Pagi itu, Ari sudah rapi dengan setelan kerjanya. Dia duduk di meja makan, menyantap sarapan yang telah disiapkan Dellvina.

Dellvina: "Mas, sarapannya enak nggak?"

Ari mengangguk sambil tersenyum. "E-enak banget, De. Ma-makasih ya."

Dellvina: "Syukurlah kalau enak. Oh iya, Mas... aku mau minta izin nih."

Ari mengangkat alisnya. "I-izin apa, De?"

Dellvina: "Hari ini aku mau keluar sama Mishel. Kita mau belanja sekalian cari tempat buat buka toko baru."

Ari: "Oh, bo-boleh kok, De. Ta-tapi hati-hati ya."

Dellvina: "Siap, Mas! Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?"

Ari tersenyum lembut. "Ng-nggak apa-apa kok, De. A-aku juga harus ke kantor. Ma-maaf ya belum bisa nemenin kamu cari tempat."

Dellvina menggeleng. "Ih, Mas. Nggak usah minta maaf. Aku ngerti kok kamu sibuk."

Selesai sarapan, Ari bersiap untuk berangkat.

Ari: "De, a-aku berangkat ya."

Dellvina menyerahkan kotak bekal pada Ari. "Nih, Mas. Bekal buat kamu. Jangan lupa dimakan ya."

Ari mengecup kening Dellvina. "Ma-makasih, De. A-aku berangkat dulu ya."

Dellvina: "Hati-hati di jalan, Mas. Jangan ngebut ya."

Ari mengangguk dan keluar rumah. Dia berjalan menuju rumah rayzan yang tak jauh dari rumahnya. Saat melewati sebuah rumah yang beberapa hari lalu masih kosong, Ari terkejut melihat keramaian di sana.

Ari bergumam pada diri sendiri: "Lho, a-ada yang baru pindah ya?"

Namun, mengingat dia harus menjemput rayzan, Ari memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya dan bergegas ke rumah sahabatnya.

Ari mengetuk pintu rumah rayzan. "Zan, u-udah siap belum?"

rayzan membuka pintu. "Eh, Ari. Udah siap nih. Yuk berangkat."

Mereka berdua masuk ke mobil Ari dan mulai perjalanan ke kantor.

rayzan: "Eh, ri. Tadi pagi aku dengar ada yang baru pindah ke komplek kita lho."

Ari mengangguk. "I-iya, aku juga liat. Ta-tapi nggak sempet merhatiin."

rayzan: "Oh iya, ri. Gimana kemaren? Jadi jalan-jalan sama Dellvina?"

Ari: "Ja-jadi kok, Zan. Ma-malah... kita ketemu archa, salsa, sama Resa."

rayzan terkejut. "Serius, ri? Terus gimana?"

Ari: "Ya-ya gitu deh. A-awalnya canggung sih. Ta-tapi Dellvina pinter banget mecahin suasana."

rayzan: "Wah, Dellvina emang hebat ya. Terus, mereka gimana reaksinya?"

Ari: "Ke-kelihatannya sih biasa aja. Me-mereka ramah sama Dellvina."

rayzan: "Syukur deh kalau gitu. Terus kamu sendiri gimana perasaannya?"

Ari terdiam sejenak. "Ju-jujur, Zan... awalnya aku takut banget. Ta-takut ada perasaan aneh yang muncul. Ta-tapi ternyata... nggak ada apa-apa."

rayzan: "Maksudnya?"

Ari: "Ma-maksudnya, aku sadar kalau aku udah bener-bener move on. A-aku cuma nganggep mereka sebagai temen lama aja sekarang."

rayzan menepuk pundak Ari. "Wah, itu bagus banget, ri! Berarti kamu udah bener-bener bahagia sama Dellvina ya."

Ari tersenyum. "I-iya, Zan. A-aku bersyukur banget punya Dellvina."

rayzan: "Aku ikut seneng denger itu, ri. Oh iya, ngomong-ngomong soal ketemu mereka... kamu ada rencana apa ke depannya?"

Ari: "Se-sebenernya... aku sama Dellvina lagi mikir buat ngadain acara kumpul-kumpul."

rayzan terkejut. "Serius, ri? Kamu yakin?"

Ari mengangguk. "I-iya, Zan. A-aku rasa ini bisa jadi kesempatan bagus buat kita semua move on sepenuhnya."

rayzan: "Wah, ide bagus tuh, ri. Kapan rencananya?"

Ari: "Re-rencananya sih minggu depan. Ka-kamu sama Mishel bisa kan?"

rayzan: "Kayaknya sih bisa, ri. Nanti aku konfirmasi lagi ya sama Mishel."

Ari: "O-oke, Zan. Ma-makasih ya."

rayzan: "Sama-sama, ri. Eh, ngomong-ngomong... kamu nggak kepikiran buat balikan sama salah satu dari mereka kan?"

Ari tertawa. "Ha-haha, nggak lah, Zan. A-aku udah bahagia sama Dellvina. La-lagian, mereka juga udah punya kehidupan masing-masing."

rayzan: "Iya sih. Tapi kan nggak ada yang tau ya, ri. Kadang perasaan lama bisa muncul lagi."

Ari menggeleng tegas. "Ng-nggak akan, Zan. A-aku udah janji sama diriku sendiri dan sama Dellvina. De- Dellvina itu segalanya buat aku sekarang."

rayzan tersenyum lega. "Syukurlah kalau gitu, ri. Aku seneng liat kamu bahagia."

Mereka melanjutkan perjalanan sambil mengobrol santai tentang pekerjaan dan kehidupan baru mereka di Bandung. Ari merasa lega bisa berbagi cerita dengan rayzan, dan dia semakin yakin dengan keputusannya untuk mengadakan acara kumpul-kumpul nanti.