Rencana dan Kerinduan
Bab 46 dari Novel Komplek Mantan
Farizsa: "Jadi begitulah, Cha. Kami butuh bantuanmu."
archa terkejut. "Astaga, aku tidak menyangka situasinya serumit ini."
rayzan: "Ya, dan sekarang Azmi dan Dellvina terpisah karena kesalahpahaman ini."
archa: "Tentu saja aku akan membantu. Apa yang harus kulakukan?"
Farizsa: "Kita berencana untuk bertemu Dellvina dan menjelaskan semuanya."
archa mengangguk. "Baik, aku siap. Kapan kita akan melakukannya?"
rayzan: "Mishel sedang mengatur pertemuan dengan Dellvina. Kita tinggal menunggu kabar darinya."
Di sebuah hotel, Dellvina duduk termenung di tepi tempat tidur. Pikirannya melayang pada Azmi.
Dellvina (monolog internal):
"Azmi... apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa kau merindukanku seperti aku merindukanmu? Aku ingin sekali mendengar suaramu, merasakan pelukanmu. Tapi... bagaimana jika semua yang kulihat itu benar? Aku takut, Azmi. Takut jika ternyata cintamu padaku tidak sekuat yang kukira. Tapi hatiku... hatiku masih sangat mencintaimu."
Mishel masuk ke kamar. "Del, bagaimana kalau kita ke kafe dekat sini nanti malam?"
Dellvina menggeleng lemah. "Aku sedang tidak ingin keluar, Rel."
Mishel: "Ayolah, Del. Kau butuh udara segar. Tidak baik terus-terusan mengurung diri."
Dellvina ragu-ragu. "Entahlah, Hel..."
Mishel: "Aku tidak menerima penolakan. Kita akan pergi, oke?"
Dellvina akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah..."
Sementara itu, di sebuah kafe, Azmi, Doni, dan Andi duduk bersama, tertawa mengingat masa lalu.
Andi: "Ingat tidak waktu kita pertama kali bertemu di kampus?"
Doni tertawa. "Ya! Azmi tersandung dan menumpahkan jus mangga ke sepatuku!"
Azmi tersenyum malu. "Ka-kalian masih ingat saja."
Mereka tertawa bersama. Setelah tawa mereda, Azmi mulai membahas topik serius.
Azmi: "Ja-jadi, bagaimana rencana kalian untuk bertemu Resa dan salsa?"
Doni menghela napas. "Aku masih ragu, Mi. Apa salsa mau menemuiku setelah apa yang kulakukan?"
Andi mengangguk setuju. "Aku juga takut Resa akan menolakku mentah-mentah."
Azmi: "Ka-kalian tidak akan tahu sebelum mencoba. Yang penting adalah kejujuran kalian."
Andi: "Kau benar, Mi. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan istrimu? Dellvina, kan?"
Azmi terdiam sejenak, ekspresinya berubah sedih.
Doni: "Ada apa, Mi? Apa terjadi sesuatu?"
Azmi berusaha tersenyum. "Ti-tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita pesan makanan lagi?"
Andi dan Doni saling pandang, menyadari ada yang tidak beres, tapi memutuskan untuk tidak memaksa Azmi bercerita.
Kembali ke hotel, Dellvina akhirnya bersiap-siap untuk pergi ke kafe bersama Mishel.
Dellvina (monolog internal):
"Azmi, andai kau di sini sekarang. Biasanya kau yang selalu menyemangatiku untuk keluar ketika aku sedang down. Aku rindu caramu membuatku tersenyum, caramu memahami setiap keraguanku. Apa yang harus kulakukan, Azmi? Haruskah aku kembali? Tapi bagaimana jika ternyata dugaanku benar? Aku takut, Azmi. Takut kehilanganmu, tapi juga takut tersakiti lagi."
Mishel: "Del, kau sudah siap?"
Dellvina mengangguk lemah. "Ya, Hel. Ayo kita pergi."
Mereka berdua keluar dari hotel, tanpa menyadari bahwa malam ini mungkin akan menjadi malam yang mengubah segalanya. Di berbagai sudut kota, rencana-rencana sedang disusun, dan takdir sedang memainkan kartunya. Akankah Dellvina dan Azmi akhirnya bisa bertemu dan menyelesaikan kesalahpahaman ini? Hanya waktu yang akan menjawabnya.