Refleksi di Teras
Bab 54 dari Novel Komplek Mantan
Dellvina: "Mas, kamu percaya nggak sama semua yang terjadi?"
Azmi tersenyum: "Ka-kadang masih terasa seperti mimpi, De."
Dellvina: "Iya kan? Coba deh kita flashback. Dulu kita pisah, terus ketemu lagi, nikah, dan sekarang... kita akan jadi orang tua."
Azmi: "Dan ja-jangan lupa semua 'kebetulan' yang terjadi belakangan ini."
Dellvina tertawa kecil: "Oh iya, kebetulan yang absurd banget. Semua mantanmu tiba-tiba muncul di kehidupan kita."
Azmi: "Ta-tapi syukurlah semuanya berakhir baik."
Dellvina menyandarkan kepalanya di bahu Azmi: "Iya, Mas. Aku bangga sama kamu. Kamu berhasil melalui semua ini dengan baik."
Azmi: "Ki-kita yang berhasil, De. A-aku nggak akan bisa tanpa kamu."
Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan malam dan kehangatan satu sama lain.
Tiba-tiba, Dellvina menegakkan kepalanya, matanya berbinar jahil.
Dellvina: "Eh, Mas. Aku punya ide!"
Azmi: "I-ide apa, De?"
Dellvina: "Gimana kalau kita namain komplek ini 'Komplek Mantan'?"
Azmi mengelengkan kepala, tertawa kecil: "A-adek... jangan mulai deh."
Dellvina: "Tapi lucu kan, Mas? Cocok banget sama situasi kita!"
Azmi: "Ta-tapi nanti orang-orang bingung, De."
Dellvina tidak menghiraukan protes Azmi. Dia berdiri dan berteriak ke arah rumah.
Dellvina: "Teman-teman! Aku punya ide bagus nih!"
Semua orang di dalam rumah menoleh ke arah teras.
archa: "Ide apa, Del?"
Dellvina: "Gimana kalau kita namain komplek ini 'Komplek Mantan'?"
Semua orang tertawa mendengar ide Dellvina.
salsa: "Wah, bisa jadi nih! Cocok banget!"
Resa: "Setuju! Sekalian bikin plang gede di depan komplek!"
rayzan, tidak mau kalah, menambahkan: "Eh, lebih tepat kalau 'Komplek Mantan Daksa' kali ya?"
Semua orang tertawa lebih keras, sementara Azmi hanya bisa menggelengkan kepala, tersenyum malu.
Azmi: "Ka-kalian ini ada-ada saja."
Dellvina kembali duduk di samping Azmi, memeluk lengannya.
Dellvina: "Tuh kan, Mas. Idenya bagus!"
Azmi: "I-iya deh, terserah Adek aja."
Dellvina tersenyum lembut: "Mas, aku bahagia banget bisa sampai ke titik ini sama kamu."
Azmi mengangguk: "A-aku juga, De. Ki-kita sudah melalui banyak hal."
Dellvina mengelus perutnya yang masih rata: "Dan petualangan kita baru akan dimulai, Mas."
Azmi meletakkan tangannya di atas tangan Dellvina: "Ki-kita akan hadapi bersama-sama ya, De."
Mereka berdua memandang langit malam, memikirkan perjalanan hidup mereka yang penuh liku namun berakhir manis. Di dalam rumah, tawa dan canda masih terdengar, menambah kehangatan malam itu.