Setelah pertemuannya dengan Andi, Azmi memutuskan untuk pergi ke kantor polisi. Dia ingin bertemu dengan Doni, berharap bisa membantu kawan lamanya itu.

Saat memasuki kantor polisi, Azmi terkejut melihat sosok yang familiar.

Azmi: "Yu-yuko? Kau kah itu?"

Yuko menoleh, matanya melebar. "Azmi? Ya ampun, sudah lama sekali!"

Mereka berpelukan singkat.

Yuko: "Apa kabar, Mi? Sudah tiga tahun kita lost contact."

Azmi: "Ba-baik, Yuko. Kau sendiri? Ku-kulihat pangkatmu sudah tinggi sekarang."

Yuko tersenyum. "Ah, ini? Ya, baru saja naik pangkat. Kau sendiri sedang apa di sini?"

Azmi: "A-aku ingin bertemu Doni. Ka-kau tahu? Teman kita dulu."

Yuko mengangguk serius. "Ah, Doni. Ya, aku tahu kasusnya. Kau yakin ingin menemuinya?"

Azmi: "I-iya, Yuko. Bi-bisakah kau membantuku?"

Yuko: "Baiklah, ayo ikut aku."

Yuko mengantar Azmi ke ruang besuk. Tak lama, Doni dibawa masuk. Matanya melebar melihat Azmi.

Doni: "Azmi? Ini... ini benar kau?"

Azmi tersenyum lemah. "I-iya, Doni. Ini aku."

Doni duduk, masih tampak tidak percaya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Azmi: "A-aku dengar kabarmu dari Andi. A-aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Doni menghela napas panjang. "Ah, Azmi. Aku... aku terlibat kasus mafia tanah."

Azmi: "Bi-bisa kau ceritakan lebih detail?"

Doni: "Awalnya, aku hanya ingin cepat kaya. Ada tawaran investasi tanah yang menjanjikan. Tapi ternyata... itu semua penipuan. Aku terlibat terlalu dalam, dan ketika sadar, sudah terlambat."

Azmi: "La-lalu salsa? Dia tahu?"

Doni menggeleng. "Tidak. Aku berbohong padanya. Bilang aku selingkuh agar dia mau bercerai. Aku... aku tidak ingin dia terlibat dalam kekacauan ini."

Azmi: "Do-doni... itu keputusan yang salah."

Doni tertawa getir. "Aku tahu, Mi. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku di sini sekarang, dan salsa... dia lebih baik tanpaku."

Azmi: "A-apa kau masih mencintainya?"

Doni terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ya, Mi. Aku masih mencintainya. Tapi... aku terlalu malu untuk menghadapinya sekarang."

Azmi: "Do-doni, dengarkan aku. A-aku bisa membantumu."

Doni menatap Azmi tidak percaya. "Membantu? Bagaimana?"

Azmi: "A-aku punya kenalan pengacara. Ki-kita bisa mencoba meringankan hukumanmu. Ta-tapi kau harus berjanji untuk berubah."

Doni: "Azmi... kenapa? Kenapa kau mau membantuku setelah semua yang kulakukan padamu dulu?"

Azmi tersenyum lembut. "Ka-karena kita semua berhak mendapat kesempatan kedua, Doni."

Air mata mulai menggenang di mata Doni. "Azmi... aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih. Dan... maafkan aku atas semua kesalahanku di masa lalu."

Azmi: "Su-sudahlah, Doni. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita memperbaiki semuanya."

Doni mengangguk tegas. "Aku berjanji, Azmi. Aku akan berubah. Aku akan memperbaiki semuanya."

Azmi: "Ba-bagus. Sekarang, ki-kita pikirkan bagaimana caranya kau bisa bertemu salsa lagi dan menjelaskan semuanya."

Doni: "Tapi... apa salsa akan mau menemuiku?"

Azmi: "Ki-kita tidak akan tahu sebelum mencoba, Doni. Ya-yang penting adalah kejujuranmu."

Mereka melanjutkan pembicaraan, merencanakan langkah-langkah untuk membantu Doni. Azmi, meski dengan masalahnya sendiri, merasa ada sedikit ketenangan dalam membantu orang lain. Dia berharap, dengan membantu teman-teman lamanya, mungkin dia juga akan menemukan jalan untuk memperbaiki hubungannya dengan Dellvina.

Saat waktu besuk habis, Azmi berpamitan pada Doni.

Doni: "Azmi, sekali lagi terima kasih. Kau... kau benar-benar orang baik."

Azmi tersenyum. "Ki-kita semua bisa menjadi orang baik, Doni. Ha-hanya perlu kesempatan."

Mereka berpelukan sebelum Doni dibawa kembali ke selnya. Azmi keluar dari kantor polisi dengan perasaan campur aduk, tapi ada secercah harapan di hatinya. Mungkin, dengan membantu orang lain menemukan kebahagiaan, dia juga akan menemukan jalannya sendiri kembali pada Dellvina.