Di kantor, Ari sedang fokus pada pekerjaannya ketika teleponnya berdering. Nomor yang tidak dikenal.

Ari: "Ha-halo?"

Rayanas: "Ari? Ini Rayanas."

Ari terkejut: "Ra-Rayanas? Ada apa?"

Rayanas: "Ari, aku... aku butuh bantuanmu. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan archa."

Ari: "Be-benarkah?"

Rayanas: "Iya, Ari. Aku sadar aku salah. Nasihatmu waktu itu... benar-benar membuatku berpikir. Aku ingin kembali pada archa."

Ari tersenyum: "A-aku senang mendengarnya, Rayanas. A-apa yang bisa kubantu?"

Rayanas: "Bisakah kau jadi penengah? Mungkin kita bisa bertemu di cafe kemarin?"

Ari: "Te-tentu. A-aku akan menghubungi archa."

Setelah menutup telepon, Ari merasa lega. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Farizsa masuk ke ruangannya dengan setumpuk dokumen.

Farizsa: "Pak Ari, ini dokumen yang perlu ditandatangani."

Tiba-tiba, Farizsa tersandung dan kehilangan keseimbangan. Refleks, dia berpegangan pada Ari, dan mereka berdua jatuh dalam posisi yang terlihat seperti berpelukan.

Ari dan Farizsa terdiam, terkejut dengan posisi mereka. Tepat saat itu, pintu terbuka.

Dellvina: "Mas, aku bawain makan si--"

Dellvina terpaku di ambang pintu, melihat pemandangan di depannya. Kotak makan siang di tangannya jatuh, isinya berhamburan di lantai.

Dellvina: "Mas... apa-apaan ini?"

Ari segera berdiri, panik: "De- Dellvina! I-ini tidak seperti yang kamu lihat!"

Tapi Dellvina sudah berbalik dan berlari keluar kantor. Air mata mengalir di pipinya.

Ari: " Dellvina! Tunggu!"

Ari mencoba mengejar, tapi dengan keterbatasannya, dia tidak bisa berlari cepat. Dia hanya bisa melihat Dellvina semakin menjauh.

Ari (berteriak): " Dellvina! To-tolong dengarkan aku!"

Tapi Dellvina terus berlari, menghilang di antara kerumunan orang di jalan.

Ari jatuh terduduk di trotoar, napasnya tersengal-sengal. Air mata mulai menggenang di matanya.

Ari (berbisik): "Ya Allah... a-apa yang harus aku lakukan?"

Farizsa, yang mengikuti Ari keluar, berdiri di belakangnya dengan rasa bersalah yang luar biasa.

Farizsa: "Ari, aku... aku minta maaf. Ini semua salahku."

Ari menggeleng, masih mencoba mengatur napasnya: "Bu-bukan salahmu, Farizsa. I-ini hanya kesalahpahaman."

Farizsa: "Tapi... aku yang menyebabkan semua ini."

Ari berdiri dengan susah payah: "A-aku harus mencari Dellvina. A-aku harus menjelaskan semuanya."

Sementara itu, Dellvina terus berlari, air matanya mengaburkan pandangan. Hatinya terasa hancur, bayangan Ari dan Farizsa terus berputar di kepalanya.

Dellvina (dalam hati): "Kenapa, Mas? Kenapa harus seperti ini?"

Hari itu, yang seharusnya menjadi hari baik dengan rencana mendamaikan Rayanas dan archa, berubah menjadi hari yang penuh drama dan kesalahpahaman. Ari kini harus berjuang untuk menjelaskan kebenaran pada Dellvina dan menyelamatkan pernikahan mereka.