Tiga hari sudah berlalu sejak malam dare terkutuk itu, dan Zahra Almeera Pratama mendapati dirinya melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: menguntit.
Tentu saja, ia tidak menyebutnya menguntit. Dalam kepalanya, ia menyebutnya "observasi strategis" atau "riset target." Kedengarannya lebih profesional dan tidak semenyedihkan kenyataannya.
Pagi ini, Zahra duduk di bangku taman yang menghadap langsung ke gedung Fakultas Teknik Informatika. Dari posisinya, ia bisa melihat pintu masuk gedung dengan jelas. Di tangannya ada buku yang sama sekali tidak ia baca hanya properti agar ia tidak terlihat mencurigakan.
Jam menunjukkan pukul 07.45. Berdasarkan pengamatannya selama tiga hari terakhir, Fahri Ramadhan selalu tiba di kampus antara pukul 07.50 sampai 08.00. Pemuda itu punya jadwal yang sangat teratur sesuatu yang Zahra temukan membosankan sekaligus berguna untuk misinya.
"Lo lagi ngapain sih?"
Suara Bunga yang tiba-tiba muncul di belakangnya hampir membuat Zahra menjatuhkan bukunya.
"Anjir, Bun! Ngagetin aja!"
Bunga duduk di sebelah Zahra, mengikuti arah pandang sahabatnya. "Lo nungguin Fahri ya?"
"Nggak," Zahra berbohong cepat. Terlalu cepat.
"Zar, gedung lo tuh di sebelah sana," Bunga menunjuk ke arah berlawanan, di mana gedung Fakultas Ilmu Komunikasi berdiri megah. "Lo nggak punya alasan buat duduk di sini kecuali emang lagi nguntit target lo."
Zahra menghela napas, menyerah. "Fine. Gue lagi observasi."
"Observasi? Lo kayak agen FBI aja."
"Gue harus tau pola kesehariannya dulu sebelum mulai pendekatan, Bun. Nggak mungkin gue langsung nyamperin dia tanpa persiapan."
Bunga menatap Zahra dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara kasihan dan khawatir. "Lo beneran serius sama dare ini ya."
"Tentu. Lo pikir gue main-main?"
"Gue harap lo main-main, Zar. Karena kalau lo serius..." Bunga tidak melanjutkan kalimatnya, tapi maksudnya jelas.
"Kalau gue serius, kenapa?"
"Ya... kasian aja orangnya. Dia nggak tau kalau dijadiin bahan taruhan."
Zahra mendengus. "Bun, stop deh jadi ibu-ibu yang suka ceramahin orang. Lo mulai nyebelin tau nggak?"
Bunga mengangkat tangannya, menyerah. "Oke, oke. Gue diem. Tapi jangan salahin gue kalau nanti ada yang sakit hati."
Sebelum Zahra sempat membalas, matanya menangkap sosok yang sudah ditunggunya. Fahri Ramadhan baru saja memasuki area kampus, berjalan dengan langkah pincangnya yang khas. Tongkat alumuniumnya berkilat tertimpa sinar matahari pagi. Di kedua sisinya, Risky dan Andi berjalan dengan santai, seperti biasa.
"Itu dia," Zahra berbisik, meskipun tidak ada yang bisa mendengarnya dari jarak sejauh ini.
Bunga mengikuti arah pandang Zahra. "Yang mana?"
"Yang di tengah. Yang pakai kacamata dan kemeja kotak-kotak."
"Oh..." Bunga mengamati dengan seksama. "Dia... nggak seburuk yang lo gambarkan kemarin, Zar."
"Maksud lo?"
"Ya, mukanya lumayan. Kalau dia nggak pincang dan nggak pakai baju kayak om-om, mungkin dia bisa masuk kategori ganteng."
Zahra memutar bola matanya. "Lo bilang gitu karena lo belum denger cara dia ngomong. Agak nggak jelas gitu, kayak ada yang nyangkut di lidahnya."
"Zar, itu namanya disartria. Ganguan bicara karena kondisi neurologis. Bukan berarti dia nggak bisa komunikasi."
Zahra menatap Bunga dengan heran. "Lo tau dari mana?"
"Google. Gue baca-baca soal cerebral palsy semalam." Bunga mengangkat bahu. "Kalau lo mau deketin dia, setidaknya lo harus tau kondisinya dengan bener. Jangan cuma judge dari luar."
Ada nada menegur yang halus dalam suara Bunga, dan Zahra tidak suka itu. Tapi ia memilih diam. Mungkin Bunga ada benarnya untuk bisa menaklukkan musuh, ia harus mengenal musuhnya dengan baik.
Tunggu, sejak kapan Fahri jadi musuh?
Zahra menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran yang aneh itu.
Satu jam kemudian, Zahra memutuskan untuk mengambil langkah lebih jauh dalam "riset"-nya. Ia pergi ke kantin, tempat Fahri dan teman-temannya biasa berkumpul saat jam istirahat.
Kantin kampus Universitas Bhayangkara cukup luas, dengan berbagai pilihan makanan dari berbagai penjuru Indonesia. Ada yang jual nasi Padang, bakso, mie ayam, sampai makanan Western. Mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul di sini, menciptakan lautan manusia yang bising setiap jam makan siang.
Zahra memasuki kantin dengan langkah percaya dirinya yang biasa. Seperti biasa, kepala-kepala menoleh ke arahnya. Bisik-bisik terdengar. Beberapa cowok jelas-jelas memandanginya dengan mata berbinar.
Tapi hari ini, Zahra tidak menikmati perhatian itu. Pikirannya fokus pada satu hal: mencari informasi tentang Fahri Ramadhan.
Ia menghampiri meja di mana beberapa mahasiswa Teknik Informatika sedang berkumpul. Mereka langsung terdiam saat melihat Zahra mendekat, wajah-wajah mereka menunjukkan campuran kaget dan terpesona.
"Hai," Zahra menyapa dengan senyum manisnya yang sudah ia latih bertahun-tahun. "Boleh tanya sebentar?"
Salah satu dari mereka cowok berkacamata dengan jerawat di pipi langsung mengangguk antusias. "B-boleh! Tentu! Mau tanya apa?"
"Kalian kenal Fahri Ramadhan nggak?"
Pertanyaan itu membuat mereka saling pandang, jelas bingung kenapa gadis sepopuler Zahra menanyakan tentang Fahri.
"K-kenal," cowok berkacamata itu menjawab. "Dia satu angkatan sama kita. Kenapa emangnya?"
"Nggak apa-apa. Cuma penasaran aja." Zahra memiringkan kepalanya dengan gaya yang ia tahu membuat cowok-cowok luluh. "Dia orangnya kayak gimana sih?"
Cowok yang duduk di sebelahnya yang lebih tinggi dengan rambut dicat pirang angkat bicara. "Fahri? Dia pinter banget. IPK-nya nyaris sempurna. Kayaknya paling tinggi di angkatan kita."
"Iya, dia juga jago coding," cowok berkacamata menambahkan. "Pernah menang kompetisi nasional. Sering jadi asisten dosen juga."
"Terus, kepribadiannya?"
Mereka terdiam sejenak, seperti berpikir.
"Pendiam sih," yang berambut pirang menjawab. "Nggak banyak ngomong. Tapi baik. Kalau ada yang minta tolong, dia selalu bantuin."
"Cuma dia agak... gimana ya..." cowok berkacamata terlihat tidak yakin bagaimana melanjutkan.
"Agak apa?"
"Ya, dia cacat kan. Jadi dia agak tertutup gitu sama orang baru. Tapi kalau udah kenal, dia asik kok."
Zahra mencatat informasi itu dalam kepalanya. "Dia punya pacar nggak?"
Pertanyaan itu membuat kedua cowok itu saling pandang lagi, kali ini dengan ekspresi yang berbeda.
"Nggak punya," cowok berkacamata menjawab pelan. "Setau gue sih, dari dulu dia nggak pernah pacaran."
"Bukan nggak mau kali," yang berambut pirang menimpali. "Lebih kayak... nggak ada yang mau."
Ada nada kasihan dalam suaranya, dan Zahra merasa sedikit tidak nyaman mendengarnya.
"Oke, thanks ya infonya," Zahra tersenyum lagi sebelum melangkah pergi.
Saat ia berjalan menjauh, ia bisa mendengar bisik-bisik di belakangnya.
"Ngapain tuh Zahra nanyain Fahri?"
"Nggak tau. Aneh banget."
"Jangan-jangan ada kerjaan kelompok?"
"Masa sih? Fakultas beda gitu."
Zahra mengabaikan mereka. Ia sudah mendapat informasi yang cukup untuk saat ini.
Fahri Ramadhan: mahasiswa Teknik Informatika semester 5. Penyandang disabilitas daksa dengan cerebral palsy. IPK tertinggi di angkatannya. Jago coding. Pendiam, tertutup, baik hati. Tidak pernah pacaran.
Target yang sempurna untuk ditaklukkan.
Atau begitulah pikir Zahra.
Sore itu, Zahra memutuskan untuk melakukan pengamatan lebih lanjut. Berbekal informasi bahwa Fahri sering menghabiskan waktu di laboratorium komputer fakultasnya, Zahra nekat menyusup ke gedung Teknik Informatika.
Gedung itu berbeda dengan gedung fakultasnya yang modern dan penuh kaca. Gedung Teknik Informatika lebih tua, dengan lorong-lorong yang berbau kabel dan AC yang berisik. Poster-poster tentang kompetisi coding dan seminar teknologi menghiasi dinding.
Zahra merasa tidak pada tempatnya. Ia terbiasa dengan lingkungan yang lebih... glamor. Tapi misinya lebih penting dari ketidaknyamanan.
Ia menemukan laboratorium komputer di lantai dua. Pintunya sedikit terbuka, dan dari celah itu, Zahra bisa melihat bagian dalam ruangan.
Fahri ada di sana.
Ia duduk di depan komputer, jari-jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengagumkan. Layar di depannya dipenuhi dengan baris-baris kode yang bagi Zahra terlihat seperti bahasa alien. Kacamatanya sedikit melorot, dan ia sesekali mendorongnya kembali ke tempatnya dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan.
Di sebelahnya, Risky duduk dengan posisi malas, kakinya diangkat ke meja sementara ia bermain game di ponselnya. Sesekali ia berkomentar tentang sesuatu yang terjadi di game-nya, membuat Fahri tertawa kecil tanpa mengalihkan perhatian dari layar.
Di sisi lain ruangan, Andi duduk dengan tenang, membaca buku tebal yang terlihat seperti buku agama. Ia sesekali mengangkat kepala untuk mendengarkan candaan Risky, tersenyum tipis sebelum kembali ke bacaannya.
Zahra mengamati interaksi mereka dengan rasa penasaran yang tidak ia duga.
"Ri, lo nggak bantuin apa-apaan nih?" Fahri bertanya, suaranya sedikit tidak jelas tapi cukup bisa dipahami dari jarak dekat.
"Gue lagi bantu secara moral, Fah," Risky menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Kehadiran gue udah cukup buat ningkatin semangat lo."
"Semangat apaan. Lo cuma ganggu doang."
"Enak aja! Gue tuh fans nomor satu lo, tau nggak? Kalau lo menang hackathon nanti, gue yang bakal paling kenceng tepuk tangan."
Andi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Risky, mau sampai kapan lo kayak gini? Bantuin Fahri kek."
"Ndi, lo tau sendiri coding bukan bidang gue. Kalau gue bantuin, malah jadi makin kacau."
"Terus bidang lo apa? Jadi beban?"
"Aduh, kok lo jahat gitu sih, Ndi. Gue tuh spesialisasi di bidang hiburan dan moral support. Nggak semua orang bisa kayak gue, tau nggak?"
Fahri tertawa tawa yang lepas dan tanpa beban. Suaranya memang tidak sejernih orang normal, tapi ada kehangatan di dalamnya yang membuat Zahra terdiam.
"Udahlah," Fahri berkata, masih tersenyum. "Gue udah biasa kerja sendiri. Kalian tinggal duduk manis aja."
"Nah, itu baru sahabat gue!" Risky mengacungkan jempol. "Lo emang the best, Fah."
Andi menghela napas panjang, tapi ada senyum di bibirnya. "Fahri, lo terlalu baik sama orang kayak Risky."
"Baik gimana? Gue realistis aja kok. Kalau gue maksa Risky bantuin coding, bisa-bisa laptop gue meledak."
"Woy, nggak gitu juga kali!"
Mereka tertawa bersama, dan Zahra mendapati dirinya hampir tersenyum juga. Hampir.
Ia menggelengkan kepalanya, mengingatkan diri sendiri kenapa ia ada di sini. Ini bukan waktunya untuk tersentuh dengan persahabatan mereka. Ia punya misi yang harus diselesaikan.
Tapi saat ia hendak pergi, sesuatu menarik perhatiannya.
Fahri mengambil kamera dari tasnya DSLR yang terlihat cukup profesional. Ia berdiri dengan hati-hati, mengambil tongkatnya, dan berjalan ke arah jendela.
Dari jendela laboratorium, terlihat pemandangan taman kampus yang mulai diwarnai cahaya senja. Langit berubah menjadi kanvas oranye dan ungu yang indah.
Fahri mengangkat kameranya dan mulai memotret. Ada keseriusan di wajahnya konsentrasi yang sama seperti saat ia coding tadi, tapi dengan sentuhan sesuatu yang lebih... lembut. Lebih personal.
"Sunset lagi?" Risky bertanya dari tempatnya.
"Hari ini bagus banget, Ri. Sayang kalau dilewatin."
"Lo tuh, hobi kok gratisan semua. Coding, fotografi, nulis puisi. Nggak ada yang menghasilkan duit."
"Bukan semua hal harus tentang duit, Ri," Andi menimpali dengan tenang. "Ada hal-hal yang nilainya lebih dari uang."
"Wah, mulai deh ceramahnya."
Fahri tersenyum, masih fokus dengan kameranya. "Gue suka ngeliat keindahan di hal-hal sederhana. Sunset gratis, tapi nilainya nggak bisa diukur."
Kata-kata sederhana itu entah kenapa membuat Zahra terpaku.
Keindahan di hal-hal sederhana.
Kapan terakhir kali Zahra menikmati sunset? Kapan terakhir kali ia melakukan sesuatu hanya karena ia menyukainya, bukan karena ingin pamer atau mendapat validasi dari orang lain?
Zahra menggelengkan kepalanya lagi, kali ini lebih keras.?Apa-apaan sih gue? Jangan sampai ke-brainwash sama omongan cowok culun.
Ia memutuskan sudah cukup untuk hari ini. Ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya nyaris tanpa suara di lorong yang sepi.
Yang tidak ia sadari, Andi sempat menoleh ke arah pintu seolah merasakan kehadiran seseorang. Tapi ketika ia melihat, tidak ada siapa pun di sana.
Malam itu, Zahra berbaring di tempat tidurnya yang king size, scrolling media sosial Fahri untuk kesekian kalinya. Kamarnya yang mewah dengan chandelier kristal dan furniture impor terasa terlalu besar untuknya malam ini.
Ia sudah melihat semua postingan Fahri di Instagram. Kebanyakan foto-foto hasil jepretannya pemandangan kampus, bunga-bunga liar di taman, langit mendung, hujan dari balik jendela. Ada juga beberapa foto candid Risky dan Andi yang terlihat natural dan penuh cerita.
Tapi yang paling menarik perhatian Zahra adalah caption-captionnya.
"Cahaya selalu menemukan jalannya, bahkan di tempat tergelap sekalipun."
"Keindahan tidak harus sempurna. Justru ketidaksempurnaan yang membuat sesuatu menjadi unik."
"Hujan mengajarkan kita bahwa setelah badai, selalu ada pelangi."
Puitis. Terlalu puitis untuk cowok culun yang jago coding.
Zahra scroll lebih jauh dan menemukan beberapa postingan lama. Foto Fahri saat menerima penghargaan kompetisi coding. Foto Fahri dengan dua orang wanita yang terlihat seperti ibu dan kakaknya. Foto Fahri dengan sekelompok pemuda lain yang Zahra tidak kenal dengan background yang terlihat seperti gedung sekolah.
Captionnya:?"Reuni kecil-kecilan dengan para jagoan. Terima kasih sudah mengajarkan arti persahabatan sejati. #SLBForever"
SLB. Sekolah Luar Biasa.
Jadi Fahri memang alumni SLB. Teman-teman di foto itu Zahra mengamati lebih seksama beberapa dari mereka terlihat memiliki disabilitas yang berbeda-beda. Ada yang memakai tongkat seperti Fahri, ada yang memakai kursi roda, dan ada beberapa yang memakai kacamata hitam yang menandakan mereka mungkin tunanetra.
Zahra tidak tahu kenapa, tapi foto itu membuatnya merasa... tidak nyaman. Bukan jijik seperti yang ia ekspektasikan, tapi lebih seperti... malu?
Ia meletakkan ponselnya dan menatap langit-langit kamarnya.
Kenapa gue merasa kayak gini?
Fahri dan teman-temannya terlihat bahagia di foto itu. Benar-benar bahagia. Senyum mereka tidak dipaksakan, tidak untuk kamera atau untuk pamer ke dunia. Mereka tersenyum karena mereka memang bahagia bersama.
Berbeda dengan foto-foto Zahra di Instagram yang selalu direncanakan dengan matang. Pose yang tepat, angle yang sempurna, filter yang pas. Semua dikalkulasi untuk mendapat likes dan comments yang maksimal.
Tapi kan foto gue lebih bagus, Zahra membela dirinya sendiri.?Lebih estetik. Lebih profesional.
Tapi apakah fotonya lebih... nyata?
Zahra menggeleng keras, frustrasi dengan pikirannya sendiri. Ini tidak boleh terjadi. Ia tidak boleh mulai meragukan dirinya sendiri hanya karena mengamati cowok culun selama beberapa hari.
Ia mengambil ponselnya lagi dan membuka chat group dengan Bunga dan Cintia.
ZAHRA:?Besok gue mulai pendekatan.
Balasan datang dalam hitungan detik.
CINTIA:?Wah, akhirnya! Gue udah nungguin nih. Good luck, Queen ??
BUNGA:?Zar, lo yakin?
ZAHRA:?Yakin. Gue udah punya rencana.
CINTIA:?Spill dong rencananya!
ZAHRA:?Besok gue mau "nggak sengaja" ketemu dia di perpustakaan. Minta tolong soal tugas yang berhubungan sama IT. Simpel tapi efektif.
CINTIA:?Nice. Cowok culun kayak dia pasti seneng banget dimintain tolong sama cewek secantik lo ??
BUNGA:?Tia, jangan gitu juga ngomongnya.
CINTIA:?Kenapa? Emang bener kan? Cowok kayak Fahri tuh pasti nggak pernah dideketin cewek. Zahra bakal jadi yang pertama. Pasti langsung klepek-klepek dia.
Zahra membaca pesan Cintia dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia setuju. Di sisi lain, ada sesuatu yang mengganggunya tentang cara Cintia berbicara tentang Fahri.
Tapi ia mengabaikan perasaan itu dan membalas.
ZAHRA:?Pokoknya besok liat aja. Gue bakal buktiin kalau gue bisa dapetin siapa pun yang gue mau.
CINTIA:?That's my girl! ??
BUNGA:?Yaudah deh. Semoga lancar, Zar. Tapi inget, jangan sampai ada yang sakit hati.
Zahra meletakkan ponselnya dan memejamkan mata.
Besok adalah hari besar.
Besok ia akan memulai permainan.
Pagi berikutnya, Zahra bangun lebih awal dari biasanya. Ia menghabiskan hampir dua jam untuk bersiap-siap mandi, skincare, makeup natural tapi tetap flawless, memilih outfit yang casual tapi tetap branded.
Ia memilih blouse putih yang sederhana dipadukan dengan jeans dan sneakers Balenciaga. Rambutnya dibiarkan tergerai natural dengan gelombang lembut di ujungnya. Tas Chanel kecil tersampir di bahunya.
Perfect, pikirnya saat melihat pantulan dirinya di cermin.?Natural tapi tetap stunning.
Perjalanan ke kampus terasa lebih panjang dari biasanya. Mungkin karena Zahra terus memikirkan berbagai skenario yang mungkin terjadi.
Bagaimana kalau Fahri menolak ngobrol dengannya?
Bagaimana kalau teman-temannya mengganggu?
Bagaimana kalau ia tidak bisa menahan ekspresi jijiknya?
Zahra menggeleng, mengusir pikiran-pikiran negatif itu. Ia adalah Zahra Almeera Pratama. Tidak ada yang bisa menolaknya. Tidak ada yang kebal terhadap pesonanya.
Termasuk cowok culun penyandang disabilitas sekalipun.
Setibanya di kampus, Zahra langsung menuju perpustakaan. Berdasarkan pengamatannya, Fahri sering menghabiskan waktu di perpustakaan antara jam 10 sampai 12, terutama di area yang dekat dengan stop kontak untuk charging laptop.
Perpustakaan kampus Universitas Bhayangkara cukup besar dan modern. Rak-rak buku tinggi menjulang, dengan meja-meja belajar yang tersebar di berbagai sudut. Ada area khusus untuk diskusi kelompok, ada juga area sunyi untuk belajar mandiri.
Zahra memasuki perpustakaan dan langsung menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Jantungnya berdebar campuran antara antisipasi dan... apa? Gugup?
Nggak mungkin gue gugup, ia membantah dalam hati.?Ini cuma cowok culun. Bukan selebriti.
Lalu ia melihatnya.
Fahri duduk di meja pojok dekat jendela, persis seperti yang ia prediksikan. Laptopnya terbuka, jari-jarinya mengetik dengan cepat. Kali ini ia sendirian Risky dan Andi tidak terlihat di mana pun.
Perfect timing.
Zahra menarik napas dalam-dalam, memasang senyum termanisnya, dan mulai berjalan menghampiri meja Fahri.
Setiap langkah terasa berat. Setiap detik terasa panjang.
Ini cuma dare, ia mengingatkan dirinya sendiri.?Setelah dua bulan, semua ini akan selesai dan gue bisa kembali ke hidup normal gue.
Tapi kenapa ada bagian kecil dalam dirinya yang tidak yakin semudah itu?
Zahra mengabaikan perasaan itu dan terus melangkah.
Permainan baru saja dimulai.