Pagi itu, sinar mentari menembus tirai jendela dapur. Dellvina sedang sibuk menyiapkan sarapan, tangannya cekatan memotong sayuran dan mengaduk telur di wajan. Tiba-tiba, sepasang tangan melingkar di pinggangnya, diikuti dengan kecupan lembut di pipi.
Azmi: "Se-selamat pagi, is-istriku yang cantik."
Dellvina tersenyum, masih fokus pada masakannya. "Pagi juga, suamiku yang ganteng. Tidurnya nyenyak?"
Azmi menyandarkan dagunya di bahu Dellvina. "Nya-nyenyak banget. Mi--Mimpi kita udah di Bandung."
Dellvina terkekeh. "Wah, keburu excited nih ceritanya?"
Azmi: "Iya dong. Ka-kamu masak apa, sayang? Ba-baunya enak."
Dellvina: "Ini lagi bikin omelet sayur kesukaan kamu. Tapi kelihatannya ada yang lebih enak nih."
Azmi mengerutkan kening. "A-apa tuh?"
Dellvina berbalik, menghadap Azmi dengan senyum jahil. "Kamu lah. Masih bau bantal gini kok udah ganteng?"
Azmi tertawa malu. "Ah, ka-kamu bisa aja."
Dellvina mencubit hidung Azmi gemas. "Bisa aja gimana? Emang kenyataan kok. Eh, tapi ngomong-ngomong..."
Azmi: "Ke-kenapa?"
Dellvina: "Kamu belum mandi ya? Kok masih bau jigong gini?"
Azmi pura-pura cemberut. "Ja-jahat ih. Ma-masa suami sendiri dibilang bau jigong?"
Dellvina tertawa. "Ya abisnya bener sih. Udah sana mandi, nanti telat lho ke kantor."
Azmi memasang wajah memelas. "Ta-tapi aku mau sarapan dulu."
Dellvina menggeleng tegas. "No no no. Mandi dulu, baru sarapan. Ayo cepetan, nanti airnya keburu dingin."
Azmi tersenyum jahil. "Ma-mau mandiin aku?"
Dellvina melotot, tapi bibirnya menahan senyum. "Ih, nakal ya kamu! Udah gede masih Minta dimandiin."
Azmi: "Bu-bukan gitu. Ma-maksudnya... kita mandi bareng aja."
Dellvina berpura-pura kesal, tangannya berkacak pinggang. "Enak aja! Nanti sarapannya gosong. Udah sana mandi sendiri, aku mau lanjut masak."
Azmi cemberut. "Ya-yaah... padahal kan biar hemat air."
Dellvina mendorong pelan tubuh Azmi. "Alasan! Udah sana mandi, nanti kusiram pake air cucian piring lho."
Azmi tertawa. "I-iya deh, iya. A-aku mandi. Ta-tapi nanti suapin ya?"
Dellvina memutar bola matanya, tapi senyumnya mengembang. "Iya, iya. Udah cepetan sana."
Azmi mencuri satu kecupan di pipi Dellvina sebelum berjalan ke kamar mandi. "A-aku sayang kamu."
Dellvina tersenyum lembut. "Aku juga sayang kamu. Udah sana mandi, biar wangi."
Azmi mengangguk dan berjalan ke kamar mandi. Dellvina kembali fokus pada masakannya, tapi senyum tak lepas dari wajahnya. Pagi itu terasa begitu manis, penuh canda dan kasih sayang yang membuat hatinya menghangat.