekspresi yang tidak ia sadari ia punya ekspresi yang terlihat seperti sedang mencari sesuatu. Atau mungkin, sedang kehilangan sesuatu.
Fahri menatap foto itu lama, sebelum akhirnya mematikan laptop dan memejamkan mata.
Dalam mimpinya, Zahra tersenyum padanya. Bukan senyum yang dipaksakan, tapi senyum yang tulus. Dan dalam mimpi itu, Fahri tidak pincang. Tidak cacat. Ia bisa berjalan dengan normal, bisa bicara dengan jelas.
Dalam mimpi itu, ia layak untuk dicintai.
Tapi ketika pagi datang dan ia terbangun, kenyataan kembali menyambutnya dengan keras.
Tongkat yang bersandar di sisi tempat tidur.
Kaki yang tidak mau bekerja dengan benar.
Suara yang tidak pernah sejernih yang ia inginkan.
Dan Zahra... yang mungkin tidak akan pernah melihatnya lebih dari sekadar proyek pengabdian masyarakat.
Tapi Fahri tidak menyerah.
Karena dalam hatinya, masih ada harapan.
Dan harapan, sekecil apa pun, adalah satu-satunya hal yang ia punya.