Malam Penuh Kejutan dan Romantisme
Bab 24 dari Novel Komplek Mantan
Ari: "De- Dellvina sayang, gi-gimana hari kamu?"
Dellvina tersenyum lebar, matanya berbinar. "Hari ini seru banget, Mas! Aku pergi ke pasar sama Mishel, terus kita nyari tempat buat toko baru."
Ari: "Wa-wah, kayaknya me-menyenangkan ya. Te-terus gimana? Udah nemu tempat yang cocok?"
Dellvina: "Ada beberapa tempat yang bagus sih, Mas. Tapi masih perlu dipertimbangkan lagi. Oh iya, tadi aku juga ketemu tetangga baru lho!"
Ari: "Oh ya? Si-siapa namanya?"
Dellvina terdiam sejenak, terlihat ragu. "Umm... namanya... ah, Mas! Gimana hari pertama kamu di kantor? Cerita dong!"
Ari, tidak menyadari perubahan sikap Dellvina, tersenyum lebar. "Oh, De- Dellvina... a-aku punya kabar bagus!"
Dellvina: "Kabar apa, Mas? Ayo, cerita!"
Ari: "A-aku... aku di-dijadikan manajer di kantor baru!"
Dellvina terkesiap, matanya melebar. "Serius, Mas? Ya ampun, selamat!"
Ari mengangguk antusias. "I-iya, De. Da-dan katanya bakal ada asisten baru yang ba-bantu aku."
Dellvina langsung memeluk Ari erat. "Mas, aku bangga banget sama kamu! Kamu memang hebat!"
Ari membalas pelukan Dellvina, wajahnya memerah. "Ma-makasih, De. I-ini semua berkat dukungan kamu juga."
Dellvina melepas pelukannya, menatap Ari dengan mata berkaca-kaca. "Mas... kamu tau nggak? Aku bersyukur banget bisa jadi istri kamu."
Ari: "A-aku juga bersyukur pu-punya istri sebaik kamu, De."
Dellvina terdiam sejenak, teringat cerita Mishel tentang masa lalu Ari. Dia merasa sedih membayangkan suaminya yang dulu mungkin disepelekan oleh mantan-mantannya.
Ari menyadari perubahan ekspresi Dellvina. "De? Ka-kamu kenapa?"
Dellvina tersadar dari lamunannya. "Ah, nggak apa-apa kok, Mas. Aku cuma... lagi mikir aja."
Ari: "ri-mikir apa, De?"
Dellvina tersenyum lembut. "Aku mikir... betapa beruntungnya aku punya suami seperti kamu, Mas. Kamu itu kuat, pantang menyerah. Lihat aja sekarang, kamu udah jadi manajer!"
Ari tersipu. "A-ah, kamu bisa aja, De. A-aku nggak seistimewa itu kok."
Dellvina menggeleng tegas. "Nggak, Mas. Kamu itu istimewa. Kamu itu..."
Tiba-tiba, Dellvina mendapat ide. "Mas! Gimana kalau acara kumpul-kumpul kita jadiin acara syukuran sekalian?"
Ari: "Syu-syukuran?"
Dellvina mengangguk antusias. "Iya, Mas! Syukuran buat promosi kamu jadi manajer. Sekalian kita bisa kumpul-kumpul sama temen-temen lama kamu."
Ari tersenyum lebar. "I-ide bagus tuh, De! Ka-kamu memang pinter ya."
Dellvina tertawa kecil. "Ah, Mas bisa aja."
Ari tiba-tiba menarik Dellvina ke dalam pelukannya. "De- Dellvina... a-aku sayang banget sama kamu."
Dellvina, terkejut dengan gerakan tiba-tiba Ari, tersenyum dalam pelukan suaminya. "Aku juga sayang banget sama kamu, Mas."
Ari melepas pelukannya, menatap mata Dellvina dalam-dalam. Perlahan, dia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir istrinya.
Dellvina membalas ciuman Ari dengan penuh cinta. Setelah beberapa saat, mereka melepaskan ciuman itu.
Dellvina: "Mas... kamu tau nggak? Aku bangga banget bisa jadi bagian dari perjalanan hidup kamu."
Ari: "A-aku juga, De. Ka-kamu itu segalanya buat aku."
Dellvina mengelus pipi Ari lembut. "Mas, aku janji akan selalu ada buat kamu. Kita hadapi semuanya sama-sama ya."
Ari mengangguk, matanya berkaca-kaca. "I-iya, De. Ki-kita tim yang kuat."
Mereka berpelukan lagi, merasakan kehangatan dan cinta yang mengalir di antara mereka. Malam itu, mereka tertidur dalam pelukan satu sama lain, dengan hati dipenuhi rasa syukur dan cinta yang mendalam.
Sebelum terlelap, Dellvina berbisik pelan, "Terima kasih, Ya Allah, sudah mempertemukan aku dengan Ari."
Ari, yang masih terjaga, tersenyum mendengar bisikan istrinya. Dia mengecup kening Dellvina lembut sebelum akhirnya ikut terlelap, bermimpi indah tentang masa depan cerah yang menanti mereka berdua.