Azmi menatap Resa dengan pandangan yang lembut namun serius.

Azmi: "Re-Resa, a-aku mengerti perasaanmu. Ta-tapi apa yang kamu lakukan ini... ini tidak benar."

Resa menunduk, air matanya masih mengalir. "Aku tau, Azmi. Tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku."

Azmi: "Re-Resa, cinta bukan alasan untuk menyakiti orang lain. I-archa itu sahabatmu."

Resa: "Tapi dia yang membuat kita berpisah dulu, Azmi! Dia tidak sebaik yang kau kira."

Azmi menggeleng pelan. "Ma-masa lalu biarlah berlalu, Resa. Ki-kita tidak bisa mengubahnya. Ta-tapi kita bisa memilih untuk berbuat benar sekarang."

Resa terdiam, mencerna kata-kata Azmi.

Azmi melanjutkan: "A-apa kamu sudah memikirkan konsekuensinya? Ba-bagaimana perasaan archa jika dia tau?"

Resa terisak. "Aku... aku tidak tau, Azmi. Aku hanya tau bahwa aku mencintai Rayanas."

Azmi: "Ci-cinta sejati tidak dibangun di atas penderitaan orang lain, Resa. Ka-kamu harus memikirkan ini baik-baik."

Resa menatap Azmi. "Lalu aku harus bagaimana, Azmi?"

Azmi: "Bi-bicaralah dengan archa. Je-jujurlah padanya. Mu-mungkin akan menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada terus membohonginya."

Resa terkejut. "Bicara dengan archa? Tapi... dia akan membenciku."

Azmi tersenyum lemah. "Ka-kamu tidak akan tau sebelum mencoba, Resa. Ka-kadang, kejujuran bisa membuka jalan yang tidak kita duga."

Resa terdiam, memikirkan kata-kata Azmi. Tiba-tiba, dia berdiri dan memeluk Azmi erat, terisak di bahunya.

Resa: "Azmi... aku... aku sudah egois. Aku sudah jahat sama archa. Aku... aku tidak tau harus bagaimana."

Azmi, sedikit terkejut, perlahan membalas pelukan Resa. "Su-sudah, Resa. Ma-masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya."

Resa melepaskan pelukannya, menatap Azmi dengan mata basah. "Aku menyesal, Azmi. Aku... aku akan bicara dengan archa. Aku akan jujur padanya."

Azmi mengangguk. "I-itu keputusan yang benar, Resa. A-aku yakin, bagaimanapun hasilnya nanti, ka-kamu akan merasa lebih lega."

Resa: "Terima kasih, Azmi. Aku... aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi kamu benar, aku harus jujur."

Azmi tersenyum lembut. "I-ingatlah, Resa. Ki-kita semua pernah membuat kesalahan. Ya-yang penting adalah bagaimana kita memperbaikinya."

Sebelum Azmi keluar, Resa memanggilnya lagi.

Resa: "Azmi... maafkan aku. Untuk semuanya. Dan... terima kasih sudah mengingatkanku tentang arti persahabatan yang sebenarnya."

Azmi mengangguk. "Su-sudah kumaafkan sejak dulu, Resa. Se-sekarang, lakukanlah apa yang benar."

Azmi meninggalkan rumah Resa dengan perasaan campur aduk. Dia tidak pernah menyangka akan terlibat dalam situasi seperti ini. Sementara itu, Resa duduk termenung di ruang tamunya, memikirkan semua yang telah terjadi dan keputusan berat yang harus dia ambil.

Sore itu, baik Azmi maupun Resa, merenungkan percakapan mereka, dengan beban pikiran dan hati yang sama beratnya. Namun, ada secercah harapan bahwa kejujuran mungkin bisa membuka jalan baru bagi mereka semua.