Malam itu, rayzan dan Mishel sedang menikmati makan malam mereka di rumah. Aroma masakan Mishel yang lezat memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat dan nyaman.

rayzan: "Adek, masakan kamu enak banget seperti biasa."

Mishel tersenyum, "Makasih, Bang. Syukur deh kalau Abang suka."

rayzan: "Oh iya, Dek. Tadi Abang ketemu Azmi di kantor. Kita ngobrolin soal pindahan ke Bandung."

Mishel: "Wah, gimana Bang? Mereka jadi pindah juga?"

rayzan mengangguk, "Iya, Dek. Malah katanya kita bakal satu komplek sama mereka."

Mishel berseru gembira, "Asik dong, Bang! Berarti aku bisa sering ketemu Dellvina nih."

rayzan: "Iya, pasti seru. Oh iya, Dek. Tadi Abang denger-denger ada beberapa temen kita yang lagi ada masalah rumah tangga ya?"

Mishel menghela napas, "Iya nih, Bang. Kasian banget mereka."

rayzan: "Emang siapa aja sih, Dek? Abang penasaran."

Mishel mulai menghitung dengan jarinya, "Ada si archa, terus Resa, sama salsa juga."

rayzan terdiam sejenak, "Lho, mereka bukannya..."

Mishel mengangguk, "Iya, Bang. Aku baru sadar juga. Mereka semua mantan pacarnya Azmi."

rayzan: "Kok bisa ya, Dek? Masalah mereka apa?"

Mishel: "Hampir Mirip semua, Bang. Kalau archa, dia diselingkuhi suaminya. Resa kena KDRT, sedangkan salsa... dia ngalaMin dua-duanya, diselingkuhi dan kena KDRT juga."

rayzan menggelengkan kepala, "Astaghfirullah, kok bisa ya? Padahal dulu mereka yang ninggalin Azmi."

Mishel: "Iya, Bang. Aku juga kaget. Padahal dulu aku cukup dekat sama mereka, apalagi sama Azmi."

rayzan: "Kamu kan emang sahabat lamanya Azmi ya, Dek?"

Mishel mengangguk, "Iya, Bang. Aku tahu banyak soal kisah cinta Azmi dulu. Tapi nggak nyangka aja nasib mantan-mantannya bakal kayak gini."

rayzan terdiam sejenak, "Menurut kamu gimana, Dek? Apa ini yang namanya karma?"

Mishel menggeleng, "Ah, jangan ngomong gitu, Bang. Kita nggak pernah tahu rencana Allah. Yang penting sekarang Azmi udah bahagia sama Dellvina."

rayzan: "Iya sih, Dek. Bener juga. Eh, ngomong-ngomong soal pindahan..."

Mereka melanjutkan obrolan tentang rencana pindah ke Bandung, tapi pikiran Mishel masih terbayang nasib teman-temannya. Dia bersyukur hubungannya dengan rayzan baik-baik saja.

Mishel: "Bang, kita harus jaga hubungan kita ya. Jangan sampai kayak mereka."

rayzan menggenggam tangan Mishel, "Pasti, Dek. Kita sama-sama jaga dan saling mengerti ya."

Mishel tersenyum, merasa hangat dengan sentuhan suaminya. Meski mereka sama-sama tunanetra, tapi cinta mereka melihat jauh melampaui keterbatasan fisik.

rayzan: "Oh iya, Dek. Besok kita mulai packing barang-barang yuk. Biar nggak mendadak nanti."

Mishel: "Siap, Bang! Aku udah nggak sabar nih pindah ke Bandung."

Mereka mengakhiri makan malam dengan diskusi tentang barang-barang yang akan dibawa ke Bandung. Meski pembicaraan tentang nasib teman-teman mereka sedikit mengusik, rayzan dan Mishel tetap bersyukur atas kebahagiaan yang mereka Miliki saat ini.