Malam Penuh Kegelisahan
Bab 42 dari Novel Komplek Mantan
Azmi: "Ayolah, De... angkat teleponnya..."
Namun, hanya suara operator yang terdengar, memberitahu bahwa nomor yang dituju tidak aktif. Azmi menghela napas berat, frustasi.
rayzan keluar dari rumah, membawa dua cangkir kopi. Dia menyodorkan satu pada Azmi.
rayzan: "Nih, Mi. Minum dulu."
Azmi menerima cangkir itu dengan tangan gemetar. "Te-terima kasih, Zan."
rayzan duduk di sebelah Azmi. "Masih belum bisa dihubungi?"
Azmi menggeleng lemah. "Be-belum, Zan. HP-nya ma-masih mati."
rayzan menepuk pundak Azmi. "Sudahlah, Mi. Biarkan Dellvina tenang dulu. Dia butuh waktu."
Azmi: "Ta-tapi Zan, a-aku harus menjelaskan semuanya. I-ini semua salah paham."
rayzan: "Aku tahu, Mi. Tapi kalau dipaksa, Dellvina malah bisa semakin salah paham. Beri dia waktu, oke?"
Azmi mengangguk pelan, meski terlihat tidak rela.
rayzan: "Ngomong-ngomong, Mi. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa jadi kacau begini?"
Azmi menarik napas dalam, lalu mulai menceritakan semuanya. Mulai dari kejadian di kantor dengan Farizsa, pertemuannya dengan Rayanas, hingga alasannya pergi bersama archa.
Azmi: "Be-begitulah, Zan. A-aku hanya ingin membantu Rayanas dan archa. Ta-tapi malah jadi seperti ini."
rayzan menggelengkan kepala, takjub. "Ya ampun, Mi. Kamu ini ya... selalu saja mementingkan urusan orang lain. Sampai-sampai urusan sendiri jadi berantakan."
Azmi tertunduk. "A-aku tidak bermaksud begitu, Zan. A-aku hanya ingin membantu."
rayzan: "Aku tahu, Mi. Niatmu baik. Tapi coba pikirkan perasaan Dellvina. Dia melihat suaminya pergi dengan mantan pacarnya, setelah sebelumnya melihatmu berpelukan dengan Farizsa di kantor. Wajar kalau dia salah paham."
Azmi: "Ka-kau benar, Zan. A-aku bodoh sekali..."
rayzan: "Bukan bodoh, Mi. Hanya... terlalu baik mungkin? Tapi sekarang yang penting, bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada Dellvina."
Azmi mengangguk. "I-iya, Zan. A-aku harus menjelaskan semuanya."
rayzan: "Iya, tapi tidak sekarang. Biarkan Dellvina tenang dulu. Besok kita pikirkan cara untuk menghubunginya, oke?"
Azmi: "Ba-baiklah, Zan. Te-terima kasih ya."
rayzan: "Sama-sama, Mi. Sudah, sekarang kita istirahat dulu. Besok masih harus kerja kan?"
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. rayzan menunjukkan kamar tamu tempat Azmi akan tidur.
rayzan: "Kalau butuh apa-apa, panggil saja ya, Mi."
Azmi mengangguk. "I-iya, Zan. Terima kasih banyak."
Setelah rayzan pergi, Azmi berbaring di tempat tidur. Matanya menatap langit-langit, pikirannya melayang pada Dellvina.
Azmi (monolog): "De- Dellvina... Ade... Ma-mas kangen Ade. Biasanya kita tidur harus pelukan dulu. A-ade di mana sekarang? A-apa Ade baik-baik saja? Ma-maafkan Mas, De. Ma-mas tidak bermaksud menyakitimu. Ma-mas sayang Ade, sangat sayang. A-ade adalah segalanya buat Mas. To-tolong, kembalilah, De. Ma-mas janji akan menjelaskan semuanya. Ki-kita akan baik-baik saja, De. Mas janji."
Air mata Azmi mengalir tanpa disadari. Dia memeluk bantal erat, membayangkan itu adalah Dellvina. Malam itu, Azmi tertidur dengan hati yang berat, berharap esok hari akan membawa kabar baik dan kesempatan untuk memperbaiki segalanya.