Jam makan siang di kantor. Azmi baru saja hendak membuka kotak bekal yang disiapkan Dellvina ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya.

rayzan: "Permisi, ini Azmi kan? Baunya sih Azmi."

Azmi tersenyum melihat sahabatnya. "I-iya, Zan. Ma-masuk aja."

rayzan melangkah masuk dengan tongkatnya. "Mi, makan siang bareng yuk. Aku laper nih."

Azmi: "A-aduh, Zan. A-aku bawa bekal dari Dellvina."

rayzan tersenyum. "Yah, kirain bisa numpang makan enak. Mishel lagi nggak masak, dia kurang enak badan."

Azmi berpikir sejenak. "Gi-gini deh, Zan. Ki-kita ke kantin aja. A-aku bawa bekalku, kamu bisa pesan makanan di sana."

rayzan mengangguk antusias. "Nah, gitu dong! Ayo deh, Mi. Aku udah kelaperan nih."

Mereka berdua berjalan ke kantin, Azmi membantu mengarahkan rayzan. Sesampainya di kantin, mereka duduk di salah satu meja.

rayzan: "Mi, tolong pesen nasi goreng sama es teh ya. Yang nasi gorengnya pedes."

Azmi: "O-oke, Zan. Se-sebentar ya."

Setelah memesan untuk rayzan, Azmi kembali ke meja dan membuka bekalnya.

rayzan: "Wah, baunya enak tuh. Dellvina masak apa, Mi?"

Azmi: "A-ayam teriyaki sama tumis sayur. Ma-mau coba?"

rayzan tertawa. "Boleh deh, asal jangan dimarahin Dellvina nanti."

Azmi menyodorkan sepotong ayam ke rayzan. "Ni-nggak akan kok. De- Dellvina pasti ngerti."

rayzan mengunyah ayamnya. "Hmm, enak banget! Beruntung banget kamu, Mi."

Azmi tersenyum. "Ma-makasih, Zan. Ka-kamu juga beruntung punya Mishel."

rayzan mengangguk. "Iya sih. Eh iya, Mi. Kamu jadi dimutasi ke Bandung kan?"

Azmi: "I-iya, Zan. Ka-kamu juga kan?"

rayzan: "Yoi. Eh, gimana kalau kita berangkat bareng aja? Sekalian konvoi gitu."

Azmi: "Bo-boleh tuh. Ta-tapi kamu udah dapat rumah di sana?"

rayzan mengangguk. "Udah, Mi. Kebetulan dapet rumah dinas juga. Katanya sih satu komplek sama kamu."

Azmi terkejut. "Se-serius? Wa-wah, asyik dong kita bisa tetanggaan."

rayzan tertawa. "Iya nih, jodoh kali ya kita. Eh, ngomong-ngomong soal jodoh..."

Azmi: "Ke-kenapa, Zan?"

rayzan: "Tadi pagi aku denger kabar dari temen-temen tunanetra. Katanya archa udah cerai lho."

Azmi tersedak Minumannya. "A-apa? I-archa yang mana?"

rayzan: "Lah, emang berapa archa yang kamu kenal? Ya archa mantan kamu lah, yang tunanetra juga."

Azmi terdiam sejenak. "O-oh... I-iya, archa yang itu. Ta-tapi kok bisa?"

rayzan mengangkat bahu. "Katanya sih nggak cocok. Baru setahun nikah udah pisah. Kasian ya."

Azmi: "I-iya, kasian. Ta-tapi kok kamu bisa tau?"

rayzan: "Ya gitu deh, Mi. Dunia kita tunanetra kan kecil, jadi kabar cepet nyebar. Kamu nggak apa-apa kan denger kabar gini?"

Azmi menggeleng, lalu sadar rayzan tidak bisa melihatnya. "Ng-nggak apa-apa kok, Zan. Cu-cuma kaget aja."

rayzan: "Iya sih, aku juga kaget. Eh, tapi kamu jangan bilang-bilang Dellvina ya. Nanti dia salah paham lagi."

Azmi: "I-iya, Zan. A-aku nggak akan cerita."

rayzan mengangguk. "Bagus deh. Oh iya, Mi. Ngomongin soal pindahan..."

Mereka melanjutkan obrolan tentang rencana pindah ke Bandung, tapi pikiran Azmi sedikit teralihkan. Kabar tentang archa membuatnya teringat masa lalu, tapi dia segera mengenyahkan pikiran itu. Sekarang dia sudah bahagia dengan Dellvina, dan itu yang terpenting.

Azmi: "Zan, Besok siang kita diskusi lagi ya soal pindahan. A-ajak Mishel juga, biar bisa ngobrol sama Dellvina."

rayzan: "Sip, Mi. Nanti aku kabarin Mishel. Thanks ya udah temenin makan."

Mereka mengakhiri makan siang dan kembali ke ruangan masing-masing. Azmi kembali fokus pada pekerjaannya, berusaha melupakan kabar yang baru saja didengarnya.