Sore itu, Ari dan Dellvina akhirnya memulai perjalanan jalan-jalan mereka sesuai janji. Mereka berjalan beriringan, tangan bergandengan, menuju taman kompleks yang tak jauh dari rumah mereka.

Dellvina: "Mas, aku seneng banget lho kita bisa jalan-jalan gini."

Ari tersenyum lembut. "A-aku juga, De. Ra-rasanya jadi inget waktu pacaran dulu."

Dellvina tertawa kecil. "Iya ya? Eh, gimana kalau kita ke taman aja? Biar bisa duduk-duduk sambil ngobrol."

Ari mengangguk setuju. "Bo-boleh tuh. A-ayo ke sana."

Mereka berjalan menuju taman. Namun, begitu sampai di sana, Ari tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya terpaku pada tiga sosok wanita yang duduk di salah satu bangku taman.

Dellvina, yang menyadari perubahan sikap suaminya, berbisik, "Mas, itu mereka ya?"

Ari mengangguk pelan. "I-iya, De. I-itu archa, Resa, dan salsa."

Dellvina menggenggam tangan Ari lebih erat. "Mas, gimana kalau kita samperin mereka? Aku pengen kenalan."

Ari terlihat ragu. "Ta-tapi De..."

Dellvina tersenyum meyakinkan. "Udah, nggak apa-apa. Kita hadapi sama-sama ya?"

Akhirnya Ari mengangguk setuju. Mereka berjalan mendekati ketiga wanita itu.

Ari: "Pe-permisi..."

archa, Resa, dan salsa tersentak kaget mendengar suara yang familiar itu.

archa: "Fa-Ari? Itu kamu?"

salsa: "Kok bisa ada di sini?"

Resa: "Kamu... pindah ke sini?"

Ari mengangguk, meski tahu mereka tidak bisa melihatnya. "I-iya. A-aku baru pindah kemarin."

Dellvina, yang berdiri di samping Ari, tersenyum ramah. "Halo semuanya. Saya Dellvina, istrinya Ari."

Ketiga wanita itu tampak terkejut mendengar kata 'istri'.

archa: "Oh... halo, Dellvina. Saya archa."

salsa: "Saya salsa."

Resa: "Dan saya Resa. Senang berkenalan dengan Anda, Dellvina."

Dellvina: "Senang juga berkenalan dengan kalian. Ari sering cerita tentang teman-teman lamanya."

Ari, yang merasa sedikit canggung, berusaha mencairkan suasana. "Ka-kalian sendiri gimana kabarnya?"

archa: "Baik kok, ri. Kamu sendiri gimana? Kok bisa pindah ke sini?"

Ari: "A-aku dapat mutasi kerja. Ja-jadi ya pindah ke sini."

salsa: "Wah, selamat ya. Pasti seneng bisa pindah ke kota yang lebih besar."

Resa: "Iya, selamat ya Ari, Dellvina. Semoga betah tinggal di sini."

Dellvina: "Makasih ya semuanya. Oh iya, kalian udah lama tinggal di sini?"

archa: "Iya, kami udah setahunan lebih di sini."

Ari: "Wa-wah, berarti kalian udah hafal banget ya daerah sini?"

salsa tertawa kecil. "Yah, lumayan lah. Meski kami nggak bisa liat, tapi kami udah cukup familiar sama lingkungan sini."

Dellvina: "Wah, keren! Mungkin nanti kalian bisa ngajarin kita tentang daerah sini ya."

Resa: "Dengan senang hati, Dellvina."

Ari melirik jam tangannya. "De, u-udah mulai gelap nih. Ki-kita lanjut jalan-jalan yuk?"

Dellvina mengangguk. "Oh iya, bener juga. Yuk, kita pamit dulu ya."

archa: "Oh, iya. Hati-hati ya di jalan."

salsa: "Seneng bisa ketemu kalian."

Resa: "Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya."

Ari dan Dellvina pun berpamitan dan melanjutkan perjalanan mereka. Setelah mereka pergi, archa, salsa, dan Resa terdiam sejenak.

archa: "Girls... tadi itu beneran Ari kan?"

salsa: "Iya, Cha. Suaranya masih sama persis kayak dulu."

Resa: "Dan dia... udah nikah ya sekarang."

archa menghela napas panjang. "Ari yang dulu kita sepelekan... kini udah bahagia ya."

salsa: "Iya... Dellvina kedengerannya baik banget."

Resa: "Dan kayaknya mereka beneran bahagia."

Mereka bertiga terdiam lagi, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

archa: "Mungkin... ini yang terbaik ya buat Ari."

salsa: "Iya... Mungkin kita emang nggak ditakdirkan buat dia."

Resa: "Tapi setidaknya... dia udah nemuin kebahagiaannya."

Mereka mengangguk setuju, meski ada sedikit rasa sedih yang terselip di hati mereka. Namun, mereka juga merasa lega melihat Ari yang dulu mereka sakiti kini telah menemukan kebahagiaannya.

Sementara itu, Ari dan Dellvina melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi taman.

Dellvina: "Mas, kamu nggak apa-apa?"

Ari tersenyum lembut. "Ng-nggak apa-apa kok, De. Ju-justru aku lega."

Dellvina: "Lega kenapa, Mas?"

Ari: "Le-lega karena semuanya baik-baik aja. Da-dan... aku sadar kalau aku udah punya kamu sekarang."

Dellvina tersenyum dan mengecup pipi Ari. "Aku sayang kamu, Mas."

Ari: "A-aku juga sayang kamu, De."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih ringan, yakin bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, yang terpenting adalah kebahagiaan mereka saat ini dan di masa depan.