Sore itu di kantor, Ari melirik jam tangannya. Masih beberapa jam lagi sebelum waktu pulang. Dia mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk Dellvina.

Ari (mengetik): "De, ma-malam ini jangan masak ya. A-aku mau ngajak kamu makan malam di restoran. A-ada yang mau aku omongin."

Setelah mengirim pesan, Ari menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang menunggu balasan dari Dellvina.

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.

Dellvina (pesan): "Wah, ada apa nih Mas? Tumben banget. Oke deh, aku tunggu ya. Love you!"

Ari tersenyum membaca pesan Dellvina, tapi kemudian menghela napas berat.

Ari (berbisik pada diri sendiri): "Ba-bagaimana aku harus menjelaskan semua ini ke Dellvina?"

Dia berusaha fokus kembali ke pekerjaannya, tapi pikirannya terus melayang ke percakapan yang akan dia lakukan nanti malam dengan istrinya.

Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk.

Ari: "Ma-masuk."

Farizsa melangkah masuk dengan setumpuk dokumen di tangannya.

Farizsa: "Permisi, Pak. Saya bawakan dokumen yang perlu ditandatangani."

Ari berusaha menjaga sikap profesionalnya, meski jantungnya berdegup kencang.

Ari: "Oh, i-iya. Te-terima kasih. Bi-bisa taruh di meja saja."

Farizsa meletakkan dokumen di meja Ari, tapi tidak langsung pergi. Dia terlihat ragu-ragu.

Farizsa: "Pak Ari... boleh saya bicara sebentar?"

Ari menelan ludah. "Te-tentang apa, Mbak Farizsa?"

Farizsa: "Ini... soal masa lalu kita."

Ari terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ba-baiklah. Si-silakan duduk."

Farizsa duduk di kursi di depan meja Ari.

Farizsa: "Ari... aku... aku minta maaf atas semua yang terjadi dulu."

Ari: "Su-sudahlah, Mbak. I-itu sudah lama berlalu."

Farizsa: "Tapi aku perlu kamu tau. Setahun belakangan ini... aku mencarimu."

Ari terkejut. "Me-mencariku? Ke-kenapa?"

Farizsa: "Aku... aku sadar kalau aku salah sudah meninggalkanmu dulu. Aku menyesal, Ari."

Ari menggelengkan kepala. "Mbak Farizsa, ki-kita sudah punya kehidupan masing-masing sekarang."

Farizsa: "Aku tau. Tapi apa kamu nggak pernah kepikiran tentang kita?"

Ari menarik napas dalam-dalam. "Mbak, sa-saya mohon. Ki-kita harus profesional. Sa-saya sudah menikah sekarang."

Farizsa terlihat kecewa. "Oh... begitu. Maaf, aku tidak tau."

Ari: "Ti-tidak apa-apa. Ta-tapi mulai sekarang, sa-saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik sebagai rekan kerja."

Farizsa mengangguk pelan. "Baik, Pak. Saya mengerti. Maaf sudah mengganggu waktu Anda."

Ari: "Ti-tidak masalah. A-ada lagi yang perlu disampaikan?"

Farizsa menggeleng. "Tidak, Pak. Saya permisi dulu."

Setelah Farizsa keluar, Ari menghela napas panjang. Dia merasa lega sudah bisa bersikap tegas, tapi juga khawatir tentang bagaimana hal ini akan memengaruhi dinamika kerja mereka ke depannya.

Ari (berbisik pada diri sendiri): "Ya Allah, be-berikan aku kekuatan untuk menghadapi semua ini."

Dia kembali fokus pada pekerjaannya, berusaha menenangkan diri sebelum makan malam nanti dengan Dellvina. Ari tau, dia harus jujur pada istrinya, apapun risikonya.