Pagi itu, Azmi menghampiri rayzan yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja.

Azmi: "Za-zan, bisa minta tolong?"

rayzan: "Tentu, Mi. Ada apa?"

Azmi: "Bi-bisakah kau meminta izin ke kantor untukku? A-aku... tidak enak badan."

rayzan menatap Azmi dengan khawatir. "Kamu sakit, Mi?"

Azmi menggeleng pelan. "Ti-tidak... hanya... aku takut tidak bisa fokus. Ma-masih kepikiran Dellvina."

rayzan mengangguk paham. "Oke, Mi. Aku akan bilang ke kantor kamu tidak enak badan. Tapi kamu yakin tidak apa-apa sendirian di rumah?"

Azmi: "I-iya, tidak apa-apa. Oh iya, Zan... a-aku sudah minta Farizsa untuk menjemputmu. A-agar kamu tidak terlambat."

rayzan terkejut. "Oh? Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Mi."

Tak lama kemudian, Farizsa tiba. rayzan pamit pada Azmi dan berangkat bersama Farizsa.

Di dalam mobil, suasana awalnya hening. Farizsa yang menyetir, sesekali melirik rayzan yang tampak murung.

Farizsa: "Pak rayzan, apa Azmi baik-baik saja?"

rayzan menghela napas. "Sejujurnya, tidak terlalu baik."

Farizsa: "Apa... apa ini ada hubungannya dengan insiden di kantor waktu itu?"

rayzan mengangguk. "Ya, tapi bukan hanya itu. Banyak hal yang terjadi."

Farizsa: "Boleh saya tahu, Pak? Mungkin... mungkin saya bisa membantu?"

rayzan terdiam sejenak, lalu mulai menceritakan semuanya. "Jadi begini, Farizsa. Setelah insiden di kantor itu, Dellvina melihat Azmi pergi bersama archa."

Farizsa terkejut. "archa? Mantan Azmi yang lain?"

rayzan mengangguk. "Ya, dan tentu saja Dellvina salah paham. Dia mengira Azmi berselingkuh."

Farizsa: "Tapi kenapa Azmi pergi dengan archa?"

rayzan: "Nah, ini bagian rumitnya. Ternyata Azmi sedang membantu archa dan suaminya, Rayanas, untuk berdamai. Ada masalah dalam rumah tangga mereka, dan Azmi berusaha menjadi penengah."

Farizsa: "Ya ampun, Azmi masih saja suka membantu orang lain ya."

rayzan tersenyum kecut. "Itulah Azmi. Sayangnya, Dellvina tidak tahu itu. Dia hanya melihat suaminya pergi dengan mantan pacarnya, setelah sebelumnya melihat insiden di kantor denganmu."

Farizsa menunduk, merasa bersalah. "Lalu apa yang terjadi?"

rayzan: " Dellvina... dia pergi dari rumah. Bersama Mishel, istriku. Mereka entah pergi ke mana, dan Dellvina mematikan ponselnya. Azmi... dia hancur, Farizsa. Dia tidak tahu harus berbuat apa."

Farizsa terdiam sejenak, mencerna semua informasi ini. Kemudian dia berkata, "Pak rayzan, saya punya ide. Bagaimana kalau saya dan archa yang bertemu dengan Dellvina?"

rayzan mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Farizsa: "Kami bisa menjelaskan semuanya pada Dellvina. Tentang insiden di kantor, tentang alasan Azmi pergi dengan archa... semuanya."

rayzan: "Tapi... apa Dellvina akan mau mendengarkan kalian?"

Farizsa: "Mungkin awalnya akan sulit. Tapi saya rasa, sebagai sesama wanita, kami mungkin bisa membuat Dellvina mengerti. Lagipula, kami adalah 'mantan' Azmi. Jika kami yang menjelaskan bahwa Azmi setia, mungkin Dellvina akan lebih percaya."

rayzan tampak mempertimbangkan ide itu. "Hmm... itu bisa jadi ide yang bagus. Tapi bagaimana caranya menemui Dellvina? Kita bahkan tidak tahu dia ada di mana."

Farizsa: "Kita bisa mulai dengan menghubungi Mishel. Dia pasti tahu di mana Dellvina berada."

rayzan mengangguk setuju. "Baiklah, itu bisa jadi rencana yang bagus. Tapi jangan beritahu Azmi dulu ya. Dia sedang dalam kondisi yang rapuh, aku takut ini akan memberinya harapan palsu jika tidak berhasil."

Farizsa: "Saya mengerti, Pak. Kita akan lakukan ini diam-diam dulu."

rayzan tersenyum kecil. "Terima kasih, Farizsa. Kau benar-benar teman yang baik."

Farizsa tersenyum, meski ada sedikit rasa sedih di matanya. "Saya hanya ingin Azmi bahagia. Dia pantas mendapatkannya."

Mereka melanjutkan perjalanan ke kantor, dengan rencana baru yang mereka simpan untuk diri mereka sendiri, berharap bisa membantu memperbaiki situasi yang rumit ini.