Ari baru saja tiba di rumah setelah kunjungannya ke rumah Resa. Dellvina, seperti biasa, menyambutnya dengan senyum hangat.

Dellvina: "Selamat datang, Mas. Kok pulangnya agak telat?"

Ari: "I-iya, De. A-ada urusan sebentar tadi."

Dellvina membantu Ari melepas jasnya. Saat mengambil jas itu, dia mencium aroma parfum yang asing, aroma wanita. Hatinya sedikit berdesir, tapi dia memilih untuk diam.

Dellvina (dalam hati): "Aroma apa ini? Bukan parfumku... Ah, mungkin dari kantor."

Dellvina: "Mas, ayo mandi dulu. Aku udah siapin baju ganti. Nanti kita berangkat ya."

Ari mengangguk dan bergegas ke kamar mandi. Sementara Dellvina menyiapkan pakaian Ari, pikirannya masih terganggu oleh aroma parfum tadi.

Setelah bersiap, mereka berangkat ke restoran. Di mobil, Ari terlihat gugup.

Dellvina: "Mas, kamu nggak apa-apa? Kok kayaknya tegang gitu?"

Ari: "Ng-nggak apa-apa kok, De. Cu-cuma capek aja."

Sesampainya di restoran, Ari memperlakukan Dellvina dengan sangat manis. Dia menarik kursi untuk Dellvina, memesan makanan kesukaan istrinya, dan terus memuji penampilan Dellvina.

Dellvina: "Mas, kamu manis banget malam ini. Ada apa sih sebenernya?"

Ari menarik napas dalam. "De- Dellvina sayang, a-ada yang mau aku omongin."

Dellvina merasakan jantungnya berdegup kencang. "Apa itu, Mas?"

Ari: "I-ini soal kantor. A-aku... dapat asisten baru."

Dellvina: "Oh, bagus dong Mas. Terus kenapa? Kok kayaknya serius banget?"

Ari: "A-asisten baruku... di-dia mantan pacarku waktu SMA."

Dellvina terkesiap, teringat aroma parfum di jas Ari tadi. "Oh... gitu ya."

Ari cepat-cepat menambahkan, "Ta-tapi De, a-aku udah bilang sama dia kalo kita harus profesional. A-aku juga udah bilang kalo aku udah menikah."

Dellvina terdiam sejenak. "Mas... aku boleh jujur?"

Ari mengangguk, "Te-tentu, De."

Dellvina: "Tadi... aku mencium aroma parfum wanita di jasmu. Itu... dari dia ya?"

Ari terkejut, "A-ah, i-itu... mungkin pas di kantor tadi."

Dellvina menatap Ari dalam-dalam. "Mas, aku percaya sama kamu. Tapi... aku nggak bisa bohong, aku khawatir."

Ari menggenggam tangan Dellvina erat. "De- Dellvina sayang, de-dengarkan aku. Ka-kamu satu-satunya di hidupku. A-aku nggak akan pernah mengkhianatimu."

Air mata Dellvina mulai menggenang. "Bener, Mas?"

Ari mengangguk tegas. "Be-bener, De. A-aku sayang banget sama kamu. Ka-kamu itu segalanya buat aku."

Dellvina: "Tapi Mas... dia kan mantanmu. Apa kamu nggak... kepikiran lagi sama dia?"

Ari menggeleng. "Ti-tidak, De. Di-dia cuma masa lalu. Ka-kamu itu masa kini dan masa depanku."

Dellvina tersenyum lembut, air matanya jatuh. "Mas... maafin aku ya udah ragu sama kamu."

Ari menghapus air mata Dellvina dengan lembut. "Ng-nggak apa-apa, De. A-aku ngerti kok. Ta-tapi aku janji, aku akan selalu jujur sama kamu."

Dellvina: "Makasih ya, Mas. Udah mau jujur sama aku. Aku... aku cuma takut kehilangan kamu."

Ari: "Ka-kamu nggak akan pernah kehilangan aku, De. A-aku janji."