Siang itu, Ari, Dellvina, rayzan, dan Mishel bertemu di sebuah restoran untuk makan siang bersama. Mereka duduk di meja bundar, makanan sudah tersaji di hadapan mereka.

Dellvina: "Wah, akhirnya kita bisa kumpul nih. Udah lama banget ya nggak makan bareng gini."

Mishel: "Iya, Del. Kangen banget sama kalian. Apalagi sebentar lagi kita bakal jadi tetangga di Bandung!"

rayzan: "Ngomong-ngomong soal Bandung, kalian udah mulai packing belum?"

Ari: "Su-sudah kok, Zan. Ta-tapi masih banyak yang harus dibereskan."

Dellvina: "Iya nih, bingung juga mau bawa apa aja. Takut kebanyakan, tapi takut kurang juga."

Mishel tertawa. "Sama, Del! Aku juga gitu. Tapi Bang rayzan bilang, 'Yang penting bawa istri aja, yang lain mah bisa dibeli di Bandung.'"

Semua tertawa mendengar candaan Mishel.

rayzan: "Eh, tapi bener lho. Yang penting orangnya dulu, barang mah gampang."

Dellvina: "Eh, ngomong-ngomong soal bawa-bawa, Mas, inget nggak dulu waktu kamu suka bawa-bawa buku puisi kemana-mana?"

Ari tersenyum malu. "A-aduh, jangan diingetin dong."

Mishel menyahut antusias. "Eh iya! Aku inget banget itu. Ari dulu bucin banget sama puisi. Katanya sih buat nembak cewek."

rayzan: "Wah, aku ketinggalan nih. Ceritain dong, Dek."

Mishel: "Jadi gini, Bang. Dulu Ari itu selalu bawa buku puisi kemana-mana. Katanya sih biar romantis. Tapi ujung-ujungnya malah jadi bahan ledekan."

Dellvina tertarik. "Kok bisa, Rel?"

Mishel terkekeh. "Soalnya, setiap kali mau baca puisi buat cewek yang dia suka, pasti ada aja halangannya. Pernah waktu itu, pas lagi mau baca puisi di taman kampus, tau-tau angin kenceng. Semua kertas puisinya terbang, Ari nekat ngejar sampe nyebur kolam ikan."

Semua tertawa, termasuk Ari yang wajahnya memerah.

Dellvina mengelus pundak Ari. "Aww, suamiku romantis banget ya ternyata."

Ari: "A-aduh, itu kan dulu. Se-sekarang mah udah nggak nulis puisi lagi."

rayzan: "Lah, kenapa nggak nulis puisi lagi, ri?"

Ari tersenyum jahil. "So-soalnya sekarang udah dapet yang lebih indah dari puisi."

Dellvina tersipu. "Ah, kamu bisa aja, Mas."

Mishel: "Ciee... yang udah move on dari puisi ke istri."

Mereka kembali tertawa.

rayzan: "Eh, tapi Ari dulu emang romantis banget ya? Aku jadi penasaran, gimana cara dia nembak kamu, Del?"

Dellvina tersenyum lembut. "Sebenernya simpel kok, Zan. Ari cuma ngajak aku makan es krim, terus dia bilang, 'Ma-mau nggak jadi pacarku? Ka-kalau nggak mau ya udah, aku makan es krimnya sendirian.'" Sambil meniru gaya suami nya

Mishel terbahak. "Ya ampun, ri! Itu nembak apa ngancam?"

Ari ikut tertawa. "Ha-habisnya aku grogi. Ta-takut ditolak."

Dellvina mencubit pipi Ari gemas. "Tapi lucu tau. Aku jadi nggak bisa nolak."

rayzan: "Wah, ternyata Ari punya jurus jitu ya."

Mishel: "Iya nih, Bang. Coba dulu Abang kayak gitu, pasti aku langsung bilang iya."

rayzan pura-pura cemberut. "Lho, bukannya dulu kamu yang nembak aku ya, Dek?"

Semua kembali tertawa.

Dellvina: "Eh iya, Rel. Kamu kan sahabat lamanya Ari. Pasti tau banyak cerita lucunya dia dulu."

Mishel mengangguk antusias. "Oh, banyak banget, Del! Mau denger yang mana? Yang waktu dia salah kirim surat cinta? Atau yang waktu dia..."

Ari menyela, pura-pura panik. "A-aduh, jangan dibongkar semua dong. Na-nanti Dellvina ilfeel lagi."

Dellvina tertawa. "Tenang aja, Mas. Aku udah kadung cinta kok sama kamu."

Mereka melanjutkan obrolan dengan berbagai cerita lucu dan nostalgia. Ari, yang awalnya malu-malu, akhirnya ikut larut dalam candaan. Dellvina senang melihat suaminya bisa santai dan tertawa lepas.

rayzan: "Eh, ngomong-ngomong soal Bandung. Katanya di sana banyak tempat wisata ya? Kita harus jalan-jalan bareng nih nanti."

Dellvina: "Setuju! Kita bisa bikin jadwal wisata kuliner juga. Katanya Bandung surganya makanan enak."

Mishel: "Wah, aku udah nggak sabar nih. Kita harus coba semua makanan khasnya ya."

Ari: "Si-siap. Ta-tapi inget, jangan sampai kita malah jadi bulat kayak bakso Malang."

Semua tertawa mendengar lelucon Ari.

Dellvina: "Tenang aja, Mas. Nanti kita olahraga bareng. Gimana kalau kita bikin grup senam ibu-ibu komplek?"

rayzan pura-pura protes. "Lho, kok ibu-ibu doang? Bapak-bapaknya kemana?"

Mishel menimpali. "Bapak-bapaknya jadi instruktur senam aja. Pasti seru tuh, lihat Abang sama Ari Mimpin senam."

Mereka kembali tertawa membayangkan Ari dan rayzan meMimpin senam.

Waktu berlalu dengan cepat di tengah obrolan dan tawa. Mereka menghabiskan makanan sambil terus bertukar cerita dan rencana untuk kehidupan baru di Bandung.

Ari menatap teman-temannya dengan penuh syukur. Dia merasa beruntung memiliki istri yang pengertian seperti Dellvina dan sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya seperti rayzan dan Mishel. Meski masa lalunya tidak selalu mulus, Ari sadar bahwa kebahagiaannya saat ini jauh lebih berharga.

Dellvina menggenggam tangan Ari di bawah meja, seolah mengerti apa yang dipikirkan suaminya. Ari tersenyum, merasa siap menghadapi petualangan baru di Bandung bersama orang-orang yang dia sayangi.