Suasana kantor pagi itu terasa berbeda. Ada atmosfer kegembiraan dan antisipasi yang menguar di udara saat acara pelantikan manajer dan asisten baru akan dimulai. Azmi berdiri dengan gugup di depan, menunggu gilirannya untuk diperkenalkan.

Direktur: "Baiklah, sekarang mari kita sambut manajer baru kita, Bapak Azmi Arifin!"

Tepuk tangan riuh terdengar saat Azmi melangkah maju. Dia tersenyum malu-malu, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Azmi: "Te-terima kasih atas ke-kepercayaan yang diberikan. Sa-saya akan berusaha sebaik mungkin."

Direktur: "Dan sekarang, mari kita perkenalkan asisten baru untuk Bapak Azmi. Silakan, Nona Farizsa!"

Azmi membeku. Matanya melebar saat melihat sosok yang melangkah maju. Itu Farizsa, mantan pacarnya dari SMA, cinta pertamanya yang bukan penyandang disabilitas.

Farizsa (dalam hati): "Ya Tuhan... itu Azmi? Bagaimana bisa?"

Azmi (dalam hati): "Fa-farizsa? Ke-kenapa dia bisa ada di sini?"

Farizsa tersenyum profesional, meski jantungnya berdegup kencang. "Salam kenal, Pak Azmi. Saya Farizsa, siap membantu Anda dalam tugas-tugas manajerial."

Azmi mengangguk kaku. "Sa-salam kenal juga, Nona Farizsa. Sa-saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik."

Direktur: "Oh ya, Nona Farizsa baru saja pindah ke kota ini. Dia tinggal di kompleks perumahan yang sama dengan Bapak Azmi. Mungkin kalian bisa berangkat bersama sesekali."

Azmi (dalam hati): "A-apa? Dia tinggal di komplek yang sama? Ba-bagaimana ini bisa terjadi?"

Farizsa (dalam hati): "Astaga, kami bahkan tinggal di kompleks yang sama? Takdir macam apa ini?"

Setelah acara selesai, Azmi segera menghubungi rayzan.

Azmi: "Za-zan, bi-bisa makan siang bareng? A-ada yang mau aku ceritain."

rayzan: "Boleh, Mi. Ada apa? Kok kayaknya serius banget?"

Di sebuah restoran tak jauh dari kantor, Azmi dan rayzan duduk berhadapan.

rayzan: "Nah, cerita dong Mi. Ada apa sih?"

Azmi menarik napas dalam-dalam. "Za-zan... kamu inget Farizsa?"

rayzan mengerutkan kening. "Farizsa? Oh, mantan kamu waktu SMA itu? Yang Non disabilitas? Kenapa emangnya?"

Azmi: "Di-dia... dia jadi asisten baruku di kantor."

rayzan tersedak minumannya. "Hah? Serius lo, Mi?"

Azmi mengangguk lemah. "I-iya, Zan. Da-dan... dia tinggal di komplek kita juga."

rayzan menggelengkan kepala tak percaya. "Ya ampun, Mi. Kok bisa ya? Dunia sesempit apa sih?"

Azmi: "A-aku juga nggak ngerti, Zan. Ta-tapi... aku bingung harus gimana sekarang."

rayzan: "Lah, emangnya kenapa, Mi? Kan itu udah masa lalu."

Azmi terdiam sejenak. "I-iya sih. Ta-tapi... Farizsa itu cinta pertamaku, Zan. Da-dan dulu aku sakit hati banget pas dia ninggalin aku."

rayzan: "Terus sekarang? Kamu masih ada rasa sama dia?"

Azmi menggeleng cepat. "Ng-nggak, Zan! A-aku cuma sayang sama Dellvina sekarang. Ta-tapi... aku takut ini bakal jadi masalah."

rayzan menepuk pundak Azmi. "Tenang, Mi. Yang penting sekarang kamu fokus aja sama kerjaan dan Dellvina. Anggap aja Farizsa itu rekan kerja biasa."

Azmi mengangguk pelan. "I-iya, Zan. Ka-kamu bener. A-aku harus profesional."

Sementara itu, di kantin kantor, Farizsa duduk sendirian, pikirannya berkecamuk.

Farizsa (monolog internal): "Kenapa harus Azmi? Kenapa setelah setahun aku mencarinya, dia muncul sebagai atasanku? Dan dia... dia terlihat begitu berbeda sekarang. Lebih dewasa, lebih percaya diri. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membiarkan perasaan masa lalu mengacaukan karirku. Tapi... melihatnya lagi setelah sekian lama, rasanya..."

Farizsa menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran-pikiran itu.

Farizsa: "Tidak, Farizsa. Kau harus profesional. Azmi sekarang adalah atasanmu. Tidak lebih."

Kembali ke Azmi dan rayzan.

Azmi: "Za-zan... menurutmu, a-aku harus cerita ke Dellvina nggak?"

rayzan terdiam sejenak. "Hmm... menurutku sih, lebih baik kamu cerita, Mi. Daripada nanti Dellvina tau dari orang lain dan salah paham."

Azmi mengangguk. "I-iya, kamu bener. A-aku akan cerita ke Dellvina nanti malam."

rayzan: "Nah, gitu dong. Yang penting jujur aja, Mi. Dellvina pasti ngerti kok."

Mereka menghabiskan makan siang sambil membahas strategi Azmi menghadapi situasi ini. Sementara itu, di kantor, Farizsa berusaha fokus pada pekerjaannya, meski pikirannya terus melayang pada sosok Azmi yang kini menjadi atasannya.

Takdir telah mempertemukan mereka kembali, membuka lembaran baru yang penuh tantangan dan kemungkinan. Bagaimana Azmi dan Farizsa akan menghadapi situasi ini? Hanya waktu yang akan menjawabnya.