Janji Sore yang Manis
Bab 17 dari Novel Komplek Mantan
Dellvina: "Mas... Hari ini mas belum masuk kantor kan ya?"
Azmi mengangguk. "I-iya, De. Ma-masih ada waktu buat beresin rumah."
Dellvina: "Nah, aku punya ide nih. Gimana kalau nanti sore kita jalan-jalan keliling komplek? Sekalian kenalan sama tetangga baru."
Azmi terdiam sejenak, raut wajahnya berubah ragu. "Ja-jalan-jalan?"
Dellvina menyadari perubahan ekspresi suaminya. "Kenapa, Mas? Kok kayaknya ragu gitu?"
Azmi: "Ng-nggak apa-apa kok, De. Cu-cuma..."
Dellvina: "Cuma apa, Mas? Kamu masih kepikiran soal... mantan-mantanmu?"
Azmi mengangguk pelan, matanya tidak berani menatap Dellvina. "I-iya, De. A-aku takut kita ketemu mereka."
Dellvina menggenggam tangan Azmi lembut. "Mas, dengerin aku ya. Cepat atau lambat, kita pasti akan ketemu mereka. Ini komplek kecil, nggak mungkin kita bisa terus-terusan menghindar."
Azmi: "Ta-tapi De..."
Dellvina: "Ssst... Nggak ada tapi-tapian. Kita hadapi ini sama-sama ya? Lagian, aku percaya sama kamu kok. Kamu kan suami yang setia."
Azmi menatap Dellvina, matanya berkaca-kaca. "Ka-kamu yakin, De?"
Dellvina mengangguk mantap. "Iya dong, Mas. Kamu itu suamiku. Aku percaya sama kamu sepenuhnya."
Azmi akhirnya tersenyum. "O-oke deh, De. Ki-kita jalan-jalan nanti sore."
Dellvina bersorak gembira. "Yay! Itu baru suamiku!"
Tiba-tiba, Azmi nyengir jahil. "Ta-tapi De, bo-boleh juga lho poligami. Kan mereka lagi pada sendiri tuh. nanti tambah rame rumah kita."
Dellvina langsung cemberut, pura-pura ngambek. "Ih, Mas! Kok gitu sih?!"
Azmi tertawa. "hehe mana tau kan."
Dellvina membalas dengan nada mengancam yang dibuat-buat. "Eh, daksa!. Mau ku potong kakimu itu biar tambah daksa?"
Azmi langsung pura-pura ketakutan. "A-ampun, De! A-aku cuma bercanda kok!"
Dellvina masih cemberut. "Huh, bercandanya nggak lucu tau!"
Azmi, masih dengan senyum jahilnya, mendekati Dellvina dan memeluknya dari belakang. "Ma-maafin aku ya, De. Ja-jangan marah dong."
Dellvina berusaha melepaskan diri, tapi Azmi malah semakin erat memeluknya. "Ih, Mas! Lepasin!"
Azmi: "Ng-nggak mau. Ka-kamu harus maafin aku dulu."
Dellvina: "Nggak mau! Kamu nyebelin!"
Azmi lalu mencium pipi Dellvina dengan lembut. "Ma-maafin aku ya, istriku yang cantik."
Dellvina, yang tadinya pura-pura marah, akhirnya luluh juga. Dia berbalik dan balas memeluk Azmi. "Iya deh, aku maafin. Tapi jangan diulangi lagi ya?"
Azmi mengangguk. "Ja-janji deh. A-aku cuma sayang sama kamu kok."
Dellvina tersenyum lembut. "Aku juga sayang sama kamu, Mas. Makanya aku percaya banget sama kamu."
Azmi: "Ma-makasih ya, De. Ka-kamu emang istri terbaik."
Dellvina: "Sama-sama, Mas. Kamu juga suami terbaik kok."
Mereka berpelukan sejenak, merasakan kehangatan dan cinta yang mengalir di antara mereka.
Dellvina: "Nah, sekarang ayo kita lanjut beresin rumah. Biar nanti sore kita bisa jalan-jalan dengan tenang."
Azmi mengangguk setuju. "Si-siap, kapten! A-aku bantuin ya."
Dellvina tertawa kecil. "Oke deh. Tapi inget ya, jangan sampe kecapekan. Nanti malah nggak jadi jalan-jalan lho."
Azmi: "Te-tenang aja. A-aku kuat kok!"
Mereka pun mulai membereskan rumah bersama-sama. Azmi merasa lega dan bersyukur memiliki istri seperti Dellvina yang begitu pengertian dan mendukungnya. Meski masih ada sedikit kekhawatiran tentang kemungkinan bertemu mantan-mantannya nanti, tapi Azmi yakin selama ada Dellvina di sampingnya, dia bisa menghadapi apapun.
Sementara itu, Dellvina diam-diam merasa bangga pada suaminya. Meski awalnya ragu, tapi Azmi tetap mau menghadapi ketakutannya demi Dellvina. Ini semakin meyakinkan Dellvina bahwa dia telah memilih suami yang tepat.
Mereka melanjutkan aktivitas mereka dengan penuh semangat, menantikan petualangan kecil mereka di sore nanti.