Ari dan Rayanas duduk berhadapan di meja kafe. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua.

Rayanas: "Ari, aku... aku bisa jelasin."

Ari: "Ra-Rayanas, a-aku nggak bermaksud menguping. Ta-tapi..."

Rayanas menghela napas. "Aku tau ini salah, Ari. Tapi... semua terjadi begitu saja."

Ari: "Ma-maksudmu?"

Rayanas: "Aku dan Resa... kami nggak pernah bermaksud untuk jatuh cinta. Tapi entah bagaimana, perasaan itu tumbuh."

Ari terdiam sejenak, mencerna informasi itu. "La-lalu bagaimana dengan archa?"

Rayanas menunduk. "Aku... aku tau aku jahat, Ari. Tapi aku sudah tidak bisa bersama archa lagi."

Ari: "Ra-Rayanas, a-apa kamu sudah memikirkan ini baik-baik? Ja-jangan sampai karena kesenangan sesaat, rumah tanggamu hancur."

Rayanas menatap Ari. "Ini bukan kesenangan sesaat, Ari. Aku... aku benar-benar mencintai Resa."

Ari menarik napas dalam. "Ra-Rayanas, de-dengarkan aku. A-aku sudah ikhlas saat dulu archa memilihmu. A-aku sudah memaafkan semua yang terjadi di masa lalu."

Rayanas terkejut mendengar perkataan Ari. "Ari... aku..."

Ari melanjutkan, "A-aku cuma minta satu hal, Rayanas. To-tolong jaga archa selamanya. Di-dia pantas bahagia."

Rayanas terdiam, tersentuh oleh kata-kata Ari. "Ari... aku tidak menyangka. Setelah semua yang kulakukan padamu dulu..."

Ari tersenyum lemah. "Ki-kita semua pernah membuat kesalahan, Rayanas. Ya-yang penting sekarang, bagaimana kita memperbaikinya."

Rayanas mengangguk pelan. "Terima kasih, Ari. Aku... aku akan memikirkan semua ini baik-baik."

Ari: "I-itu yang terpenting, Rayanas. Pi-pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan."

Mereka mengakhiri percakapan itu dengan perasaan yang campur aduk. Ari pamit dan langsung menuju rumah Resa.

Sesampainya di rumah Resa, Ari mengetuk pintu dengan hati berdebar.

Resa membuka pintu, terkejut melihat Ari. "Ari? Ada apa?"

Ari: "Re-Resa, bi-bisa kita bicara sebentar?"

Resa, masih bingung, mempersilakan Ari masuk. "Tentu, ayo masuk."

Mereka duduk di ruang tamu. Ari menarik napas dalam sebelum berbicara.

Ari: "Re-Resa, a-aku melihatmu di kafe tadi. De-dengan Rayanas."

Resa terkesiap. "Ari, aku... aku bisa jelaskan."

Ari: "A-aku sudah bicara dengan Rayanas. Ta-tapi aku ingin mendengar dari kamu. Ke-kenapa, Resa?"

Resa terdiam sejenak, air matanya mulai menggenang. "Ari... aku... aku sebenarnya iri pada archa. Dia selalu bahagia, selalu mendapatkan yang dia inginkan."

Ari mengerutkan kening. "A-apa maksudmu?"

Resa: "Kau ingat dulu kenapa kita putus? Itu... itu sebenarnya karena archa."

Ari terkejut. "I-archa? Ba-bagaimana bisa?"

Resa: "Tantangan untuk membuatmu jatuh cinta padaku... itu ide archa. Tapi dia juga yang membocorkan semuanya padamu. Dia... dia yang membuat kita berpisah."

Ari terdiam, mencoba mencerna informasi baru ini. Dia tidak pernah tau bahwa ada cerita lain di balik perpisahannya dengan Resa dulu.

Ari: "Re-Resa, a-aku tidak tau..."

Resa terisak. "Maafkan aku, Ari. Aku tau aku salah. Tapi perasaanku pada Rayanas... itu nyata."

Ari menghela napas panjang. "Re-Resa, de-dengarkan aku..."