Sore itu, dapur rumah Azmi dan Dellvina dipenuhi oleh kesibukan dan tawa. Dua pasang suami istri - Azmi dan Dellvina, serta rayzan dan Mishel - sedang mempersiapkan acara syukuran sekaligus reuni yang telah mereka rencanakan.

Dellvina: "Hel, tolong ambilin bumbu di lemari atas dong."

Mishel: "Siap, Del! Eh, Bang rayzan, jangan makan terus dong. Bantuin kek!"

rayzan (dengan mulut penuh): "Iya, iya. Tapi ini enak banget sih."

Azmi tertawa. "Za-zan, nanti keburu habis makanannya sebelum tamu dateng."

Dellvina: "Bener tuh, Zan. Nanti kamu nggak dapat jatah lho."

rayzan pura-pura cemberut. "Yah, masa gitu sih. Kan aku udah bantuin."

Mishel: "Bantuin apa coba? Bantuin abisin makanan?"

Semua tertawa mendengar candaan Mishel.

rayzan: "Eh, ngomong-ngomong nih. Ini acara reuni temen atau reuni mantan Azmi sih? Hahaha..."

Tiba-tiba suasana menjadi hening. Azmi dan Mishel spontan melirik ke arah Dellvina dengan tatapan cemas.

rayzan, menyadari candaannya mungkin kelewatan, mulai gelagapan. "Eh... maksudku..."

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Dellvina akhirnya angkat bicara.

Dellvina: "Hmm... lebih tepatnya sih, reuni mantan si daksa ini kali ya."

Seketika, tawa meledak di dapur itu. rayzan yang tadinya tegang, kini tertawa paling keras.

rayzan: "Aduh, Dellvina. Kamu emang the best deh!"

Azmi, masih tertawa, merangkul Dellvina. "De- Dellvina emang paling top."

Mishel: "Bener banget tuh, Del. Kamu emang cocok sama Azmi."

Dellvina tersenyum, "Yah, mau gimana lagi. Nasib punya suami mantan playboy."

Azmi pura-pura protes. "Eh, si-siapa yang playboy?"

Dellvina mencubit pipi Azmi gemas. "Kamu lah, Mas. Mantannya aja dikumpulin gini."

rayzan: "Iya nih, Mi. Gila kamu ya. Mantanmu banyak bener."

Mishel: "Zan! Jangan mulai deh."

Azmi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "A-aduh, kok jadi pada nyerang aku sih?"

Dellvina tertawa. "Udah, udah. Kasian suamiku. Nanti dia nangis lho."

Semua kembali tertawa. Suasana kembali cair dan hangat.

Mishel: "Eh, tapi serius nih. Kalian yakin mau ngundang semua mantan Azmi?"

Dellvina mengangguk. "Iya, Hel. Menurutku ini kesempatan bagus buat kita semua move on sepenuhnya."

rayzan: "Wah, Dellvina. Kamu emang hebat ya. Aku salut sama kamu."

Azmi memeluk Dellvina dari belakang. "Ma-makanya aku sayang banget sama Dellvina."

Dellvina tersenyum, "Ah, Mas bisa aja."

Mishel: "Ciee... yang mesra nih ye."

rayzan: "Iya nih, bikin iri aja."

Mishel mendelik ke arah rayzan. "Lah, emangnya kita nggak mesra apa?"

rayzan cepat-cepat merangkul Mishel. "Eh, kita juga mesra dong sayang."

Semua kembali tertawa melihat tingkah rayzan dan Mishel.

Dellvina: "Udah, udah. Ayo lanjut masak. Nanti keburu sore."

Mereka pun melanjutkan persiapan dengan penuh canda tawa. Meski ada sedikit ketegangan tadi, tapi suasana kembali hangat dan menyenangkan. Azmi memandang ke sekeliling, merasa bersyukur memiliki istri seperti Dellvina dan sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya.

Azmi (dalam hati): "Te-terima kasih, Ya Allah. A-aku beruntung sekali."

Persiapan terus berlanjut, diselingi canda tawa dan obrolan ringan. Mereka semua berharap acara nanti malam akan berjalan lancar dan menjadi momen yang tak terlupakan.