Dellvina duduk di kursi belakang taksi, air mata mengalir tanpa henti di pipinya. Sopir taksi sesekali melirik dari kaca spion, terlihat khawatir namun tidak berani bertanya.

Dellvina (monolog internal):
"Kenapa, Mas? Kenapa harus dengan dia? Apa kurangnya aku? Apa selama ini... semua cuma kebohongan? Apa janji-janji kita... tidak berarti apa-apa? Azmi... aku percaya sama kamu. Tapi kenapa... kenapa harus seperti ini?"

Sementara itu, di trotoar dekat kantornya, Azmi masih terduduk lemas. Farizsa berdiri di sampingnya, tidak tahu harus berbuat apa.

Azmi: "Fa-farizsa... to-tolong tinggalkan aku sendiri."

Farizsa: "Tapi Azmi, aku--"

Azmi: "Ku-kumohon... aku butuh waktu sendiri."

Farizsa akhirnya mengangguk dan pergi, meninggalkan Azmi yang masih terpuruk.

Azmi (berbisik): "De- Dellvina... ma-maafkan aku."

Taksi yang membawa Dellvina akhirnya tiba di kompleks perumahan. Tanpa pikir panjang, Dellvina langsung menuju rumah Mishel. Dia mengetuk pintu dengan tergesa-gesa.

Mishel membuka pintu: " Dellvina? Ada ap--Ya ampun, kamu kenapa?"

Dellvina langsung memeluk Mishel, tangisnya pecah lagi. "Hel... Hel..."

Mishel, kebingungan, membawa Dellvina masuk ke dalam. "Del, tenang dulu. Ayo masuk, cerita pelan-pelan ya."

Mereka duduk di sofa ruang tamu. Mishel mengambil segelas air dan memberikannya pada Dellvina.

Mishel: "Nih, minum dulu. Tarik napas dalam-dalam."

Dellvina menenggak air itu, berusaha menenangkan diri. Setelah beberapa saat, dia mulai bisa berbicara.

Mishel: "Sekarang cerita, Del. Ada apa? Kok kamu nangis seperti ini?"

Dellvina: "Hel... aku... aku lihat Azmi..."

Mishel: "Azmi kenapa, Del?"

Dellvina: "Dia... dia sama Farizsa... mereka... mereka berpelukan di kantor."

Mishel terkejut: "Apa? Tapi... mungkin ada penjelasannya, Del."

Dellvina menggeleng kuat: "Nggak, Hel. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Mereka... mereka berpelukan erat."

Mishel: "Tapi Del, kamu tau kan Azmi bukan tipe orang yang seperti itu? Pasti ada kesalahpahaman."

Dellvina: "Aku juga ingin percaya begitu, Rel. Tapi... tapi apa yang kulihat..."

Mishel memeluk Dellvina. "Del, dengar ya. Kita kenal Azmi. Dia bukan orang yang akan mengkhianatimu begitu saja. Pasti ada penjelasan untuk semua ini."

Dellvina terisak: "Tapi Hel, bagaimana kalau... kalau ternyata Azmi masih punya perasaan sama Farizsa?"

Mishel menggeleng tegas: "Nggak, Del. Aku yakin nggak seperti itu. Azmi sayang banget sama kamu. Itu yang aku tau pasti."

Dellvina: "Tapi kenapa, Hel? Kenapa harus terjadi seperti ini?"

Mishel: "Del, kamu udah coba dengerin penjelasan Azmi?"

Dellvina terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Aku... aku langsung lari, Hel. Aku nggak sanggup denger apa-apa saat itu."

Mishel menghela napas: "Del, mungkin itu yang harus kamu lakukan sekarang. Dengarkan penjelasan Azmi. Beri dia kesempatan untuk menjelaskan."

Dellvina: "Tapi Hel... aku takut. Aku takut mendengar sesuatu yang akan menghancurkan hatiku."

Mishel menggenggam tangan Dellvina erat: "Del, percaya sama aku. Azmi bukan orang seperti itu. Beri dia kesempatan. Kalau memang ada masalah, kalian bisa hadapi bersama."

Dellvina terdiam, mencerna kata-kata Mishel. Air matanya mulai mereda.

Mishel: "Mau ku teleponin Azmi? Atau kamu mau istirahat dulu di sini?"

Dellvina: "Aku... aku mau di sini dulu, Hel. Aku belum siap ketemu Azmi."

Mishel mengangguk pengertian: "Oke, Del. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau. Tapi inget ya, cepat atau lambat, kamu harus bicara sama Azmi."

Dellvina mengangguk lemah. "Makasih ya, Hel. Aku nggak tau harus gimana tanpa kamu."

Mishel memeluk Dellvina lagi. "Itu gunanya sahabat, Del. Kita hadapi ini sama-sama ya."

Sementara itu, di trotoar, Azmi akhirnya berdiri dengan susah payah. Dia harus pulang, dia harus menjelaskan semuanya pada Dellvina. Dengan langkah tertatih-tatih, Azmi mulai berjalan pulang, berharap bisa menemui Dellvina dan memperbaiki kesalahpahaman ini.