Azmi merasa suntuk setelah berjam-jam di rumah. Dia memutuskan untuk keluar dan berkeliling kota Bandung dengan mobilnya. Saat melintasi salah satu jalan, matanya menangkap sosok yang familiar.

Azmi (bergumam): "A-apa itu... Andi?"

Dia melihat Andi, mantan saingannya yang dulu merebut Resa, kini menjadi pengamen di pinggir jalan. Azmi menepikan mobilnya dan menghampiri Andi.

Azmi: "A-andi? Itu kau?"

Andi terkejut melihat Azmi, spontan mencoba kabur.

Azmi: "Tu-tunggu, Andi! A-aku hanya ingin bicara."

Azmi berhasil menahan Andi.

Andi: "Azmi... apa yang kau lakukan di sini?"

Azmi: "A-aku yang harusnya bertanya. A-apa yang terjadi padamu?"

Andi menunduk malu. "Ini... bukan urusanmu, Azmi."

Azmi: "A-ayolah, Andi. Ba-bagaimana kalau kita bicara sambil makan siang? A-aku yang traktir."

Andi ragu-ragu, tapi akhirnya mengangguk.

Di warung pinggir jalan, mereka duduk berhadapan.

Azmi: "Je-jadi... bisa ceritakan apa yang terjadi?"

Andi menghela napas. "Aku... aku bangkrut, Azmi. Tertipu rekan bisnis. Semua yang kumiliki hilang."

Azmi: "La-lalu Resa? Di-dia tidak tahu?"

Andi menggeleng. "Aku berbohong padanya. Bilang aku selingkuh agar dia mau cerai. Aku... aku ingin dia mendapatkan yang lebih baik."

Azmi terdiam sejenak. "A-andi... itu keputusan yang bodoh."

Andi tertawa getir. "Aku tahu. Tapi apa yang bisa kulakukan? Lihat aku sekarang."

Azmi: "Ka-kau bisa memperbaiki semuanya. Be-berbohong bukan solusi."

Andi: "Bagaimana caranya, Azmi? Aku bahkan tidak punya apa-apa lagi."

Azmi: "Ka-kau masih punya kejujuran, Andi. Ce-ceritakan yang sebenarnya pada Resa. Mu-mungkin dia akan mengerti."

Andi: "Tapi... pekerjaanku sekarang..."

Azmi: "A-aku akan membantumu, Andi. Ji-jika kau benar-benar ingin berubah."

Andi menatap Azmi tidak percaya. "Kau... mau membantuku? Setelah semua yang kulakukan padamu dulu?"

Azmi tersenyum. "Ki-kita semua berhak mendapat kesempatan kedua, Andi."

Andi: "Azmi... aku tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih."

Azmi: "Ja-jangan berterima kasih dulu. Ka-kau harus berjanji untuk berusaha."

Andi mengangguk tegas. "Aku berjanji, Azmi. Aku akan memperbaiki semuanya."

Azmi: "Ba-bagus. Oh iya, Andi... ka-kau tahu kabar Doni?"

Andi: "Doni? Mantan suami salsa?"

Azmi mengangguk.

Andi: "Ah, dia... dia di penjara sekarang, Azmi."

Azmi terkejut. "Pe-penjara? Ke-kenapa?"

Andi: "Kasus mafia tanah. Dia terlibat dalam penipuan besar-besaran."

Azmi menggelengkan kepala. "A-astaga... aku tidak menyangka."

Andi: "Ya, hidup memang penuh kejutan. Lihat saja kita berdua sekarang."

Azmi tersenyum kecil. "yang penting sekarang adalah bagaimana kita bangkit, Andi."

Andi mengangguk. "Kau benar, Azmi. Dan... terima kasih. Aku tidak menyangka akan mendapat bantuan darimu."

Azmi: "Ki-kita semua saling membutuhkan, Andi. Se-sekarang, ayo kita pikirkan bagaimana caranya kau bisa bertemu Resa lagi."

Mereka melanjutkan pembicaraan, merencanakan langkah-langkah untuk memperbaiki kehidupan Andi. Azmi, meski dengan masalahnya sendiri, merasa sedikit lebih baik bisa membantu orang lain. Dia berharap, dengan membantu Andi, mungkin karma baik akan membantunya juga dalam masalahnya dengan Dellvina.