Malam Syukuran dan Kenangan Masa Lalu
Bab 34 dari Novel Komplek Mantan
archa: "Selamat ya, Azmi, atas promosinya. Kamu memang pantas mendapatkannya."
Azmi: "Te-terima kasih, archa. A-aku senang kalian bisa hadir."
Resa: "Iya, Mi. Kamu udah jauh lebih sukses sekarang. Kami ikut senang."
salsa: "Bener, Mi. Kamu udah jadi orang hebat sekarang."
Dellvina, yang berdiri di samping Azmi, merangkul lengan suaminya dengan manja.
Dellvina: "Iya dong, suamiku gitu loh. Hebat kan ya?"
Azmi tersenyum malu, "De- Dellvina, jangan gitu ah."
Dellvina mencium pipi Azmi, "Kenapa, Mas? Aku kan cuma bilang yang sebenernya."
archa, Resa, dan salsa tersenyum melihat kemesraan Azmi dan Dellvina, meski ada sedikit rasa nyeri di hati mereka.
archa (monolog internal):
"Kamu benar-benar bahagia. Azmi... kamu akhirnya mendapatkan yang pantas buatmu."
Resa (monolog internal):
" Dellvina benar-benar beruntung. Dia bisa melihat dan menghargai kebaikan Azmi yang dulu aku sia-siakan."
salsa (monolog internal):
"Andai dulu aku tidak meninggalkan Azmi... Tapi tidak, Azmi pantas bahagia dengan Dellvina."
Sementara itu, di rumahnya, Farizsa duduk sendirian di ruang tamu. Dia memandangi undangan dari Dellvina yang tergeletak di meja. Pikirannya melayang ke masa lalu, saat dia memutuskan hubungannya dengan Azmi.
Flashback:
Farizsa dan Azmi duduk di bangku taman sekolah. Farizsa terlihat gelisah.
Farizsa: "Azmi, kita perlu bicara."
Azmi: "A-ada apa, Farizsa? Ka-kamu kelihatan serius."
Farizsa menarik napas dalam. "Azmi, aku... aku rasa kita harus mengakhiri hubungan ini."
Azmi terkejut, "A-apa? Ta-tapi kenapa?"
Farizsa: "Azmi, kamu tau kan aku akan kuliah di luar negeri? Aku... aku nggak yakin bisa menjalani hubungan jarak jauh."
Azmi: "Ta-tapi kita bisa mencobanya, Farizsa. A-aku yakin kita bisa."
Farizsa menggeleng, "Bukan cuma itu, Azmi. Aku... aku merasa kita terlalu berbeda. Kamu... kamu punya keterbatasan, dan aku..."
Azmi terlihat terluka, "Ja-jadi, ini karena ke-kekuranganku?"
Farizsa: "Bukan begitu, Azmi. Aku hanya... aku ingin fokus pada masa depanku. Dan aku merasa... kita punya jalan yang berbeda."
Air mata mulai menggenang di mata Azmi. "A-aku mengerti. Ka-kamu malu punya pa-pacar sepertiku."
Farizsa: "Azmi, bukan begitu. Aku hanya..."
Azmi berdiri, "Su-sudahlah, Farizsa. A-aku mengerti. Se-semoga kamu bahagia dengan pilihanmu."
Azmi berjalan pergi, meninggalkan Farizsa yang terduduk di bangku, air mata mengalir di pipinya.
Kembali ke masa sekarang, Farizsa menghapus air mata yang tanpa sadar telah jatuh.
Farizsa (berbisik pada diri sendiri): "Maafkan aku, Azmi. Aku menyesal telah menyakitimu dulu. Kau pantas bahagia dengan Dellvina sekarang."
Dia menatap undangan di meja sekali lagi, lalu memutuskan untuk tidak datang. Meski hatinya ingin melihat Azmi, dia tau bahwa kehadirannya mungkin hanya akan membuat suasana tidak nyaman.
Farizsa: "Semoga kau bahagia, Azmi. Kau pantas mendapatkannya."
Malam itu, sementara pesta syukuran berlangsung meriah di rumah Azmi dan Dellvina, Farizsa menghabiskan malamnya sendirian, tenggelam dalam penyesalan dan kenangan masa lalu.