Badai Sebelum Ketenangan
Bab 22 dari Novel Komplek Mantan
archa (berbisik pada diri sendiri): "Kenapa harus berakhir seperti ini?"
Tangannya gemetar saat membuka amplop itu. Matanya yang tak bisa melihat hanya bisa meraba huruf braille di kertas itu, setiap kata seolah menusuk hatinya.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi pesan dari nomor tak dikenal.
Suara robotik dari ponselnya membacakan pesan itu: "Bersiaplah, archa. Rayanas akan menjadi milikku sepenuhnya. Kau tak pantas untuknya."
archa terkesiap, air matanya mulai mengalir. "Siapa ini? Kenapa... kenapa semua jadi begini?"
Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu. archa menghapus air matanya dan berjalan perlahan ke arah pintu.
archa: "Siapa?"
salsa: "Ini aku, salsa. Boleh masuk?"
archa membuka pintu, wajahnya masih menyiratkan kesedihan.
salsa: "Cha, kamu kenapa? Kok kelihatannya sedih banget?"
archa tak kuasa menahan tangisnya dan langsung memeluk salsa.
archa: "sal... aku... aku nggak kuat lagi."
salsa membalas pelukan archa, menuntunnya ke sofa.
salsa: "Ada apa, Cha? Cerita dong sama aku."
archa: "Surat... surat dari pengadilan. Kayaknya perceraian aku sama Rayanas udah nggak bisa dihindari lagi."
salsa: "Ya ampun, Ra... Aku turut sedih dengernya. Terus, ada lagi?"
archa: "Tadi... ada yang ngirim pesan. Katanya dia mau ngambil Rayanas dari aku."
salsa: "Hah? Siapa yang berani-beraninya?!"
archa menggeleng lemah. "Aku nggak tau, Din. Nomornya nggak dikenal."
salsa memeluk archa erat. "Tenang ya, Cha. Kita hadapi ini sama-sama. Kamu nggak sendiri."
Sementara itu, di halaman rumah yang terletak di antara rumah rayzan dan Azmi, Farizsa, penghuni baru kompleks, sedang duduk santai setelah lelah membereskan barang-barang pindahan.
Farizsa (bergumam): "Akhirnya... bisa istirahat juga."
Tiba-tiba, dia melihat dua wanita berjalan memasuki rumah di samping rumahnya. Itu Mishel dan Dellvina yang baru pulang dari acara belanja mereka.
Farizsa: "Permisi... Selamat sore!"
Dellvina dan Mishel menoleh ke arah suara itu.
Dellvina: "Oh, selamat sore juga. Anda penghuni baru ya?"
Farizsa tersenyum dan berjalan mendekat. "Iya, saya baru pindah hari ini. Nama saya Farizsa."
Mishel: "Wah, selamat datang di kompleks kami! Saya Mishel, dan ini Dellvina."
Farizsa: "Senang berkenalan dengan kalian. Ngomong-ngomong, kalian tinggal di mana?"
Dellvina: "Saya di rumah sebelah sana," dia menunjuk ke arah rumahnya. "Kalau Mishel di sebelah sana," menunjuk ke arah rumah Mishel dan rayzan.
Farizsa: "Oh, berarti kita bertetangga dong! Senangnya punya tetangga yang ramah."
Mishel: "Iya, kami juga senang ada tetangga baru. Oh iya, Farizsa tinggal sama siapa di sini?"
Farizsa: "Saya tinggal sendiri. Baru pindah karena kerjaan."
Dellvina: "Wah, kalau gitu kapan-kapan main ke rumah ya. Biar kita bisa ngobrol-ngobrol lebih banyak."
Farizsa: "Boleh banget! Saya juga seneng bisa punya teman ngobrol di sini."
Mereka berbincang sebentar sebelum Dellvina dan Mishel pamit untuk masuk ke rumah masing-masing. Farizsa kembali ke halamannya, tersenyum puas telah berkenalan dengan tetangga barunya.
Sementara itu, di rumah archa...
archa: "sal.. menurutmu, apa yang harus aku lakuin sekarang?"
salsa: "cha, kamu harus kuat. Kalau emang udah nggak bisa diselamatin, mungkin ini yang terbaik. Kamu pantes dapet yang lebih baik dari Rayanas."
archa terisak pelan. "Tapi sal... aku masih sayang sama dia."
salsa menghela napas. "Aku tau, Ra. Tapi kadang, melepaskan adalah cara terbaik untuk mencintai."
Mereka berdua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Di luar, langit mulai gelap, seolah mencerminkan suasana hati archa yang sedang gundah.
Tanpa mereka sadari, drama kehidupan di kompleks ini baru saja dimulai. Dengan kedatangan Farizsa dan masalah yang dihadapi archa, tampaknya akan ada banyak cerita yang akan terungkap di hari-hari mendatang.