PERTEMUAN PERTAMA
Bab 3 dari Novel Dare To Love
Ini cuma cowok culun, ia mengingatkan dirinya untuk kesekian kali.?Nggak ada yang perlu ditakutin.
Fahri masih fokus pada laptopnya, tidak menyadari kehadiran Zahra yang semakin mendekat. Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan ritme yang konstan, matanya terpaku pada layar yang dipenuhi baris-baris kode. Sesekali ia mendorong kacamatanya yang melorot dengan punggung tangan kebiasaan kecil yang Zahra sudah hafal dari pengamatannya.
Zahra berhenti di samping meja Fahri, menarik napas dalam-dalam, dan memasang senyum termanisnya.
"Hai."
Satu kata sederhana itu membuat Fahri terlonjak kaget. Jarinya yang sedang mengetik langsung berhenti, dan ia mendongak dengan gerakan yang terlalu cepat hingga kacamatanya hampir terjatuh.
Dan untuk pertama kalinya, mereka bertatapan langsung dari jarak dekat.
Mata Fahri melebar di balik kacamatanya. Mulutnya sedikit terbuka, seperti hendak mengatakan sesuatu tapi tidak ada kata yang keluar. Ia mengerjap beberapa kali, seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Zahra Almeera Pratama gadis yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan, gadis yang seluruh kampus kenal sebagai ratu yang tidak tersentuh sedang berdiri di samping mejanya. Tersenyum padanya.
"H-hai..." Fahri akhirnya menjawab, suaranya sedikit tidak jelas dan bergetar. Ia bisa merasakan wajahnya memanas dengan cepat.
Kenapa dia di sini? Kenapa dia ngajak ngomong gue?
Seribu pertanyaan berputar di kepala Fahri, tapi tidak ada satu pun yang bisa ia artikulasikan.
Zahra mempertahankan senyumnya meskipun dalam hati ia merasa canggung. Cara Fahri menatapnya dengan campuran kaget, bingung, dan sesuatu yang mungkin kekaguman membuat ia merasa seperti alien yang baru mendarat di planet asing.
"Boleh duduk di sini?" Zahra menunjuk kursi kosong di seberang Fahri.
"O-oh, iya, silakan!" Fahri buru-buru menjawab, tangannya dengan panik menyingkirkan beberapa buku yang berserakan di meja. Gerakannya terlalu tergesa-gesa hingga salah satu buku terjatuh ke lantai dengan suara yang cukup keras di perpustakaan yang sunyi.
Aduh, bodoh banget sih gue!
Fahri menunduk untuk mengambil buku itu, wajahnya semakin merah karena malu. Tapi sebelum tangannya mencapai buku tersebut, tangan Zahra sudah lebih dulu mengambilnya.
"Ini," Zahra menyodorkan buku itu, senyumnya masih terpasang meski sedikit lebih kaku sekarang.
"M-makasih..." Fahri menerima buku itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia tidak berani menatap mata Zahra terlalu lama.
Zahra duduk di kursi yang tadi ia tunjuk, meletakkan tasnya di meja dengan gerakan yang sudah terlatih anggun. Ia mengamati Fahri yang masih terlihat sangat gugup cara pemuda itu menunduk, cara jari-jarinya meremas buku yang baru saja dijatuhkan, cara bahunya yang menegang.
Dia nervous banget, Zahra mengobservasi dalam hati.?Ya iyalah. Cowok kayak dia mana pernah dideketin cewek.
Ada perasaan berkuasa yang familiar muncul di dada Zahra. Ini adalah teritori yang ia kuasai membuat orang lain gugup dengan kehadirannya. Memegang kendali atas situasi.
"Lo lagi ngerjain apa?" Zahra membuka percakapan, mengangguk ke arah laptop Fahri.
Fahri mengerjap, seperti butuh waktu untuk memproses pertanyaan sederhana itu. "O-oh, ini... coding. Buat... buat proyek kuliah."
Suaranya memang tidak sejernih orang normal ada sesuatu yang sedikit tersangkut dalam artikulasinya, membuat beberapa kata terdengar tidak sempurna. Tapi Zahra bisa memahaminya dengan cukup baik.
"Coding ya? Kedengarannya susah banget," Zahra berkata, berusaha terdengar tertarik.
"N-nggak juga sih... kalau udah biasa..." Fahri menjawab pelan, masih tidak berani menatap Zahra langsung.
Hening.
Keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Zahra mendadak bingung harus bicara apa lagi. Semua skenario percakapan yang sudah ia susun di kepala semalaman mendadak lenyap begitu saja.
Kok gue jadi blank gini sih?
"Jadi..." Zahra memulai lagi, memaksakan suaranya terdengar kasual. "Lo Fahri kan? Fahri Ramadhan?"
Fahri mengangkat kepalanya sedikit, matanya melebar lagi dengan keterkejutan. "I-iya. Kok... kok tau nama gue?"
Karena gue udah stalking akun lo selama beberapa hari, jawab Zahra dalam hati. Tentu saja ia tidak mengatakannya.
"Oh, gue pernah denger nama lo dari temen-temen," Zahra menjawab dengan lancar. "Katanya lo jago banget coding. Pernah menang kompetisi nasional kan?"
Wajah Fahri semakin merah kali ini Zahra tidak yakin apakah karena malu atau karena senang dipuji. Mungkin keduanya.
"I-iya, tapi itu... itu udah lama sih. Cuma kebetulan aja bisa menang..." Fahri menjawab dengan rendah hati yang genuine.
"Jangan merendah gitu," Zahra mengibaskan tangannya. "Menang kompetisi nasional itu nggak gampang."
Fahri tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk kecil, jari-jarinya tanpa sadar memainkan ujung kemejanya.
Keheningan canggung lagi.
Zahra menggigit bagian dalam pipinya, frustrasi. Ini lebih sulit dari yang ia bayangkan. Biasanya cowok-cowok akan langsung banyak bicara kalau ia ajak ngobrol. Mereka akan berusaha keras untuk terlihat menarik, melontarkan lelucon-lelucon garing, berusaha membuatnya terkesan.
Tapi Fahri? Pemuda ini seperti lebih memilih ditelan bumi daripada melanjutkan percakapan.
"Oh iya, gue Zahra," Zahra akhirnya memperkenalkan diri, meski ia yakin Fahri sudah tahu siapa dia. Semua orang di kampus ini tahu siapa dia.
"I-iya, gue tau," Fahri menjawab pelan, lalu langsung terlihat panik. "M-maksud gue... lo kan terkenal... banyak yang kenal..."
Shit, kenapa gue ngomongnya kayak gitu??Fahri mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Tapi reaksinya justru membuat Zahra sedikit tersenyum senyum yang kali ini lebih natural. Ada sesuatu yang... menggemaskan? Tidak, bukan itu kata yang tepat. Mungkin lebih ke arah lucu. Cara Fahri gugup seperti anak kucing yang ketakutan.
"Iya, gue tau gue terkenal," Zahra berkata dengan nada sedikit bercanda meski tidak sepenuhnya bercanda. "Tapi nggak semua orang mau ngobrol sama gue loh."
Fahri menatapnya dengan bingung. "Kenapa? Lo kan..."
"Gue kan apa?"
Fahri menelan ludah. "Lo kan... cantik. Populer. Pasti banyak yang mau ngobrol sama lo."
Kata-kata itu keluar dengan polos, tanpa ada niat untuk merayu atau mendapatkan poin. Fahri hanya menyatakan apa yang ada di pikirannya dan itu membuat Zahra terdiam sejenak.
Ia sudah terbiasa dipuji cantik. Setiap hari ada saja yang memujinya. Tapi kebanyakan pujian itu terasa... kosong. Seperti sekadar basa-basi atau rayuan murahan untuk mendekatinya.
Pujian Fahri berbeda. Sederhana, jujur, dan tanpa agenda tersembunyi.
Dia emang polos banget ya, Zahra berpikir, entah dengan nada mengejek atau kagum ia sendiri tidak yakin.
"Well, banyak yang mau ngobrol sama gue," Zahra akhirnya menjawab, memutuskan untuk jujur. "Tapi kebanyakan cuma mau sesuatu dari gue. Nggak banyak yang mau ngobrol beneran."
Fahri mengangguk pelan, seperti memahami apa yang Zahra maksud. "Itu... pasti capek ya?"
Pertanyaan itu membuat Zahra tersentak. Tidak ada yang pernah bertanya seperti itu padanya. Kebanyakan orang hanya melihat kehidupannya yang glamor dan berasumsi bahwa semuanya sempurna.
"Kadang," Zahra menjawab, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan.
Mereka bertatapan sejenak momen yang singkat tapi entah kenapa terasa signifikan. Kemudian Fahri mengalihkan pandangannya duluan, wajahnya kembali memerah.
Zahra berdeham, mengingatkan dirinya tentang tujuannya ada di sini. Ia tidak datang untuk curhat atau berbagi perasaan. Ia datang untuk menjalankan misi.
"Oh iya, sebenernya gue mau minta tolong," Zahra memulai, kembali ke mode manipulatif-nya. "Lo jago IT kan?"
"L-lumayan..."
"Gue lagi ada tugas kuliah yang berhubungan sama website gitu. Gue sama sekali nggak ngerti. Lo bisa bantuin nggak?"
Mata Fahri berbinar sedikit di balik kacamatanya. "O-oh, bisa! Maksud gue... gue bisa coba bantuin. Website kayak gimana emangnya?"
"Nanti gue kasih liat ya filenya? Sekarang belum gue bawa."
"O-oke. Kapan?"
"Gimana kalau besok? Di sini juga? Jam segini?"
Fahri mengangguk dengan antusias yang tidak bisa ia sembunyikan. "Boleh! Gue bisa!"
Kesempatan untuk membantu orang lain selalu membuatnya senang. Apalagi orang itu adalah Zahra gadis yang selama ini hanya bisa ia kagumi dari kejauhan.
Ini beneran kejadian kan? Bukan mimpi?
Zahra tersenyum puas. Langkah pertama berhasil. Ia sudah menciptakan alasan untuk bertemu lagi.
"Oke, deal," Zahra berdiri, mengambil tasnya. "Besok jam 10 di sini ya."
"I-iya, sampai besok," Fahri menjawab, senyum kecil muncul di wajahnya.
Zahra mengangguk dan melangkah pergi, meninggalkan Fahri yang masih duduk dengan tampang setengah linglung.
Setelah Zahra menghilang dari pandangan, Fahri menghembuskan napas panjang yang tidak ia sadari sudah ia tahan sejak tadi. Jantungnya masih berdebar kencang, tangannya masih sedikit gemetar.
Zahra Almeera Pratama.
Gadis paling cantik dan populer di kampus.
Baru saja mengajaknya mengobrol. Meminta bantuannya. Membuat janji untuk bertemu besok.
Fahri mencubit lengannya sendiri sakit. Berarti ini bukan mimpi.
Senyum lebar perlahan mengembang di wajahnya, senyum yang tidak bisa ia kendalikan meskipun ia mencoba.
Di sisi lain perpustakaan, tersembunyi di balik rak buku tinggi, Risky dan Andi mengamati seluruh interaksi itu dengan ekspresi yang sangat berbeda.
"Lo liat itu, Ndi?" Risky berbisik dengan nada tidak percaya. "Zahra Almeera Pratama? Ngobrol sama Fahri?"
Andi mengangguk pelan, matanya menyipit dengan kewaspadaan. "Gue liat."
"Ini aneh banget. Cewek kayak dia ngapain nyamperin Fahri?"
"Gue juga nggak tau."
Risky menggaruk kepalanya dengan frustrasi. "Mau minta tolong tugas katanya? Sejak kapan anak Komunikasi butuh bantuan coding? Dan kenapa harus Fahri? Kampus ini penuh sama anak IT yang lebih... yang lebih..."
"Yang lebih apa?" Andi menatap Risky dengan tajam.
"Lo tau maksud gue, Ndi. Yang lebih... normal. Kenapa harus Fahri?"
Andi terdiam. Ia memang memiliki pikiran yang sama, tapi ia tidak mau mengatakannya. Sebagai seseorang yang selalu berusaha berpikir positif, ia tidak mau langsung menghakimi Zahra tanpa bukti yang cukup.
Tapi tetap saja, ada sesuatu yang tidak beres.
"Kita pantau aja dulu," Andi akhirnya berkata. "Jangan langsung nuduh."
"Ndi, lo terlalu baik. Gue punya firasat buruk tentang ini."
"Firasat lo seringnya lebay, Ri."
"Hey, firasat gue pernah bener waktu gue bilang dosen Kalkulus bakal ngasih kuis dadakan!"
"Itu bukan firasat. Lo emang nggak belajar aja jadi parno sendiri."
Risky mendengus, tapi matanya kembali ke arah Fahri yang masih duduk dengan senyum lebar di wajahnya.
"Liat tuh, Ndi. Dia udah kena."
Andi mengikuti arah pandang Risky. Benar Fahri terlihat seperti orang yang baru saja memenangkan lotre. Senyumnya tidak hilang-hilang, matanya berbinar, bahkan cara ia mengetik di laptop sekarang terlihat lebih bersemangat.
"Fahri tuh polos banget," Risky melanjutkan, suaranya penuh kekhawatiran. "Dia nggak pernah pacaran. Nggak pernah dideketin cewek. Kalau tiba-tiba cewek kayak Zahra dateng, ya jelas dia langsung... langsung..."
"Jatuh hati?"
"Iya!"
Andi menghela napas. Ia tidak bisa menyangkal kekhawatiran Risky. Fahri memang sahabat mereka yang paling innocent. Paling percaya sama orang. Paling mudah memberikan hatinya.
"Kita jaga dia," Andi berkata dengan tenang tapi tegas. "Kalau ternyata Zahra emang tulus, syukur. Kalau nggak..."
"Kalau nggak?"
Andi tidak menjawab, tapi matanya berkilat dengan determinasi yang jarang terlihat.
Mereka berdua keluar dari tempat persembunyian mereka dan menghampiri Fahri.
"Woy, Fah!" Risky menyapa dengan suara yang sengaja dibuat ceria. "Lo ngapain senyum-senyum sendiri? Kesambet ya?"
Fahri terlonjak, senyumnya langsung digantikan dengan ekspresi gugup. "A-apaan sih, Ri. Nggak ada apa-apa."
"Bohong. Tadi kita liat lo ngobrol sama cewek."
Wajah Fahri langsung memerah lagi. "Lo pada nguping?!"
"Nggak nguping, cuma kebetulan liat," Andi menjawab dengan kalem, duduk di sebelah Fahri. "Itu Zahra kan? Ngapain dia nyamperin lo?"
Fahri menelan ludah, jari-jarinya tanpa sadar memainkan ujung kemejanya lagi kebiasaan yang muncul kalau ia sedang nervous atau malu.
"D-dia... mau minta tolong. Tugas kuliah."
"Tugas kuliah?" Risky mengangkat alis dengan tidak percaya. "Tugas apa?"
"Soal website."
Risky dan Andi bertukar pandang yang penuh makna.
"Fah, lo nggak curiga sama sekali?" Risky bertanya langsung.
"Curiga kenapa?"
"Ya... kenapa tiba-tiba cewek kayak dia nyamperin lo. Dari sekian banyak orang yang bisa dia mintain tolong, kenapa harus lo?"
Fahri terdiam. Pertanyaan Risky memang masuk akal, dan sebenarnya ia juga sempat heran tadi. Tapi...
"Mungkin... mungkin dia denger gue jago coding?" Fahri menjawab dengan nada yang lebih seperti pertanyaan daripada pernyataan.
"Fah, serius deh. Lo kenal Zahra kan? Dia itu ratu kampus. Bintang paling terang di Universitas Bhayangkara. Cowok-cowok ganteng dan tajir ngantri buat deketin dia. Lo pikir dia bakal nyari-nyari lo cuma buat tugas kuliah?"
Kata-kata Risky terasa seperti tamparan yang menyakitkan, meski Fahri tahu sahabatnya itu tidak bermaksud jahat. Itu adalah kenyataan. Fahri sadar betul siapa dirinya cowok culun dengan disabilitas yang membuat orang-orang memandangnya dengan tatapan iba atau bahkan jijik.
Tidak ada alasan logis kenapa gadis seperti Zahra mau repot-repot mendekatinya.
Tapi...
"Gue nggak tau, Ri," Fahri akhirnya menjawab, suaranya pelan. "Mungkin lo bener. Mungkin ada sesuatu yang aneh. Tapi... tapi kalau ternyata dia emang cuma mau minta tolong, terus gue nolak karena curiga... itu nggak adil kan buat dia?"
Risky membuka mulutnya untuk membantah, tapi Andi menyentuh lengannya, memberikan isyarat untuk diam.
"Fah, gue nggak bilang lo harus nolak," Andi berkata dengan suara tenang dan bijaksana. "Gue cuma minta lo buat hati-hati. Jangan terlalu cepat membuka hati. Apalagi sama orang yang baru lo kenal."
Fahri mengangguk pelan. "Gue tau, Ndi. Gue nggak akan langsung jatuh cinta cuma gara-gara diajak ngobrol sekali."
Tapi senyum kecil yang masih tersisa di sudut bibirnya berkata lain.
Risky menghela napas panjang, frustasi dengan kepolosan sahabatnya. "Yaudah lah. Pokoknya kalau dia macem-macem, bilang sama kita."
"Iya, iya."
"Janji?"
"Janji, Ri. Lebay banget sih lo."
"Gue bukan lebay. Gue protektif. Beda."
Andi tersenyum tipis melihat interaksi kedua sahabatnya. Tapi dalam hati, kekhawatirannya tidak berkurang. Ia sudah mengenal Fahri sejak semester pertama sudah hampir tiga tahun. Ia tahu betul sifat Fahri yang terlalu baik untuk dunianya sendiri.
Fahri adalah tipe orang yang akan memberikan jaketnya pada orang asing yang kedinginan, meski ia sendiri hanya memakai kaos tipis. Tipe orang yang akan membantu siapa saja tanpa mengharapkan imbalan. Tipe orang yang percaya pada kebaikan semua orang.
Dan tipe orang seperti itu adalah yang paling mudah terluka.
"Risky, lo ada kelas setelah ini?" Andi bertanya.
"Nggak. Kenapa?"
"Temenin gue ke kantin. Lapar."
Risky mengangguk, memahami maksud tersembunyi dari ajakan Andi. Mereka perlu bicara berdua, tanpa Fahri.
"Fah, kita ke kantin dulu ya. Lo mau ikut?"
Fahri menggeleng, matanya kembali ke layar laptop. "Nggak, gue mau lanjutin coding. Nanti aja nyusul."
"Oke. Jangan lupa makan, nerd."
"Iya, iya."
Risky dan Andi meninggalkan perpustakaan, berjalan dalam diam sampai mereka cukup jauh dari jangkauan pendengaran siapa pun.
"Lo mau ngomong apa, Ndi?" Risky memulai.
"Lo sadar nggak, ini aneh banget?"
"Ya gue bilang juga apa dari tadi!"
"Bukan cuma aneh, Ri. Ini... terlalu kebetulan." Andi memperlambat langkahnya, wajahnya serius. "Zahra itu bukan tipe cewek yang mau repot-repot nyari orang buat minta tolong. Kalau dia butuh bantuan IT, dia tinggal minta siapa aja pasti banyak yang mau bantu dengan senang hati."
"Terus kenapa dia milih Fahri?"
"Itu yang gue nggak ngerti."
Mereka duduk di bangku taman yang kosong, cukup jauh dari keramaian.
"Gue pernah denger gosip tentang Zahra," Risky berkata pelan. "Dia itu kejam, Ndi. Suka ngebully orang yang dia anggap di bawah levelnya. Lo inget kejadian sama Amel, anak Sastra?"
Andi mengangguk. Amel adalah mahasiswa pendiam yang pernah tidak sengaja menumpahkan minuman ke tas Zahra semester lalu. Gosipnya, Zahra mempermalukan Amel di depan banyak orang, membuat gadis itu tidak masuk kuliah selama seminggu.
"Cewek kayak gitu, tiba-tiba baik sama Fahri?" Risky melanjutkan. "Nggak masuk akal."
"Mungkin ada agenda tersembunyi."
"Agenda apa? Fahri nggak punya apa-apa yang bisa dia manfaatin. Fahri bukan anak orang kaya. Bukan anak pejabat. Cuma mahasiswa biasa dengan... dengan kondisi kayak gitu."
Andi terdiam, otaknya bekerja keras mencoba mencari penjelasan logis. Tapi tidak ada yang masuk akal.
"Pokoknya kita harus awasi," Andi akhirnya berkata. "Kalau perlu, cari tau apa motif Zahra yang sebenarnya."
"Gimana caranya?"
"Gue belum tau. Tapi kita pasti bisa nemuin jawabannya."
Risky mengangguk dengan determinasi. Tidak ada yang boleh menyakiti Fahri tidak selama ia dan Andi masih ada.
Sementara itu, Zahra sudah berada di parkiran kampus, duduk di dalam mobilnya tanpa niat untuk menyalakan mesin. Tangannya mencengkeram setir dengan kuat, matanya menatap kosong ke depan.
Pertemuan tadi... tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Ia pikir akan mudah. Datang, sapa, manipulasi, pergi. Simpel.
Tapi kenyataannya?
Ada sesuatu tentang Fahri yang membuatnya merasa... tidak nyaman. Bukan tidak nyaman dalam arti jijik atau muak. Tapi tidak nyaman dalam arti... bersalah?
Bersalah? Gue? Nggak mungkin.
Zahra menggelengkan kepalanya keras. Ia tidak punya alasan untuk merasa bersalah. Fahri yang harusnya berterima kasih gadis sepopuler Zahra mau repot-repot mendekatinya. Ini adalah kesempatan yang tidak akan pernah dia dapat dalam kondisi normal.
Tapi cara Fahri menatapnya tadi...
Tidak ada tatapan lapar seperti kebanyakan cowok. Tidak ada usaha untuk terlihat keren atau impress. Fahri hanya... gugup. Polos. Jujur.
"Itu... pasti capek ya?"
Pertanyaan sederhana itu masih terngiang di telinga Zahra. Tidak ada yang pernah bertanya seperti itu padanya. Tidak pernah ada yang peduli apakah ia capek dengan hidupnya yang selalu jadi pusat perhatian.
Semua orang hanya melihat permukaan. Kecantikan, kekayaan, popularitas. Tidak ada yang mau atau berusaha melihat apa yang ada di balik semua itu.
Dan Fahri, cowok culun yang baru pertama kali bicara dengannya, langsung bertanya hal itu.
Kebetulan doang, Zahra meyakinkan dirinya sendiri.?Dia cuma sok perhatian.
Tapi ada bagian kecil dalam dirinya yang tidak yakin.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Cintia.
CINTIA:?Gimana? Udah ketemu target?
Zahra mengetik balasan dengan cepat.
ZAHRA:?Udah. Berhasil bikin janji ketemu besok.
CINTIA:?Wah, cepet banget! Gimana orangnya? Culun banget?
Zahra terdiam sejenak, jari-jarinya menggantung di atas keyboard virtual.
Gimana orangnya?
Culun? Iya. Canggung? Sangat. Tapi ada sesuatu yang lain yang Zahra tidak bisa atau tidak mau jelaskan.
ZAHRA:?Culun. Awkward banget. Persis kayak yang lo bilang.
CINTIA:?Hahaha! Kasian deh. Pasti dia kira mimpi dideketin cewek kayak lo ??
ZAHRA:?Mungkin.
CINTIA:?Keep up the good work, Queen! Gue nggak sabar liat gimana endingnya ??
Zahra meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan terakhir Cintia. Ada sesuatu dalam nada pesan sahabatnya itu yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Terlalu senang. Terlalu antusias.
Tapi Zahra mengabaikannya. Ia punya hal yang lebih penting untuk dipikirkan.
Besok ia harus bertemu Fahri lagi. Besok ia harus melanjutkan permainan ini.
Dan entah kenapa, prospek itu membuatnya merasa... gelisah?
Nggak. Gue nggak gelisah. Gue cuma... belum terbiasa aja akting di depan orang kayak Fahri.
Ya. Pasti itu alasannya.
Zahra menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan kampus, berusaha tidak memikirkan senyum polos Fahri yang terus terbayang di benaknya.
Malam itu, di kamar kos-nya yang sederhana, Fahri tidak bisa tidur.
Kamarnya kecil hanya cukup untuk kasur single, meja belajar, dan lemari kecil. Dindingnya dihiasi poster film-film favoritnya dan beberapa foto hasil jepretannya sendiri. Laptop yang sudah agak tua tergeletak di meja, masih menyala dengan layar yang menampilkan project coding yang belum selesai.
Tapi malam ini, Fahri tidak bisa fokus pada coding.
Pikirannya terus melayang ke kejadian sore tadi.
Zahra.
Nama itu terasa asing di lidahnya, tapi entah kenapa juga terasa... benar? Seperti nama yang memang seharusnya ia ucapkan.
Lebay banget sih gue, Fahri mengutuk dirinya sendiri.?Baru diajak ngobrol sekali aja udah kayak gini.
Tapi ia tidak bisa bohong pada dirinya sendiri.
Zahra itu cantik. Sangat cantik. Senyumnya bisa menerangi ruangan yang gelap. Matanya berbinar seperti bintang. Cara ia bicara, cara ia bergerak semuanya terlihat sempurna.
Dan gadis sesempurna itu mau repot-repot bicara dengan Fahri.
Minta tolong tugas, Fahri mengingatkan dirinya.?Dia cuma mau minta tolong. Nggak lebih.
Tapi perasaan hangat di dadanya tidak mau hilang.
Fahri mengambil ponselnya dan membuka Instagram. Jari-jarinya ragu-ragu mengetik nama "Zahra Almeera" di kolom pencarian.
Akun Zahra muncul di paling atas. Followers-nya puluhan ribu jauh berbeda dengan dua ratusan followers milik Fahri. Postingannya dipenuhi foto-foto yang terlihat profesional: di cafe-cafe mewah, di mall, di tempat-tempat eksotis yang mungkin adalah hasil liburan ke luar negeri.
Zahra di foto-foto itu terlihat... berbeda. Lebih percaya diri. Lebih dingin. Lebih tidak tersentuh.
Berbeda dengan Zahra yang tadi duduk di depannya, yang sempat terlihat... manusiawi? Ada momen ketika Zahra menjawab "kadang" dengan suara pelan momen ketika topeng kesempurnaannya sedikit retak.
"Kadang."
Jawaban itu terus terngiang di kepala Fahri.
Apakah Zahra juga kesepian? Apakah di balik semua keglamoran hidupnya, ia juga merasa capek?
Fahri menggelengkan kepalanya. Ia terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak berharap.
Dia cuma mau minta tolong, ia mengingatkan dirinya untuk kesekian kali.?Jangan sok tau soal perasaan orang lain.
Tapi saat ia memejamkan mata malam itu, yang terakhir ia lihat adalah senyum Zahra.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Fahri bermimpi indah.
Di apartemen mewahnya, Zahra juga masih terjaga.
Ia berbaring di tempat tidur king size-nya, menatap langit-langit dengan pikiran yang berkecamuk.
Semua yang ia lakukan hari ini adalah bagian dari rencana. Bagian dari dare yang harus ia selesaikan. Tidak ada yang nyata. Tidak ada yang tulus.
Tapi kenapa ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa... kotor?
Ia teringat ekspresi Fahri saat mereka berpisah tadi. Senyum kecil itu. Harapan yang tersirat di matanya.
Fahri tidak tahu bahwa semua ini adalah kebohongan. Bahwa Zahra mendekatinya bukan karena kebaikan hati, tapi karena taruhan bodoh dengan sahabat-sahabatnya.
Dia nggak perlu tau, Zahra membela dirinya sendiri.?Ini cuma dua bulan. Setelah itu, semuanya selesai. Dia bakal lupa gue, gue bakal lupa dia. Simple.
Tapi entah kenapa, "simple" tidak terasa simple lagi.
Zahra memejamkan matanya dengan paksa, berusaha mengusir semua pikiran yang tidak ia inginkan.
Besok adalah hari baru. Besok ia akan bertemu Fahri lagi. Besok ia akan melanjutkan permainan ini.
Dan ia akan menang.
Karena Zahra Almeera Pratama tidak pernah kalah.
Tidak akan pernah.