Pertemuan di Taman
Bab 18 dari Novel Komplek Mantan
Dellvina: "Mas, aku seneng banget lho kita bisa jalan-jalan gini."
Azmi tersenyum lembut. "A-aku juga, De. Ra-rasanya jadi inget waktu pacaran dulu."
Dellvina tertawa kecil. "Iya ya? Eh, gimana kalau kita ke taman aja? Biar bisa duduk-duduk sambil ngobrol."
Azmi mengangguk setuju. "Bo-boleh tuh. A-ayo ke sana."
Mereka berjalan menuju taman. Namun, begitu sampai di sana, Azmi tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya terpaku pada tiga sosok wanita yang duduk di salah satu bangku taman.
Dellvina, yang menyadari perubahan sikap suaminya, berbisik, "Mas, itu mereka ya?"
Azmi mengangguk pelan. "I-iya, De. I-itu archa, Resa, dan salsa."
Dellvina menggenggam tangan Azmi lebih erat. "Mas, gimana kalau kita samperin mereka? Aku pengen kenalan."
Azmi terlihat ragu. "Ta-tapi De..."
Dellvina tersenyum meyakinkan. "Udah, nggak apa-apa. Kita hadapi sama-sama ya?"
Akhirnya Azmi mengangguk setuju. Mereka berjalan mendekati ketiga wanita itu.
Azmi: "Pe-permisi..."
archa, Resa, dan salsa tersentak kaget mendengar suara yang familiar itu.
archa: "Fa-Azmi? Itu kamu?"
salsa: "Kok bisa ada di sini?"
Resa: "Kamu... pindah ke sini?"
Azmi mengangguk, meski tahu mereka tidak bisa melihatnya. "I-iya. A-aku baru pindah kemarin."
Dellvina, yang berdiri di samping Azmi, tersenyum ramah. "Halo semuanya. Saya Dellvina, istrinya Azmi."
Ketiga wanita itu tampak terkejut mendengar kata 'istri'.
archa: "Oh... halo, Dellvina. Saya archa."
salsa: "Saya salsa."
Resa: "Dan saya Resa. Senang berkenalan dengan Anda, Dellvina."
Dellvina: "Senang juga berkenalan dengan kalian. Azmi sering cerita tentang teman-teman lamanya."
Azmi, yang merasa sedikit canggung, berusaha mencairkan suasana. "Ka-kalian sendiri gimana kabarnya?"
archa: "Baik kok, Mi. Kamu sendiri gimana? Kok bisa pindah ke sini?"
Azmi: "A-aku dapat mutasi kerja. Ja-jadi ya pindah ke sini."
salsa: "Wah, selamat ya. Pasti seneng bisa pindah ke kota yang lebih besar."
Resa: "Iya, selamat ya Azmi, Dellvina. Semoga betah tinggal di sini."
Dellvina: "Makasih ya semuanya. Oh iya, kalian udah lama tinggal di sini?"
archa: "Iya, kami udah setahunan lebih di sini."
Azmi: "Wa-wah, berarti kalian udah hafal banget ya daerah sini?"
salsa tertawa kecil. "Yah, lumayan lah. Meski kami nggak bisa liat, tapi kami udah cukup familiar sama lingkungan sini."
Dellvina: "Wah, keren! Mungkin nanti kalian bisa ngajarin kita tentang daerah sini ya."
Resa: "Dengan senang hati, Dellvina."
Azmi melirik jam tangannya. "De, u-udah mulai gelap nih. Ki-kita lanjut jalan-jalan yuk?"
Dellvina mengangguk. "Oh iya, bener juga. Yuk, kita pamit dulu ya."
archa: "Oh, iya. Hati-hati ya di jalan."
salsa: "Seneng bisa ketemu kalian."
Resa: "Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya."
Azmi dan Dellvina pun berpamitan dan melanjutkan perjalanan mereka. Setelah mereka pergi, archa, salsa, dan Resa terdiam sejenak.
archa: "Girls... tadi itu beneran Azmi kan?"
salsa: "Iya, Cha. Suaranya masih sama persis kayak dulu."
Resa: "Dan dia... udah nikah ya sekarang."
archa menghela napas panjang. "Azmi yang dulu kita sepelekan... kini udah bahagia ya."
salsa: "Iya... Dellvina kedengerannya baik banget."
Resa: "Dan kayaknya mereka beneran bahagia."
Mereka bertiga terdiam lagi, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
archa: "Mungkin... ini yang terbaik ya buat Azmi."
salsa: "Iya... Mungkin kita emang nggak ditakdirkan buat dia."
Resa: "Tapi setidaknya... dia udah nemuin kebahagiaannya."
Mereka mengangguk setuju, meski ada sedikit rasa sedih yang terselip di hati mereka. Namun, mereka juga merasa lega melihat Azmi yang dulu mereka sakiti kini telah menemukan kebahagiaannya.
Sementara itu, Azmi dan Dellvina melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi taman.
Dellvina: "Mas, kamu nggak apa-apa?"
Azmi tersenyum lembut. "Ng-nggak apa-apa kok, De. Ju-justru aku lega."
Dellvina: "Lega kenapa, Mas?"
Azmi: "Le-lega karena semuanya baik-baik aja. Da-dan... aku sadar kalau aku udah punya kamu sekarang."
Dellvina tersenyum dan mengecup pipi Azmi. "Aku sayang kamu, Mas."
Azmi: "A-aku juga sayang kamu, De."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih ringan, yakin bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, yang terpenting adalah kebahagiaan mereka saat ini dan di masa depan.