Malam itu, setelah kembali dari jalan-jalan sore mereka, Azmi dan Dellvina duduk di beranda rumah. Mereka menikmati secangkir teh hangat sambil memandangi langit malam yang bertabur bintang.

Dellvina: "Mas, aku mau nanya boleh?"

Azmi menoleh ke arah istrinya. "Bo-boleh kok, De. Mau nanya apa?"

Dellvina: "Tadi... pas ketemu sama mantan-mantanmu, perasaan kamu gimana?"

Azmi terdiam sejenak, memikirkan jawabannya. "Ja-jujur, De... awalnya aku takut dan gugup banget."

Dellvina: "Takut kenapa, Mas?"

Azmi: "Ta-takut kamu bakal cemburu atau marah. Ta-takut juga kalau nanti ada perasaan aneh yang muncul."

Dellvina mengangguk pelan. "Terus... ada perasaan aneh yang muncul nggak?"

Azmi menggeleng. "Ng-nggak ada, De. Ju-justru... aku merasa lega."

Dellvina: "Lega? Maksudnya gimana, Mas?"

Azmi: "A-aku lega karena semuanya baik-baik aja. Me-mereka udah move on, a-aku juga udah bahagia sama kamu. Ra-rasanya kayak... satu chapter hidup udah bener-bener selesai."

Dellvina tersenyum lembut. "Syukurlah kalau gitu, Mas. Aku juga lega denger kamu ngomong gitu."

Azmi: "Ka-kamu sendiri gimana, De? Pe-perasaan kamu pas ketemu mereka?"

Dellvina terdiam sejenak. "Jujur ya, Mas. Awalnya aku agak cemas. Takut kalau ternyata mereka lebih cantik atau lebih baik dari aku."

Azmi langsung menggenggam tangan Dellvina. "De, ba-bagi aku, kamu yang paling cantik dan paling baik."

Dellvina tersenyum malu. "Ah, Mas bisa aja. Tapi... makasih ya. Aku jadi lebih tenang sekarang."

Azmi: "A-aku yang harusnya berterima kasih, De. Ka-kamu udah mau nerima aku apa adanya."

Dellvina: "Mas, cinta itu kan menerima apa adanya. Lagian, kamu tuh sempurna buat aku."

Azmi tertawa kecil. "Se-sempurna apanya, De? O-orang gagap dan daksa gini."

Dellvina mencubit pelan pipi Azmi. "Ih, Mas. Jangan ngomong gitu dong. Buat aku, kamu sempurna karena kamu adalah kamu."

Azmi tersenyum haru. "Ma-makasih ya, De. A-aku bersyukur banget punya istri kayak kamu."

Dellvina: "Sama-sama, Mas. Aku juga bersyukur punya suami kayak kamu."

Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan malam dan kehangatan satu sama lain.

Azmi: "De, a-aku kepikiran sesuatu."

Dellvina: "Apa tuh, Mas?"

Azmi: "A-apa kita perlu ngadain acara kumpul-kumpul ya? Ma-maksudnya, ngumpul sama temen-temen lama. Se-sekalian biar kamu bisa kenal mereka lebih dekat."

Dellvina tampak berpikir. "Hmm... boleh juga tuh, Mas. Tapi kamu yakin nggak apa-apa?"

Azmi mengangguk. "I-iya, De. A-aku rasa ini bisa jadi kesempatan bagus buat kita semua move on sepenuhnya."

Dellvina: "Oke deh kalau gitu. Kapan kita mau ngadainnya?"

Azmi: "Mu-mungkin minggu depan? Bi-biar kita punya waktu buat siap-siap."

Dellvina: "Sip, setuju! Kita mau ngundang siapa aja nih?"

Azmi: "Ya-yang pasti rayzan sama Mishel. Te-terus... archa, salsa, sama Resa juga."

Dellvina: "Oke, nanti aku bantuin nyiapin undangannya ya."

Azmi tersenyum. "Ma-makasih ya, De. Ka-kamu emang istri terbaik."

Dellvina tertawa kecil. "Sama-sama, Mas. Eh, ngomong-ngomong..."

Azmi: "Ke-kenapa, De?"

Dellvina: "Kamu pernah nggak sih... nyesel udah nikah sama aku?"

Azmi terkejut mendengar pertanyaan itu. "De, ke-kenapa kamu nanya gitu?"

Dellvina mengangkat bahu. "Nggak tau, Mas. Kadang aku mikir... apa kamu nggak pengen punya istri yang lebih sempurna? Yang nggak cerewet kayak aku gini?"

Azmi menggeleng kuat. "De, de-denger ya. Ka-kamu itu udah sempurna buat aku. A-aku nggak pernah nyesel nikah sama kamu. Ju-justru, tiap hari aku bersyukur karena bisa jadi suami kamu."

Air mata Dellvina mulai menggenang. "Beneran, Mas?"

Azmi mengangguk dan memeluk Dellvina. "Be-beneran, De. A-aku sayang banget sama kamu. Ja-jangan pernah ragu soal itu ya."

Dellvina membalas pelukan Azmi. "Aku juga sayang banget sama kamu, Mas."

Mereka berpelukan untuk beberapa saat, meresapi kehangatan dan cinta yang mereka rasakan.

Azmi: "Na-nah, sekarang udah malem. Yu-yuk kita masuk. Besok kita harus siap-siap buat kerja."

Dellvina mengangguk. "Iya, Mas. Yuk kita masuk."

Mereka berdua masuk ke dalam rumah, hati dipenuhi rasa syukur dan cinta. Malam itu, mereka tidur dengan senyum di wajah, yakin bahwa apapun yang terjadi, cinta mereka akan selalu menjadi kekuatan terbesar dalam menghadapi segala tantangan.