Musik menghentak dari speaker Bluetooth yang tergeletak di sudut ruangan. Aroma parfum mahal bercampur dengan harum lilin aromaterapi vanilla menciptakan atmosfer yang memabukkan. Apartemen Cintia di lantai dua belas Menara Sapphire selalu menjadi tempat favorit untuk berkumpul pemandangan kota yang gemerlap dari balkon kaca, interior minimalis yang Instagramable, dan yang paling penting, jauh dari pengawasan siapa pun.
Zahra Almeera Pratama melemparkan tubuhnya ke sofa beludru abu abu, membiarkan rambut panjangnya yang diwarnai?ombre?cokelat keemasan tergerai bebas. Dress bodycon hitamnya sedikit bergeser, memperlihatkan kakinya yang jenjang. Ia baru saja kembali dari pesta kampus yang diadakan fakultasnya pesta yang membosankan menurutnya, meskipun hampir semua mata tertuju padanya sepanjang malam.
"Gila, pegelnya." Zahra memijat pergelangan kakinya yang masih terbalut?high heels?Christian Louboutin. "Seriusan, kenapa sih panitia acara harus bikin standing party? Kayak nggak punya budget buat sewa kursi."
Bunga tertawa renyah sambil menyodorkan segelas wine merah pada Zahra. "Lo tuh yang lebay, Zar. Padahal cuma tiga jam doang."
"Tiga jam pakai heels sepuluh senti itu kayak marathon, Bun. Lo nggak akan ngerti," Zahra mendengus, menerima gelas itu dan menyesapnya pelan. Matanya menyapu apartemen mewah milik Cintia dengan pandangan menilai. Bagus sih, tapi masih kalah sama apartemen miliknya sendiri di tower sebelah. Setidaknya begitu yang selalu ia yakini.
Di pojok ruangan, Cintia sedang sibuk dengan ponselnya. Rambutnya yang hitam legam dipotong sebahu, dengan poni rata yang membingkai wajahnya yang tirus. Ia mengetik sesuatu dengan cepat, sesekali tersenyum tipis membaca balasan chat dari salah satu pengagumnya. Berbeda dengan Zahra yang memancarkan aura?high maintenance?secara terang terangan, Cintia punya pesona yang lebih subtle manis di permukaan, dengan ambisi yang tersembunyi di balik senyum lembutnya.
"Tia, lo dari tadi mainan HP mulu. Gosip sama siapa sih?" Bunga melempar bantal kecil ke arah Cintia.
Cintia mengangkat wajahnya, tersenyum manis. "Nggak siapa siapa. Cuma balesin chat Kevin. Dia nanya lo tadi ke mana, Zar."
Zahra memutar bola matanya dengan dramatis. "Amit amit. Bilang aja gue udah pulang dan nggak mau diganggu."
"Kejam banget sih lo sama cowok," Bunga menggeleng gelengkan kepalanya. "Kevin kan lumayan. Ketua BEM, ganteng, tajir pula."
"Lumayan doang, Bun. Gue nggak butuh yang lumayan. Gue butuh yang sempurna." Zahra meneguk wine nya dengan anggun. "Lagian muka Kevin tuh pasaran banget. Tiap fakultas pasti ada yang mirip."
Cintia meletakkan ponselnya dan berjalan menghampiri kedua sahabatnya, mendudukkan diri di karpet berbulu dengan gerakan anggun. Ada kilatan di matanya yang sulit diartikan campuran antara geli dan sesuatu yang lebih gelap. Kompetisi. Sejak dulu, Cintia selalu merasa berada di bawah bayang bayang Zahra. Sama sama cantik, sama sama populer, tapi entah kenapa semua mata selalu tertuju pada Zahra lebih dulu.
"Eh, pesta tadi boring banget ya?" Cintia mengalihkan pembicaraan. "Cowok cowoknya garing semua."
"Tell me about it," Zahra mengangguk setuju. "Dikira gue bakal tertarik sama mereka yang levelnya di bawah gue? Please deh."
Bunga menyelonjorkan kakinya di karpet. "Zar, kadang gue heran sama lo. Kayaknya semua cowok di kampus udah lo tolak. Lo maunya yang kayak gimana sih sebenernya?"
"Yang sempurna," jawab Zahra tanpa ragu. "Ganteng, tajir, pintar, populer, dan yang paling penting sejajar sama gue. Masa gue harus nurunin standar?"
Ada nada sombong yang begitu kentara dalam suara Zahra. Bunga sudah terbiasa dengan sikap sahabatnya ini, meski kadang ia ingin mengingatkan bahwa kesombongan tidak akan membawa kebahagiaan. Tapi Bunga tahu, Zahra tidak akan mendengarkan.
"Sejajar sama lo?" Cintia mengangkat alisnya, senyumnya tipis. "Emangnya lo siapa? Ratu Inggris?"
"Bukan Ratu Inggris," Zahra menyeringai penuh percaya diri. "Ratu Universitas Bhayangkara. Ada yang mau protes?"
Bunga tertawa terbahak bahak, berusaha mencairkan suasana yang mulai terasa tegang. "Najis lo! Pede banget!"
"Emang kenyataannya kayak gitu kan?" Zahra mengangkat bahunya dengan angkuh. "Siapa yang nggak kenal Zahra Almeera Pratama? Putri tunggal pemilik Pratama Group. IPK tertinggi di jurusan Ilmu Komunikasi. Followers Instagram puluhan ribu. Setiap hari ada aja yang nembak. Mau bukti apa lagi?"
Memang tidak ada yang bisa membantah kata kata Zahra. Di Universitas Bhayangkara, namanya sudah seperti legenda. Setiap lorong yang ia lewati, kepala kepala akan menoleh. Setiap kelas yang ia masuki, bisik bisik kekaguman akan terdengar. Kehidupannya adalah definisi sempurna yang diimpikan banyak orang.
Ayahnya, Dharma Pratama, adalah pengusaha properti sukses yang namanya sering muncul di majalah bisnis. Ibunya, Ratna Dewi, mantan model yang kini sibuk dengan arisan dan shopping ke luar negeri. Zahra tumbuh dalam kemewahan, dikelilingi pelayan dan sopir pribadi, tidak pernah mengenal kata "tidak bisa" atau "tidak mungkin."
Tapi di balik semua kesempurnaan itu, ada kekosongan yang Zahra sendiri tidak sadari. Atau mungkin, ia memilih untuk tidak menyadarinya. Kepercayaan dirinya yang berlebihan adalah topeng untuk menutupi insecurity yang mengakar sejak kecil perasaan bahwa ia harus selalu menjadi yang terbaik untuk mendapat perhatian orangtuanya yang sibuk.
Cintia mengamati Zahra dengan seksama. Dalam hati, ia merasa kesal. Selalu Zahra. Selalu tentang Zahra. Di setiap pesta, di setiap acara kampus, di setiap kesempatan, Zahra yang jadi pusat perhatian. Cintia lelah menjadi nomor dua.
"Okay, okay, Queen Zahra," Cintia menggulung matanya, lalu tiba tiba menyeringai. Sebuah ide terlintas di benaknya ide yang muncul begitu saja, didorong oleh rasa iri yang sudah lama ia pendam. "Karena kita udah bosen, gimana kalau main sesuatu?"
"Main apa?" Bunga langsung tertarik.
"Truth or dare."
Zahra mengernyit. "Apaan sih? Kayak anak SMP aja."
"Justru karena kita udah mahasiswa, mainnya harus lebih ekstrem dong," Cintia mengedipkan sebelah matanya. "Ayolah, kapan lagi? Lagian, lo takut?"
Kata "takut" adalah tombol yang tepat untuk memancing Zahra. Ia tidak pernah mau dianggap lemah atau pengecut oleh siapa pun. Ego nya terlalu besar untuk itu.
"Fine," Zahra menegakkan tubuhnya. "Tapi jangan yang aneh aneh."
"Kita liat nanti," Cintia tersenyum penuh arti.
Bunga menatap kedua sahabatnya bergantian dengan perasaan sedikit tidak enak. Ada sesuatu dalam senyum Cintia yang membuatnya waspada. Tapi ia memilih diam, tidak ingin merusak suasana.
Mereka duduk melingkar di karpet, dengan botol wine kosong di tengah sebagai penunjuk. Cintia memutar botol pertama, dan ujungnya berhenti di Bunga.
"Truth or dare?" Cintia bertanya.
"Truth!" Bunga menjawab cepat.
"Aman banget lo," Zahra mencibir.
"Biarin. Gue nggak mau kena dare aneh aneh. Lo pada tuh suka yang ekstrem ekstrem."
Cintia berpikir sejenak, jarinya mengetuk ngetuk dagu. "Okay. Jujur, dari semua cowok yang pernah nembak Zahra, ada nggak yang menurut lo lebih cocok sama lo?"
Bunga mengerjap, lalu tertawa gugup. "Gila! Nggak lah! Tipe cowok yang naksir Zahra tuh bukan tipe gue. Mereka terlalu... gimana ya... flashy? Gue lebih suka yang kalem dan sederhana."
"Beneran?" Zahra mengangkat alis.
"Seratus persen! Lo pikir gue mau rebutan sama lo? Nggak worth it, beb."
Mereka tertawa. Suasana terasa ringan untuk sesaat.
Putaran berikutnya jatuh ke Cintia sendiri. Ia memilih truth.
"Gue yang nanya!" Bunga bersemangat. "Hmm... dari skala 1 10, seberapa iri lo sama Zahra?"
Pertanyaan itu membuat Cintia terdiam sejenak. Terlalu lama. Bunga yang polos tidak menyadari, tapi ada sesuatu yang berkedip di mata Cintia sebelum ia tersenyum manis.
"Tiga. Zahra emang keren, tapi gue juga punya kelebihan sendiri kan?" jawabnya dengan suara ringan yang terlatih.
Bohong. Angka yang sebenarnya jauh lebih tinggi. Tapi Cintia pandai menyembunyikan perasaannya di balik senyum manis yang sudah ia sempurnakan bertahun tahun.
Kemudian, putaran ketiga.
Botol itu berputar... berputar... dan berhenti tepat di hadapan Zahra.
"Truth or dare?" Cintia bertanya, suaranya terdengar kasual, tapi matanya berbinar dengan antisipasi.
Zahra memikirkan pilihan. Kalau ia memilih truth, mereka pasti akan bertanya yang memalukan. Mungkin tentang cowok yang pernah ia tiduri, atau rahasia keluarganya yang tidak sempurna seperti yang ia tampilkan. Tidak, terima kasih. Zahra tidak mau membuka aib di depan siapa pun.
"Dare," ia menjawab dengan percaya diri.
Kesalahan fatal.
Cintia menyeringai. Dalam hitungan detik, otaknya yang perhitungan sudah bekerja. Ini kesempatan sempurna untuk melihat Zahra jatuh dari singgasananya. Untuk melihat "Ratu Kampus" melakukan sesuatu yang memalukan.
"Dare ya..." Cintia mengetuk ngetuk dagunya dengan jari telunjuk, berpura pura berpikir. Matanya menyapu ruangan seolah mencari inspirasi. Lalu ia teringat seseorang yang sering ia lihat di kantin sosok yang paling tidak mungkin untuk didekati oleh orang seperti Zahra. "Hmm, gue mau lo..."
"Apa? Cepetan," Zahra tidak sabar.
"Lo inget cowok yang sering duduk di pojokan kantin? Yang jalannya pakai tongkat, agak pincang gitu? Bicaranya juga agak nggak jelas?"
Zahra mengernyit, berusaha mengingat. Kantin kampus selalu ramai, dan ia tidak pernah benar benar memperhatikan orang orang di sekitarnya kecuali mereka cukup menarik untuk masuk radar perhatiannya. Tapi kemudian ia teringat. Pernah beberapa kali ia melihat sosok itu dari kejauhan. Seorang pemuda yang berjalan dengan bantuan tongkat, langkahnya tidak seimbang. Penampilannya culun dengan kacamata dan baju baju sederhana. Biasanya ia duduk di pojok kantin, jauh dari keramaian.
"Oh, yang culun banget itu? Yang kayak nggak pernah ganti baju? Terus kenapa?" Zahra bertanya dengan nada merendahkan.
"Dare lo adalah..." Cintia menjeda dengan dramatis, menikmati ekspresi bingung di wajah Zahra, "mendekati dia dan pacaran sama dia."
Hening.
Bunga langsung ternganga. "Tia, lo serius?!"
"Sangat serius."
Zahra menatap Cintia dengan tatapan tidak percaya, menunggu sahabatnya itu tertawa dan bilang bahwa ini hanya bercanda. Tapi tawa itu tidak datang. Yang ada hanya seringai puas yang semakin lebar.
"Lo gila ya?!" Zahra akhirnya bereaksi, suaranya meninggi. "Itu tuh mustahil! Gue? Pacaran sama... sama orang kayak dia?! Lo mau gue jadi bahan tertawaan satu kampus?!"
"Makanya namanya juga dare, Zar," Cintia mengangkat bahu dengan santai. "Kalau gampang, bukan tantangan namanya."
"Tapi ini kelewatan!" Zahra berdiri, wajahnya merah padam. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. "Dia itu... dia cacat, Tia! Jalannya aja pincang, ngomongnya nggak jelas. Mau ditaruh di mana muka gue kalau jalan sama dia?!"
Kata kata Zahra yang kasar membuat Bunga meringis. "Zar, jangan gitu juga ngomongnya..."
"Emang kenyataannya kayak gitu kan?!" Zahra memotong dengan tajam. "Gue nggak mau! Minta dare yang lain!"
"Nggak bisa," Cintia menggeleng, suaranya tetap tenang. "Aturannya, sekali dare dikasih, nggak boleh diganti. Lo sendiri yang setuju tadi. Atau..." ia menatap Zahra dengan tatapan menantang, "lo mau ngaku kalau lo pengecut? Ratu Universitas Bhayangkara takut sama dare kecil kayak gini?"
"Kecil?! Lo bilang ini kecil?!"
"Iya. Cuma pacaran doang, Zar. Bukan nikah. Dua bulan. Kalau dalam dua bulan lo berhasil jadian sama dia, lo menang. Kalau nggak..."
"Kalau nggak, apa?"
Cintia tersenyum licik. "Lo harus upload video di Instagram, minta maaf ke semua orang dan ngaku kalau lo cuma ratu palsu yang nggak berani keluar dari zona nyaman."
Bunga menarik lengan Zahra, wajahnya khawatir. "Zar, lo nggak harus nerima ini. Ini udah keterlaluan."
Tapi kata kata Bunga justru membuat Zahra semakin terpancing. Menolak dare berarti mengakui kekalahan. Berarti membiarkan Cintia menang. Dan Zahra tidak pernah membiarkan siapa pun menang melawannya.
"Dua bulan?" Zahra bertanya dengan suara dingin, matanya menatap tajam ke arah Cintia.
"Dua bulan. Lo harus jadian resmi sama dia. Bukan cuma PDKT, tapi official."
Zahra memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam dalam. Setiap sel dalam tubuhnya menolak dare ini. Membayangkan dirinya bersama pemuda cacat culun itu saja sudah membuatnya mual. Tapi membayangkan harus membuat video memalukan seperti yang Cintia minta lebih tidak bisa ia terima. Harga dirinya terlalu tinggi untuk itu.
"Fine," Zahra akhirnya berkata, suaranya pahit seperti menelan pil yang sangat besar. "Gue terima. Tapi setelah dua bulan dan gue berhasil, lo harus akui kalau gue emang ratu yang nggak ada tandingannya."
"Deal," Cintia mengulurkan tangannya.
Mereka berjabat tangan, dan Bunga hanya bisa menyaksikan dengan perasaan tidak enak. Ada sesuatu yang salah dengan semua ini. Dare ini terlalu kejam, terlalu spesifik. Dan cara Cintia tersenyum... Bunga tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa sahabatnya itu punya motif tersembunyi.
"Eh, tapi kita bahkan nggak tau nama cowok itu siapa," Bunga mencoba mencairkan suasana yang tegang.
"Gue pernah liat dia di kantin beberapa kali," Cintia menjawab ringan. "Kayaknya anak Teknik Informatika. Tingkat kita juga. Harusnya nggak susah buat cari tau namanya."
Zahra mendengus. "Gue bahkan nggak pernah merhatiin dia sebelumnya. Orang orang kayak dia tuh invisible buat gue."
"Nah, makanya ini tantangan kan?" Cintia tersenyum. "Selamat berburu, Queen Zahra."
Malam itu berakhir dengan suasana yang canggung. Bunga pamit duluan dengan alasan ada tugas kelompok yang harus diselesaikan, meninggalkan Zahra dan Cintia yang sama sama terjebak dalam pikiran masing masing.
Di perjalanan pulang dengan mobil Mercedes nya, Zahra tidak bisa berhenti memikirkan dare sialan itu. Tangannya mencengkeram setir dengan kuat hingga buku buku jarinya memutih. Jalanan kota di malam hari terlihat gemerlap, tapi Zahra tidak menikmatinya seperti biasa.
Cowok cacat.
Pincang.
Ngomong nggak jelas.
Setiap kata yang ia ucapkan tadi terngiang kembali di kepalanya. Bukan dengan penyesalan Zahra tidak merasa bersalah dengan kata katanya. Menurutnya, ia hanya menyatakan kenyataan. Orang orang seperti "dia" memang tidak sejajar dengan orang orang seperti Zahra. Itu fakta.
Tapi tetap saja, memikirkan harus mendekati dan berpacaran dengan orang seperti itu membuat perutnya mual.
Saat lampu merah, Zahra meraih ponselnya. Ia membuka Instagram dan mengetik berbagai kombinasi kata kunci di kolom pencarian. "Teknik Informatika Bhayangkara", "mahasiswa TI Bhayangkara" mencoba mencari petunjuk siapa cowok yang dimaksud Cintia.
Setelah beberapa menit scrolling, ia menyerah. Terlalu banyak akun yang harus ditelusuri, dan ia tidak punya nama untuk dicari.
"Besok aja," gumamnya pada diri sendiri. "Gue harus liat orangnya dulu."
Lampu berubah hijau, dan Zahra kembali fokus menyetir. Tapi pikirannya tidak bisa tenang.
Dua bulan. Ia punya dua bulan untuk menaklukkan hati seseorang yang bahkan tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Seseorang yang keberadaannya selama ini tidak lebih dari bayangan samar di sudut kantin.
Ini akan menjadi dua bulan yang sangat panjang.
Keesokan harinya, Zahra melangkah memasuki gerbang kampus Universitas Bhayangkara dengan aura yang berbeda dari biasanya. Ia tetap tampil sempurna dress casual bermerek, tas Gucci, sepatu Valentino, makeup flawless tapi matanya tidak lagi fokus pada tatapan kagum yang mengikutinya. Hari ini, ia punya misi.
Langkahnya membawanya ke kantin kampus lebih awal dari biasanya. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi, waktu di mana kantin belum terlalu ramai. Zahra memilih meja yang strategis dekat dengan pintu masuk tapi tidak terlalu mencolok dan mulai mengamati.
Lima belas menit berlalu. Tiga puluh menit. Zahra sudah menghabiskan dua gelas es kopi dan kesabarannya mulai menipis.
"Lo ngapain sih dari tadi melirik ke pintu terus?" Bunga yang baru datang langsung menyadari keanehan sahabatnya.
"Nyari target," Zahra menjawab singkat.
Bunga menghela napas. "Zar, lo serius mau ngelakuin dare itu?"
"Lo pikir gue bakal mundur?" Zahra menatap Bunga dengan tajam. "Nggak akan. Gue bukan pengecut."
"Bukan soal pengecut atau nggak..." Bunga duduk di sebelah Zahra, suaranya pelan. "Gue cuma mikir, ini nggak adil buat cowok itu. Dia nggak tau apa apa, tiba tiba lo deketin. Kalau dia beneran suka sama lo, terus lo cuma main main... kasian dia, Zar."
"Kasian?" Zahra tertawa sinis. "Bun, dia harusnya berterima kasih. Orang kayak dia tuh nggak mungkin bisa dapetin cewek kayak gue dalam kondisi normal. Ini kesempatan sekali seumur hidup buat dia."
Bunga terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Kadang ia heran, bagaimana bisa ia bersahabat dengan orang seegois Zahra. Tapi di balik semua kesombongan itu, Bunga tahu ada sisi lain dari Zahra yang jarang diperlihatkan. Sisi yang rapuh dan kesepian. Mungkin itu yang membuat Bunga bertahan.
"Itu dia!"
Suara Zahra yang tiba tiba meninggi membuat Bunga tersentak. Ia mengikuti arah pandang Zahra dan melihatnya sosok yang menjadi target sahabatnya.
Seorang pemuda berjalan masuk ke kantin dengan langkah yang tidak seimbang. Tangan kanannya memegang tongkat alumunium yang membantunya berjalan, sementara tangan kirinya memegang beberapa buku tebal. Rambutnya hitam, dipotong rapi dan disisir ke samping. Kacamata berbingkai hitam bertengger di hidungnya. Ia mengenakan kemeja kotak kotak biru yang dimasukkan ke dalam celana jeans penampilan yang sangat sederhana, nyaris kuno.
Di belakangnya, dua orang pemuda berjalan dengan santai. Yang satu berpostur tinggi dengan rambut yang sedikit ikal dan senyum lebar yang sepertinya permanen di wajahnya tipe orang yang kelihatan selalu siap melontarkan lelucon. Yang satunya lagi lebih kalem, mengenakan baju koko dan peci, wajahnya teduh dengan aura yang tenang.
"Itu temen temennya?" Bunga bertanya.
"Kayaknya." Zahra mengamati dengan seksama. "Yang heboh itu siapa? Yang kayak nggak bisa diem?"
"Nggak tau. Tapi kayaknya mereka akrab banget."
Ketiga pemuda itu berjalan menuju meja di pojok kantin meja yang sama yang selalu mereka tempati. Yang memegang tongkat target Zahra duduk dengan hati hati, meletakkan tongkatnya bersandar di meja. Kedua temannya duduk di hadapannya, dan mereka langsung terlibat dalam percakapan yang kelihatannya seru.
Zahra memperhatikan cara target nya berbicara. Benar kata Cintia ada yang berbeda dengan cara ia mengartikulasikan kata kata. Tidak sepenuhnya jelas, seperti ada yang menghambat. Tapi kedua temannya sepertinya tidak kesulitan memahaminya. Mereka tertawa, berdebat, dan sesekali saling memukul bahu dengan akrab.
"Dia kayaknya nggak se menyedihkan yang gue pikir," Zahra bergumam, lebih pada diri sendiri.
"Menyedihkan?" Bunga mengernyit. "Zar, lo serius harus berhenti ngomong kayak gitu. Dia tuh punya disabilitas, bukan menyedihkan. Beda."
Zahra mengabaikan komentar Bunga. Matanya masih terfokus pada target nya. Dari jarak ini, ia bisa melihat bahwa wajah pemuda itu sebenarnya tidak jelek. Bahkan bisa dibilang... lumayan? Kalau saja ia tidak pincang dan bicaranya normal, mungkin ia bisa masuk kategori "acceptable" menurut standar Zahra.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu.
"Gue harus cari tau namanya," Zahra mengeluarkan ponselnya. "Dan semua tentang dia."
"Mau gue bantu?" Bunga menawarkan, meski dengan enggan.
"Nggak usah. Ini proyek pribadi gue."
Zahra membuka aplikasi media sosial kampus dan mulai mencari. Tidak butuh waktu lama ternyata pemuda itu cukup dikenal di kalangan mahasiswa Teknik Informatika. Beberapa postingan menyebutkan namanya dalam konteks kompetisi coding dan proyek proyek kampus.
Fahri Ramadhan.
"Fahri," Zahra mengucapkan nama itu pelan, mencobanya di lidah. "Fahri Ramadhan."
Ia melanjutkan pencarian dan menemukan akun Instagram nya. Followers nya tidak banyak hanya sekitar dua ratus. Postingannya didominasi oleh foto foto hasil fotografi: pemandangan kampus, sunset, bunga bunga, dan beberapa foto candid orang orang yang sepertinya teman temannya. Ada beberapa foto dirinya juga, tapi tidak banyak.
Zahra scroll lebih jauh dan menemukan beberapa informasi menarik. Fahri ternyata pernah menjuarai kompetisi coding tingkat nasional. IPK nya hampir sempurna. Ia juga aktif sebagai asisten laboratorium di fakultasnya.
"Pinter juga ternyata," Zahra bergumam.
Tapi kepintaran tidak cukup untuk mengubah fakta bahwa ia cacat dan culun. Setidaknya begitu pikir Zahra.
Dari sudut matanya, Zahra melihat Fahri berdiri dari mejanya. Ia mengambil tongkatnya dan mulai berjalan ke arah konter untuk memesan makanan. Langkahnya pelan dan hati hati, tubuhnya sedikit miring ke satu sisi untuk mengkompensasi kakinya yang tidak seimbang.
Ada momen ketika Fahri berjalan melewati meja Zahra. Tanpa sadar, mata mereka bertemu sekilas.
Dan untuk sepersekian detik, Zahra melihat sesuatu di mata Fahri yang membuatnya terpaku. Mata itu... teduh. Dalam. Tanpa pretensi. Seperti kolam air jernih yang bisa melihat langsung ke dasar.
Fahri mengangguk sopan gesture kecil yang mungkin ia berikan pada siapa saja yang tidak sengaja bertemu mata dengannya. Kemudian ia memalingkan wajah dan melanjutkan perjalanannya ke konter.
Zahra mengerjap, tersadar dari lamunannya.
Apa apaan tadi?
"Zar? Lo okay?" Bunga memperhatikan ekspresi aneh di wajah sahabatnya.
"Fine. Gue fine." Zahra menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran aneh yang sempat mampir. "Gue cuma... lagi mikir strategi."
"Strategi?"
"Iya. Gimana cara deketin dia tanpa kelihatan obvious."
Bunga menghela napas panjang. "Zar, gue serius nanya. Lo yakin mau ngelakuin ini? Masih ada waktu buat mundur."
"Mundur?" Zahra menatap Bunga dengan tatapan tajam. "Lo kenal gue udah berapa lama, Bun? Zahra Almeera Pratama nggak pernah mundur dari tantangan apa pun."
"Tapi ini bukan cuma tentang lo. Ada orang lain yang terlibat. Orang yang nggak tau apa apa."
"Dia bakal berterima kasih nanti," Zahra memotong dengan final. "Percaya sama gue."
Bunga ingin membantah, tapi ia tahu tidak ada gunanya. Ketika Zahra sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubah pikirannya.
Di seberang kantin, Fahri kembali ke mejanya dengan senampan makanan. Kedua temannya yang Zahra kemudian ketahui bernama Risky dan Andi langsung menyambutnya dengan candaan. Risky, yang heboh, langsung mencuri satu potong gorengan dari piring Fahri, membuat Fahri memprotes dengan suara yang tidak terlalu jelas tapi penuh ekspresi.
Andi, yang kalem, hanya menggeleng sambil tersenyum, lalu menyodorkan minumannya pada Fahri sebagai pengganti.
Mereka terlihat... bahagia. Sederhana, tapi bahagia.
Zahra mengalihkan pandangannya, tidak mau mengakui bahwa ada sedikit rasa iri yang muncul di dadanya. Kapan terakhir kali ia tertawa sebebas itu dengan teman temannya tanpa ada agenda tersembunyi?
Tidak. Ia tidak boleh berpikir seperti ini.
"Gue harus mulai dari mana ya?" Zahra bertanya pada diri sendiri.
"Mungkin... kenalan dulu?" Bunga menyarankan dengan ragu. "Kayak orang normal?"
"Orang normal nggak ujug ujug nyapa cowok yang nggak dikenal, Bun."
"Terus lo mau gimana?"
Zahra berpikir keras. Ia perlu alasan yang masuk akal untuk mendekati Fahri tanpa terlihat mencurigakan. Sesuatu yang natural. Sesuatu yang
"Tugas," Zahra tiba tiba tersenyum. "Gue bisa pura pura butuh bantuan tugas yang berhubungan sama IT."
"Lo kan anak Komunikasi. Emangnya ada tugas yang butuh bantuan anak IT?"
"Ada. Mata kuliah Teknologi Komunikasi Digital. Gue bisa pura pura nggak ngerti soal website atau coding atau apalah itu."
Bunga menatap Zahra dengan pandangan yang sulit diartikan. "Lo beneran udah mikirin semuanya ya."
"Tentu. Gue nggak mau gagal, Bun. Ini soal harga diri."
Ya, bagi Zahra, semua ini memang hanya soal harga diri. Tidak ada yang lain.
Setidaknya, untuk saat ini.
Sementara itu, di meja pojok kantin, Fahri Ramadhan tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengamatinya dengan intens sejak tadi. Ia terlalu sibuk tertawa bersama kedua sahabatnya untuk memperhatikan dunia di luar lingkaran kecilnya.
"Ri, serius deh, lo harus berhenti nyolong makanan gue," Fahri protes, suaranya sedikit tidak jelas tapi penuh ekspresi. "Tiap hari lo kayak gini terus."
"Hehehe, sori, sori," Risky nyengir lebar, sama sekali tidak terlihat menyesal. "Abis gorengan lo keliatan lebih enak dari punya gue."
"Padahal sama persis, dari warung yang sama," Andi menimpali dengan tenang, menyesap tehnya. "Lo tuh cuma mau ngerjain Fahri aja."
"Nggak kok! Gue tulus ini!"
"Tulus apanya," Fahri menggeleng gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia mengambil gorengan lain dan memakannya dengan nikmat.
Hidupnya memang sederhana. Tidak glamor, tidak penuh sorotan seperti mahasiswa populer lainnya. Tapi Fahri tidak pernah merasa kurang. Ia punya keluarga yang menyayanginya, sahabat sahabat yang tulus, dan passion yang membuatnya bangun setiap pagi dengan semangat.
Disabilitasnya? Fahri sudah berdamai dengan itu sejak lama. Ia lahir dengan cerebral palsy yang mempengaruhi koordinasi motoriknya, membuat kakinya pincang dan bicaranya tidak sejernih orang normal. Tapi itu tidak pernah menghalanginya untuk bermimpi dan berkarya.
"Eh, Ri, lo jadi ikut kompetisi hackathon bulan depan nggak?" Andi bertanya.
"Jadi dong! Kita bertiga kan udah daftar," Fahri menjawab bersemangat. "Gue udah ada ide buat aplikasinya."
"Wih, apaan tuh? Share dong!" Risky langsung tertarik.
"Nanti aja kalau udah lebih jelas. Sekarang masih konsep doang."
Pembicaraan mereka berlanjut ke berbagai topik dari tugas kuliah, game yang sedang mereka mainkan, sampai rencana weekend. Tidak ada yang tahu bahwa di suatu tempat di kantin yang sama, ada seseorang yang sedang menyusun rencana untuk memasuki kehidupan Fahri.
Rencana yang akan mengubah segalanya.
Untuk Fahri, hari ini hanyalah hari biasa.
Tapi untuk Zahra, ini adalah awal dari permainan berbahaya.
Permainan yang tidak ada yang tahu bagaimana akhirnya.