Sabtu sore.



Langit berwarna jingga keemasan, persis seperti hari itu hari ketika Fahri memberanikan diri menyatakan cinta pada gadis yang ia pikir tidak mungkin membalas perasaannya.



Taman kampus Universitas Bhayangkara terlihat sepi. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang, menikmati akhir pekan mereka. Hanya beberapa orang yang tersisa duduk di bangku-bangku, membaca buku, atau sekadar menikmati angin sore.



Di bangku di bawah pohon trembesi besar itu, Fahri Ramadhan duduk sendirian.



Tongkatnya bersandar di sisi bangku. Matanya menatap ke kejauhan, menerawang pada kenangan yang terasa seperti seumur hidup yang lalu.



Di bangku ini, beberapa bulan lalu, ia memberikan album foto pada Zahra. Di bangku ini, dengan tangan gemetar dan suara yang tidak jelas, ia menyatakan perasaannya. Di bangku ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa cukup berani untuk berharap.



Dan di bangku ini juga, harapan itu hancur berkeping-keping.



"Fahri."



Suara familiar itu membuatnya menoleh.



Zahra berdiri tidak jauh dari sana, wajahnya pucat tapi matanya penuh determinasi. Ia mengenakan pakaian sederhana jeans dan blouse putih, tanpa makeup berlebihan, tanpa aksesoris mahal. Berbeda sekali dari Zahra yang dulu ia kenal.



Di tangan Zahra, ada sebuah buku kecil bersampul biru tua.



"Boleh gue duduk?" Zahra bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.



Fahri tidak menjawab, tapi ia juga tidak menolak. Ia hanya menggeser sedikit, memberi ruang.



Zahra duduk di sebelahnya di tempat yang sama di mana ia duduk ketika menerima pernyataan cinta Fahri dulu. Ironis bagaimana sekarang posisi mereka terbalik.



Hening menyelimuti mereka. Angin sore bertiup lembut, menggoyangkan daun-daun trembesi di atas kepala mereka.



"Gue..." Zahra memulai, lalu berhenti. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. "Gue tau lo mungkin nggak mau denger apa pun dari gue. Dan gue ngerti. Tapi... tolong, sekali ini aja, dengerin gue sampai selesai."



Fahri menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Tapi ia tidak pergi. Ia tidak menolak.



Zahra menganggap itu sebagai izin.



"Beberapa bulan lalu," Zahra memulai, suaranya pelan tapi jelas, "gue dateng ke kampus ini dengan satu tujuan: menaklukkan lo. Bukan karena gue suka sama lo. Bukan karena gue penasaran sama lo. Tapi karena sebuah dare bodoh."



Ia menatap langit yang mulai berubah warna.



"Waktu itu, gue liat lo cuma sebagai target. Cowok cacat yang bisa gue manfaatin untuk menang taruhan. Gue nggak pernah mikir tentang perasaan lo. Nggak pernah mikir bahwa lo juga manusia yang bisa sakit hati. Buat gue, lo cuma... objek."



Air mata mulai menggenang di mata Zahra, tapi ia tidak menghapusnya.



"Gue nyapa lo di perpustakaan dengan senyum palsu. Gue minta tolong tugas dengan niat tersembunyi. Gue pura-pura tertarik sama hobi lo padahal dalam hati gue bosan setengah mati. Setiap interaksi kita awalnya adalah kebohongan. Dan gue... gue nggak punya alasan untuk membela diri."



Fahri masih diam, tapi Zahra bisa melihat rahangnya mengeras.



"Tapi di tengah jalan," Zahra melanjutkan, suaranya semakin bergetar, "sesuatu berubah. Gue nggak tau kapan pastinya itu terjadi. Mungkin waktu lo dengan sabar ngajarin gue coding yang nggak gue pahami. Mungkin waktu lo jalan dari gedung TI sampai parkiran cuma buat nganterin gue dengan kaki lo yang pasti sakit. Mungkin waktu lo bikin rangkuman materi kuliah yang bukan bidang lo, cuma karena lo mau bantu gue."



Zahra menoleh menatap Fahri langsung.



"Atau mungkin waktu gue ketemu keluarga lo. Waktu Ibu Muslimah peluk gue dengan hangat kayak peluk anak sendiri. Waktu Kak Ita godain kita dengan canda yang bikin gue ketawa beneran bukan ketawa palsu kayak yang biasa gue lakuin. Waktu gue dengerin cerita perjuangan lo dari kecil, dan gue nyadar bahwa lo... lo bukan cuma 'cowok yang jalan pakai tongkat.' Lo adalah manusia yang luar biasa."



Air mata mengalir deras di pipi Zahra sekarang.



"Waktu lo kirim pesan itu pesan panjang tentang gimana sakitnya lo waktu gue nyebut lo 'temen' di depan teman-teman gue gue nangis semalaman. Bukan karena takut kehilangan lo. Tapi karena untuk pertama kalinya, gue ngerasain apa yang lo rasain. Gue ngerasain sakitnya jadi lo. Dan gue... gue malu banget sama diri gue sendiri."



Zahra mengusap air matanya dengan punggung tangan.



"Dari situ, semuanya berubah. Gue mulai beneran perhatiin lo. Beneran dengerin cerita lo. Beneran peduli sama lo. Dan tanpa gue sadari..." suaranya pecah, "...gue jatuh cinta. Beneran jatuh cinta."



Fahri mengalihkan pandangannya, rahangnya semakin tegang. Tapi Zahra bisa melihat matanya yang berkaca-kaca.



"Waktu lo putusin gue," Zahra melanjutkan, "dunia gue hancur. Bukan karena gengsi. Bukan karena malu. Tapi karena gue kehilangan orang yang gue cintai. Orang yang udah ngajarin gue arti ketulusan. Orang yang bikin gue pengen jadi manusia yang lebih baik."



Zahra mengambil buku kecil bersampul biru tua yang dari tadi ia pegang.



"Gue nulis ini buat lo," ia menyerahkan buku itu pada Fahri. "Ini bukan surat cinta. Bukan puisi romantis. Ini adalah... jurnal. Catatan perjalanan gue dari awal sampai sekarang. Dari hari pertama gue deketin lo karena dare, sampai hari ini hari di mana gue berdiri di depan lo dengan hati yang tulus."



Fahri menatap buku itu tanpa mengambilnya.



"Di dalamnya, gue tulis semuanya. Pikiran gue yang jelek waktu awal-awal. Gimana gue mulai berubah. Kapan gue sadar gue jatuh cinta. Apa yang gue rasain waktu lo putusin gue. Semuanya jujur. Tanpa diedit. Tanpa dipermanis. Gue mau lo tau siapa gue sebenarnya yang dulu, dan yang sekarang."



Zahra meletakkan buku itu di pangkuan Fahri.



"Fahri," ia menatap pemuda itu dengan mata yang penuh emosi, "gue nggak minta lo untuk maafin gue. Gue nggak minta lo untuk terima gue kembali. Gue tau apa yang gue lakuin itu nggak bisa dimaafin dengan mudah. Gue tau kepercayaan yang hancur butuh waktu lama untuk dibangun lagi."



"Tapi gue mau lo tau satu hal," Zahra menarik napas dalam-dalam, "gue mencintaimu. Bukan karena dare. Bukan karena terpaksa. Bukan karena kasihan. Tapi karena pilihan hatiku sendiri."



Ia berdiri, bersiap untuk pergi.



"Kalau lo nggak bisa maafin gue, gue ngerti. Gue akan menghargai keputusan lo, apapun itu. Tapi kalau suatu hari nanti lo mau kasih gue kesempatan kedua..." suaranya tercekat, "...gue janji, dengan seluruh hatiku, gue nggak akan nyakitin lo lagi. Gue janji gue akan jadi orang yang pantas untuk cinta lo."



Zahra menghapus air matanya untuk terakhir kalinya.



"Makasih, Fahri. Makasih udah ngajarin gue arti cinta yang sesungguhnya. Makasih udah bikin gue jadi manusia yang lebih baik. Dan makasih... makasih udah pernah mencintai gue, meski gue nggak pantas."



Dengan itu, Zahra berbalik dan mulai berjalan pergi.



Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.



"Zahra."



Suara Fahri yang sedikit tidak jelas tapi penuh emosi membuatnya berhenti.



"Tunggu."



Zahra berbalik perlahan. Fahri sudah berdiri, buku biru itu ada di tangannya. Wajahnya basah oleh air mata yang tidak ia sembunyikan.



"Gue..." Fahri menelan ludah, berusaha mengendalikan suaranya yang bergetar. "Gue baca surat lo di mading. Gue denger lo ngomong di depan kelas gue. Gue nonton video yang lo bikin berulang kali, sampai gue hafal setiap kata."



Ia mengambil langkah ke depan, tongkatnya berdetak di tanah.



"Gue liat semua usaha lo. Gue liat gimana lo ngorbanin gengsi lo, reputasi lo, semuanya cuma demi gue. Gue liat gimana lo berubah dari Zahra yang dulu gue kenal."



Fahri berhenti tepat di depan Zahra.



"Tapi gue takut, Zahra. Gue takut untuk percaya lagi. Karena terakhir kali gue percaya sama lo, gue hampir nggak bisa bangkit."



"Gue ngerti " Zahra memulai.



"Tapi," Fahri memotong, menatapnya langsung, "ada satu hal yang nggak bisa gue bohongin."



"Apa?"



"Gue masih cinta sama lo."



Kata-kata itu membuat Zahra tersentak.



"Dari dulu sampai sekarang," Fahri melanjutkan, suaranya bergetar, "perasaan gue ke lo nggak pernah berubah. Meski gue marah. Meski gue kecewa. Meski gue sakit hati. Gue tetep cinta sama lo."



Air mata mengalir di pipi keduanya sekarang.



"Gue nggak tau apakah ini keputusan yang bener," Fahri mengakui. "Gue nggak tau apakah gue bakal nyesel. Tapi gue tau satu hal kalau gue nggak kasih lo kesempatan kedua, gue akan menyesal seumur hidup."



"Fahri..."



"Zahra Almeera Pratama," Fahri menarik napas dalam-dalam, "apakah lo mau... mulai dari awal lagi? Bukan sebagai dare. Bukan sebagai kebohongan. Tapi sebagai dua orang yang belajar untuk saling percaya lagi?"



Zahra tidak menjawab dengan kata-kata.



Ia menghambur ke pelukan Fahri, melingkarkan tangannya di leher pemuda itu, menangis tersedu-sedu di bahunya.



"Iya," ia berbisik di antara isakan. "Iya, Fahri. Iya."



Fahri balas memeluknya dengan erat erat sekali, seolah takut Zahra akan menghilang jika ia melepaskannya.



Mereka berdiri di sana, berpelukan di bawah pohon trembesi, dengan langit sore sebagai saksi.



Dua orang yang patah hati, perlahan mulai menyembuhkan satu sama lain.



Dua orang yang tersesat, akhirnya menemukan jalan pulang.



Dua orang yang jatuh cinta kali ini dengan cara yang benar.



Dari kejauhan, di balik pohon besar di sisi lain taman, enam pasang mata menyaksikan pemandangan itu.



"Yes!" Risky berbisik dengan antusias, mengepalkan tangannya. "Mereka balikan!"



"Shh!" Andi menyikutnya. "Jangan keras-keras!"



"Akhirnya," Bunga tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Akhirnya sahabat gue bahagia."



"Mas Fahri juga keliatan bahagia," Fauzan berkomentar. "Gue bisa denger dari suaranya tadi ada kehangatan yang udah lama hilang."



"Cieee, romantis banget," Rasya menggoda meski ia sendiri tidak bisa melihat. "Gue jadi pengen punya pacar juga."



"Lo mah mikirin pacar terus," Sukri tertawa kecil.



Mereka berlima berdiri di sana, menyaksikan dua orang yang mereka sayangi akhirnya menemukan kebahagiaan kembali.



Dan untuk sesaat, dunia terasa sempurna.



SATU TAHUN KEMUDIAN



Aula Universitas Bhayangkara dipenuhi oleh ratusan mahasiswa.



Di panggung, seorang gadis cantik dengan rambut yang diikat rapi berdiri di belakang podium. Ia mengenakan blazer formal berwarna biru tua warna yang kini menjadi favoritnya.



"...dan itulah mengapa organisasi 'Inklusif Bhayangkara' didirikan," Zahra Almeera Pratama berbicara dengan penuh percaya diri. "Untuk menciptakan kampus yang ramah bagi semua mahasiswa, termasuk mereka yang memiliki disabilitas. Karena keterbatasan fisik bukan penghalang untuk bermimpi dan berkarya."



Tepuk tangan memenuhi aula.



Zahra tersenyum senyum yang berbeda dari senyum yang dulu ia miliki. Lebih hangat. Lebih tulus. Lebih rendah hati.



Di barisan depan, Fahri Ramadhan duduk dengan bangga, matanya tidak lepas dari gadis yang sedang berbicara di panggung. Di sebelahnya, Risky dan Andi bertepuk tangan dengan antusias.



"Pacar lo keren banget, Fah," Risky berbisik.



"Gue tau," Fahri tersenyum. "Gue beruntung banget."



Setelah acara selesai, Zahra turun dari panggung dan langsung menghampiri Fahri.



"Gimana? Tadi oke nggak?" ia bertanya dengan sedikit cemas.



"Lebih dari oke," Fahri meraih tangannya, menggenggamnya dengan lembut. "Lo luar biasa, sayang."



Zahra tersenyum malu sesuatu yang dulu tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.



Satu tahun sudah berlalu sejak pertemuan di taman kampus itu. Satu tahun yang penuh dengan perjuangan untuk membangun kembali kepercayaan. Satu tahun yang mengubah keduanya menjadi versi terbaik dari diri mereka.



Zahra bukan lagi ratu kampus yang sombong dan angkuh. Ia sekarang adalah ketua organisasi "Inklusif Bhayangkara" organisasi yang ia dirikan bersama Fahri untuk memperjuangkan hak-hak mahasiswa disabilitas. Ia menghabiskan waktu luangnya untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, mengunjungi SLB-SLB di kota, dan menjadi advokat bagi mereka yang suaranya jarang didengar.



Fahri juga berubah. Ia lebih percaya diri sekarang. Lebih berani berbicara di depan orang banyak. Lebih yakin bahwa ia pantas dicintai dan dihargai. Aplikasi yang ia kembangkan untuk membantu penyandang disabilitas belajar coding sudah diluncurkan dan diunduh ribuan kali.



Mereka tumbuh bersama. Belajar bersama. Jatuh bangun bersama.



Dan cinta mereka semakin dalam setiap harinya.



"Eh, nanti malam jadi kan ke rumah lo?" Bunga bertanya saat mereka berjalan keluar dari aula.



"Jadi dong! Ibu udah masak banyak," Fahri menjawab dengan semangat. "Kak Ita juga udah nyiapin bahan-bahan buat bakar-bakaran."



"Fauzan, Rasya, sama Sukri juga dateng kan?" Zahra memastikan.



"Pasti! Fauzan bilang mau bawa gitar baru."



"Wah, siap-siap dengerin konser mini nih," Risky tertawa.



Mereka berjalan bersama menuju parkiran Zahra, Fahri, Bunga, Risky, dan Andi. Lima orang yang dulu bermusuhan karena satu kebohongan, sekarang menjadi sahabat yang tidak terpisahkan.



Di perjalanan, Zahra melirik ke belakang dan melihat sosok yang familiar berdiri sendirian di dekat gedung fakultas.



Cintia.



Gadis itu menatap mereka dari kejauhan dengan ekspresi yang sulit dibaca campuran antara penyesalan, kesedihan, dan sesuatu yang mungkin kecemburuan.



Sudah satu tahun sejak konfrontasi mereka. Cintia tidak pernah meminta maaf, dan Zahra tidak pernah memaafkan setidaknya tidak secara verbal. Tapi seiring waktu, kemarahan Zahra perlahan memudar, digantikan oleh sesuatu yang lebih mirip kasihan.



Cintia kehilangan segalanya karena kecemburuannya. Persahabatannya dengan Zahra. Persahabatannya dengan Bunga. Reputasinya di kampus ketika kebenaran tentang siapa yang menyebarkan rumor itu akhirnya terungkap. Dan tentu saja, harapannya untuk bersama Fahri.



Sekarang, Cintia berdiri sendirian terasing, kesepian, menyaksikan kebahagiaan yang tidak bisa ia miliki.



Zahra ingin merasa puas melihat itu. Ingin merasa bahwa Cintia pantas mendapatkannya.



Tapi ia tidak bisa.



Yang ia rasakan hanyalah kesedihan untuk seseorang yang tidak bisa melepaskan racun dalam hatinya sendiri.



"Lo oke?" Fahri bertanya, menyadari tatapan Zahra.



Zahra mengalihkan pandangannya dan tersenyum pada Fahri. "Oke. Ayo jalan."



Mereka melanjutkan perjalanan, meninggalkan masa lalu di belakang.



Malam itu, rumah keluarga Fahri dipenuhi oleh tawa dan kehangatan.



Di halaman belakang, Fauzan memetik gitarnya sambil menyanyikan lagu-lagu ceria. Rasya berdebat dengan Risky tentang film terbaru perdebatan yang tidak ada habisnya dan tidak ada pemenangnya. Sukri dan Andi mengobrol dengan tenang di sudut, membicarakan hal-hal yang lebih serius.



Kak Ita sibuk bolak-balik antara dapur dan halaman, membawa makanan dan minuman sambil mengomel tentang betapa repotnya menyiapkan acara dadakan seperti ini tapi semua orang tahu ia menikmati setiap detiknya.



Ibu Muslimah duduk di kursi kesayangannya, tersenyum melihat rumahnya yang biasanya sepi kini dipenuhi oleh anak-anak muda yang ceria.



Dan di tengah semua keramaian itu, Zahra dan Fahri duduk bersebelahan di bangku taman kecil yang menghadap langit malam.



"Lo tau nggak," Fahri memulai, matanya menatap bintang-bintang, "kalau setahun lalu ada yang bilang hidup gue bakal kayak gini, gue nggak akan percaya."



"Kayak gimana?"



"Bahagia. Dikelilingi orang-orang yang sayang sama gue. Punya pacar yang... yang luar biasa."



Zahra tertawa kecil. "Lo masih bisa bilang gue luar biasa setelah semua yang gue lakuin?"



"Justru karena semua yang lo lakuin," Fahri menatapnya dengan mata yang penuh cinta. "Lo berubah, Zahra. Lo bukan lagi orang yang sama dengan yang deketin gue karena dare setahun lalu. Lo sekarang adalah... versi terbaik dari diri lo."



"Itu semua karena lo," Zahra berbisik. "Lo yang ngajarin gue gimana caranya jadi manusia yang lebih baik."



Fahri menggeleng. "Nggak. Lo yang memilih untuk berubah. Gue cuma... kebetulan ada di sana waktu lo butuh alasan untuk berubah."



Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan yang nyaman.



"Fahri," Zahra memulai lagi.



"Hm?"



"Lo inget nggak, waktu lo pertama kali nembak gue di taman kampus?"



"Gimana gue bisa lupa. Itu momen paling memalukan sekaligus paling berani dalam hidup gue."



Zahra tertawa. "Lo gemetar banget waktu itu. Dan suara lo makin nggak jelas karena nervous."



"Hey!" Fahri pura-pura tersinggung. "Lo nggak boleh ngatain gue!"



"Gue nggak ngatain. Gue cuma... mengenang." Zahra tersenyum lembut. "Lo tau, waktu itu gue terima lo karena dare. Tapi sekarang, kalau lo nembak gue lagi, gue bakal terima lo karena cinta."



Fahri menatapnya lama.



Kemudian, dengan gerakan yang pelan, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.



Sebuah kotak kecil berwarna biru tua.



Jantung Zahra berhenti sedetik.



"Fahri... itu..."



"Ini bukan cincin tunangan," Fahri buru-buru menjelaskan dengan wajah merah. "Kita masih kuliah. Gue belum punya penghasilan tetap. Gue nggak mau ngelamar lo dalam kondisi kayak gini."



Ia membuka kotak itu, dan di dalamnya ada sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran kecil.



"Ini cincin janji," Fahri melanjutkan. "Janji bahwa suatu hari nanti, ketika gue sudah punya penghasilan sendiri, ketika gue sudah bisa kasih lo hidup yang layak, gue akan melamar lo dengan bener. Dengan cincin yang lebih bagus. Di tempat yang lebih romantis."



Air mata menggenang di mata Zahra.



"Tapi untuk sekarang," Fahri meraih tangan Zahra, "gue cuma mau lo tau bahwa lo adalah orang yang ingin gue habiskan sisa hidup gue bareng. Apapun yang terjadi. Apapun tantangan yang kita hadapi. Gue mau menghadapi semuanya sama lo."



"Fahri..." suara Zahra tercekat.



"Zahra Almeera Pratama," Fahri menatapnya dengan mata yang penuh cinta, "maukah lo menerima janji ini? Janji bahwa suatu hari nanti, gue akan membuat lo jadi istri gue?"



Zahra tidak menjawab dengan kata-kata.



Ia mencium Fahri ciuman pertama mereka yang sesungguhnya.



Bukan ciuman yang dipaksakan. Bukan ciuman untuk kepalsuan.



Tapi ciuman yang datang dari hati yang tulus.



Ketika mereka melepaskan ciuman itu, keduanya tersenyum dengan air mata di pipi.



"Itu artinya iya kan?" Fahri bertanya dengan suara bergetar.



"Iya, sayang. Seribu kali iya."



Fahri memasangkan cincin itu di jari Zahra, dan mereka berpelukan di bawah langit malam yang bertabur bintang.



Dari dalam rumah, Bunga menyaksikan momen itu melalui jendela.



Air mata bahagia mengalir di pipinya.



"Mereka kayaknya udah jadian lagi deh," Kak Ita muncul di sebelahnya, ikut mengintip.



"Lebih dari itu, Kak. Liat jari Zahra."



Kak Ita memicingkan matanya, lalu tersentak. "ITU CINCIN?!"



"Shh! Jangan keras-keras!"



Tapi sudah terlambat. Risky dan Fauzan sudah mendengar.



"CINCIN?!" mereka berteriak bersamaan.



"FAHRI NGELAMAR ZAHRA?!" Rasya ikut heboh meski tidak bisa melihat.



Suasana langsung riuh. Semua orang berhamburan ke halaman belakang, mengucapkan selamat dan memeluk pasangan yang wajahnya merah padam karena malu.



"Aduh, kalian nggak bisa kasih privasi dikit apa?!" Fahri protes, tapi senyum di wajahnya tidak bisa disembunyikan.



"Privasi apaan! Ini momen bersejarah!" Kak Ita memeluk adiknya dengan erat. "Adek kecil gue udah mau nikah!"



"Belum nikah, Kak! Ini cuma cincin janji!"



"Sama aja! Tahap awal menuju pernikahan!" Kak Ita menoleh ke Zahra. "Zahra, selamat datang resmi di keluarga kami ya!"



Ibu Muslimah menghampiri mereka dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk Zahra dengan hangat.



"Makasih, Nak," Ibu Muslimah berbisik. "Makasih udah sayang sama Fahri. Makasih udah jadi bagian dari hidup kami."



"Ibu..." Zahra menangis di bahu wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu keduanya. "Harusnya gue yang makasih. Makasih udah terima gue meski gue pernah nyakitin Fahri."



"Yang penting sekarang," Ibu Muslimah tersenyum bijaksana. "Yang penting kalian bahagia."



Bunga menghampiri Zahra dan memeluknya erat.



"Gue seneng banget, Zar," Bunga berbisik. "Gue tau lo udah melalui banyak hal. Tapi lo berhasil. Lo dapetin happy ending lo."



"Bun," Zahra melepas pelukannya dan menatap sahabatnya serius. "Kalau gue beneran nikah nanti, lo harus jadi saksi gue. Janji?"



"Tentu!" Bunga tertawa. "Memangnya siapa lagi yang mau jadi saksi pernikahan lo selain gue?"



Mereka berpelukan lagi, dua sahabat yang sudah melalui badai bersama.



Malam itu berakhir dengan tawa, kehangatan, dan cinta.



Di halaman belakang rumah sederhana itu, di bawah langit yang bertabur bintang, sekelompok orang yang berbeda-beda dengan latar belakang berbeda, dengan kondisi berbeda, dengan masa lalu berbeda berkumpul sebagai satu keluarga besar.



Fahri merangkul Zahra, matanya menyapu semua orang yang ia sayangi.



Ibu yang selalu ada untuknya. Kakak yang meski menyebalkan tapi sangat peduli. Sahabat-sahabat SLB yang sudah menemaninya sejak remaja. Risky dan Andi yang setia di sampingnya sejak kuliah. Bunga yang menjadi jembatan antara dunianya dan dunia Zahra.



Dan tentu saja, Zahra gadis yang dulu mendekatinya karena dare, tapi sekarang mencintainya dengan sepenuh hati.



"Gue bahagia," Fahri berbisik.



"Gue juga," Zahra membalas.



Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Fahri tahu bahwa kebahagiaan ini nyata.



Bukan ilusi. Bukan kebohongan. Tapi kenyataan yang ia bangun bersama orang-orang yang ia cintai.



Beberapa minggu kemudian, Zahra menemukan jurnal lama di laci mejanya jurnal yang ia tulis selama proses pendekatan awal dengan Fahri.



Ia membukanya dan membaca entri pertama.



"Hari ini gue nyapa cowok cacat di perpustakaan. Dare paling menjijikkan yang pernah gue terima. Gue nggak sabar sampai semua ini selesai."



Zahra tersenyum membaca kata-kata itu kata-kata dari versi dirinya yang sudah tidak ada lagi.



Ia membalik ke halaman terakhir halaman yang baru ia tulis kemarin.



"Hari ini, Fahri memasangkan cincin janji di jariku. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu apa arti cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta yang sempurna. Bukan cinta yang tanpa kesalahan. Tapi cinta yang tumbuh dari tempat yang salah, tapi akhirnya menemukan jalannya yang benar."



"Dare to love berani untuk mencintai. Itulah yang kupelajari dari perjalanan ini. Mencintai bukan tentang menemukan orang yang sempurna. Tapi tentang berani menerima ketidaksempurnaan baik pada diri sendiri maupun orang lain."



"Dan Fahri mengajariku bahwa ketidaksempurnaan bukan kelemahan. Justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat kita manusia. Yang membuat kita unik. Yang membuat kita... layak untuk dicintai."



"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi satu hal yang aku tahu pasti aku akan menghabiskan sisa hidupku membuktikan bahwa cintaku pada Fahri adalah nyata. Setiap hari. Setiap saat. Sampai akhir hidupku."



"Karena dia pantas mendapatkan itu. Dan aku... aku akhirnya menjadi orang yang pantas memberikannya."



Zahra menutup jurnal itu dengan senyum.



Di luar jendela, matahari bersinar cerah.



Dan di jarinya, cincin perak sederhana berkilau simbol janji cinta yang tulus.



Cinta yang dimulai dari dare bodoh.



Tapi berakhir dengan kebahagiaan yang sesungguhnya.



DARE TO LOVE.