Pertemuan yang Canggung
Bab 26 dari Novel Komplek Mantan
Azmi (mengetik): "De, ma-malam ini jangan masak ya. A-aku mau ngajak kamu makan malam di restoran. A-ada yang mau aku omongin."
Setelah mengirim pesan, Azmi menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang menunggu balasan dari Dellvina.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.
Dellvina (pesan): "Wah, ada apa nih Mas? Tumben banget. Oke deh, aku tunggu ya. Love you!"
Azmi tersenyum membaca pesan Dellvina, tapi kemudian menghela napas berat.
Azmi (berbisik pada diri sendiri): "Ba-bagaimana aku harus menjelaskan semua ini ke Dellvina?"
Dia berusaha fokus kembali ke pekerjaannya, tapi pikirannya terus melayang ke percakapan yang akan dia lakukan nanti malam dengan istrinya.
Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk.
Azmi: "Ma-masuk."
Farizsa melangkah masuk dengan setumpuk dokumen di tangannya.
Farizsa: "Permisi, Pak. Saya bawakan dokumen yang perlu ditandatangani."
Azmi berusaha menjaga sikap profesionalnya, meski jantungnya berdegup kencang.
Azmi: "Oh, i-iya. Te-terima kasih. Bi-bisa taruh di meja saja."
Farizsa meletakkan dokumen di meja Azmi, tapi tidak langsung pergi. Dia terlihat ragu-ragu.
Farizsa: "Pak Azmi... boleh saya bicara sebentar?"
Azmi menelan ludah. "Te-tentang apa, Mbak Farizsa?"
Farizsa: "Ini... soal masa lalu kita."
Azmi terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ba-baiklah. Si-silakan duduk."
Farizsa duduk di kursi di depan meja Azmi.
Farizsa: "Azmi... aku... aku minta maaf atas semua yang terjadi dulu."
Azmi: "Su-sudahlah, Mbak. I-itu sudah lama berlalu."
Farizsa: "Tapi aku perlu kamu tau. Setahun belakangan ini... aku mencarimu."
Azmi terkejut. "Me-mencariku? Ke-kenapa?"
Farizsa: "Aku... aku sadar kalau aku salah sudah meninggalkanmu dulu. Aku menyesal, Azmi."
Azmi menggelengkan kepala. "Mbak Farizsa, ki-kita sudah punya kehidupan masing-masing sekarang."
Farizsa: "Aku tau. Tapi apa kamu nggak pernah kepikiran tentang kita?"
Azmi menarik napas dalam-dalam. "Mbak, sa-saya mohon. Ki-kita harus profesional. Sa-saya sudah menikah sekarang."
Farizsa terlihat kecewa. "Oh... begitu. Maaf, aku tidak tau."
Azmi: "Ti-tidak apa-apa. Ta-tapi mulai sekarang, sa-saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik sebagai rekan kerja."
Farizsa mengangguk pelan. "Baik, Pak. Saya mengerti. Maaf sudah mengganggu waktu Anda."
Azmi: "Ti-tidak masalah. A-ada lagi yang perlu disampaikan?"
Farizsa menggeleng. "Tidak, Pak. Saya permisi dulu."
Setelah Farizsa keluar, Azmi menghela napas panjang. Dia merasa lega sudah bisa bersikap tegas, tapi juga khawatir tentang bagaimana hal ini akan memengaruhi dinamika kerja mereka ke depannya.
Azmi (berbisik pada diri sendiri): "Ya Allah, be-berikan aku kekuatan untuk menghadapi semua ini."
Dia kembali fokus pada pekerjaannya, berusaha menenangkan diri sebelum makan malam nanti dengan Dellvina. Azmi tau, dia harus jujur pada istrinya, apapun risikonya.