Azmi menyetir pulang setelah mengantar salsa dan Resa. Hatinya terasa berat, berharap akan menemukan Dellvina di rumah, tapi dia tidak ingin terlalu berharap.

Saat tiba di rumah, Azmi melihat rumahnya masih gelap. Dia menghela napas panjang.

Azmi (berbisik): "De- Dellvina... kapan kau akan pulang?"

Dia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba, dia melihat cahaya dari arah dapur. Jantungnya berdegup kencang.

Azmi (dalam hati): "A-apa mungkin..."

Dengan langkah pelan, Azmi menuju dapur. Dan di sanalah dia, Dellvina, sedang membuat minuman hangat.

Dellvina berbalik, tersenyum lembut: "Selamat datang, Mas. Sudah selesai jadi pahlawan untuk mantan-mantanmu?"

Azmi terpaku, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Air mata mulai menggenang di matanya.

Azmi: "A-adek..."

Tanpa pikir panjang, Azmi berlari dan memeluk Dellvina erat.

Azmi: "Adek! Ma-maafkan aku, De. Ma-maafkan aku. A-aku tidak bermaksud menyakitimu. Se-semuanya salah paham. A-aku..."

Dellvina membalas pelukan Azmi, air matanya juga mengalir.

Dellvina: "Sssh... Mas, aku yang harusnya minta maaf. Aku sudah salah paham. Aku pergi tanpa mendengar penjelasanmu."

Azmi melepas pelukannya, menatap Dellvina dengan mata berkaca-kaca: "Ta-tapi bagaimana... bagaimana kau bisa tahu?"

Dellvina tersenyum, menghapus air mata Azmi: "archa, Farizsa, dan yang lainnya. Mereka menjelaskan semuanya padaku."

Azmi: "Me-mereka melakukan itu?"

Dellvina mengangguk: "Iya, Mas. Mereka menceritakan semuanya. Tentang insiden di kantor, tentang kau membantu archa dan Rayanas..."

Azmi: "De- Dellvina... a-aku benar-benar minta maaf. A-aku tidak bermaksud membuatmu sedih."

Dellvina menggeleng: "Tidak, Mas. Akulah yang harus minta maaf. Aku pergi tanpa mendengarkanmu. Aku... aku terlalu cemburu dan takut kehilanganmu."

Azmi menggenggam tangan Dellvina: "A-aku tidak akan pernah meninggalkanmu, De. Ka-kamu segalanya bagiku."

Dellvina: "Aku tahu itu sekarang, Mas. Dan aku bangga padamu. Kau masih membantu orang lain meski kau sendiri sedang kesulitan."

Azmi tersenyum malu: "A-aku hanya ingin semua orang bahagia."

Dellvina: "Dan itulah yang membuatku semakin mencintaimu, Mas. Kebaikan hatimu."

Azmi: "Ja-jadi... kau sudah tahu tentang salsa dan Resa juga?"

Dellvina mengangguk: "Iya, Mas. archa menceritakan semuanya. Kau mempersatukan mereka kembali dengan suami mereka. Kau benar-benar luar biasa."

Azmi memeluk Dellvina lagi: "A-aku melakukan semua itu sambil terus memikirkanmu, De. A-aku sangat merindukanmu."

Dellvina: "Aku juga merindukanmu, Mas. Maafkan aku sudah pergi."

Azmi: "Yang penting sekarang kau sudah pulang. Ki-kita akan baik-baik saja kan, De?"

Dellvina mengangguk, tersenyum lebar: "Tentu saja, Mas. Kita akan hadapi semuanya bersama-sama mulai sekarang."

Azmi: "Te-terima kasih sudah kembali, De. A-aku berjanji akan selalu jujur padamu."

Dellvina: "Dan aku berjanji akan selalu percaya padamu, Mas. Kita belajar dari kesalahan ini."

Mereka berpelukan lagi, merasakan kehangatan dan cinta yang mengalir di antara mereka. Malam itu, di dapur rumah mereka, Azmi dan Dellvina menemukan kembali cinta dan kepercayaan yang sempat goyah. Mereka tahu, dengan komunikasi dan kepercayaan, tidak ada yang tidak bisa mereka hadapi bersama.

Azmi: "A-aku mencintaimu, Dellvina. Sangat mencintaimu."

Dellvina: "Aku juga mencintaimu, Mas Azmi. Selamanya."