Di sebuah cafe di pusat kota Bandung, Resa dan Rayanas duduk berhadapan di sudut ruangan. Mereka berbicara dengan suara pelan, berusaha tidak menarik perhatian.

Resa: "Nas, sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi begini?"

Rayanas menghela napas. "Aku tau ini berat, Res. Tapi kita harus sabar."

Resa: "Tapi sampai kapan? Aku... aku nggak kuat terus-terusan bohong sama archa."

Rayanas menggenggam tangan Resa. "Aku juga nggak suka situasi ini, Res. Tapi proses perceraian itu nggak gampang."

Resa: "Kapan kamu akan cerai dari archa, Nas? Kapan kita bisa bersama tanpa harus sembunyi-sembunyi?"

Rayanas: "Aku sedang mengurus semuanya, Res. Tapi butuh waktu. Kamu mau kan tunggu aku?"

Resa terdiam, pikirannya berkecamuk.

Monolog internal Resa:
"Ya Allah, apa yang sudah kulakukan? archa sahabatku, dia selalu ada untukku. Dan sekarang... aku menghianatinya seperti ini. Tapi aku juga nggak bisa bohong sama perasaanku sendiri. Aku sayang Rayanas. Tapi apa iya kebahagiaanku harus dibangun di atas kesedihan sahabatku? Maafkan aku, archa..."

Rayanas: "Res? Kamu nggak apa-apa?"

Resa tersadar dari lamunannya. "Ah, iya. Aku... aku cuma lagi mikir."

Rayanas: "Mikir apa?"

Resa: "Nas, aku... aku merasa bersalah sama archa. Dia nggak pantas diperlakukan seperti ini."

Rayanas menunduk. "Aku tau, Res. Tapi kita nggak bisa bohongin perasaan kita, kan?"

Resa: "Iya, tapi... ah, sudahlah. Kamu janji ya, secepatnya selesaikan semua ini?"

Rayanas mengangguk. "Aku janji, Res. Aku akan selesaikan semuanya secepatnya."

Sementara itu, di sisi lain cafe, Azmi baru saja selesai berbicara dengan manajer cafe untuk memesan tempat untuk makan malamnya dengan Dellvina. Saat dia hendak keluar, matanya menangkap sosok yang familiar.

Azmi (dalam hati): "I-itu bukannya Resa? Ta-tapi siapa laki-laki itu?"

Tanpa sengaja, Azmi mendengar percakapan mereka. Matanya melebar saat menyadari apa yang sedang terjadi.

Azmi (dalam hati): "A-astaga... Resa dan suami archa? Ba-bagaimana bisa?"

Azmi terpaku di tempatnya, tidak tau harus berbuat apa. Dia melihat Resa berdiri dan pamit pada Rayanas.

Resa: "Aku harus pergi sekarang, Nas. Nanti kita hubungan lagi ya."

Rayanas mengangguk. "Hati-hati di jalan, Res. Aku sayang kamu."

Setelah Resa pergi, Azmi masih berdiri di tempatnya, bingung dengan apa yang baru saja dia saksikan. Tiba-tiba, Rayanas menoleh dan mata mereka bertemu.

Rayanas terkejut. "Lho... Azmi?"

Azmi membeku, tidak tau harus bereaksi seperti apa. Rayanas berdiri dan berjalan mendekatinya.

Rayanas: "Azmi... kamu... kamu lihat semuanya?"

Azmi tergagap. "A-aku... aku nggak sengaja..."

Rayanas menatap Azmi dengan pandangan yang sulit diartikan. "Azmi, aku mohon... jangan bilang siapa-siapa."

Azmi terdiam, pikirannya berkecamuk. Apa yang harus dia lakukan dengan informasi ini?